Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
83 Rayuan pagi


__ADS_3

Semilir angin pagi sudah menyapa, sang mentari turut hadir dengan sinar lembutnya.


dan Kini Eza sudah bersiap hendak pergi ke kantor, ia sengaja berangkat lebih awal sebab hendak menjemput Rianda.


"tumben pagi banget"


tanya Sinta sembari berjalan menuju meja makan dengan membawa kan sepiring nasi goreng .


"iyah bu, Eza mau jemput Rianda"


Eza sibuk membenarkan kancing tangan kemejanya.


"hari ini Rianda bareng kamu? "


Sinta duduk sambil memperhatikan putranya.


"iyah bu, soalnya ada janji sama Rianda entar pulang kerja mau bagi nasi bungkus"


ucap Eza.


"Wahh bagus dong kalau gitu. ibu juga mau Nitip boleh ga? "


tanya Sinta.


Sinta mengetahui rutinitas Eza dengan Rianda jika salah satu dari mereka gajian mereka rutin membagikan nasi bungkus pada anak jalanan.


"ibu mau Nitip apa? "


"mau nitip uang buat beli nasi bungkus"


"boleh dong bu"


jawab Eza yang sedang memperhatikan nasi goreng di hadapannya


"tunggu sebentar yah ibu mau ambil uangnya "


Sinta beranjak pergi menuju kamar sementara Eza mulai menyuapkan nasi goreng buatan ibunya.


"nih ibu nitip, jangan di korupsi yah entar kamu bintilan"


ancam Sinta sambil menyodorkan 3 lembar uang berwarna merah.


"ya ela ibu, Lagian mana pernah Eza korupsi"


sahut Eza dengan wajah cemberut


"Hahaha, sekedar ancaman"


Sinta menaik turunkan alisnya.


Eza hanya memutar bola matanya.


setelah Eza selesai sarapan ia pun berpamitan untuk pergi.



Sementara Rianda, ia baru saja selesai merias wajahnya dengan polesan make up tipis agar terkesan natural serta sedikit merapikan rambutnya yang hanya di jepit ke belakang.


Rianda tidak menyukai riasan wajah yang terlalu tebal, lagipula kantor tempat ia bekerja tidak memberikan izin kepada karyawan jika berdandan berlebihan.


sesekali ia menghela nafas , entah mengapa Rianda justru kesal saat Eza memberitahu kan kalau Eza akan menjemputnya.


Bagaimana Rianda tidak kesal, Eza baru saja mengabarinya malam tadi bahkan hanya lewat chat. itupun hanya pesan yang mengatakan Eza akan menjemputnya pagi ini.


beberapa hari ini Eza tidak memberikan kabar pada Rianda, wajar saja Rianda merasa kesal dan curiga.


bagi Rianda kelancaran suatu hubungan itu terletak pada komunikasi.


Namun Rianda berusaha untuk tidak memperbesar masalah dan ia memilih diam.


beberapa saat kemudian terdengar suara motor Eza.


Rianda pun beranjak bangkit dari duduknya dan mengambil tas serta beberapa map yang berisikan berkas kerja.


Terlihat Eza sudah berada di depan rumahnya.


Rianda tidak mengucapkan sepatah katapun. ia memilih diam sambil mengunci pintu rumahnya.


"pagi sayang"


sapa Eza dengan senyuman manis


"hmmm"


hanya di sapa dengan deheman oleh Rianda. tanpa berbicara banyak , Rianda segera naik ke motor Eza.


Eza merasa heran saat Rianda tidak secerewet biasanya


"sayang sakit? "


Eza menoleh Rianda yang sudah duduk di belakangnya


Rianda hanya menggelengkan kepalanya namun ia tak menatap Eza.


kebiasan seorang wanita jika sedang marah tidak berterus terang apa sebab musababnya, ia memilih diam.


"kok diem aja? "


Eza kembali bertanya , lagi-lagi Rianda hanya diam.

__ADS_1


Eza pun turun dari motornya, ia memasang standar samping motornya agar Rianda tidak terjatuh.


Rianda hanya diam di atas motor Eza tanpa bertanya mengapa Eza kembali turun.


"sayang kenapa, hmm"


Eza memegang tangan Rianda dan menatapnya lembut.


Rianda tetap diam tak menjawab bahkan tak menatap Eza.


"yaudah kalau kamu ga mau jawab kita ga bakal berangkat"


ucap Eza mengancam sambil mencubit lembut pipi Rianda


"yaudah aku naik angkutan umum aja"


Rianda berusaha turun dari motor namun dengan cepat di cegah Eza.


"jangan dong"


"makanya jawab dulu pertanyaan mas. kenapa mas di diemin? "


Eza berada dekat di samping Rianda sehingga tercium jelas aroma parfum Rianda.


Rianda semakin kesal, bahkan Eza merasa tak berdosa.


"mas kok gitu sih, seakan ga punya salah"


barulah Rianda berani menatap wajah Eza.


"mas salah apa sayang? "


Eza berusaha mengingatnya


"Mas ga kasih kabar ke Rianda beberapa hari ini. "


"apa itu bukan kesalahan? "


tanya Rianda dengan wajah sedikit memelas hendak menangis.


