Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
99.Wanita itu Zahira?


__ADS_3

"Bangunannya ga berubah yah Ra?"


ucap Bagas sambil duduk di sebuah kursi yang tersedia di warung tersebut.


dahulu tempat ini hanya sebuah lahan kosong, bisa di katakan seperti lapangan. bahkan sewaktu Zahra kecil sering bermain di lapangan ini.


tapi kini sudah berubah menjadi warung makan, tak heran juga sebab di sini sudah sangat ramai penduduk di tambah lagi karena jalanan yang sudah lebih bagus dari pada dahulu.


sepertinya pembangunan jalan di wilayah ini getol di lakukan.


"iyah kak, lihat deh cat rumahnya juga masih sama"


Zahra memandangi bangunan yang berada di seberang jalan. bangunan yang dahulu menjadi saksi bisu kebersamaan keluarganya.


"mau pesan apa mas? "


tanya seorang ibu yang sepertinya pemilik warung ini.


"mau makan apa Ra? "


tanya Bagas


"terserah kakak ajah"


sahut Zahra


Bagas memperhatikan menu makanan yang tertera di sebuah spanduk yang tertempel di dinding warung.


"nasi uduk 2 sama ayam goreng bu, minumnya teh tawar 2"


ucap Bagas lancar


"dari orok nasi uduk terus ga berubah"


sindir Zahra dengan ekspresi meledek.


"yee biarin. asal kamu tahu Ra nasi uduk itu bagi kakak udah kayak kamu"


"loh kok kayak aku? "


Zahra mengerutkan keningnya heran.


"ya iyalah kayak kamu, karena sudah melekat di hati kakak dan tak bisa tergantikan"


Bagas menaik turunkan alisnya.


"apaan sih di samain sama nasi uduk"


protes Zahra tak terima.


Bagas yang melihat hal itu hanya tertawa melihat wanita kesayangannya cemberut karena kesal.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun tiba.


ibu pemilik warung kembali duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari Zahra dan Bagas duduk.


"maaf bu, saya boleh tanya ga? "


ucap Zahra pada pemilik warung


"iyah neng boleh, "


jawab si ibu dengan sopan.


"apa rumah itu masih sama pemiliknya dari yang dulu?"


tunjuk Zahra pada rumahnya yang dulu.


"Setahu ibu sekarang yang huni anaknya neng, kalau si bapak pemiliknya yang dulu sudah pindah"


tutur si ibu


"lagipula ibu ga tahu persis, soalnya ibu juga baru disini"


timpal ibu pemilik warung.


"Ouh gitu yah bu"


Zahra mengangguk sambil memasukkan nasi uduk ke dalam mulutnya.


"emang kenapa neng? "


tanya si ibu penasaran.


"ah ga apa-apa bu, saya cuma tanya aja"


"Oh."


"pemiliknya baik kok neng ramah ,malah sering juga main kesini ke warung ibu. tapi semenjak ada keributan itu pemiliknya jarang lagi buka pintu"


ucap sang ibu


"keributan apa bu? "

__ADS_1


Bagas yang sedari tadi mendengarkan kini ikut bertanya.


"kalau ibu ga salah sekitar 2 minggu yang lalu ada seorang wanita hamil datang ke rumah itu. dia bilang itu dulu rumah orang tuanya sebelum ia menjualnya, dia hanya ingin mencari informasi kemana perginya orang tuanya. tapi si pemilik rumah bilang ia tidak mengetahui hal itu. ibu ga tahu pasti gimana ceritanya sampe terjadi keributan"


"wanita hamil? "


tanya Zahra


"iyah neng. bahkan setiap sore ia selalu datang kerumah itu untuk mencari orang tuanya. makanya rumah itu sering tutup karena si pemilik bosan di datangi wanita itu setiap hari"


tutur sang ibu panjang lebar


Zahra dan Bagas saling pandang.


"siapa wanita itu yah kak? "


"apa rumah itu sudah berganti pemilik lagi sebelum pemilik yang sekarang? "


tanya Zahra, Bagas hanya menggendik kan bahunya.


"kakak juga ga tahu Ra"


ucap Bagas.


"kira-kira jam berapa yah bu wanita itu sering datang? "


tanya Zahra penasaran, ada hal yang membuatnya ingin tahu siapa wanita itu.


"sekitar jam 3 atau 4 sore gitu neng "


Zahra yang mendengar hal itu langsung melihat arlojinya yang kini menunjukkan pukul setengah 3 sore.


