
Hari ini Adam sudah di perbolehkan untuk pulang, kondisinya sudah membaik.
walaupun kini Adam masih menggunakan kursi roda sebagai alat bantu dirinya untuk berjalan.
Zahra membawa ayahnya untuk kembali ke rumah sebab ia harus mengambil koper baju ayahnya yang belum di angkut ke kota.
sekalian untuk sang ayah melihat isi rumah tersebut untuk terakhir kalinya.
Kini Sinta, Eza serta Zahra dan Adam sudah sampai di depan rumah Adam.
terlihat Bramantio dan Bagas sudah menunggu ke datangan mereka.
Adam membuang pandangannya ia enggan melihat wajah Bramantio. seseorang yang menyelipkan rasa benci di hatinya.
perlahan Zahra membuka pintu rumah dan mendorong kursi roda milik Adam.
diikuti oleh Sinta, Eza, Bagas serta Bramantio yang turut masuk.
mata Adam membulat saat di lihat kondisi rumah sudah kosong tidak tertinggal satu barang pun.
"kemana semua barang-barang ku? "
tanya Adam dengan suara keras.
Zahra duduk di depan Adam ia memegang tangan Adam.
Zahra belum memberitahu Adam soal pindahan mereka, Zahra takut Adam akan membuat keributan di rumah sakit .Zahra juga takut pada saat di rumah sakit kondisi kesehatan Adam akan menurun .
"Yah, semua barang-barang ayah sudah Zahra bawa ke rumah baru kita"
tutur Zahra lembut.
"apa maksudmu?"
Adam terlihat kesal
"yah rumah ini sudah bukan milik kita lagi, kan rumah ini sudah di jual sama Zahira"
"kemarin papah Bram berniat untuk mengambil rumah ini lagi , tapi sayangnya pembeli rumah ini enggan walau di bayar dengan harga mahal"
Zahra berusaha menjelaskan selembut mungkin agar Adam paham.
"gak… aku ga akan ninggalin rumah ini"
ucap Adam
"tapi yah, pemilik rumah ini akan segera pindah ke sini jadi kita harus segera pergi"
Zahra tahu tidak mudah bagi Adam meninggalkan bangunan yang penuh dengan kenangan ini.
"kita pindah di rumah baru yah, kita tinggal sama-sama "
Zahra mengulas senyum.
"aku tidak mau tinggal dengan mu"
ketus Adam
"kau bukan anakku, aku akan tetap di sini menunggu anakku kembali. kau pergilah "
bentak Adam pada Zahra.
"yah dengerin Zahra. kalau ayah tetap di sini siapa yang merawat ayah. bagaimana kalau ayah di usir dari sini sebab ini bukan rumah ayah lagi"
"ayah tinggal sama Zahra yah"
Zahra berusaha membujuk Adam
"gak"
"aku tidak mau. kau pergilah dengan papa mu aku bukan ayahmu. pergi"
Adam mendorong tubuh Zahra hingga Zahra terjatuh.
Adam melakukan itu agar Zahra meninggalkannya, ia tahu dirinya bukan ayah kandung Zahra tidak pantas menurutnya jika Zahra yang merawatnya.
bahkan ia merasa bersalah jika Zahra yang dari dulu tidak di anggap olehnya justru kini Zahra yang akan merawat dan menjaganya.
ia terpaksa berbuat demikian pada Zahra.
Bramantio yang melihat anaknya di perlakukan dengan kasar oleh Adam pun merasa marah.
ia menghampiri Zahra
"cukup Adam! "
"kau keterlaluan, bukan kah Zahra bermaksud baik ingin merawatmu."
bentak Bramantio
"diam kau! "
"bawa anakmu pergi dari sini aku tak sudi melihatnya"
Adam membuang pandangannya hatinya sakit saat harus mengatakan hal itu, jujur saja ia cemburu di saat Zahra bersama Bramantio.
mungkin dengan cara ini dirinya bisa menebus kesalahannya dengan tidak lagi membebani hidup Zahra yang harus merawatnya.
"ayo nak, kita pergi dari sini. dia sama sekali tidak menghargaimu"
Bramantio membantu Zahra untuk berdiri, Zahra menangis saat Adam mengusirnya.
"yah…apakah ayah sebenci ini sama Zahra"
__ADS_1
ucap Zahra, sementara Adam mengalihkan pandangannya. air matanya sudah menetes.
