
Buat para readers mohon kritik dan saran yang membangun. Terimakasih juga buat Supportnya. 😊😊🤗
Happy Reading 😍
**********
Hari berganti hari sampai tahun berganti tahun tak terasa tepat hari ini adalah tahun kedua Zahra bekerja di kantor ini.
Tak ada yang curiga dengan kedekatan Zahra dan Bagas, Pernah suatu hari banyak para karyawan lain berdesas desus soal kedekatan mereka,karena Zahra dan Bagas terlalu sering pulang bersama.
Namun Bagas menegaskan bahwa Zahra sering pulang bersamanya itu karena Zahra di tugas kan membersih kan ruangannya, sehingga dirinya selalu pulang terlambat.
para karyawan pun percaya pasalnya tidak sembarangan Cleanning servis yang membersihkan ruangan atasan mereka itu.
hanya Cleanning servis kepercayaan nya saja yang boleh membersihkan ruangan tersebut.
walau sampai detik ini Zahra dan Bagas masih tetap mempertahankan status pertemanan mereka tanpa ada yang baper.
baik Bagas maupun Zahra mereka pandai menyembunyikan perasaan mereka masing-masing.
Pagi ini seperti biasa Zahra selalu kebagian membersihkan ruangan staff operator.
dan tugas Zahra selanjutnya adalah mengelap kaca di bagian depan kantor.
Sambil membawa cairan pembersih kaca dan juga wiper, Zahra berjalan tanpa memperhatikan ke depan. pandangannya entah mengedar kemana.
"Bruggggghhhhhhhhhhh"
Zahra menabrak seseorang hingga terjatuh
"Aww !!! Aduhhhhhh"
Zahra meringis mengingat bokongnya mendarat sempurna ke lantai tanpa hambatan.
"Kamu baik-baik saja? "
suara seseorang yang membuat Zahra mendongak kan kepalanya, melihat siapa yang di tabraknya.
Zahra menabrak seorang laki-laki, jika di lihat dari parasnya laki-laki itu sebaya dengan ayah Zahra.
dengan postur tubuh tinggi dan tegap, mengenaka stelan jas berwarna hitam dengan kacamata menghiasi matanya.
Zahra tersadar dan langsung berdiri.
"Ma... maaf pak saya gak sengaja, apa bapak gak apa-apa?,
apa baju bapak ada yang kotor? "
Zahra memastikan Bapak yang di tabraknya, pasalnya Zahra yang bersalah ia berjalan tanpa memperhatikan ke depan.
"Saya gak apa-apa "
laki-laki itu tersenyum kepada Zahra.
ntah mengapa Senyuman itu membuat naluri Zahra merasakan sejuk.
"Sekali lagi maaf pak saya ga sengaja"
__ADS_1
Zahra menundukan paandangannya karena merasa bersalah.
"iyah gak apa-apa lain kali hati-hati "
"iyah pak, kalau begitu saya permisi pak, mari pak"
Zahra mengangguk kan kepalanya, ia segera berlalu pergi meninggalkan bapak tersebut yang masih terus memandangi Zahra dengan tatapan sulit di artikan.
"aku seperti mengenali wajah anak itu"
Gumam laki-laki yang di tabrak Zahra .
"wajahnya sangat familyar sekali, namun siapa anak itu, kenapa perasaanku mengatakan aku sangat mengenalinya"
lelaki itu terus berusaha mengingat sesuatu. dengan pandangan masih setia dia memperhatikan Zahra yang sudah jauh melangkah.
Zahra berjalan dengan raut wajah yang nyengir, merasakan bokongnya yang masih sakit karena jatuh.
"kamu kenapa Ra, kok nyengir-nyengir manja gitu?"
Erma yang tadinya mengepel lantai seketika menghentikan aktivitasnya, setelah melihat ekspresi Zahra.
"nyengir-nyengir manja apaan, nih bokong abis jatuh noh keduduk di lantai"
Zahra masih setia memegangi bokongnya yang terasa sakit.
"Emangnya kamu jatuh dimana? "
"Noh di depan lift"
Zahra memonyongkan bibirnya memberitahukan tempat dimana dirinya terjatuh.
