
Seperti biasa Zahra sedang berkutat di dapur Caffe ia saat ini sedang menjalankan rutinitasnya mengelap gelas.
"Behh rajin bener anak orang"
seperti biasa Rendra selalu mengusik ke tenangan Zahra.
"apasih Ren?"
ucap Zahra malas
"Ehh cil, ada yang nyariin kamu tuh di depan"
ucap Rendra dengan sebutan barub untuk Zahra.
"cal, cil cal, cil"
"nama aku Zahra Andriani bukan bocil"
Zahra bersungut tak terima dengan panggilan yang di sematkan oleh Rendra.
"Dih marah, becanda kaleee"
"beneran tuh ada ibu-ibu sama anak gadisnya dia nyariin kamu"
Zahra menampilkan ekspresi seakan mengingat siapa yang mencarinya.
"iyah udah, nih kamu terusin elap gelasnya biar keluar dah tu jinnya"
Zahra menyerahkan kain lap pada Rendra dan ngeloyor pergi.
Rendra hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zahra.
Zahra celingukan mencari ibu-ibu yang di maksud oleh Rendra.
"Kak Zahraaaaa"
teriak Kiran
ia bangkit dari duduknya dan segera memeluk kakak kesayangannya.
"Uhh Kiran kangen kakak"
rengek Kiran, saat berada di pelukan Zahra.
"duhhh… Kiran, kakak juga kangen sama kamu"
Zahra membalas pelukan Kiran dan mengusak lembut rambut gadis kecil tersebut .
Hera masih terduduk di bangkunya dan melihat kedekatan Kiran dan Zahra.
hari ini ia sengaja datang ke Caffe ini untuk menemui Zahra.
"Kiran sama siapa kesini? "
tanya Zahra saat Kiran sudah melepaskan pelukannya.
"tuh sama mamah kak"
Kiran menunjuk mamahnya yang sedang melihat ke arah mereka berdua.
Hera mengulas senyum membuat Zahra seakan tak percaya ia pun membalas senyuman Hera di sertai anggukan kepala.
"Ayok kak, ikut Kiran. mamah pengen ketemu kakak"
tanpa menunggu persetujuan Zahra Kiran menggandeng tangan Zahra dan menuntunnya.
"kakak, ga perlu khawatir mamah ga akan marahin kakak lagi. yakan mah! "
ucap Kiran saat ia sudah berada di meja dimana mamahnya sedang duduk.
"Zahra saya mau bicara sama kamu. boleh? "
ucap Hera lembut membuat Zahra merasa sedikit aneh.
"maaf buk tapi saya lagi kerja"
Zahra menolak secara halus. memang benar adanya Zahra saat ini masih berada di jam kerja.
"tenang aja kak, tadi mamah udah ketemu sama bos kakak. supaya kakak ga di marahin saat ngobrol dengan mamah"
Kiran menyahut.
"Kiran benar, saya sudah meminta izin dengan bos kamu untuk mengobrol sebentar dengan kamu"
Zahra yang mendengar hal itu pun hanya mengangguk.
"silahkan duduk"
__ADS_1
ucap Hera mempersilahkan Zahra untuk duduk.
"Kiran, mamah mau ngobrol sebentar sama kak Zahra"
Hera melirik Kiran yang tak melepaskan gandengan tangannya pada tangan Zahra. padahal mereka sudah duduk.
"Kiran ga gangguin kok mah"
Kiran memasang wajah serius.
"tapi sayang ini obrolan orang dewasa. bisakan kasih mamah waktu untuk ngobrol sama kak Zahra"
Hera berusaha membujuk Kiran.
namun Kiran tak beranjak ia memasang wajah cemberut.
"Kiran main di sana dulu yah. biar kan mamah sama kakak ngobrol dulu. entar kalau sudah selesai baru Kiran boleh kesini"
Zahra berkata lembut sambil mengelus tangan Kiran.
Kiran pun menurut ia hanya mengangguk dan berdiri.
"mamah, jangan marahi kak Zahra. oke! "
Kiran pun pergi keluar Caffe setelah menekan kan kalimat yang di ucapnya barusan.
Zahra yang melihat hanya mengerutkan keningnya.
Hera hanya tersenyum ke arah Kiran.
Jujur saja perasaan Zahra saat ini bingung, kesal marah menjadi satu ketika bertatap muka dengan Hera.
"Zahra"
sapa Hera lembut membuat Zahra menoleh ke arahnya.
"saya kesini mau minta maaf sama kamu "
ucap Hera dengan sorot mata sendu
"saya sudah keterlaluan bersikap kasar sama kamu bahkan saya sudah menghina kamu"
Hera tertunduk tak sanggup manik matanya bersitatap dengan Zahra.
