
Malam ini Bagas baru saja pulang dari kantornya, ia terheran melihat mobil Pak Bramantio terparkir di halaman rumah.
ia pun segera melangkah kan kakinya menuju rumahnya, ternyata di dalam rumah sudah ada pak Bramantio dan keluarganya
"Bagas"
"kamu sudah pulang? "
sapa Hera mamahnya Bagas ketika melihat Bagas masuk ke dalam rumah
Bagas hanya mengangguk.
"Bagas bisakah kita ngobrol sebentar, ini ada keluarganya pak Bramantio "
Hera mengajak Bagas untuk turut duduk bersama mereka.
"ada apa yah mah? "
Bagas bingung., bukankah acara makan malam itu di batalkan.
"Begini Bagas, kedatangan kami kesini ingin menanya kan kejelasan perihal perjodohan antara kamu dan Vera "
Yura membuka suara menjelaskan pada Bagas.
"sebelumnya Bagas mau minta maaf sama tante dan Pak Bramantio, Bagas tidak bisa menyetujui bahkan melanjut kan perjodohan ini"
Bagas tak menyetujui perjodohan ini.
Mata Vera membulat karena terkejut mendengar penuturan Bagas. bahkan Hera dan Yura juga terkejut.
"apa maksud kamu Bagas?"
Tanya Hera ke bingungan. pasalnya Bagas selama ini tidak ada mengatakan hal demikian.
"Mah? "
"Bagas gak mau di jodohin"
Bagas menekan kalimatnya.
"mamah tahu kan perjodohan ini bakal menuju ke pernikahan, bagaimana bisa Bagas membangun rumah tangga yang baik tanpa dasar cinta mah? "
"Bagas ga mau mah gagal dalam pernikahan, Bagas takut sifat Bagas yang tidak mencintai Vera justru akan menyakiti hati Vera mah, terlebih lagi saat kami harus hidup berdampingan"
Bagas selama ini memilih diam karena jika ia berbicara pada mamahnya itu akan percuma saja karena mamahnya tidak akan mendengar penjelasannya.
Vera meneteskan air matanya ia tidak terima Bagas menolak perjodohan ini.
"kenapa kamu nolak aku? "
"kurang apa aku di mata kamu Bagas, selama ini aku menunggu kepastian dan jawaban kamu. tapi kamu memilih diam seakan memberi persetujuan"
Vera bangkit dari duduknya ia menangis.
"maafin aku Vera, perasaan cinta itu tidak bisa di paksakan"
__ADS_1
"aku gak bisa nerima perjodohan ini, aku tidak mencintai kamu"
Bagas juga bangkit dari duduknya ikut menjelaskan pada Vera
Vera menangis sejadi-jadinya ia pergi meninggalkan ruangan ini.
hal itu membuat Yura sakit hati melihat anaknya di tolak mentah-mentah di depan matanya.
"saya kecewa dengan keluarga ini, dengar jeng Hera dan pak Wijaya saya tidak terima anak saya di perlakukan demikian"
Yura bangkit dan beranjak pergi menyusul putrinya.
"dengerin saya dulu jeng saya bisa jelasinnya semuanya"
Hera mencoba menghentikan Yura namun Yura tetap melangkah pergi.
Ada rasa tersinggung di hati Bramantio di saat Bagas mengatakan hal itu secara terang-terangan.
"Maaf pak buk saya permisi"
Bramantio berbicara ketus dan juga beranjak pergi.
Wijaya hanya menghela nafas ia memilih diam melihat situasi seperti ini.
"apa maksud kamu Bagas, kamu sudah mempermalukan mamah"
Hera terlihat sangat marah
"mah dari awal Bagas sudah bilang sama mamah Bagas tak ingin di jodohkan, mamah tidak pernah mau mendengar penjelasan Bagas"
"Bagas ! "
bentak Hera
"kamu lupa siapa pak Bramantio? "
"dia sudah berjasa membantu keluarga kita bangkit lagi, dia itu penanam modal terbesar di perusahaan kita"
Hera berbicara dengan nada tinggi.
Kiran yang sejak awal berdiri di depan pintu kamarnya pun terlihat sedih melihat kakaknya di marahi oleh mamahnya.
"Mah masalah perusahaan dan masalah pribadi itu gak ada sangkut pautnya mah"
"itu sama saja mamah mengorbankan kebahagiaan Bagas demi perusahaan dan materi"
Bagas pergi meninggalkan kedua orang tuanya bahkan ia tak menghiraukan panggilan mamahnya.
Kiran yang tadinya hanya mendengarkan memberanikan diri menghampiri sang mamah.
"mah sudah dong, kak Bagas ga mau di jodohkan kak Bagas ga suka sama kak Vera"
"kamu masuk Kiran ke kamar ini urusan orang dewasa kamu masih kecil tak tahu apa-apa"
Hera masih terlihat marah.
__ADS_1
"Justru mamah yang tidak tahu apa-apa soal ke bahagian kak Bagas, mamah egois mementingkan ke inginkan mamah sendiri tanpa mempedulikan perasaan anak mamah. "
"apa selama ini mamah tahu kak Bagas selalu sedih memikirkan hal ini, apa mamah peduli gimana perasaan kak Bagas"
Kiran sedikit meninggikan nada biaranya ia tak tahan melihat sifat mamahnya yang selalu ingin menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Hera hanya terdiam ia menunduk mendengar perkataan Kiran.
Sementara Kiran berlari menuju kamar kakaknya.
"Bagaimana ini pah? "
Hera hanya khawatir jika keluarga Bramantio akan mencabut modal usaha di perusahaan mereka.
"sudah lah mah apa yang di katakan Bagas dan Kiran benar. pernikahan ini bukan permainan. Papah juga ga mau lihat Bagas tertekan mah"
"papah rela jika Bramantio mencabut semua modalnya bahkan memutuskan proyek kerja Samanya".
Wijaya tidak marah atas keputusan Bagas, ia juga tidak takut jika Bramantio mengambil tindakan yang membuat perusahaan nya rugi besar. Bagi Wijaya kebahagiaan anaknya lebih penting.
……
Vera menangis dan mengurung diri di kamar ia merasa sakit hati ketika Bagas menolak perjodohan dengannya secara mentah-mentah.
"Vera buka pintunya sayang"
Yura mengetuk pintu kamar Vera dan berusaha membujuk Vera.
"Vera gak mau mah Vera mau sendiri dulu"
sahut Vera, terdengar suara tangisan Vera.
Bramantio menghampiri sang istri yang masih berdiri di depan pintu kamar Vera.
"Mih biar kan Vera Menyendiri dulu ia butuh waktu untuk sendiri"
Bramantio mengelus punggung sang istri.
"Mas, pokoknya mas harus mencabut modal mas di perusahaan Wijaya, aku gak mau tahu mas"
Yura mendesak suaminya untuk melakukan hal itu. dirinya sangat kecewa dan sakit hati melihat putrinya di perlakukan seperti ini.
"Mi kita bisa bicara baik-baik dulu sama keluarga Wijaya, siapa tahu mereka berubah pikiran. kita jangan gegabah mengambil keputusan"
Bramantio mencoba menjelaskan
"pokoknya aku gak mau tahu mas, gimana pun caranya perjodohan ini harus terjadi"
Yura beranjak pergi meninggalkan Bramantio.
.................
jangan lupa vote and like yah Guys
Salam manis Author
__ADS_1
~EtyRamadhii 🤗