
Ketika memasuki gedung perkantoran ini, Zahra pun langsung di perkenalkan dengan Pak Hendra seorang atasan bagi semua Cleaning servis di kantor ini.
"Selamat pagi pak Hendra, ini Zahra yang kemaren saya bilang dia Cleanning servis baru di kantor ini, dan Zahra ini Pak Hendra dia atasan kamu "
tutur Bagas saling memperkenalkan aku dengan Pak Hendra
"saya Zahra pak"
"oh saya Hendra. kalau begitu mari Zahra ikut saya, saya akan memperkenalkan kamu dengan yang lain, dan saya akan kasih tau kamu apa saja tugas kamu"
sambil permisi kepada Bagas, pak Hendra pun melangkah masuk .
aku yang membuntutin pak Hendra sesekali celingukan melihat setiap sudut kantor megah ini.
pak Hendra menjelaskan secara detail apa saja tugas ku di sini.
"oh iyah ini seragam kerja kamu sesudah ganti pakaian kamu langsung kerja yah"
sambil menyodorkan baju kemeja berwarna hijau
"baik pak terimakasih"
aku mengamati baju seragam kerja ku, karena warnanya yang menarik. Aku hendak melangkah ke kamar mandi untuk berganti pakaian namun langkahku terhenti, pak Hendra kembali memanggilku.
"Zahra tunggu, kamu kerjanya bareng Jumi aja biar paham apa yang lebih dulu di kerjakan"
Pak Hendra memanggil Cleanning servis yang sedari tadi mengelap kaca jendela.
''Jumi, bisa kesini sebentar"
perempuan tersebut sedikit berlari menghampiri pak Hendra
"Ada apa yo pak? "
"ini Zahra Cleanning servis baru, kerjanya bareng kamu yah biar dia paham "
aku tersenyum ke arah perempuan itu
"oh iyah pak nje"
Jumi mengangguk dan mengajakku ke belakang.
aku berganti pakaian di toilet dekat dapur kantor, setelah selesai aku menghampiri mbak Jumi.
"mbak, saya ngerjain apa dulu yah"
aku berusaha sopan bertanya pada mbak Jumi.
"yo mbok kita kenalan dulu to, kan yo baru kenal"
(kita kenalan dulu, kan baru kenal)
"hehehe iyah mbak aku lupa, namaku Zahra mbak "
aku mengulurkan tangan pada Mbak Jumi
"Ohh Zahra, jenengku Juminten tapi yo akrab di panggil Jumi, ben radak gaul ngono loh"
(ohh Zahra, Namaku juminten, akrab di panggil jumi, biar agak gaul gitu loh)
__ADS_1
Mbak Jumi membalas uluran tanganku, dia memperkenalkan namanya dengan bahasa logat jawa yang kental.
Mbak Jumi ini memiliki paras wajah nan ayu khas gadis jawa. rambutnya sebahu, berkulit sawo matang, dan yang lebih menarik dia memiliki gigi ginsul di sebelah kanannya.
"Yowes kita buat kopi dulu yah, biasanya kalau pagi karyawan maupun atasan disini minta di buatin kopi "
aku membantu mbak Jumi menyusun gelas dan memasukkan bubuk kopi di setiap gelasnya.
"oh iyo, kamu seng di boncengi Pak Bagas to? "
(oh iyah, kamu yang di boncengi pak Bagas ya?)
"ehm iyah mbak"
"Wah beruntung banget kamu yo di boncengi Pak direktur seng Guantenge polll, kok sampean iso yo di boncengi pak Bagas,sampean kenal banget karo pak Bagas? "
(wah beruntung banget kamu ya di boncengi pak direktur yang ganteng banget, kok kamu bisa ya di boncengi pak Bagas, kamu kenal banget sama pak Bagas? )
Aku membulatkan mata, bukan karena pertanyaan mbak Jumi yang panjangnya melebihi puisi mantan, melainkan terkejut bahwa Bagas adalah direktur di kantor ini.
"apa mbak, di.. direktur? "
aku menautkan kedua alisku, karena tak percaya.
