
jam makan siang telah tiba, seperti biasa para Cleanning servis makan di dapur kantor secara lesehan.
Namun Zahra memilih ke balkon dapur ia tak nafsu makan sama sekali.
ia melamun memandangi gedung-gedung tinggi, pikirannya kembali tak tenang setelah melihat data pak Bramantio.
walaupun belum tentu data itu benar tapi hatinya mengatakan kalau pak Bramantio adalah ayahnya.
…
Sementara Bagas hari ini sudah kembali bekerja.
Bagas hendak menemui Zahra sebab ia hari ini tak melihat Zahra sama sekali. Bagas tahu jika jam segini para Cleanning servis sedang istirahat dan makan siang di dapur kantor.
"Zahra Andriani"
Panggil Bagas di depan pintu dapur yang di dalamnya terdapat banyak para Cleanning servis sedang makan.
dapur kantor ini terbilang sangat luas sehingga para Cleanning servis bahkan satpam pun sering makan bersama di dapur ini, selain luas dapur kantor juga sejuk.
beberapa jendela kaca berukuran besar mengelilingi ruangan ini. jika di lihat keluar jendela tampak suasana kota dan pemandangan gedung-gedung pencakar langit.
karena panggilan dari Bagas, sontak saja semua para Cleanning servis terkejut dengan keberadaan bosnya di sini. mereka tak pernah melihat Bagas berada di dapur.
"Maaf pak, Zahra tidak sedang disini dia di balkon dapur"
Laras menunjuk pintu arah ke balkon
Bagas pun pergi melangkah kearah balkon dapur dan melewati para Cleanning servis.
"tumben tuh direktur main ke dapur"
Bisik Erma pada Laras.
Laras hanya menyikut lengan Erma. khawatir jika bosnya mendengar ucapan dari mulut Erma yang tidak ada remnya.
Sementara Zahra masih setia berdiri di balkon padahal cuaca siang ini lumayan terik.
"ehem"
Bagas berdehem, membuat Zahra menoleh ke arahnya.
"eh pak Bagas"
Zahra sedikit terkejut melihat keberadaan Bagas
"ternyata di sini tempat persembunyian kamu"
Zahra hanya tersenyum tipis.
Bagas mendekati Zahra
"kenapa kamu ga makan siang? "
"saya belum lapar pak"
perut Zahra sebenarnya sudah lapar hanya saja ia sama sekali tak nafsu makan
"sudah siang nanti kamu sakit perut"
Bagas berbicara dengan manik mata menatap Zahra
"iyah pak nanti saya akan makan"
"ehm bapak ada perlu apa yah kesini? "
rasanya sungguh aneh ketika melihat Bagas berada di dapur kantor, karena ia tak pernah berada disini.
"saya ada perlu sama kamu "
"sama saya pak? "
Zahra menunjuk dirinya sendiri
"iyah sama kamu"
"nanti di saat jam pulang kerja, kamu ke ruangan saya ada hal penting yang akan saya sampaikan"
terbesit kesedihan di hati Bagas saat harus berbicara seformal ini dengan Zahra. ia merasa berjarak dengan gadis ini. tidak ada panggilan kakak dari bibir Zahra untuknya, mereka tak seakrab dulu.
"baik pak saya nanti ke ruangan bapak"
"kalau begitu saya permisi dan kamu cepatlah makan ini sudah siang, sebentar lagi jam istirahat usai"
Zahra hanya menjawab dengan anggukan kepala.
sementara Bagas beranjak pergi meninggalkan Zahra yang masih berdiri mematung.
"seandainya perbedaan di antara kita tak sejauh ini kak, mungkin Zahra tak akan bersusah payah menepis perasaan ini"
"Zahra hanya tak ingin menambah masalah dan memperkeruh hati Zahra"
Zahra bergumam pandangannya sayu, hatinya tak bisa berbohong dirinya menyukai Bagas.
…
jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Zahra mengambil ranselnya dan bergegas pulang ia berjalan sedikit berlari ke arah pintu menghampiri Laras yang sedari tadi menunggunya.
"ayo Ra"
__ADS_1
keduanya melangkah keluar
seketika langkah Zahra terhenti
Zahra menepuk jidatnya.
"Aduuuhhh aku lupa"
"lupa apa Ra? "
Laras mengernyitkan kening melihat temannya ini menepuk jilat.
