Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
112. Sifat Bagas berubah


__ADS_3

Sesampainya di rumah, semua keluarga mengadakan musyawarah tak terkecuali Tristan papinya Alex.


Dan di hari itu juga mereka melakukan tes DNA.


Sementara Zahra memilih untuk ke Restoran , ia tak ingin ikut campur lagi.


Biarlah mereka yang menyelesaikan, menurutnya keduanya sudah dewasa dan tahu mana yang terbaik.


Kini Zahra tengah berada di ruangannya, ia sedang mengecek pemasukan di bulan ini.


Badannya terasa lelah ingin rasanya beristirahat namun pekerjaannya masih menumpuk.


Zahra memijat keningnya yang berasa pusing dan berdenyut.


"tok... tok... tok"


"masuk"


ucap Zahra


"mbak, ada yang mau bertemu dengan mbak"


Kepala Gracia nongol di balik pintu.


"siapa? "


"mbak Rianda "


ucap Gracia yang masih menempel di pintu.


"Oh, suruh ke ruangan saya aja"


perintah Zahra, Gracia pun langsung pergi untuk memanggil Rianda.


Zahra menutup laptopnya, dan meneguk air putih yang berada di meja kerjanya. kerongkongannya terasa kering.


"tok... tok "


"masuk"


perintah Zahra


"Zahra"


ucap Rianda yang langsung memeluk Zahra


dan cipika cipiki.


"kenapa ga langsung masuk saja kak? "


tanya Zahra heran


"Ga sopan dong Ra,"


Rianda duduk di kursi yang berada di depan meja kerja milik Zahra


"Ah kakak seperti tidak biasa saja"


Zahra mengibaskan tangannya


"biar terkesan tamu penting"


"Oh iyah, kamu baru pulang kok langsung kerja? "


"Iyah kak kerjaan sedang menumpuk, lagipula dirumah masih ada rapat keluarga jadi lebih baik aku disini saja"


tutur Zahra, Rianda paham rapat yang di maksud oleh Zahra


"Ehmm begitu"


"Oh iyah kakak kesini mau kasih kabar buat kamu"


"kabar apa kak? "


Zahra mengerutkan dahinya


"Taraaaaaaaaaaaa!!!!"


Rianda mengibaskan undangan pernikahan.


"undangan? "


tanya Zahra tidak paham.


"Iyah Ra, pernikahan kita di percepat minggu depan akan di adakan resepsinya"


ucap Rianda


"What????? "


teriak Zahra dengan mata membulat


"Kakak ko ga bilang-bilang sih? "


Zahra mencebikkan bibirnya


"kakak juga ga tahu Ra, kemarin kak Eza pulang dari luar kota langsung ajak kakak buat ambil undangan ini"


Tanpa sepengetahuan Rianda Eza sudah mempersiapkan semua keperluan pernikahan mereka.


"is dasar kak Eza suka sekali mendadak buat orang spot jantung aja"


sungut Zahra


"tapi kamu ko ga tahu sih Ra, kan pesan cateringnya di kamu"


"masa sih kak? "


"kalau benar, keterlaluan sekali kak Eza selalu membebaniku"


Zahra langsung membuka buku catatan yang di berikan Gracia pagi tadi.


"kaka saja tidak tahu, Sepulang dari bandara kak Eza mengajak kakak mengambil undangan ini dan langsung fitting baju"


"Haaa mempersiapkan semuanya dalam waktu satu minggu"


Rianda menggelengkan kepalanya , membayangkan akan selelah apa dirinya.


sementara Zahra tengah sibuk melihat catatannya.


"benar kak, kak Eza sudah pesan catering disini"

__ADS_1


Zahra melihat ada catatan pemesanan yang tertera di dalamnya atas nama Eza


"sungguh menyebalkan "


Gumam Zahra


"hahahah"


"kaka tidak ikutan yah Ra, bahkan kakak sendiri tidak tahu"


Rianda tertawa melihat ekspresi Zahra.


Sesaat keduanya asyik mengobrol tiba-tiba handphone milik Zahra berdering.


Tertera di ponsel Zahra panggilan masuk dari My bos dengan emoticon gambar hati.


"sebentar yah kak, Bagas menelepon"


ucap Zahra yang di jawab anggukan oleh Rianda.


"halo kak"


"ada apa? "


"bertemu? "


"sore ini, Ehmm baiklah nanti Zahra kesana"


Sambungan telepon berakhir, Bagas meminta Zahra untuk menemuinya sore ini .


"kenapa Ra? "


tanya Rianda penasaran


"kak Bagas tumben banget ngajak ketemuan sore ini"


"mungkin ada hal penting kali"


tutur Rianda


"mungkin kak, "


Zahra merasa ada hal yang aneh, tidak seperti biasanya Bagas terdengar dingin dan cuek.


Namun ia segera menepis pemikirannya.


--


Jam menunjukkan pukul 5 sore, Zahra mempercepat laju motornya menuju taman kota.


Sebab Bagas mengajaknya untuk bertemu disana.


Sekitar 15 menit ,Zahra tiba di taman kota. Suasana di taman cukup ramai jika sore begini.


Banyak orang sedang menikmati udara sore dan sekedar berjalan santai.


Zahra memarkirkan motornya, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Bagas.


