Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
87 pikiran yang kalut


__ADS_3

Eza memperlambat laju motornya, kini ia menghentikan motornya di jembatan ujung kota.


Jembatan dengan pemandangan Sungai yang membelah 1 wilayah ke pusat kota.


Eza menurunkan standard motornya ia melangkah menuju tepi jembatan yang memiliki besi besar sebagai pembatas.


Rianda yang sedari tadi masih di atas motor kini ia pun turun dan menghampiri Eza.


pandangan Eza mengarah ke Sungai , terlihat bentangan cahaya di tepi sungai yang menandakan ada sebuah pemukiman.


membuat pemandangan di atas jembatan terlihat indah dengan tiupan angin malam yang lembut.


"mas? "


panggil Rianda lirih


"hmm"


Eza hanya berdehem dan tidak menoleh, membuat Rianda mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Rianda tahu kini Eza sedang emosi, ia memilih diam dan ikut berdiri di samping Eza.


beberapa menit berlalu keheningan menyelimuti , Eza masih diam dengan pandangan tak beralih sedikitpun.


pikirannya berkecamuk memikirkan perkataan ibunya.


entah mengapa hatinya tidak rela jika ibunya menikah lagi. ia merasa sang ayah masih berada di sisinya.


Eza tahu ibunya pasti akan bahagia dengan pak Bram namun semua ini begitu cepat bagi Eza bahkan ia belum siap.


Eza tersentak dari lamunannya, ia sadar di sampingnya ada Rianda.


Rianda melipat kedua tangannya di depan dada, sepertinya Rianda kedinginan karena tiupan angin malam disini semakin kencang.


Rianda tidak memperhatikan Eza , yang sedari tadi sudah memperhatikannya. Rianda masih menatap pemandangan indah dari atas jembatan ini.


Eza membuka kancing kemeja kerjanya, tersisa kaos hitam polos yang melekat di tubuh Eza.


tangan Eza terulur memakaikan kemeja tersebut di tubuh Rianda, membuat Rianda sedikit berjengit karena terkejut.


"pakailah, anginnya sangat dingin"


Eza merapikan rambut Rianda yang sedikit berantakan karena hembusan angin.


"terimakasih mas"


ucap Rianda sambil mengulas senyum.


"kita pulang yuk"


Eza menarik tangan Rianda dengan lembut . namun Rianda tidak melangkah masih berdiri di tempatnya.


Eza terhenti saat di rasa Rianda tidak mengikuti langkahnya.


"kenapa? "


tanya Eza saat menoleh ke arah Rianda.


"apa mas tidak ingin bercerita sedikitpun padaku? "


ucap Rianda sembari memegangi kemeja Eza yang masih melekat di tubuhnya.


"haaaa"


Eza menghela nafasnya, ia kembali mendekati Rianda.


"besok saja mas ceritakan, ini sudah malam angin semakin kencang. mas khawatir kamu kedinginan "


Eza mengelus pipi Rianda, ada perasaan bersalah di hati Eza mengingat ia tadi menarik paksa tangan Rianda bahkan ia sudah membuat Rianda ketakutan.sebab Eza mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi.


"ehmm baiklah"


Rianda menurut.


mereka pun akhirnya pulang .


.....


Sementara Sinta sudah sampai di rumah berharap Eza sudah pulang. namun Eza belum ada di rumah.


Sinta berusaha menghubungi Eza tapi tidak di jawab oleh Eza.


"kamu dimana nak"


Sinta terus menghubungi Eza namun tidak ada jawaban.

__ADS_1


Sinta pun menangis, ia merasa bersalah tidak seharusnya ia merahasiakan semua ini pada Eza.


Ia berpikir Eza akan setuju sebab selama ini Eza terlihat dekat dengan Bramantio bahkan Eza sangat menyayangi Zahra.


Sinta mengira Eza akan mudah menerima semuanya ,ternyata tidak.


Sinta menganggap dirinya egois karena memikirkan kebahagiannya sendiri tanpa memikirkan Eza.


Sinta menangis mengingat Eza berbicara dengan nada tinggi dengan ekspresi marah. Sinta tidak pernah melihat Eza semarah itu, mungkin Eza terlalu kecewa sehingga Eza emosi.


"maafkan ibu nak"


ucapnya lirih sambil menghapus air matanya.



Eza sudah sampai di depan rumah kontrakan yang di tempati oleh Rianda.


Rianda pun turun dari motornya dan melepas kemeja milik Eza.


"ini mas di pakai, dingin loh"


Eza pun menerima kemeja tersebut dan segera memakainya.


"masuklah, udara di luar sangat dingin"


perintah Eza pada Rianda, Rianda hanya menurut ia takut untuk menolak mengingat bagaimana marahnya Eza tadi.


"mas hati-hati, jangan bawa motor terlalu ngebut. dan Rianda harap mas ga marah sama ibu"


ucap Rianda sambil mengusap pipi Eza. membuat hati Eza berdesir karena sentuhan hangat tangan Rianda.