Sementara Zahra, ia masih merasakan sakit di hatinya, ia masih mengingat jelas kejadian di kala itu.
Zahra memejamkan matanya .
Kalimat ucapan bu Sinta terngiang di kepalanya, membuat Zahra menarik nafas dan menghela.
"mungkin saya tidak pantas di maafkan, karena saya sudah sangat keterlaluan "
ucap Hera dengan ke adaan masih tertunduk.
"bahkan anak saya sendiri sangat kecewa dengan sikap saya"
air mata Hera menetes, bahunya bergetar.
Zahra memberanikan diri untuk memegang tangan Hera.
"bu"
ucap Zahra lembut.
membuat Hera mengangkat pandangannya, air mata di pelupuk matanya sudah terlihat jelas.
"Zahra maafin ibu kok"
Zahra mengulas senyum. mungkin dengan cara memaafkan beban di hatinya akan berkurang .
"apa kamu tidak marah Ra, saya sudah ke terlaluan memperlakukan kamu"
"hiks…hiks"
Hera kembali menangis, ia tidak menyangka ternyata Zahra gadis yang baik.
apa yang di tutur kan Kiran selama ini benar adanya.
"Semua orang saat di hina, di rendahkan pasti akan marah bu. tapi semua orang juga berhak memaafkan kesalahan orang tersebut "
"saya juga meminta maaf pada ibu karena sudah lancang mendekati anak ibu, saya juga bersalah karena sudah membentak ibu"
Zahra tidak ingin sepenuhnya menyalahkan Hera, bagaimana pun juga, Hera adalah orang tua ia melakukan hal itu pasti hanya karena ingin yang terbaik untuk anaknya.
Hera bangkit dari duduknya dan memeluk Zahra erat, membuat Zahra tertegun ia tak menyangka Hera sudi memeluknya.
"terimakasih Zahra, sekarang saya tahu pilihan Bagas itu tidak pernah salah"
__ADS_1
ucap Hera di pelukan Zahra.
Hati Zahra menjadi legah .
"bu"
panggil Zahra lirih, membuat Hera melepaskan pelukannya .
"apa ibu izin kan saya dekat kembali sama anak ibu? "
ucap Zahra ragu
Hera tersenyum, ia kembali memeluk Zahra
"saya mengizinkan kamu dekat dengan anak saya. karena saya tahu Bagas hanya mencintai kamu. Bagas pantas dapetin kamu"
Hera dengan jujur mengatakan hal itu.
Zahra merasa bahagia mendengarnya ia pun membalas pelukan Hera dengan linangan air mata.
"terimakasih sudah memberiku jalan ke arah yang bahagia"
Zahra bergumam dalam hati.
"ehem-ehem"
"Kiran ga di ajak pelukan"
rengek Kiran yang tiba-tiba datang, ia menyaksikan mamanya sedang memeluk Zahra.
ia merasa senang melihat hal itu.
Hera pun melepaskan pelukannya membuat Kiran langsung gantian memeluk Zahra.
"kamu tuh yah ikut aja"
Zahra mengusak kepala Kiran.
"ih Kiran kangen kakak, kapan kita ke mall lagi,? "
Kiran melepaskan pelukannya.
"nanti yah kalau kakak libur kita ke mall"
Rayu Zahra.
"ih kakak kenapa bekerja terus, bukan kah kaka sudah menjadi orang kaya"
ketus Kiran asal.
"pak Bramantio kan sudah punya banyak uang"
Kiran berjalan menuju tempat duduknya.
"Ssssttt…Kiran, "
Hera berusaha menghentikan ocehan putrinya.
Zahra hanya tersenyum.
"hahahha iyah…kakak cuma ingin cari uang dengan jerih payah kakak sendiri. supaya bisa traktir kamu makan nasi bungkus lagi"
Zahra tertawa Kiran pun ikut tergelak karena tawanya.
"ih kakak masih ingat aja"
protes Kiran.
"ingat donk, kan kamu yang makannya paling banyak"
ledek Zahra membuat kiran tersipu malu.
Hera yang mendengarkan percakapan mereka pun hanya terdiam sambil menyaksikan kedekatan mereka.
Hera paham sekarang mengapa kedua anaknya bisa sangat dekat dengan gadis ini.
Hera melihat Zahra adalah sosok gadis yang ceria, mandiri, pekerja keras, bahkan baik.
sungguh beruntung orang tuanya memiliki anak seperti Zahra.
...……………………...
jangan lupa like and vote yah.
Author berusaha kok buat up, Author juga memiliki kesibukan lain jadi ga bisa secepat kilat untuk up.
terimakasih atas pengertiannya
__ADS_1
Salam manis Author
~EtyRamadhii