"iyo pak Bagas Dirgantara iku direktur nang perusahaan iki lo, si guanteng iku anak'e Pak Wijaya Dirgantara uwong seng duwe kantor iki, lah sampean ra weroh to? "
(iya pak Bagas Dirgantara itu direktur di perusahaan ini lo, si ganteng itu anaknya pak Wijaya Dirgantara orang yang punya kantor ini, kamu ga tau yah? )
Aku masih terkejut bukan kepalang berasa berasa tak percaya, orang yang menabrakku di lapangan dekat terminal itu, dan orang yang sering memanggilku bocah adalah direktur di kantor semegah ini.
bahkan dia anak pemilik kantor ini, bahkan aku tanpa sopan selalu menjahili Bagas.
Ya Allah cerita apa ini,,, tanpa sadar aku menepuk-nepuk jidatku.
(ehh Ra. kenapa kamu nepuk-nepuk kepala, ada apa? )
aku yang tersadar oleh kelakuanku yang absurd hanya tertawa garing melihat mbak Jumi.
"aduh bahkan kayanya aku beberapa hari ini ga sopan deh sama kak Bagas, aduhh gimana ini"
hatiku bergumam khawatir. aku tak enak hati jika mengingat bahwa Bagas adalah direktur disini.
"Jumi tolong bawain kopi susu kayak biasa ke ruang pak Bagas yah"
salah seorang karyawati tiba-tiba mengagetkan kami berdua.
"nje mbak"
(iya mbak)
mbak Jumi meletakkan satu gelas kopi susu ke nampan putih dan menyodorkan kepadaku.
"nih kamu anterin yoh keruangan Pak Bagas, kamu ikutin tuh mbak Widia"
mbak jumi menunjuk karyawati yang masih berdiri di ambang pintu.
aku hanya mengangguk dan beranhak mengikuti Widia. perasaanku mulai agak aneh pasalnya aku cemas jika bertatap muka dengan Bagas.
saat aku sedang berkecamuk dengan pikiranku aku tak sadar aku sudah di depan ruangan Bagas.
__ADS_1
"ini ruangan Pak Bagas kamu anterin yah kopinya, kalau gitu aku duluan"
Karyawati yang bernama Widia itupun pergi meninggalkan aku yang masih setia berdiri di ambang pintu ruangan Bagas.
perlahan aku memberanikan diri mengetuk pintu tersebut.
"tok... tok... tok"
"iyah silahkan masuk"
terdengar suara Bagas yang menyahut.
perlahan aku memutar knop pintu dan terlihat ada Mora di ruangan tersebut yang sedang menatap layar laptopnya.
"permisi pak, in... ini kopinya"
aku meletakkan gelas kopi secara perlahan, ku lirik Bagas sekilas, ternyata dia memperhatikanku sambil mengembangkan senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya.
"silahkan pak saya permisi dulu, mari pak"
aku menganggukan kepala,dan berlalu keluar ruangan.
Namun Bagas yang melihat sikap Zahra pun terheran
"kenapa dia terlihat canggung sekali, bukan kah dia selalu berisik dan heboh"
Gumam Bagas sambil menyanggah dagunya, seketika senyumnya mengembang mengingat tingkah Zahra.
"bocah itu sungguh menggemaskan"
tanpa sadar kalimat itu lolos dari bibirnya.
Ntah mengapa perasaannya sedikit tenang ketika mengingat Zahra, padahal baru beberapa hari mereka kenal.
menurut Bagas, Zahra adalah gadis yang ceria,sopan, apa adanya, dan cantik.
Mora yang sedari tadi melihat bossnya senyum sendiripun merasa heran.
seketika ia menghentikan aktivitas mengetiknya dan merasa aneh, pasalnya Bagas jarang sekali tersenyum semanis ini.
"Pak Bagas, pakk"
"eh iyah Mora ada apa"
"ehm Bapak baik-baik aja kan? "
Mora penasaran dengan tingkah laku bossnya itu
"saya baik-baik saja, lanjutkan pekerjaanmu"
Mora hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya,sementara Bagas melanjutkan melamunnya.
*****
huyy guys... makasih yang masih setia nungguin Up..
komentar yang membangun, dan tak bosan serta tak jenuh Author minta like and vote
ok..
__ADS_1
salam Manis Author
~EtyRamadhii