Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
81 merampas milikku


__ADS_3

Bagas dan Eza berusaha mengejar Bramantio . namun sayang, mereka kehilangan jejak. bahkan merak tidak tahu kemana Bramantio pergi.


"ahh…kita tertinggal jauh"


ucap Bagas sambil memukul stir mobilnya.


"menurut mu kemana pak Bramantio akan pergi? "


tanya Eza sambil memperhatikan jalanan yang sedang ramai


"aku tidak tahu, aku yakin dia mencari Vera"


"kenapa kita tidak mencari Vera juga? "


Eza menoleh ke arah Bagas.


" aku tidak tahu dimana dia tinggal. "


Bagas menggaruk kepalanya.


...


Sementara Bramantio, ia melajukan mobilnya ,tangannya sambil mencari nomor seseorang di ponselnya.


"Hallo"


"aku perintahkan pada kalian cari dimana Vera"


"aku tidak mau tahu, aku ingin kalian membawanya di hadapanku. Segera! "


perintah Bramantio pada orang suruhannya. ia mematikan sambungan telepon.


"berani sekali kamu Vera menyakiti anakku, kurang apa aku, bahkan aku sudah memberikan harta yang seharusnya tidak berhak atas dirimu"


gerutu Bramantio kesal.


kini ia mencoba mencari Vera seorang diri di salah satu apartemen yang dahulu di berikannya pada Vera.


mobil yang di ke dari Bramantio berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat yang tak lain adalah apartemen Vera.


Bramantio mempercepat langkahnya. dan kini ia sudah berada di depan pintu apartemen Vera.


Bramantio perlahan memencet bel yang berada di samping pintu


"ting…tong"


beberpa saat kemudian pintu apartemen tersebut terbuka. namun bukan Vera melainkan seorang wanita paruh baya.


"maaf pak, Cari siapa yah? "


tanya wanita tersebut dengan ekspresi heran saat melihat kedatangan Bramantio.


"permisi bu, Vera ada disini? "


tanya Bramantio


"Vera? "


"disini tidak ada yang bernama Vera pak"


tutur wanita tersebut


"bukan kah ini apartemen milik Vera? "


Bramantio merasa heran tidak mungkin ia lupa .jelas saja dia ingat bahkan apartemen ini dia sendiri yang memberikannya untuk Vera.


"maaf pak,apartemen ini sudah saya beli sekitar 3 bulan yang lalu. bapak benar nama pemilik apartemen sebelumnya adalah Vera"


tutur wanita itu. membuat Bramantio semakin kesal.



Sementara Zahra ia kini masih khawatir saat melihat Bagas dan Eza kembali tanpa bersama Bramantio


"papah kemana kak"


rengeknya.


"kakak ga tahu Ra soalnya pak Bramantio bawa mobilnya agak ngebut"


"kakak ga bisa kejar mobilnya"


sahut Eza


Zahra kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Bramantio.


namun telepon dari Zahra tidak di angkat, Zahra berusaha menelepon kembali.


kali ini Bramantio mengangkat sambungan telepon tersebut.


"papah dimana? "


tanya Zahra


"papah mencari Vera sayang, kamu kenapa menghubungi papa?"


"apa masih ada yang sakit? "


tanya Bramantio


" ga pah. Zahra khawatir sama papah. papah kembali kesini ya"


pinta Zahra


"tapi Ra papa harus cari Vera. papa yakin ini semua adalah rencananya"


"pah sudah ya, Zahra juga ga yakin sepenuhnya kalau pelakunya Vera sebab Zahra mendengar ucapan lelaki itu dalam keadaan setengah sadar"


Zahra berbohong agar Bramantio mendengarkannya.

__ADS_1


"tapi nak, papa yakin "


Bramantio tetap teguh dengan pendiriannya, membuat Zahra semakin takut jika papanya melakukan hal yang nekat.


