Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
104.perhatian kecil dapat merubah perasaan hati


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 6 sore,sebenarnya acara sudah selesai sejak 2 jam yang lalu namun banyak tamu yang


belum pulang, untuk sekedar mengobrol dan bersantai.


Zahra memilih untuk pulang kerumah ia khawatir dengan Zahira yang berada di rumah sendirian sementara bi Darmi sejak pagi tadi ia permisi untuk pulang lebih awal sebab dia juga memiliki urusan keluarga.


“Yah, Zahra mau pulang. Ayah ga pulang”


Tanyanya pada Adam yang masih bersantai dengan Wijaya dan juga Bramantio


“kamu pulang dulu saja, biar ayah kamu papah yang antar”


“kamu pulang sama Bagas kan?”


Tanya Bramantio


“iyah pa”


“yasudah kamu hati-hati yah”


“ayah sebentar lagi juga pulang”


Ucap Adam,


Sekitar 20 menit Zahra sudah sampai di depan rumahnya, Bagas memilih untuk langsung pulang tanpa singgah ke rumah Zahra. Mungkin Bagas juga kelelahan dan ingin langsung beristirahat.


Perlahan Zahra masuk ke dalam rumah, terlihat sepi walaupun cahaya lampu sudah di nyalakan untuk menerangi


seisi rumah tersebut.


“Assalamualaikum”


Ucap Zahra namun tak ada sahutan, perlahan telinganya menangkap suara gemericik air kran wastafel dari arah dapur ,membuat Zahra melangkahkan kakinya ke dapur.


 Terlihat Zahira sedang memotong bawang , ia mengenakan daster panjang dan rambut di ikat secara asal ,terlihat jelas perutnya kian membesar. Zahira tak menyadari bila Zahra sedang memandanginya.


“apa yang sedang kau lakukan?”


Tanya Zahra menghampiri Zahira, kini Zahra tak pernah lagi memanggil Zahira denan sebutan kakak. Walau rasanya terdengar tidak sopan namun hal itu lebih nyaman bagi Zahra.


Zahira sedikit berjengit karena terkejut akan kehadiran Zahra yang tiba-tiba


“aku lapar, tak ada makanan apapun di lemari”


Ucap Zahira sambil menoleh sekilas dan meneruskan pekerjaannya


Zahra merasa iba, ia pun tak tega membiarkn Zahira melakukan itu dengan keadaan lapar apalagi perutnya kian


membesar. Sejak siang tadi mungkin ia belum makan, sebab bi Darmi hanya membuatkan sarapan pagi sebelum ia pulang.


“Duduklah di meja makan, biar aku yang membuat makanan untuk mu”


“sudahlah, aku bisa melakukannya sendiri”


Tolak Zahira


“kau sedang hamil , aku tak ingin kau pendarahan lagi”


Zahra memasang wajah galak,membuat Zahira menurut dan melangkah menuju meja makan yang berada di dekat


dapur.


Zahra mulai memasak tanpa menghapus riaan make up serta membuka kebayanya , tangannya cekatan mencuci


ayam dan menggorengnya. Zahra membuat menu ayam goreng mentega dengan tumis sosis. Untung saja Zahra selalu stok bahan dapur sehingga tak perlu lagi membeli ke supermarket.


Zahira hanya memperhatikan Zahra yang sedang memasak. Hatinya bergetar, sejak dulu Zahra selalu mengalah


dengannya bahkan Zahra pergi dari rumah itu juga karenanya. Dan kini walaupun Zahira sudah berbuat jahat namun Zahra masih memperdulikannya.


 Zahira sadar di balik sifat Zahra yang ketus seperti sekarang ini ,namun rasa sayang Zahra masih terasa


dari perhatian kecil yang ia berikan.


Bahkan saat kemarin sewaktu Zahira tertidur di sofa ia sadar jika Zahra yang memberikannya selimut.


Mata Zahira masih terus menatap Zahra tanpa beralih.gadis kecil yang dulu sering mengalah kini tumbuh menjadi gadis mandiri dan baik hati.gumam hati Zahira

__ADS_1


Tak butuh waktu lama menu yang di buat Zahra sudah selesai. Ia membawa menu tersebut ke meja makan di mana Zahira duduk. tak lupa ia juga membawa nasi dan piring.


Zahra kembali melangkah ke dapur membuat Zahira tak berani makan terlebih dahulu padahal perutnya sudah sangat lapar.


“kenapa hanya di lihat, apa kau tak suka dengan menunya”


Tanya Zahra sambil membawa air putih dan segelas susu


“aku menunggumu, aku ingin makan bersama mu”


Ucap Zahira lirih namun masih dapat di degar oeh Zahra


 “baiklah, ayo kita makan.Kasihan keponakanku sudah ikut lapar”


“ini aku buat kan susu untukmu , jangan lupa di minum”


Zahra meletakkan segelas susu di dekat piring Zahira, bahkan ia mengambilkan nasi dan lauk untuk Zahira walaupun bibirnya masih setia mengoceh.


 “tenang saja itu susu hangat  jangan di tumpahkan lagi kalau kau tak ingin mengepel lantai”


Zahira hanya diam memperhatikan Zahra. Walaupun Zahra marah  seakan membencinya namun ia masih tetap menyayangi Zahira terlihat dari caranya memperlakukan Zahira.