"kenapa Ra? "


tanya Bagas setelah menyeruput teh tawar miliknya.


"ga kak, Zahra penasaran sama wanita yang di ceritain si ibu jadi Zahra mau nunggu dia disini "


"Penasaran kenapa, bisa saja kan itu wanita sedang depresi atau semacamnya"


ujar Bagas.


"ga tahu kak seperti ada hal yang menarik Zahra untuk menunggu wanita itu"


Bagas hanya mengikuti Zahra tanpa protes lebih dalam. Bagas memilih untuk memainkan ponselnya.


sekitar 20 menit berlalu, terlihat wanita berdiri di depan pagar rumah tersebut, dengan keadaan perut sedikit membuncit.


"nah itu neng, wanita yang ibu ceritain tadi"


Zahra memfokuskan pandangannya dan sedikit memicingkan mata.


"Zahira ! "


ucapnya dengan nada sedikit kuat membuat Bagas turut memperhatikan wanita tersebut.


"Zahira? "


ulang Bagas


"iyah kak Itukan Zahira"


ucap Zahra meyakinkan Bagas.


"tapi? "


"di…dia hamil? "


Zahra sedikit tak percaya namun ia yakin wanita itu adalah Zahira kakaknya.


Zahra pun segera beranjak dari duduknya untuk menghampiri wanita itu


"Ra kamu mau kemana? "


"Zahra "


panggil Bagas.


Namun Zahra tak menghiraukan panggilan Bagas.


"bu, ini uangnya. kembalikannya buat ibu aja yah"


Bagas menyerahkan dua lembar uang kertas berwarna merah pada si ibu pemilik warung.


dengan langkah cepat Bagas menyusul Zahra.


Zahra sudah menyebrang jalan dan berniat menghampiri wanita itu.


"kak"


"kak Zahira? "


teriak Zahra membuat wanita itu menoleh.

__ADS_1


namun wanita itu terlihat panik dan pergi menjauh dengan sedikit berlari.


"loh kok pergi"


"kak Zahira"


Zahra terus mengejar wanita itu.


Wanita itu benar Zahira, ia menghindari Zahra karena malu dengan kondisinya yang tengah hamil.


"kak Zahira "


Zahra lebih cepat berlari sehingga bisa mencekal tangan Zahira.


"kakak berhenti"


ucap Zahra membuat Zahira menghentikan langkahnya.


Zahra mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah. ia memperhatikan kondisi perut Zahira yang membesar.


"kakak kemana saja? "


tanya Zahra namun Zahira terdiam.


"kak Zahira"


panggil Zahra saat wajah Zahira meringis sambil tangan kanannya meremas perutnya.


"kak? "


"kakak kenapa? "


tanya Zahra panik


"perutku "


"arggghhhhh ! "


Zahira meremas perutnya yang terasa amat sakit.


"Ra, dia kenapa Ra? "


tanya Bagas saat ia baru sampai mengejar Zahra.


"Zahra ga tahu kak, tiba-tiba kak Zahira seperti kesakitan"


ucap Zahra panik.


Zahira merasakan perutnya seperti di remas dengan kuat, pandangannya kabur. seketika tubuhnya seperti tidak memiliki tulang,ia jatuh pingsan.


Dengan sigap Bagas menampung tubuh Zahira.


"kakak"


ucap Zahra


"dia pingsan Ra?"


"iyah kak"


Zahra berusaha membangunkan namun Zahira tak kunjung sadar.


"Ra"


panggil Bagas panik


"apa kak"


"lihat Ra, darah"


ucap Bagas panik saat melihat darah segar mengalir di kakinya.


"Ya allah kakak"


Zahra tak kalah panik


"kakak cepat bawa ke mobil kak, kita bawa kak Zahira ke rumah sakit. sepertinya ia pendarahan"


tutur Zahra panik.


"iyah Ra"


dengan sekuat tenaga Bagas mengangkat tubuh Zahira.


"ambil kunci mobilnya Ra di saku kakak"


dengan sigap dan tanpa ragu Zahra merogoh saku celana Bagas.


mereka segera melangkah menuju mobil yang masih terparkir di depan warung tadi.


……………


jangan lupa like sama votenya yah.

__ADS_1


maaf yah guys Author baru nongol, semoga masih pada setia. terimakasih


__ADS_2