"yaudah kalau papa ga kembali kesini Zahra mau pulang aja"


ancam Zahra membuat Bramantio mau tidak mau menurutinya


"iya-iya, oke papah kesana. kamu jangan pulang dulu ya kamu belum sembuh"


"yaudah pokoknya papa kesini"


rengek Zahra, ia pun segera mematikan sambungan teleponnya.


Bramantio pun akhirnya memilih kembali ke rumah sakit. namun, ada beberapa pesan masuk ke ponselnya.


terlihat pesan dari orang suruhannya yang ternyata sudah menemukan Vera.


Bramantio pun tersenyum, ia segera melangkah ke dalam mobil dan menuju rumah sakit.



Bagas dan Eza sudah tertidur pulas di sofa kamar rumah sakit sementara Hera baru saja pulang.


Adam juga pamit hendak pulang karena ia harus menghidupkan listrik di rumahnya agar tidak gelap, sebab kini bi Darmi sedang libur.


dan kini Zahra bersama Sinta dan juga Bramantio yang baru saja tiba.


"bapak sudah makan? "


tanya Sinta pada Bramantio


"belum bu"


"saya beliin nasi ya pak? "


ujar Sinta


"tidak perlu bu, saya sudah meminta supir saya untuk membelikan makan malam"


tolak Bramantio dengan halus.


Zahra merasa curiga saat melihat papahnya dan bu Sinta mengobrol dengan ekspresi wajah tersipu malu.


"ehemm"


dehem Zahra saat papanya tak henti memandangi bu Sinta.


"Zahra haus? "


tanya Sinta, namun Zahra menggelengkan kepalanya . ia menaik turunkan alisnya saat papanya memandang ke arahnya.


Bramantio paham apa maksud dari putrinya ia hanya menggendik kan bahunya.


"tok…tok…tok"


suara ketukan pintu menyelusup di tengah-tengah heningnya di ruangan itu.


ucap Bramantio. terlihat orang suruhan Bramantio melangkah masuk dengan menyeret paksa tangan Vera.


membuat Zahra membulatkan matanya


"saya permisi keluar pak"


ucap lelaki suruhan Bramantio, ia menunggu di depan pintu kamar rumah sakit.


"Vera? "


ucap Zahra bingung.


Vera hanya melipatkan kedua tangannya di depan dada, dengan pandangan sinis.


"Oh jadi papi yang suruh orang-orang itu buat bawa Vera secara paksa kesini "


ucapnya dengan santai


"apa papi suruh Vera kesini cuma buat liatin anak kesayangan papi yang lagi sakit ini"


timpal Vera


"Diam kamu! "


bentak Bramantio dengan nada tinggi, membuat Bagas dan Eza serentak terbangun dari tidur mereka


"apa yang sudah kamu lakukan pada Zahra? "


tanya Bramantio


"apa maksud papi, aku melakukan apa? "


Vera seakan tidak merasa memiliki kesalahan.


"jangan bohong "


sergah Bramantio


"kamu yang sudah suruh ke 3 lelaki itu untuk mencelakai Zahra kan? "


Bramantio tersulut emosi.


"lelaki siapa pi, Vera ga ngerti maksud papi"


Vera memperhatikan kukunya seakan tidak terjadi masalah.


"kamu sama saja dengan mommy mu penipu, pembohong "


bentak Bramantio.


Vera yang mendengar mommy nya di ikut sertakan merasa tidak terima.

__ADS_1


"Cukup pi, jangan bawa-bawa mommy"


Vera terlihat marah.


"iya aku yang lakuin semua itu, kenapa? "


"sakit? "


tanya Vera sambil memandangi Zahra dengan pandangan sinis


"itu belum ada apa-apanya Zahra, seharusnya kamu mati! "


ucap Vera lantang


"Plaakk ! "


1 tamparan mendarat di pipi Vera, tak lain pelakunya adalah Bramantio.


"papa !"


teriak Zahra saat Bramantio menampar Vera.


