
Zahra tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya saat melihat Bagas.
bagaimana tidak, malam ini Bagas mengenakan stelan kemeja motif kotak dengan lengan baju yang di gulung hingga siku ,serta baju yang tidak di kancingkan yang di padukan dengan celana jeans hitam.
tak luput kaos putih polos melengkapi penampilan Bagas saat ini.
Zahra tak mengedipkan matanya hatinya serasa mencair saat melihat Bagas setampan ini.
"Hei"
ucap Bagas sambil melambaikan tangan di depan wajah Zahra.
"ya ampun keren banget"
tanpa di sadari Zahra mengucapkan kalimat itu membuat Bagas tersenyum .
"baru sadar yah kalau Pacarnya keren"
Bagas menaik turunkan alisnya.
"ehh…Ehmm enggak si…siapa yang bilang "
Zahra gugup saat sadar kalimatnya menimbulkan kesombongan Bagas.
"ngaku hayo"
Bagas mencolek dagu Zahra
"ih apaan sih kak, udah yuk katanya mau pergi"
Zahra merengut kesal
"yaudah ayuk, kita pamit sama ayah dulu"
ajak Bagas.
setelah mereka pamitan, keduanya pun pergi. Zahra sendiri tak tahu kemana tujuannya.
"kita mau ke mana si kak? "
tanya Zahra sambil mengamati wajah Bagas yang kini sedang fokus menyetir.
"ada deh entar kamu bakal seneng"
Bagas masih merahasiakan tempat yang akan mereka tuju.
"yaudah deh"
Zahra menyandarkan tubuhnya, ia mulai mengamati jalanan kota yang cukup ramai.
Zahra mengedarkan pandangannya, ia memfokuskan penglihatannya pada 1 objek yang menurutnya ia kenal.
"kak, kak. lihat deh itu bukannya kak Eza kan? "
Zahra menunjuk dua orang yang sedang berdiri di pinggir jalan raya sembari membawa barang yang berada di kantong plastik besar.
"Ehh iyah Eza tuh, ngapain mereka di pinggir jalan"
Bagas juga turut memperhatikan Eza dan Rianda
"samperin yuk kak"
ajak Zahra yang langsung di setujui oleh Bagas.
Bagas menepikan mobilnya.
Dengan cepat Zahra turun dari mobil di ikuti oleh Bagas.
"kak Eza kak Rianda? "
"kakak mau kemana? "
tanya Zahra yang kini memperhatikan kantong plastik yang di tenteng Rianda.
"eh Ra"
"ini Ra kakak sama Rianda mau bagi-bagi nasi bungkus"
ucap Eza yang di sertai anggukan oleh Rianda
"bagi-bagi nasi bungkus? "
tanya Zahra keheranan
"iya Zahra, kita lagi bagi-bagi makanan. rutinitas kita berdua kalau lagi gajian kita bagi-bagi nasi bungkus buat anak jalanan"
tutur Rianda
"wah bagus dong"
sahut Bagas
"kita boleh ikutan ga kak? "
tanya Zahra
"boleh lah. ini juga masih sebagian soalnya kita pakai motor jadi ga bisa bawa banyak-banyak"
sahut Eza
"yaudah bawa pakai mobil aku aja Za, biar aku tambahin deh"
ucap Bagas
"Zahra juga"
Zahra tidak ketinggalan utuk menambahkan nasi bungkus.
__ADS_1
mereka pun memesan nasi bungkus lebih banyak lagi.
"Rianda bareng kita aja naik mobil"
ucap Bagas
"aku gimana? "
tanya Eza pada Bagas
"yah kamu naik motorlah emangnya motor kamu mau di kemanain?. di masukin dompet? "
seru Bagas terlihat kesal.
"Oh iyah, yaudah deh aku ikutan kalian dari belakang"
ucap Eza sambil menggaruk kepalanya.
mereka pun berangkat menuju jembatan yang berada di pusat kota.
kini Zahra memilih duduk di belakang bersama Rianda.
"udah sering yah kakak sama kak Eza bagi-bagi begini? "
tanya Zahra
"sering Ra, dahulu pertemuan kita juga karena kakak lagi bagi-bagi nasi begini"
Rianda tersenyum mengingat pertemuannya dengan Eza.
"wah berarti sebelum dengan kak Eza kakak sudah lebih dahulu berbagi yah kak? "
"Hahaha yah begitulah walaupun ga sebanyak sekarang"
sahut Rianda
"ternyata kamu berjiwa sosial yang tinggi ya Rianda"
sambung Bagas yang kini sedang memperhatikan Zahra dan Rianda melalui kaca spion mobilnya.
"Hahaha. ga begitu tinggi sih pak, cuma menurut saya ini sudah kewajiban saya aja untuk berbagi. karena setiap rezeki yang kita dapat ada hak mereka juga"
tutur Rianda membuat Zahra salut dengan perempuan yang duduk di sampingnya ini.
