
Kiran tak hentinya mengoceh menceritakan banyak hal bahkan ia tak sungkan menceritakan ke sehariannya pada Zahra.
di saat keduanya sedang berbincang terdengar suara pintu terbuka
"mamah"
Kiran langsung memanggil mamahnya
"iyah sayang"
sahut Hera yang baru datang.
Hera tidak datang sendiri melainkan bersama Vera.
Zahra langsung bangkit dari duduknya, ia merasa tak enak hati melihat kedatangan mamahnya Kiran dan juga Vera.
sementara Vera mengernyitkan kening melihat Zahra yang berada di ruangan ini.
"kakak kamu dimana? dan ini siapa? "
Tanya Hera pada Kiran saat di lihat di dalam tidak ada Bagas melainkan kan hanya seorang gadis yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Kak Bagas keluar mah sama Om Bramantio. dan ini namanya kak Zahra"
"kak Zahra yang dari tadi menemin Kiran disini"
Zahra yang di perkenalkan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"dia ini Cleanning servis di kantornya Bagas tante"
Vera melirik sinis ke arah Zahra
"Ohh iyah tante baru tahu. saya Hera, mamahnya Bagas"
Hera memperkenalkan diri pada Zahra.
"tante Tahu gak, kemaren kan Vera cerita kalau Bagas marah-marah sama Vera, yah gara-gara Cleanning servis ini"
Vera merengek manja sambil jarinya menunjuk Zahra
Zahra hanya terdiam, kalau bukan karena menghargai mamah dari bossnya mungkin sudah di cabik-cabik mulut Vera.
"iss terlalu manja"
Kiran memutar bola matanya karena jengah melihat tingkah Vera.
Bagaimana bisa mamahnya menjodohkan kakaknya dengan wanita ini.
tiba-tiba suara pintu kembali terbuka, mengalihkan pandangan semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Ehh mamah"
Bagas yang baru masuk kemudian menghampiri mamahnya dan di ikuti oleh Bramantio.
"Vera Mommy kamu mana? "
Bramantio tak melihat istrinya
"Mommy masih ada urusan pih, Vera kesini bareng tante Hera"
Vera tak melepaskan gandengan tangannya pada lengan Hera
Zahra yang melihat hal itu merasa muak dengan wanita ini
"Maaf pak, saya harus kembali ke kantor"
Zahra berpamitan pada Bramantio ia sudah tak betah berlama-lama di ruangan ini
"kamu bareng saya saja "
"ga usah pak saya bisa naik taksi kok"
Zahra menolak dengan lembut
"Yaaahhh kak Zahra kok balik sih? "
Kiran mencebikkan bibirnya, ia masih ingin bersama Zahra.
"iyah ini kan masih jam kerja, besok-besok kita ketemu lagi yah"
__ADS_1
Zahra berusaha memberi pengertian pada gadis kecil itu.
"ihhh kakak ayo lah. kan gak apa-apa juga gak masuk kerja hari ini. Bosnya kan kak Bagas"
"pasti kak Bagas gak marah kan kak Bagas ,yakan"
Kiran meminta persetujuan pada sang kakak.
Bagas hanya tersenyum, sebenarnya ia juga berharap Zahra bisa lebih lama disini ia masih ingin melihat gadis manis ini.
"kalau enggak anggap aja kakak disini menemin Kiran itu sebagai ganti kerja kakak hari ini"
Kiran terus berusaha merayu Zahra.
"gak bisa Kiran. kakak kan harus patuhi peraturan"
Kiran tampak kecewa terlihat dari raut wajahnya.
"Kiran jangan sedih dong. Pokoknya Kiran harus sembuh dulu, biar nanti bisa ngobrol-ngobrol lagi"
Kiran hanya menganggukkan kepala, menuruti perkataan Zahra
Zahra tersenyum manis ke arah Kiran.
Bagas yang melihat hal itu merasa bahagia ,dengan waktu yang sebentar Kiran sudah bisa dekat dengan Zahra.
Hera juga merasakan hal yang sama, ia heran bagai mana bisa putrinya bisa secepat ini akrab dengan orang yang baru ia kenal.
Berbeda dengan Vera ia merasa kesal melihat Zahra yang sok akrab dengan Kiran.
"kalau begitu saya permisi pak, buk. Mari"
Zahra beranjak pergi dari ruangan tersebut
"Zahra"
Zahra menghentikan langkahnya
"kalau begitu saya antar kamu sampai ke kantor"
Bagas membuka suara ia tak mungkin membiarkan Zahra pulang sendirian ke Kantor
"tidak usah pak terimakasih "
Bagas semakin yakin kalau Zahra menjauhinya.
Bramantio paham melihat ekspresi Bagas saat di tolak untuk mengantarkan Zahra, ada guratan kekecewaan di wajahnya.