"sudah lah nak kita pergi dari sini. biarkan saja dia membusuk di tempat ini sendiri"
rutuk Bramantio , ia menggandeng Zahra dan mengajaknya pergi.
Zahra hanya menurut.
Adam menoleh melihat punggung Zahra, hatinya jelas sakit kini ia sebatang kara tidak memiliki siapapun.
air matanya menetes.
"maafkan ayah nak"
ucap Adam lirih.
Zahra menghentikan langkahnya saat ia hendak masuk ke dalam mobil.
"pah, Zahra ga mungkin pergi pa ninggalin ayah sendiri"
ucap Zahra ia tak kan mungkin tega.
"nak dia tidak ingin ikut denganmu bahkan ia dengan kasar mengusir mu"
Bramantio kesal dengan sikap Adam pada Zahra.
"pah, ayah tidak bisa berjalan bagaimana mungkin Zahra bisa ninggalin ayah sendiri disini bahkan ini bukan rumahnya lagi. lalu bagaimana kalau pemilik rumah ini mengusir ayah"
"pah, bagaimanapun sikap ayah ke Zahra ayah tetap lah ayah Zahra yang membesarkan Zahra pah. saat ini hanya Zahra yang ayah punya"
"pleasee pah izinkan Zahra membujuk ayah untuk ikut. Zahra mohon pah"
Zahra memohon pada Bramantio.
Bagas serta Eza dan Sinta hanya terdiam melihat Zahra.
"terbuat dari apa hatimu nak"
Gumam hati Sinta melihat ke baikan Zahra.
Bramantio terdiam, apa yang di katakan Zahra benar bagaimanapun juga Adam lah yang membesarkannya. sulit bagi Zahra untuk meninggalkan sang ayah
"baik lah nak, kalau itu mau kamu papah akan izin kan"
Bramantio mengelus kepala Zahra
"terimakasih pa"
Zahra memeluk Bramantio
"ayo kita coba lagi membujuknya"
Bramantio kembali menggandeng tangan Zahra untuk masuk ke dalam rumah.
Zahra melangkah mendekati Adam ia tahu ayahnya sedang menangis.
"ayah"
panggil Zahra lembut ia kembali berlutut di depan Adam.
"untuk apa kau kembali lagi? "
ucap Adam sambil memalingkan wajahnya.
"Zahra ga akan mungkin bisa ninggalin ayah sendirian disini yah. Zahra ga akan pergi dari sini tanpa ayah"
"Zahra mohon ayah ikut dengan Zahra yah. kalau ayah membenci Zahra silahkan yah Zahra tidak marah . Zahra cuma ingin ayah ikut dengan Zahra"
Zahra memegang tangan Adam.
Adam menggelengkan kepalanya seolah mengatakan 'tidak'.
"yah beri Zahra kesempatan untuk berbakti sama ayah, merawat ayah, menemani ayah. walaupun Zahra tahu kehadiran Zahra sungguh tidak ayah inginkan. Zahra sangat mohon ke ayah untuk kabulin permintaan Zahra"
"Zahra sudah kehilangan nenek bahkan Zahra sudah ke hilangan ibu yah. sekarang Zahra ga mau kehilangan ayah lagi, Zahra sayang sama ayah. Zahra ga ingin ayah kesepian ,ayah masih punya Zahra yah. ayah mau yah tinggal dengan Zahra."
air mata Zahra menetes di pipinya
"sekalipun ayah tidak menganggap Zahra itu tidak masalah bagi Zahra yang terpenting ayah mau ikut dengan Zahra. "
Bramantio meneteskan air mata melihat ketulusan di hati Zahra. ia tak menyangka akan memiliki anak sebaik Zahra.
"yah selama ini Zahra tidak pernah meminta apapun dari ayah kan. kali ini Zahra hanya meminta ayah untuk ikut dengan Zahra"
air mata Adam terus mengalir lidahnya keluh tak sanggup berkata.
"yah kalau ayah minta Zahra untuk mencium kaki ayah akan Zahra lakuin asal ayah mau ikut dengan Zahra "
Zahra akan melakukan apapun asal Adam mau ikut dengannya.
Perlahan Zahra membungkukkan tubuhnya untuk mencium kaki Adam
Adam mencekal bahu Zahra membuat Zahra mengangkat pandangannya.
Adam menggelengkan kepalanya, air matanya bercucuran.
"jangan lakukan itu. kau tak pantas merawatku, bahkan aku tidak dengan baik merawat dan mendidikmu"
ucap Adam dengan bibir bergetar.