Vera merasa terkejut, seumur hidupnya ia tidak pernah di perlakukan kasar seperti ini oleh Bramantio .


"papi nampar aku? "


tanya Vera sambil memegangi pipinya yang terlihat memerah


"ayo pi tampar lagi, tampar! "


ucap Vera dengan nada tinggi. Bramantio hanya terdiam ia khilaf tidak bisa menahan rasa emosinya.


"hanya karena dia, papi nampar aku? "


Vera menunjuk Zahra yang kini masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"hebat kamu Zahra, kamu sudah merebut segalanya dari aku sampai kamu buat papi aku jadi kasar"


nafas Vera memburu menahan rasa emosi, ingin rasanya tangan mulusnya mencabik-cabik wajah Zahra yang sok polos.


Eza dan Bagas hanya terdiam menyaksikan adegan di depan mereka.


"menurut mu tusukan itu sakit? haaaa? "


tanya Vera pada Zahra


"rasa sakit itu belum seberapa, di banding dengan apa yang aku rasakan sekarang "


ucap Vera sambil menarik sudut bibirnya


"kau Zahra sudah berhasil merampas segalanya dari ku, bukan hanya Bagas yang kau ambil tapi papi juga kau rebut dari ku."


"gara-gara kau keluargaku terpecah belah, dan kini mommy ku harus menderita di rumah sakit , karena beban pikirannya yang terus menerus memikirkan masalah perpisahan dengan papi "


tangan Vera mengepal erat sementara Zahra hanya terdiam.


"kurang puas apalagi dirimu Zahra, kau sudah menang sekarang .mendapatkan apa yang kau mau"


Zahra tidak mampu berucap bibirnya terasa keluh.


"dan papi, apa secepat itu papi melupakan aku. aku memang bukan darah daging papi"


Vera menghentikan kalimatnya sulit ia menelan salivanya yang terasa tercekat di tenggorokan.


ia menahan tangis.


"apa tidak ada sedikitpun rasa perduli, sayang, serta perhatian papi terhadap ku. apa semua itu sudah di ambil oleh dia. puluhan tahun aku hidup dengan papi apa semudah itu papi melupakan aku? "


tutur Vera


"bukan kah kau sudah mendapatkan apa yang kau mau? "


tanya Bramantio membuka suara.


"menurut papi harta bisa membayar segalanya. aku cuma ingin keluarga kita bisa utuh kembali pi seperti dulu"


"asal papi tahu semua aset yang papi berikan padaku sudah habis terjual demi perobatan mommy. apa papi tidak perduli sedikitpun pada kami. bahkan tidak ada rasa simpati papi untuk sekedar menanyakan kabar kami "


Air mata Vera menetes di pipi mulusnya.


"papi lebih memilih dia, papi lebih sayang dengan dia. bukan kah papi sendiri yang buat aku jadi seperti ini? "


Bramantio terdiam, bahkan selama ini ia sudah tidak perduli dengan keadaan Vera dan Yura.


"Puas kamu Zahra. Puas! "


bentak Vera


"Vera dengarin aku dulu aku bukan ber…"


"cukup Zahra, aku ga butuh sandiwaramu. "


bentak Vera membuat Zahra terdiam ia merasa bersalah atas semua ini.


"aku tahu papi suruh orang buat jemput paksa aku karena papi mau laporkan aku ke polisikan. atas tindakan kriminal"


"papi ga perlu khawatir. sekarang juga aku yang bakal ke kantor polisi untuk menyerahkan diri"


ucap Vera


"Vera ga nyangka papi akan berubah, bahkan papi dengan mudah menampar Vera"


"Vera benci sama papi! "


Vera melangkah pergi air matanya menetes, ia lemah jika sudah di hadapkan dengan situasi seperti ini.


Bramantio hanya terdiam ia tak tahu harus melakukan apa.


…………

__ADS_1


jangan lupa like dan votenya yah.


terimakasih 😄


__ADS_2