
Zahra perlahan mengerjapkan matanya, ia berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
di lihat sekelilingnya sudah ada bu Sinta, Hera serta Bagas di sampingnya.
"Zahra"
sapa Bagas
"minum dulu nak"
Sinta menyerahkan segelas air. Zahra pun minum di bantu oleh Bagas.
perlahan pikirannya kembali mengingat kabar itu.
"ibu…"
"bu.... ibu Zahra bu"
Zahra kembali histeris dan menangis, Sinta segera merangkul tubuh Zahra.
"Zahra mau pulang bu liat ibu"
isak Zahra, membuat Sinta juga tidak bisa menahan bulir air matanya.
"iyah sayang kita pulang,"
sementara Eza dan Kiran mengambil baju Zahra di kost Zahra serta menitipkan kunci kamar kost pada Bukde Erin.
Bramantio dan Wijaya sedang mempersiapkan mobil, rencananya mereka akan menggunakan dua mobil untuk mengantar Zahra.
"yuk Ra kita pulang "
ajak Bagas berusaha membantu Zahra berdiri, ia menuntun Zahra menuju mobil Bramantio.
sementara keluarga Wijaya menggunakan mobil mereka sendiri.
Sinta, Eza, Zahra serta Bramantio menggunakan mobil Bramantio.
Eza dan Sinta mengapit Zahra yang berada di tengah-tengah mereka, sementara Bramantio duduk di depan di samping supirnya.
Zahra terus menangis memanggil ibunya membuat Bramantio turut meneteskan air mata.
"kenapa tak kau berikan kebahagiaan untuk anakku ya Rabb, "
gumamnya berharap dalam hati.
Sinta terus menenangkan Zahra, berusaha menguatkannya. tak mudah bagi siapapun jika kehilangan sosok seorang ibu.
Sementara di mobil keluarga Wijaya, terlihat Bagas sedang menyetir dengan wajah kacau ia khawatir akan Zahra.
"mah kasian kak Zahra mah"
Kiran yang ikut dengan mereka pun merasa sedih melihat kakak kesayangannya sedang terpuruk.
Hera mengelus kepala Kiran dan memeluknya ia juga sedih ketika harus melihat ke adaan Zahra.
...…………………...
Beberpa jam perjalanan mobil Bagas serta mobil Bramantio memasuki sebuah kawasan pemukiman.
tak berapa lama mereka sampai di depan rumah orang tua Zahra.
terlihat keadaan rumah sudah ramai di penuhi para tetangga yang hendak berbela sungkawa.
Zahra tanpa rasa sabar langsung turun melewati Eza, ia berlari masuk ke dalam rumah.
"ibu……"
__ADS_1
teriak Zahra saat ia melihat tubuh sang ibu sudah terbaring.
Zahra histeris tak kuasa menahan rasa pilunya.
semua yang berada di dalam mobil turut mengikuti Zahra.
"ibu bilang sayang sama Zahra, tapi kenapa ibu ninggalin Zahra bu. baru aja Zahra rasain pelukan dan ungkapan sayang ibu"
Zahra merasa hancur , bahkan hatinya seakan remuk bagaimana tidak separuh hidup Zahra telah pergi meninggalkannya.
walaupun sedari kecil ia tidak dekat dengan sang ibu namun tetap saja hidupnya berasa mati rasa ketika kehilangan orang yang terbayang.
"ibu…ibu minta Zahra buat nemuin ayah Zahra bu, sekarang Zahra udah ketemu bu sama dia. bangunlah buk lihat Zahra bu"
Sinta dan Hera berusaha menenangkan Zahra air mata mereka tidak dapat di bendung.
bahkan Bagas dan Eza turut menangis melihat keadaan yang memilukan ini.
"ibu Zahra pengen bahagia bareng sama ibu. tolong bu bangunlah Zahra pengen di peluk ibu"
Zahra terus berbicara dengan tangisan yang masih menghiasi.
"ikhlaskan nak, jangan meratapi kepergian ibu mu. itu akan membuatnya tidak tenang"
Sinta mengelus punggung Zahra.
"bu……"
Zahra beralih memeluk Sinta, keadaannya sangat kacau wajahnya pucat matanya terlihat sembab.