"itu Ras, tadi aku di minta pak Bagas buat nemuin dia pas jam kerja usai"
"Ohh… Yaudah tuk aku temenin"
"ehm ga usah deh Ras aku bisa sendiri kok kamu duluan ajah"
Zahra tak enak hati jika Laras menunggunya lebih lama lagi. sedari tadi Laras menunggu Zahra yang sedang membereskan peralatan kerja.
"Yaudah Ra kalau gitu aku balik duluan, kamu nanti baliknya hati-hati"
Laras beranjak pergi sambil melambaikan tangan ke arah Zahra.
Zahra pun langsung berlari kembali ke ruangan Bagas yang berada di lantai atas.
Nafas Zahra sedikit terengah -engah karena berlari.
sesampainya di depan ruangan Bagas Zahra mengetuk pintu ruangan tersebut, dirinya tak ingin kembali ceroboh, masuk tanpa mengetuk pintu.
"tok…tok…tok"
Zahra sesekali mengatur nafasnya yang berasa sesak.
"iyah silakan masuk"
dari dalam terdengar suara Bagas mempersilahkan.
Zahra perlahan masuk ke dalam ruangan Bagas.
ternyata tidak ada siapapun di dalam selain Bagas.
Zahra kembali menutup pintu.
"maaf pak ada apa yah? "
Zahra berdiri di depan meja kerja Bagas.
"kita ngobrol di dalam aja"
Bagas menutup laptopnya dan beranjak bangkit dari duduknya menuju ruangan pribadinya yang di ikuti oleh Zahra.
Bagas mempersilakan Zahra untuk duduk
"maaf pak, bapak ada perlu apa yah manggil saya kesini? "
"kita sudah gak di jam kerja Ra, bisa kan manggilnya pakai sebutan kakak"
Bagas sangat tidak menyukai jika di luar jam kerja Zahra memanggilnya bapak.
"maaf kak"
Zahra sedikit tertunduk
"aku boleh nanya sesuatu sama kamu? "
Bagas berpindah duduk di samping Zahra.
Zahra hanya mengangguk sebagai jawaban.
"kamu kenapa menghindar Ra? "
"Zahra gak menghindar kak"
Zahra mengangkat pandangannya yang semula tertunduk.
"kamu jangan bohong Ra, apa karena kamu memiliki hubungan dengan Eza makanya kamu menjaga jarak sama aku? "
Mata Zahra membulat mendengar perkataan Bagas, mengapa bosnya ini mengambil kesimpulan terlalu jauh.
"kak, Zahra gak punya hubungan apapun sama kak Eza, Zahra sama kak Eza cuma temenan ga lebih"
ada perasaan legah di hati Bagas setelah mengetahui Zahra tidak memiliki hubungan apapun dengan Eza.
"terus kalau bukan itu alasannya kenapa sekarang kamu berubah bahkan menjaga jarak sama aku? "
"maaf kak, Zahra gak mau nambahin masalah kalau terus dekat sama kakak"
Zahra kembali tertunduk
"masalah? "
"apa maksud kamu Ra ?masalah apa? "
Zahra menghela nafasnya yang sedikit berat. Mungkin Zahra lebih baik berterus terang pada Bagas agar pikiran Zahra bisa legah.
Zahra mengangkat pandangannya dan memberanikan diri menatap netra cokelat milik Bagas.
" Zahra cuma berusaha menjaga jarak sama kakak, Zahra gak mau timbul gosip karena kedekatan kita. posisi kita jauh kak. kakak direktur bahkan pewaris perusahaan ini sementara Zahra hanya Cleanning servis. jadi sebaiknya kita menjaga jarak kak"
__ADS_1
Zahra menjeda ucapannya dan menarik nafas untuk melanjutkan.
"Zahra tahu kakak di jodohkan sama anaknya pak Bramantio. Zahra takut kalau nantinya kedekatan kita terdengar sama Vera, perjodohan kakak akan terganggu"
dugaan Bagas selama ini benar Zahra menjauhi Bagas karena Zahra sudah mengetahui dirinya akan di jodohkan.
"Zahra dengarin aku"
" perjodohan itu gak akan pernah ada, aku gak cinta sama Vera"
Bagas memegangi kedua bahu Zahra memberi pengertian
"kak, masalah suka atau ga suka itu hak dan urusan kakak. Zahra cuma gak mau menambah masalah di hidup Zahra, kalau masih terus dekat sama kakak"
"Ra asal kamu tahu, aku cinta sama kamu Ra, aku sayang sama kamu"
Kata yang selama ini sulit bagi Bagas untuk di ungkapkan sekarang akhirnya lolos dari mulutnya. membuat Zahra membulatkan mata tak percaya.