"Oh iyah tante, acara makan malamnya jadikan. sekalian nentuin tanggal pertunangan Vera sama Bagas? "
Vera memecahkan keheningan ia bersemangat membahas hal itu.
"isss kakak ga lihat Kiran lagi sakit, sebaiknya hal itu ga perlu di bahas disini. Lagian belum tentu kak Bagas mau"
Kiran menjawab dengan nada ketus
"Sssst Kiran ga boleh dong ngomong kayak gitu sama kak Vera"
Hera menasehati putrinya karena telah lancang berbicara.
"Kiran benar buk, sebaiknya hal ini ga perlu di bahas disini. sekarang kan kondisi Kiran lagi sakit"
Bramantio menyetujui keputusan Kiran
Vera hanya diam memanyunkan bibirnya merasa di permalukan oleh bocah tengil itu. Kiran yang melihat ekspresi wajah Vera hanya tersenyum sinis bak ekspresi joker.
"rasain tuh, Kiran pastikan perjodohan ini gak akan terjadi"
Gumam Kiran dalam hati
Bagas tahu sang adik mencoba untuk menggagalkan pembahasan itu.
dia merasa terbantu oleh Kiran, sebab mamahnya Bagas lebih luluh jika Kiran yang meminta sesuatu.
"Mah Bagas mau keluar sebentar yah ada urusan"
Bagas berbohong sebenarnya ia hendak mengantarkan Zahra
"Ohh ya sudah, biar mamah yang jagain Kiran"
__ADS_1
Bagas berlalu menyusul Zahra. mungkin gadis itu belum terlalu jauh.
…
Zahra melangkah kan kakinya menyusuri lorong rumah sakit, sambil menggerutu geram terhadap Vera.
"Huhhhh belum musnah wanita ulat bulu si Mora itu, Ehh nongol lagi wanita ulat bulu versi terbaru, malah lebih pro lagi"
ia merasa muak dan malu mengapa harus ada wanita seperti mereka berdua yang memberikan stigma jelek terhadap semua kaum wanita.
"tuh lagi pak Bramantio, udah dia yang culik Zahra dari kantor Ehh mana pulangnya ga di kasih ongkos lagi buat balik ke kantor.. huuuuuu apes banget dah ah"
Zahra mengaruk kepalanya sambil menghela nafas.
Zahra sudah berada di pinggir jalan raya untuk menunggu angkutan umum. ia memilih naik angkot sebab tarifnya lebih murah.
begitulah Zahra ,ia tahu kalau mencari uang itu susah sebab itu ia menjadi wanita super irit.
bahkan shampoo di kamar mandinya ketika habis di isi dengan air ,begitu juga dengan parfum yang ia pakai.
Cuaca siang ini begitu terik, namun Zahra harus terpaksa berdiri di pinggir jalan sambil celingukan menunggu angkot.
namun belum ada angkot yang melintas.
Eza hari ini mengantar berkas ke salah satu kantor cabang dengan mengendarai sepeda motor.
sesaat ia melihat Zahra yang berdiri di pinggir jalan raya.
"itu kan Zahra"
Eza pun menepikan sepeda motornya
"kamu dari mana Ra? "
Tanya Zahra ketika berhenti tepat di depan Zahra.
"Ehmm itu anu baru dari situ, ngg… pasar. iyah pasar"
Zahra sedikit gugup sebab ia berbohong.
Zahra malas mengatakan kalau dirinya habis ikut Pak Bramantio menjenguk adiknya Bagas. bakal bisa panjang pembahasannya.
"jadi ini kamu mau kemana? "
"mau balik ke kantor kak"
"Yaudah ayo bareng sama aku aja, aku juga mau ke kantor"
Zahra pun tak menolak ajakan Eza
"terimakasih yah kak"
"Lumayan ga hilang deh uang Zahra lima ribu buat naik angkot, kan bisa buat beli es teh jadinya"
Jawab Zahra sambil naik ke atas motor Eza.
Eza tertawa mendengarnya, mereka pun langsung pergi.
Sementara dari halaman rumah sakit Bagas melihat Zahra dan Eza.
Tangan Bagas mengepal erat. Lagi-lagi hatinya tak bisa berbohong.
ia merasa cemburu melihat kedekatan Zahra dan Eza.
Bagas mengusap wajahnya kasar, hatinya tak bisa rela melihat Zahra dekat dengan laki-laki lain padahal status mereka pun hanya berteman.
************
BTW Zahra hematnya kebangetan kaya Author 😂😂😂
Ohh iyah guysss, Author tak bosan, tak jenuh tak muak dan tak lelah mengatakan
untuk.
jangan lupa vote and like yah.
biar Author semangaaaattttttt binggo
terimakasih
__ADS_1
Salam manis Author
~EtyRamadhii 🤗