Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
56 Rianda


__ADS_3

Eza menepikan sepeda motornya ia terlihat bingung pasalnya warung sate kambing kesukaan Zahra tidak buka.


"duhh…pake tutup lagi. auto di ambek in si Zahra nih"


Eza menggaruk kepalanya ia terlihat bingung.


saat Eza mengedarkan pandangannya, ia melihat toko donat.


"Nahh aku beliin donat aja deh, "


Eza menjalan kan motornya menuju toko tersebut.


terlihat toko kecil yang terdapat plang di depannya bertuliskan "Donat Rainbow"


Eza pun melangkah memasuki toko, ia membuka ranselnya hendak memasukkan kunci motor.


namun Eza berjalan masuk dengan pandangan tertuju pada ranselnya.


"Bruuugggghhh"


ia menabrak seseorang, sehingga donat yang di bawa orang tersebut berserakan di lantai.


"Mas gimana sih, jalan ga lihat-lihat"


"donat saya jadinya berserakan"


ucap seorang gadis yang di tabrak Eza.


gadis tersebut berjongkok mengutip donat-donat yang telah berserakan


"aduuuhhh mbak maaf saya ga sengaja"


Eza pun turut berjongkok membantu gadis tersebut.


"Mas, pokoknya harus ganti rugi"


ketus gadis tersebut menatap Eza.


untung saja toko dalam ke adaan sepi pengunjung ,hanya ada seorang kasir yang sedang memperhatikan mereka berdua


"iyah mbak, saya bakal ganti kok. ini di buang aja yah udah kotor"


ucap Eza.


"ya iyalah mas, masak mau di makan. pokoknya mas ganti rugi dua kali lipat"


tagih gadis tersebut membuat Eza membulatkan matanya.


"Ehh busyettt. kok dua kali lipat mbak"


Eza memasang tampang melongo.


"ya iyalah. yang pertama mas udah ngejatohin donat-donat saya, terus yang kedua mas sudah buang-buang waktu saya"


gadis cantik tersebut mengomel.


"wah wah ini namanya pemerasan mbak"


Eza tidak terima


"loh kan salahnya mas. ini bukan jalan pribadi kan"


gadis tersebut semakin kesal.


"maaf mbak mas. tolong jangan buat keributan disini"


tegur seorang kasir yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.


"maaf mbak"


ucap Eza ke arah kasir tersebut.


"yaudah iyah, aku ganti mbak"


Eza pun mengalah, ia sadar berdebat dengan seorang wanita tidak akan pernah menang bahkan untuk seri pun sulit.


"nah gitu donk mas"


gadis itu tersenyum menambah kesan ayu di wajahnya.


gadis itu pun berbalik untuk memesan donat lagi.


Eza pun ikut membeli donat.


setelah keduanya selesai memilih varian rasa donat, mereka pun pergi ke kasir.


dan tentu saja Eza yang membayar semuanya.


gadis itu pun berlalu pergi sembari mengucapkan terimakasih.


Eza hanya mengangguk.


Eza kemudian juga keluar dari toko, ia hendak pulang.


saat Eza menjalankan motornya dan hendak menyebrang jalan, Eza melihat gadis yang ia tabrak tadi berdiri di pinggir jalan.


gadis itu terlihat celingukan.


"tolong ga yah? "


Gumam Eza saat melihat gadis tersebut.


"ga usah deh, ntar di kerjain lagi sama tuh cewek"


Eza pun tidak memperdulikan gadis tersebut.


Eza kembali menatap kanan kiri untuk menyebrang.


terlihat gadis tadi menghampiri Eza.


"mas bisa minta tolong ga? "


ucap gadis tersebut.


"minta tolong apa? "


sahut Eza.


"bisa anterin saya ga, ke jembatan kota"


ucap gadis itu


"entar kalau aku di kerjain lagi gimana"


Gumam hati Eza.


"maaf mbak ga bisa saya harus buru-buru pulang"


tolak Eza.


"yah mas, saya minta tolong banget yah soalnya kalau hari mulai petang angkot ga ada yang lewat. "


gadis itu memelas.


"naik ojek online aja mbak"


Eza berusaha berdalih.


"lama mas"


"masak mas tega sih lihat perempuan, udah mulai malam begini di pinggir jalan sendirian "


gadis itu menampilkan ekspresi sendu.


"haaaa"


Eza menghela nafas.


mana mungkin ia tega, lagi pula gadis tersebut sendirian.


"Yaudah deh mbak saya anterin"


ucap Eza terpaksa tentu saja gadis tersebut tersenyum senang.


"Wahh makasih mas"


gadis itu pun mulai naik ke atas motor Eza.


Eza pun menjalankan motornya.


ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.


tiba-tiba


"ckiiiiitttttt"


"dughhhhhh"


Eza mengerem mendadak membuat kepala gadis itu berbenturan dengan helm yang di kenakannya

__ADS_1


"aduh mas, kenapa ngerem mendadak sih"


protes gadis tersebut sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"yah maaf mbak tuh ada kucing nyebrang jalan"


Eza menunjuk seekor kucing putih yang baru saja melintas.