Erma mengernyitkan dahinya heran, pasalnya dia baru mengepel di depan.
"bukan jatuh kepeleset Ermaaaaaaaaa, aku tadi tuh nabrak orang"
"siapa yang kamu tabrak? "
Erma mencoba mencari tahu.
"aku gak tau Er. kayaknya bukan karyawan disini deh, soalnya selama aku kerja disini belom pernah ketemu"
"ciri-cirinya gimana? "
Erma terus mengintrogasi Zahra. yah Erma termasuk tipe teman Zahra yang jika bertanya harus tuntas sampai ke akarnya.
"dia Bapak-bapak, postur tubuhnya tinggi tegap,pake jas hitam"
"pakai kacamata, bukan? "
"iyah pakai kacamata, kayaknya juga baru lewat sini deh"
Erma memainkan jari telunjuknya di dagu, sepertinya Erma sedang mengingat nama orang yang di tabrak Zahra.
"kamu tahu siapa bapak itu? "
Tanya Zahra pada Erma yang masih setia dengan posisi jari telunjuk di dagunya.
__ADS_1
"ohhh iyah aku baru ingat org itu tadi pak Bramantio, dia itu teman bisnis pak Wijaya Dirgantara ,orang tua pak Bagas. dia juga termasuk orang yang menanam saham terbesar di perusahaan ini.
Erma menjelaskan secara detail pada Zahra, pasalnya Erma Cleanning servis senior disini, membuat dirinya sedikit tahu informasi soal perusahaan ini.
"tapi kok aku gak pernah liat pak Bruman itu"
Zahra menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bramantio Ra bukan Bruman ataupun Bruce lee"
Erma melirik kesal ke arah Zahra.
"heheheh nah itu maksudnya. kenapa aku gak pernah liat pak Bramantio itu kalau ada meeting besar di kantor ini? "
"pak Bramantio itu jarang ada disini, dia lebih sering di Singapura karena perusahaan terbesar yang dia punya itu di Singapura. kalau ada meeting penting palingan juga kepercayaan nya yang datang"
Erma menjelaskan kepada Zahra dengan tangan yang masih memegangi pengepel lantai.
"nah sekarang kan gak ada meeting kenapa datang ke kantor ini? "
Zahra bertanya dengan wajah polos tanpa dosa membuat Erma menepuk jidatnya karena kesal.
"Yah terserah dia donk Ra, lagian pak Bramantio itu dekat dengan keluarga pak Wijaya. mungkin dia datang ada hal penting atau urusan di luar bisnis"
"Ohh gitu"
balasan singkat dari Zahra namun tak sepadan dengan penjelasan Erma yang panjang.
"Eh Ra pak Bramantio itu punya anak perempuan cakepp banget "
Erma kembali membuka topik pembicaraan, dirinya tak jera walaupun di tanggapi biasa saja oleh Zahra.
"cakep mana kalau di banding sama aku? "
Zahra menunjuk dirinya sendiri
"yeee kalah jauh donk, kalau kita di bandingin sama dia yah kita ini cuma butiran debu lah, dia mah cakep banget pokoknya mendekati kata sempurna"
"dihhh. !!!! kamu aja yang butiran debu aku mah ga mau. lagian nih yah mana ada manusia yang sempurna"
Zahra menanggapi dengan candaan
"aku serius Ra, anak Pak Bramantio itu yang di gadang-gadang di jodohin sama pak Bagas"
tutur Erma meyakin kan Zahra.
"Degggg"
entah mengapa hatinya seketika berdenyut sakit,mendengar kalimat di jodohin yang di tuturkan Erma. membuat Zahra terdiam tak menjawab sepatah kata pun.
"Ehhh kalian berdua kenapa malah ngobrol bukannya kerja"
tiba-tiba pak Hendra mengejutkan mereka berdua.
"Eh.. i..iyah pak ini juga lagi kerja"
jawab Erma dengan tangan langsung menggerkaan pengepel ke lantai.
__ADS_1
Zahra pun melanjutkan pekerjaannya yang hendak mengelap Kaca.