Eza membulatkan matanya ia baru ingat bahkan ia tak mengabari Rianda jika Zahra sedang sakit.


"maafin mas sayang, beberapa hari ini mas ga kasih kabar soalnya mas di rumah sakit. Zahra lagi sakit"


ucap Eza berusaha menjelaskan.


"Mas juga ga kasih tahu Rianda kalau Zahra sakit. mas kebangetan"


Rianda memukul lengan Eza


"maaf sayang mas bener-bener lupa"


"Zahra sakit apa mas? "


tanya Rianda dengan nada bicara mulai melembut.


ia percaya dengan ucapan Eza.


"Zahra kemarin di celakain sama orang suruhannya Vera, anak tirinya pak Bramantio . Zahra mengalami luka tusukan di pinggang"


tutur Eza.


Rianda sudah tahu siapa Zahra dan bagaimana kehidupannya. karena mereka sering berkomunikasi.


namun saat Zahra sakit, baik Zahra maupun Eza tidak ada yang memberitahu Rianda.


"jadi sekarang gimana kondisinya? "


Rianda merasa khawatir


"Zahra sudah pulang kok dari rumah sakit. dia sudah sembuh"


sahut Eza .


"bagaimana bisa Zahra di celana? "


tanya Rianda keheranan


"ceritanya panjang sayang, nanti mas ceritain oke"


" mas minta maaf yah sayang, mas janji bakal terus kasih kabar ke kamu. tapi kamu jangan jutek lagi"


Wajah Eza memelas, kalau sudah begini Rianda lemah tidak bisa berbuat banyak selain memaafkan Eza. lagipula Rianda tidak ingin memperpanjang masalah.


"iya Rianda maafin. lain kali apapun yang terjadi mas kabarin aku. aku khawatir mas ga kasih kabar"


Rianda memukul pelan dada bidang Eza.


" iyah sayang mas janji ga bakal ulangi lagi. terimakasih yah"


"Cup"


Eza mencium lembut kening Rianda.


"mas Eza !"


ucap Rianda dengan mata membulat


"Hahaha Morning kiss sayang"

__ADS_1


Eza menjawab santai, ia kembali naik ke atas motor untuk berangkat ke kantor.


"nakal"


sahut Rianda gemas membuat Eza terkikik geli.


padahal kini pipi Rianda memerah karena perlakuan Eza.


mereka pun berangkat ke kantor mengingat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Eza mengendarai motor dengan kecepatan sedang agar Rianda merasa nyaman


"pegangan dong"


Rayu Eza


"ga mau ah"


tolak Rianda karena malu dan canggung


"Dih pake acara malu-malu, "


"kayak begini kan nyaman"


Eza menarik tangan kiri Rianda kemudian beralih ke tangan kanan Rianda dan melingkarkan ke pinggangnya .


perlakuan Eza selalu saja membuat Rianda salah tingkah dan membuat pipinya bersemu merah.


"jangan di lepas, entar kamu jatuh susah carinya"


ledek Eza sambil tertawa membuat Rianda hanya memanyunkan bibirnya.


Rianda pun hanya nurut dan tidak melepaskan pegangan tangannya, jarak wajah Rianda dengan tengkuk Eza sangat lah dekat.


tercium aroma khas tubuh Eza yang bercampur dengan parfum membuat Rianda merasa nyaman.


"entar sore jadikan??"


tanya Eza memecahkan keheningan agar Rianda tidak merasa canggung.


"jadi mas, tapi agak telat "


ucap Rianda pelan


" apa, mas ga dengar"


Eza tidak mendengar perkataan Rianda karena suara knalpot motornya cukup keras.


"Haaa"


jelas nafas Rianda ,ia pun memajukan tubuhnya hingga menempel pada Eza dan berbicara sedikit keras


"jadi mas, tapi kayaknya agak malaman dikit gak apa-apa yah soalnya Rianda hari ini banyak kerjaan. "


tutur Rianda.


Eza hanya mengangguk, sebab ia merasakan sesutu menempel di bagian belakang punggungnya.


dadanya berdesir saat merasakan benda lembut milik Rianda terasa jelas di punggungnya.


Rianda heran mengapa Eza mendadak terdiam dan hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"gak apa-apa kan mas? "


tanya Rianda


"mm…ah iya gak apa-apa "


Eza sedikit gugup


"mas kenapa? "


Rianda keheranan saat Eza menjawab dengan gugup


"itu mas lagi merasakan kehangatan pagi"


sahut Eza


"maksudnya? "


Rianda semakin bingung dengan jawaban Eza


"ah enggak, itu mataharinya hangat"


jawab Eza, Rianda hanya menggendikan bahunya acuh.


sementara Eza masih merasakan benda itu di punggungnya.


…………


laki-laki ketika ngambek:


cewek minta maaf terus di maafin sama cowok. selesai


Cewek ketika ngambek:


Cowok minta maaf, guling-guling, jadi ultramen, sampai bantuin boboboy selamatan dunia tetap aja ga di maafin sama cewek.


dasar cewek kebanyakan Drama termasuk Author 😂😂

__ADS_1


jangan lupa like and vote yah guys.


__ADS_2