"tapi kepala saya sakit mas"


gadis itu terus memegangi kepalanya.


"yah kan saya ga sengaja"


ucap Eza yang kemudian menjalankan motornya kembali.


di sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam sesekali gadis tersebut memberi kan petunjuk arah.


"Lahh berasa jadi tukang ojek"


Gumam Eza lirih.


"mas…mas berhenti dulu yah ke warung nasi itu"


ucap gadis tersebut memukul pundak Eza. ia menunjuk warung nasi yang berada di pinggir jalan.


"saya anterin sampai sini aja yah mbak "


Eza sudah kesal dengan gadis ini yang seenaknya memerintah Eza.


"yahh mas, jangan donk tolongin saya yah"


gadis itu memelas membuat Eza tak sanggup menolak.


motor Eza pun berhenti di depan warung tersebut.


"mas tolong pegangin donat saya dulu yah"


ucap gadis itu sambil nyengir.


membuat Eza menghela nafas.


"Huhhhh, untung saja cewek kalau cowok udah aku gantung"


gerutu Eza karena kesal.


beberapa saat kemudian gadis itu keluar dengan membawa dua kantong plastik berukuran besar.


Eza membulatkan matanya saat menyaksikan hal itu.


"itu apaan mbak"


tanya Eza.


"nasi bungkus mas"


"lah mbak mau hajatan pesan nasi bungkus sebanyak itu"


Eza terheran.


"ya ga lah mas"


gadis itu dengan susah payah naik ke atas motor Eza


"Yaudah yuk mas jalan, sini aku bawain donatnya"


gadis itu dengan santainya berucap demikian.


"udah mbak biar donatnya saya yang bawain, entar kalau mbak jatuh karena kebanyakan barang bawaan saya lagi yang repot"


Eza dengan nada kesal menjawab.


"ikhlas dong mas kalau nolongin"


"iyah mbak saya ikhlas"


Eza pun menjalankan kan motornya.


Sampai lah mereka di sebuah jembatan yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota.


"sudah mas kita berhenti di sini aja"


ucap gadis itu


"lah mbak ngapain bawa nasi sebanyak itu tapi berhenti di jembatan"


"mbak mau hajatan di jembatan? "


"Hahaha"


"ya gak lah mas"


ucap gadis tersebut.


"sini mas donatnya, makasih loh yah udah anterin saya"


Eza menyerahkan bungkusan donat tersebut dengan tampang bingung.


"nih cewek apa mau bunuh diri yah malam-malam begini minta di turunin di jembatan"


"lah tapi mau bunuh diri kenapa bawa nasi bungkus sama donat"


ucap Eza dalam hati ia pun menggaruk kepalanya.


gadis tersebut pun celingukan seperti mencari seseorang.


"dek…adekkk sini"


gadis tersebut melambaikan tangan ke arah anak jalanan yang sedang duduk di jembatan.


ternyata gadis tersebut sedang membagikan nasi bungkus tersebut ke anak jalanan.


Eza yang menyaksikan hal itu pun melongo ia salah paham dengan gadis ini.


"Wahhh kak Rianda datang"


teriak salah satu anak dengan ekspresi girang.


"iyah, panggil teman-teman yang lain "


ucap Rianda sembari mengelus kepala anak tersebut.


Eza turun dari motornya dan ikut menghampiri Rianda, gadis tersebut.


"tunggu sebentar yah mas"


Rianda mengira Eza menunggu ongkos darinya.


setelah sebagian nasi tersebut di bagikan, anak-anak jalanan tersebut pun makan bersama di tepi jembatan.


Rianda pun turut duduk bersama mereka.


"kamu beli nasi sebanyak itu buat mereka? "


tanya Eza yang ikut duduk di samping Rianda.


"Hahaha iyah mas, "


"Oh iyah mas, nih ongkosnya"


Rianda menyodorkan uang lima puluh ribu kepada Eza.


"Ehh ga usah saya ikhlas kok"


tolak Eza.


"tapi mas kan udah anterin saya"


gadis itu menatap Eza.


"udah gak apa-apa"


Eza pun turut memperhatikan anak-anak jalanan tersebut.


"bentar yah mas"


Rianda bangkit menghampiri seorang bapak paruh baya yang sedang menarik gerobak sampah.


"pak, ini buat makan malam bapak dan keluarga "


Rianda memberi 4 bungkus nasi kepada bapak tersebut.


Eza tertegun dengan sikap gadis itu, padahal Eza mengira gadis itu adalah gadis yang galak, dan ngeselin.


ternyata Eza salah.


Rianda pun kembali duduk di samping Eza.


"mas mau makan? "

__ADS_1


"nih masih sisa satu"


ucap Rianda menawarkan.


"ga usah terimakasih saya masih kenyang"


tolak Eza.


Rianda hanya mengangguk.