"apa maksud kakak? "
Zahra benar-benar tak paham dengan ucapan Bagas.
"yah aku suka sama kamu Zahra Andriani, aku sayang sama kamu"
"aku cuma pengen kamu, asal kamu tahu perjodohan itu belum aku setujuin Ra, bahkan aku sama sekali tak mencintai Vera"
Bagas menggenggam tangan Zahra.
Zahra melihat kejujuran dari sorot mata Bagas.
"itu gak mungkin kak"
Zahra yang tadinya merasa senang mendengar kalimat itu berusaha menolak dan menepis kembali perasaannya.
"kenapa ga mungkin Ra? "
"Zahra Cleanning servis kak, sementara kakak direktur disini. Bahkan Zahra gak akan mungkin bersaing sama Vera"
Bagas sedikit kesal mendengar Zahra merendahkan dirinya.
"Zahra aku ga perduli status kamu, aku tulus sayang sama kamu. aku ga pernah permasalahin status kamu. dari awal kita ketemu aku udah punya perasaan cinta Ra ke kamu"
sejak awal Bagas sudah menyukai Zahra bahkan kepribadiannya. Zahra gadis yang tangguh berbeda dengan kebanyakkan gadis pada umumnya.
"stop kak"
Zahra bangkit dari duduknya.
"kakak mungkin bisa terima Zahra tapi keluarga kakak bagaimana? "
"orang tua kakak menginginkan kan Vera yang mesti bersanding sama kakak. orang tua kakak gak akan nerima jika anak mereka bersanding dengan seorang Cleanning servis "
Air mata Zahra jatuh , dadanya terasa sesak.
"kakak sendiri tahu bahkan orang tua Zahra enggan nerima Zahra kak. sampai saat ini Zahra gak tahu siapa ayah Zahra kak. Asal kak Bagas tahu Zahra ini anak har*m kak ga pantes buat kakak"
"Grepp"
Bagas bangkit dan menarik Zahra ke dalam pelukannya.
sementara Zahra menangis sejadi -jadinya di pelukan Bagas menumpahkan segala beban kepedihan di hatinya.
"Sssstt jangan bicara begitu Ra"
"Asal kamu tahu Ra, aku ga peduli siapapun kamu, dari mana asal kamu, bagaimana jalan hidupmu. yang aku tahu aku benar-benar cinta sama kamu Ra, aku sayang sama kamu Ra"
Bagas mengeratkan pelukannya
"Zahra ga pantes kak buat kakak"
Zahra yang masih di pelukan Bagas pun berusaha berbicara di sela-sela isakannya.
"Zahra takut kak kalau Zahra dekat sama kakak sama saja Zahra mencari masalah sama Vera. di tambah lagi jika orang tua kakak tahu seseorang yang dekat sama kakak itu anak yang gak jelas statusnya"
"masalah Zahra buat nemuin ayah kandung Zahra saja belum selesai kak, Zahra gak mau nambahin masalah yang lebih berat lagi, Zahra capek kak"
Zahra masih berada di pelukan Bagas, ia merasa nyaman di dalam dekapan laki-laki ini membuat ia mengungkapkan segalanya.
"kalau boleh Zahra jujur, sedari dulu Zahra suka sama kakak, hanya saja Zahra tak berani menanggapi perasaan ini kak Zahra tepis jauh-jauh perasaan ini, Zahra takut"
Zahra semakin terisak di pelukan Bagas. membuat hati Bagas merasa perih melihat Zahra terpuruk dan harus memikul beban pikiran seberat ini.
sebenarnya Bagas sudah tahu semuanya tentang masalah Zahra yang bukan anak kandung ayahnya.
Zahira sudah menjelaskan semuanya, di saat Bagas mengobrol dengannya dan mencari informasi tentang Zahra.
tapi Bagas seolah menyembunyikan itu semua. agar Zahra tak menjauh karena merasa malu. tapi nyatanya Zahra tetap menjauhinya.
Bagas tak menyangka di balik sifat Zahra yang ceria ia menyimpan beban hidup yang berat. bahkan ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri di kota orang.
***………
Part ini panjang banget guys, Author ngetiknya sambil ikutan nangis 😭😭😭
kalau kalian gda yg like and vote tega bget dah 😭😭😭😭😭😭😭
salam manis Author
~EtyRamadhii 🤗
__ADS_1
………