"Maya …ibu ku sudah tiada may"
ucap Zahra pada Maya yang sedari tadi berada di dekatnya.
"yang kuat yah Ra, "
tanya Zahra terisak
"ayah aku mana May? "
Zahra berusaha berbicara di sela-sela isakannya
"ceritanya panjang Ra. ayah kamu masih berada di rumah sakit keadaannya kritis dan belum sadarkan diri"
tutur Maya
"bagaimana kronologi kejadiannya? "
tanya Hera pada Maya
"taksi yang di tumpangi pak Adam dan bu Venti mengalami kecelakaan bu"
Ucapa Maya. membuat Zahra kembali menangis
Maya berusaha menguatkan Zahra.
Hera juga turut mengelus punggung Zahra ia tak kuasa melihat Zahra seperti ini.
sementara semua biaya pemakaman di urus oleh Bramantio . ia yang bertanggung jawab atas semua biaya ini
menurut keterangan dari Maya. kedua orang tua Zahra kecelakaan karena hendak mengejar Zahira yang akan menuju bandara.
Zahira pergi dari rumah untuk pergi mengikuti pendidikan modelling di luar negri.
awalnya niat Zahira di tolak Adam sebab Adam sudah tidak memiliki biaya untuk pendidikan yang dikehendaki Zahira. sebagian tanah milik Adam sudah di jual untuk membiayai perobatan Venti.
hanya bangunan rumah itulah harta satu-satunya yang di miliki Adam. namun rumah tersebut diam-diam di jual oleh Zahira.
__ADS_1
Zahira menjual rumah kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan Adam dan Venti serta Zahira membawa kabur uang hasil penjualan tersebut.
hal itu yang membuat kedua orang tua Zahra berusaha menghentikan Zahira, namun naas taksi yang mereka kendarai mengalami kecelakaan yang cukup parah.
membuat Venti meninggal dunia di tempat sementara Adam masih dalam keadaan kritis di rumah sakit.
…
kini hera dan Sinta tidak pulang mereka memilih untuk menginap menemani Zahra.
terlihat kondisi Zahra saat ini memburuk bahkan ia enggan untuk makan membuat Bramantio sangat khawatir.
"makan yah nak, kamu sedari tadi belum makan"
bujuk Sinta sambil hendak menyuapkan nasi namun di tolak oleh Zahra.
"Zahra ga mau makan bu"
ucap Zahra lirih
"Ra kamu makan yah, entar kamu sakit"
Bagas berusaha membujuk Zahra dan mengelus pundak Zahra.
Zahra sedikit legah di saat keadaan seperti ini, mereka semua ada di samping Zahra.
...…………………………………...
Keesokan harinya Sinta Hera serta Bramantio mengunjungi rumah sakit di mana Adam ayah Zahra di rawat.
sementara Eza,Bagas serta Wijaya sementara waktu pulang untuk mengurus keadaan dikantor dan Kiran harus bersekolah.
saat ini mereka masuk ke sebuah ruangan ICU dimana Adam di rawat.
terlihat Adam sedang terbaring tidak sadarkan diri dengan selang infus serta selang makanan menghiasi tubuhnya.
tak luput juga terdapat selang ventilator untuk membantu Adam bernapas.
detak jantung Adam tertera di sebuah layar monitor yang terdapat di sampingnya.
Zahra masuk bersama Sinta dan Hera, mereka masuk dengan menggunakan baju khusus.
Zahra menghampiri Adam yang belum membuka mata.
"Ayah, Zahra datang"
Zahra meneteskan kembali air matanya.
"ayah cepat bangun yah, Zahra rindu ayah"
Zahra menatap lekat-lekat wajah Adam.
wajah yang dahulu selalu penuh amarah saat sedang berhadapan dengan Zahra.
namun wajah ini lah yang dahulu di penuhi keringat demi mencari nafkah untuk keluarganya termasuk Zahra.
"Zahra sayang ayah"
lirih suara Zahra.
………………
upnya cuma satu part doank
Author ga bersemangat 😢 likenya ga meningkat 😭😭😭😭
yasudah lah Author mau cari tisu dulu.
__ADS_1
terimakasih