"adek-adek, sampahnya di buang di tong sampan yah jangan di buang sembarangan "


ucap Rianda pada anak-anak jalanan tersebut.


"iyah kak"


mereka menjawab dengan kompak.


terlihat guratan bahagia dari wajah anak-anak tersebut, saat menikmati nasi bungkus dan donat yang di berikan oleh Rianda.


hati Eza terenyuh ia bahkan belum pernah melakukan hal seperti ini.


"kamu sering kesini? "


tanya Eza


"iyah mas sering"


"Ouh pantesan aja mereka akrab sama kamu"


ucap Eza


"Ouh iya nama ku Eza"


Eza mengulurkan tangannya.


"nama saya Rianda mas"


gadis itu membalas uluran tangan Eza.


"maaf yah" ucap Eza.


membuat Rianda mengerutkan keningnya


"maaf? "


"buat apa yah mas."


tanya Rianda bingung.


"yah maaf, aku udah salah paham sama kamu. aku kira kamu tadi mau ngerjain aku"


Eza menggaruk tengkuknya merasa malu.


"hahahha, iyah mas gak apa-apa. Lagian tadi saya juga buru-buru jadi minta tolong mas. takut mereka udah pada pulang"


"saya juga minta maaf udah minta gantiin donat dua kali lipat"


jawab Rianda sambil nyengir


"Hahaha. iyah kak apa-apa saya ikhlas kok hitung-hitung bantuin kamu "


"makasih yah mas"


ucap Rianda sambil membenarkan tatanan rambutnya yang berantakan.


"kamu sering kayak gini yah, ehm maksud aku bagi-bagi nasi sama mereka"


tanya Eza penasaran.


"sering mas, cuma kadang ga sebanyak ini. kalau saya lagi gajian aja. jadi bagiinnya di jembatan ini. kebetulan saya abis gajian jadi tadi saya mesan nasi sebanyak itu"


ucap Rianda dengan tersenyum.


membuat Eza kagum dengan gadis cantik yang saat ini duduk di sampingnya.


"zaman sekarang masih ada yah orang baik seperti kamu" puji Eza.


"Hahah bukan baik kok mas, cuma ini udah kewajiban aja. kan setiap rezeki yang kita dapat ada hak mereka"


ucapan Rianda bagai tamparan keras bagi Eza, bahkan ia selama ini tidak pernah berbuat demikian.


"dulu almarhum bapak sama ibu pernah berpesan. kalau saya sudah dewasa dan berpenghasilan sendiri saya ga boleh lupa untuk berbagi"


"saya juga pernah merasakan di posisi mereka hidup di jalanan tanpa orang tua. jadi saat saya ada rezeki saya usahain untuk berbagi dengan mereka"


Rianda menatap wajah Eza.


"orang tua kamu udah ga ada? "


tanya Eza.


Rianda hanya menggelengkan kepala.


"mereka pasti bangga di surga sana punya anak sebaik kamu"


Eza berusaha menghibur Rianda.


bahkan Eza sangat kagum mendengar penuturan Rianda.


Rianda hanya tersenyum dan mengangguk.


"oh iyah rumah kamu dimana?"


tanya Eza.


"rumah aku di dekat perumahan Cemara indah"


ucap Rianda.


"wah kita sejalan dong, rumah aku di perumahan itu"


Eza tersenyum


"loh iyah mas"


" kalau gitu kita pulang bareng aja"


Eza menawarkan tumpangan pada Rianda.


"beneran mas, ga ngerepotin mas lagi? "


Rianda merasa tak enak hati


"ga ngerepotin kok kan kita satu arah"


mereka saling tersenyum


"kak Rianda. ini siapa? Pacarnya kakak yah"


salah seorang anak menghampiri Rianda dan Eza.


"Ouh ini namanya kak Eza dia ini teman kakak"


ucap Rianda.


"ohh kak Eza. hai kak nama aku maura"


sapa gadis cilik tersebut pada Eza.


"hai juga cantik"


Eza melambaikan tangan ke arah mereka.


tidak ada beban di wajah polos anak-anak tersebut.


mereka merasa bersyukur dengan kehidupan mereka walau dalam ke adaan seperti ini. bahkan mereka masih sanggup untuk tersenyum.


hati Eza berdenyut menyaksikan anak-anak ini.


"Yaudah kalian pulang yah sudah malam"


ucap Rianda pada anak-anak tersebut.


anak-anak itu pun mengangguk dan menyalami Rianda dan juga Eza.


"Oh iyah kakak punya donat lagi nih. nanti di bagi-bagi lagi yah"


Eza menyerahkan donat yang ia beli untuk Zahra tadi.


wajah anak-anak itu terlihat girang. mereka pun berjalan pulang sambil melambaikan tangan ke arah Eza dan Rianda.


................


hai guys Author nambahin tokoh baru yah buat lawan main Eza. biar komplit kaya mie goreng. 😊


jangan lupa like dan votenya yah


dan jangan lupa bersyukur untuk hari ini.

__ADS_1


salam manis Author


~EtyRamadhii


__ADS_2