“nih, makan lah yang banyak agar kau tidak lemas”


Zahra menyodorkan piring yang berisikan nasi dan lauk pauk, sesudah itu ia juga mengambil nasi untuknya


“mengapa kau tak meneleponku jika kau belum makan, aku kan bisa menyuruh karyawanku untuk mengantar nasi


kesini”


Zahira belum menyentuh nasinya ia masih memandangi Zahra yang terus mengomel


 Zahra yang sadar jika di perhatikan menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil ayam goreng.


“ada apa?”


“kau tak suka dengan masakanku?”


“apa perlu aku orderkan makanan untuk mu?”


Tanya Zahra namun Zahira menggeleng


“apa kau sakit?”


Tanyanya lagi


Zahira masih menggeleng, terlihat dari pelupuk matanta cairan bening menumpuk seakan hendak jatuh


menetes


“aku minta maaf”


Ucap Zahira lirih


“untuk apa?”


“aku tak merasa di repotkan hanya memasak menu sederhana”


“bukan itu”


“lalu?”


Zahra menatap heran Zahira hingga dahinya berkerut


“selama ini aku jahat denganmu, bahkan sejak kecil kau selalu mengalah padahal aku kakakmu. Tak jarang kau juga selalu di marahin ayah jika kita bertengkar padahal aku yang salah. Dan hingga kini aku masih terus membuat mu susah dan marah, mungkin kau membenciku. Di tambah lagi aku menjadi benalu di rumah ini”


 Zahira telah terbuka pikirannya semenjak siang tadi ia merenungi tentang dirinya sendiri di dalam rumah .di tambah ia menemukan album keluarga yang terletak di dalam kamar ayahnya, ia jadi rindu hangatnya sebuah keuarga.


“aku juga sudah menyebabkan ibu meninggalkan dan kini aku kembali menoreh luka di hati ayah atas


kehamilanku”


Isaknya bahunya bergetar karena tangis


“aku tak merasa kau repotkan bagaimana pun juga kau kakak ku, kita di lahirkan dari rahim yang sama walaupun dari ayah yang berbeda”


 Zahra mengelus tangan Zahira

__ADS_1


“apa yang sudah terjadi dengan ibu itu sudah takdir”


“tapi aku masih merasa bersalah Ra”


“nasi sudah menjadi bubur”


Perlahan ia mengangkat pandangannya memandang wajah Zahra


 “dengar Zahira, jangan kau sesali semuanya , dan semua itu tak akan kembali lagi seperti sedia kala”


“aku hanya minta kepadamu berubah lah, buang sifat egoismu sifat manja mu. Bahkan kau sendiri sudah merasakan akibat dari sifat egoismu itukan ?”


“jika nasi sudah menjadi bubur bukan kah bubur itu bisa di olah kembali dan bisa bermanfaat. Bangkitlah jika meratapi saja itu tak akan berguna, waktu terus berjalan”


“tapi bagaimana dengan kandunganku Ra?”


“bagaimana jika aku melahirkan bayi tanpa sosok ayah?”


“apakah aku harus mengugurkannya?”


 Zahira bingung , ia menggigitbibir bawahnya ada perasaan takut di benakknya.


 “apa kau sudah gila?”


“mengapa tidak sekalian kau saja yang bunuh diri”


Ucap Zahra kesal


“anak itu tak bersalah Zahira, berpikir jernihlah jangan keras kepala. Jika kau membunuh janin mu itu tidak akan menyelesaikan masalah”


“terlalu dangkal pikiranmu”


“lalu aku harus bagaimana Ra?”


“aku akan membantumu untuk mencari Alex, semampuku “


“jaga baik-baik keponakanku jangan sakiti dia”


“kami tak akan membiarkanmu menghadapi masalah ini sendirian”


 Zahra mengeratkan genggaman tangannya, berusaha menguatkan Zahira. Ia takut jika Zahira depresi.


“terimakasih Ra, aku janji akan berubah .”


“terimakasih kau sudah tulus menyayangiku”


 Air mata Zahira tumpah membasahi pipi mulusnya


 “tepati janjimu untuk berubah dan aku akan menepati janjiku untuk mencari Alex”


 Zahira mengangguk


“sudah jagan menangis, ayolah makan aku tak ingin keponakanku ikut sedih”


Zahra berusaha menghibur Zahira. Perlahan Zahira menghapus air matanta dengan punggung tangannya .


Dan mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.


 Sepanjang acara makan mereka, keduanya mengobrol banyak. Zahra juga menggali informasi tentang Alex dari Zahira secara detail.


 Sesekali Zahira mengulas senyum ramah entah mengapa hatinya menghangat.


 Selesai makan Zahira membereskan meja makan sementara Zahra mencuci piring.


“aku bantu yah?”


Tawar Zahira sambil membawa piring kotor di tangannya


“sudah tak perlu aku bisa sendiri. Kau istirahatlah ini sudah malam tak baik tidur terlalu larut”


“jangan lupa susu dan vitaminnya di minum”


Oceh Zahra sambil menggosok piring kotor dengan spons.


 “ahh baik lah”


“sekarang kau lebih galak dariku”

__ADS_1


Zahira meninggalkan Zahra yang masih mencuci piring. Zahra tersenyum mendengar penuturan Zahira


__ADS_2