"pergilah dengan ayah kandungmu kau berhak bahagia dengannya, kau tak perlu mengkhawatirkan aku. biarkan aku disini menanti kepulangan anakku"
ucap Adam membuat Zahra kembali menangis
__ADS_1
"ga ayah…ga! "
"Zahra ga mau pergi tanpa ayah. bagaimanapun juga ayah tetap ayah Zahra sampai kapanpun yah. Zahra juga mau bahagia bersama ayah"
teriak Zahra menangis.
Adam pun menunduk mendengar ucapan Zahra.
"Ayah "
Zahra memeluk tubuh Adam
"bukan kah Zahra juga anak ayah, Zahra sayang sama ayah. Zahra janji suatu saat nanti Zahra akan membeli rumah ini kembali untuk ayah. tapi kali ini ayah kabulkan permintaan Zahra untuk merawat ayah"
Zahra melepaskan pelukannya lalu ia menghapus air mata Adam.
"aku takut kau terbebani jika merawatku. aku sudah banyak bersalah padamu nak tak pantas rasanya jika kau berbakti padaku"
suara Adam melemah pandangannya menunduk.
"yah, ayah itu ayah yang hebat buat Zahra ayah yang baik. Zahra selalu ingat pengorbanan ayah, bahkan keringat ayah dahulu bercucuran ketika pulang kerja bahkan baju ayah pernah basah kuyup karena hujan. bukan kah hal itu ayah lakukan demi sesuap nasi untuk keluarga ayah terutama untuk Zahra juga"
"bagaimana Zahra membayar keringat ayah, perjuangan ayah serta pengorbanan ayah untuk membesarkan Zahra. sungguh berdosa besar jika Zahra tidak bisa merawat ayah"
Zahra tersenyum di sela tangisnya
"jadi Zahra mohon izinkan Zahra berbakti sama ayah, dan merawat ayah. ayah ikut yah dengan Zahra"
Zahra terus membujuk Adam.
Sementara Adam menganggukkan kepalanya
"iyah ayah mau nak"
ucap Adam dengan senyuman tipis
"terimakasih ayah"
Zahra kembali memeluk Adam.
ia bahkan mencium pipi Adam, inilah kali pertama dalam hidup Zahra mencium ayahnya.
Sungguh ke bahagiakan yang tak terkira bagi Zahra.
"maafkan ayah nak"
Adam pun mengecup kening Zahra dengan lembut. sungguh tuhan terlalu baik padanya. bahkan dosanya selama ini tidak mendidik Zahra dengan baik justru kini Zahra sangat berbakti padanya.
Zahra mengangguk.
Bagas tersenyum legah melihat adegan itu.
"udah yuk jangan nangis lagi kita mau lihat rumah baru kita"
senyum Zahra sambil menghapus kembali air mata Adam.
Adam hanya mengangguk, Zahrapun kemuadian mendorong kursi roda Adam
mereka keluar menuju mobil, Bagas dan Eza membawa koper baju milik Adam.
"pah…Zahra naik mobil sama Bagas yah"
ucap Zahra pada papanya
"Yaudah nak, papah ngikutin pakai mobil dari belakang "
ucap Bramantio.
"mari pak saya bantu"
ucap Bagas.
ia menggendong tubuh Adam dan membawanya masuk ke dalam mobil, sementara Zahra melipat kursi roda milik Adam dan memasukkan ke dalam mobil.
sementara kini Sinta dan Eza berada 1 mobil dengan Bramantio.
"kak, Zahra di belakang yah sama ayah"
ucap Zahra
"yaudah Ra, "
Bagas menutupkan pintu ketika Zahra sudah berada di dalam mobil.
mereka pun meninggalkan bangunan itu, Adam masih menoleh ke belakang memperhatikan rumah yang dahulunya ia tempati bersama keluarganya.
Zahra paham melihat Adam, ia mengelus tangan ayahnya.
"nanti bakal Zahra beli kembali rumah itu untuk ayah"
Zahra mengulas senyum menguatkan Adam.
…………………………
Haaaaa sedih juga yah guys. akhirnya Adam mau ikut.
jangan lupa yah guys mampir juga ke karya Author yang judulnya "Jebakan Hidup berujung Cinta"
Author akan bersemangat kalau di banjiri like, vote serta komentar yang gemesin dari para readers
oke bye
Salam manis Author bobrok. 😂😂😂
__ADS_1