"Zahra salut banget sama kakak. beruntung banget kak Eza yah punya pacar sebaik kakak"
puji Zahra
"ah kamu Ra berlebihan deh,kamu juga baik kok. "
seru Rianda.
di sepanjang perjalanan Bagas hanya mendengarkan obrolan dua perempuan tersebut.
sesekali terdengar keduanya tertawa lepas.bahkan Rianda dan Zahra sudah seperti kakak adik yang tidak canggung untuk mengobrol banyak.
"di jembatan ini kah? "
"Oh iyah pak disini aja"
Rianda memperhatikan keluar.
saat ia melihat sekumpulan anak jalanan Rianda pun segera turun dari mobil.
Zahra dan Bagas turut turun. terlihat Rianda memanggil anak-anak tersebut.
"Ra boleh di keluarin ga nasinya? "
ucap Rianda
"Oh iya kak"
Zahra dan Bagas mengeluarkan kantong plastik besar yang berisikan banyak nasi bungkus.
Rianda pun membagikan nasi tersebut di bantu oleh Bagas dan Zahra.
Rianda juga turut membagikan nasi kepada pemulung serta penjual asongan yang sedang melintas.
"Kak Riandaaa"
teriak beberapa anak kecil yang kini berlari menghampiri Rianda.
"Heii. mana teman-teman yang lain? "
tanya Rianda
"masih di panggil sma si Uta kak. kak Eza kemana kak? "
bocah itu celingukan mencari Eza. tangan mungilnya membawa plastik susu serta kecrek an yang terbuat dari tutup botol minuman soda.
"Kak Eza masih di belakang"
sahut Rianda
"kakak ini siapa? "
tanya bocah itu memperhatikan Bagas dan Zahra.
"ini namanya kak Zahra dan ini kak Bagas"
tutur Rianda
"hallo nama kakak Zahra"
Zahra mengulurkan tangannya. bocah itu langsung meletakkan plastik susu serta krecekannya di bawah.
ia pun mengelap tangannya di baju hingga berkali-kaki.
__ADS_1
"nama aku Deri kak"
bocah itu menyalami dan mencium tangan Zahra.
"kenalin aku juga dong sekalian soalnya tangan aku kotor"
"iya aku juga"
bisik teman Deri yang berada di sampingnya.
"Oh iya kak ini teman Deri namanya Reno sama Umar"
ucap Deri
"hallo"
sapa Zahra , Zahra kembali mengulurkan tangannya namun kedua bocah itu hanya melihat tangan Zahra.
"loh kenapa? "
tanya Zahra ke heranan.
"maaf kak tangan kita kotor ga enak kalau salim sama kakak"
ucap kedua bocah itu membuat Zahra merasa mereka berjarak dengannya.
Zahra pun meraih tangan Umar dan menyalaminya.
"ga kotor kok"
ucap Zahra sambil tersenyum membuat Reno juga memberanikan diri menyalami Zahra dan Bagas.
"nih buat Umar, Reno, sama Deri"
Bagas membagikan nasi bungkus pada ke 3 bocah itu.
"cuci tangan dulu yah sebelum makan"
seru Rianda.
ke 3 anak itu pun menghampiri wastafel yang tersedia di seberang jalan.
tak beberapa lama Eza pun sampai.
"lama bener"
ucap Bagas
"Hahaha mampir tadi cari cemilan"
Eza menunjukkan donat yang ia bawa.
"banyak bener "
Zahra membulatkan matanya.
"iyah buat di bagi juga"
Eza pun mendekati Rianda yang masih membagikan nasi pada anak-anak yang baru datang.
"sudah semua? "
tanyanya pada Rianda
"belum mas, entar di bagiin sama yang lewat"
Rianda menghitung nasi yang tersisa.
"Kakak ga makan? "
tanya Umar yang baru datang dari mencuci tangan.
"entar kakak makan kok. yasudah kalian makan yah udah malam ini"
seru Rianda
"iyah kak"
terlihat di bibir jembatan anak-anak sedang makan.
mereka berjajar rapi, Rianda dan Eza juga turut duduk lesehan berbaur dengan mereka.
membuat Zahra dan Bagas turut duduk bersama mereka.
"ingat yah Sampahnya jangan di buang sembarangan "
kalimat rutinitas Rianda pada anak-anak ketika sedang makan.
"iyah kak"
sahut mereka kompak.
Bagas dan Zahra sangat tersentuh melihat situasi ini.
"Kalian sangat memotivasi"
seru Bagas
"iyah kan kak, Zahra juga jadi sadar ternyata berbagi itu penting. rasanya lihat mereka makan lahap hati Zahra jadi adem gitu"
Zahra memperhatikan anak-anak jalanan tersebut
"dulu juga waktu kakak pertama kali lihat Rianda lagi bagi-bagi begini kakak juga ngerasain hal yang sama kayak kamu"
"semenjak saat itu kakak selalu ikut kak Rianda bagi-bagi nasi"
tutur Eza.
__ADS_1
mereka pun mengobrol banyak bahkan mereka berbagi cerita pada anak-anak jalanan tersebut. sembari makan donat yang di beli Eza tadi.
bahkan Zahra turut meneteskan air mata ketika salah satu dari anak tersebut menceritakan kondisi keluarganya.