"iyah"


jawab Eza singkat


Rianda pun berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Sementara Eza masih berada di atas motornya. ia tidak ingin beranjak untuk pulang.


Eza takut rasa kecewanya tidak bisa mengontrol ucapannya. ia khawatir ucapannya akan menyakiti sang ibu.


Eza memilih duduk diam di atas motor, di bawah sinaran rembulan yang terang Eza masih setia termenung.


Kini Rianda hendak mandi mengingat ia belum mandi sedari pulang kerja.


kini Rianda mengambil baju tidurnya yang akan ia kenakan.


rutinitas Rianda sebelum tidur adalah mengecek ulang pintu rumahnya karena Rianda seorang yang pelupa.


bisa gawat jika pintu rumahnya tidak terkunci.


ia melangkah menuju pintu depan, saat Rianda hendak menutup tirai jendela terlihat Eza masih berada di atas motornya.


"loh mas Eza belum pulang? "


Gumam Rianda lirih. ia langsung membuka pintu.


"Mas Eza kok belum balik? "


tanyanya


"Mas lagi malas buat balik kerumah"


sahut Eza.


"yaudah masukin motornya kerumah"


perintah Rianda


"maksudnya ?"


tanya Eza bingung


"iyah masukin motornya"


Rianda takut jika Eza akan melakukan hal yang akan membahayakan dirinya sendiri jika ia sedang marah seperti ini.


Rianda meminta Eza untuk menginap di rumahnya.


"maksudnya mas menginap? "


tanya Eza


"iyah mas, udah jangan nanya lagi di luar dingin"

__ADS_1


perintah Rianda.


Eza pun menurut, ia memasukan sepeda motornya ke dalam rumah Rianda.


dan Rianda kembali mengunci pintu.


"kamu ga takut kita bakal di grebek warga? "


tanya Eza khawatir


"enggak, toh kita ga ngapa-ngapain kan mas. Lagian Rianda lebih takut kalau mas pergi dalan keadaan kayak begini"


tutur Rianda


"kayak begini? "


ulang Eza.


"iyah mas, mas kalau lagi emosi tuh ga pernah mikirin keselamatan. Rianda takut mas kenapa-kenapa. di tambah lagi mas ga pengen balik kan. Rianda semakin khawatir "


Rianda menyalakan kembali lampu rumahnya.


Eza hanya terdiam,apa yang di katakan Rianda benar.


"mas mandi dulu gih, Rianda ambilin handuk dulu"


Rianda melangkah menuju kamarnya dan mengambil handuk untuk Eza.


Eza kini memilih duduk di karpet lembut yang terbentang di depan pintu kamar Rianda.


kepala Eza berdenyut sakit. pikirannya tak pernah sekalut ini.


"nih mas handuknya. mandi gih entar keburu dingin"


perintah Rianda. Eza bangkit dari duduknya dan mengambil handuk dari tangan Rianda.


"emang kamu ga takut kalau mas nginap disini? "


tanya Eza


"kan Rianda udah bilang mas. Rianda lebih takut kalau mas nekat untuk pulang"


"bukan itu maksudnya"


sergah Eza


" lalu? "


Rianda mengernyitkan keningnya


"apa kamu ga takut, gimana kalau mas berbuat macam-macam sama kamu? "


tanya Eza penasaran.


"Rianda ga takut mas, Rianda percaya sama mas Eza.kalau emang mas Eza sayang sama Rianda, mas Eza ga mungkin merusak Rianda "


tutur Rianda.


"kamu benar. terimakasih sudah menjadi orang yang sangat mempercayai ku"


Eza melangkah menuju kamar mandi, ia meletakkan dompet dan ponselnya di atas lemari televisi milik Rianda.


Rianda kembali ke kamar untuk mengambil bantal dan selimut untuk Eza.


setelah itu Rianda kembali ke dapur untuk membuat teh hangat untuk Eza. namun langkahnya terhenti saat pomsel Eza terlihat menyala tanpa nada dering.


terlihat ibu sedang menghubungi Eza.


Rianda tidak berani mengangkat ia lebih memilih mengirim pesan kepada Sinta lewat ponselnya.


untung saja ia memiliki nomor ponsel Sinta.


Rianda tahu pasti saat ini Sinta sangat khawatir kepada Eza. ia mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk Sinta.


"Bu, malam ini mas Eza nginap di rumah Rianda.ibu ga perlu khawatir kita ga akan macam-macam kok bu. Rianda yang minta mas Eza untuk disini karena Rianda khawatir jika mas Eza pulang pasti ia tidak akan pulang kerumah"


pesan terkirim membuat Rianda sedikit legah.


Rianda pun kembali ke dapur untuk membuat teh hangat.


........


Guysss likenya dong 😂😂😂


semoga ceritanya ga buat bosen yah.

__ADS_1


terimakasih🤗


__ADS_2