Saat netra matanya tak menangkap sosok Bagas ia pun akhirnya mengirim pesan pada Bagas.


"Ting"


terdapat pesa masuk dari Bagas


Zahra langsung menuju ke danau buatan yang berada di taman tersebut.


Tampak Bagas tengah duduk di bangku yang menghadap ke arah danau buatan tersebut.


"Kak? "


sapa Zahra, Bagas hanya menoleh sekilas


"sudah lama kak? "


tanya Zahra sembari duduk di samping Bagas.


"belum"


jawab Bagas singkat tanpa menoleh ke Zahra.


"Oh iyah kak"


"kakak tahu ga, kak Eza akan menikah minggu depan loh"


"nyebelin banget sih dia ga bilang-bilang kalau pernikahannya di percepat"


Zahra membuka pembahasan


"dan lebih keselnya lagi, kak Eza pesan cateringnya di aku kak"


"ga bisa kali yah tuh orang buat Zahra nyaman di hari pentingnya"


"bikin kesel tau kak"


Zahra terus nyerocos panjang lebar sementara Bagas hanya diam, pandangannya masih menatap danau


"kak? "


"kakak dengerin Zahra kan? "


Zahra mengguncang lengan Bagas


"Iyah dengar"


Jawab Bagas singkat


"kakak kenapa sih? "


Zahra menampilkan wajah cemberut sebab sedari tadi Bagas tidak menanggapi obrolannya.


"ga kenapa-kenapa "


jawab Bagas pelan


Zahra masih cemberut menatap Bagas


"haaaa"


Bagas menghela nafasnya


"ada yang ingin kakak tanya padamu"

__ADS_1


ucap Bagas


"apa kak? "


Mimik wajah Zahra seketika berubah.


"apa kamu mencintai kakak? "


Bagas menatap netra hitam milik Zahra.


"banget lah kak"


"kenapa kakak tanya begitu? "


Zahra mengerutkan keningnya, ia penasaran dengan pertanyaan Bagas.


"kalau kamu benar mencintai kakak, kakak ingin kita segera menikah"


Jawab Bagas to the point membuat Zahra membulatkan matanya


"menikah? "


ulang Zahra yang di jawab anggukan kepala oleh Bagas.


"Bukan Zahra ga mau nikah sama kakak"


" kan Zahra sudah berulang kali mengatakan ,Zahra bakal menikah kalau semua permasalahan di keluarga Zahra yang lagi rumit sudah selesai kak"


tutur Zahra


"Ra, permasalahan Eza dan Zahira itu ga sepenuhnya urusan kamu. mereka bisa mengatasinya sendiri tanpa merepotkan kamu"


"mereka bukan anak kecil Ra"


Bagas heran melihat Zahra ia turut repot mengurus permasalahan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri.


"Iyah kak, cuma yah menurut Zahra masih riweh kak. mana harus mengurus pernikahan kak Eza mana mengurus masalah kak Zahira"


"jadi kakak sabar yah, Zahra mau kok kak nikah sama kakak tapi kasih Zahra waktu dulu"


Zahra berusaha membuat Bagas mengerti.


"harus berapa lama lagi kakak menunggu kamu Ra"


"Dahulu alasan kamu kuliah dan ingin fokus ke karir, sekarang alasan kamu keluarga"


raut wajah Bagas berubah


"kakak bukan anak remaja lagi Ra, kakak ingin menjalani hubungan yang serius"


"mau sampai kapan hubungan kita seperti ini Ra? "


Bagas sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Kak tolong ngertiin Zahra, Zahra han... "


"bukan kah selama ini kakak selalu ngertiin kamu Ra?"


Bagas memotong ucapan Zahra dengan tatapan kesal


"Kakak juga ingin hubungan kita memiliki tujuan"


Zahra menatap Bagas, sebelumnya ia tak pernah mendapati Bagas seperti ini.


"Kalau kamu masih meminta kakak untuk menunggu, itu berarti kamu hanya mempermainkan hubungan kita"


Bagas beranjak dari duduknya


"kak bukan begitu maksud Zahra"


Zahra berusaha menjelaskan ia turut berdiri dari posisi duduknya


"Untuk apa mempertahankan sesuatu yang sama sekali tidak memiliki tujuan"


Bagas meninggalkan Zahra


"kak, dengar dulu penjelasan Zahra"


"kak Bagas"


Bagas sama sekali tidak menghiraukan panggilan Zahra ia terus melangkah pergi meninggalkan Zahra.


"kak Bagas"


ucap Zahra lirih, air matanya menetes.


"mengapa jadi begini"


Zahra tidak habis pikir mengapa Bagas bisa seperti ini padahal sejak di perjalanan pulang Bagas masih bersenda gurau.


Apa yang sebenarnya terjadi.


--


Hai.


Author mau sedikit bercerita disini.


Author sama sekali belum pernah menulis novel di aplikasi menulis dan ini karya Author yang pertama di aplikasi MT ini. Nah Author juga tidak pernah mengikuti kelas menulis.


Author menulis karya ini hanya bermodalkan niat, tekat, dan pastinya inspirasi Author sendiri.


Jadi jika karya Author tidak sesuai ekspektasi Author minta maaf. Author juga semaksimal mungkin untuk memperindah alur ceritanya.


Itu sebabnya Author selalu meminta kritik dan saran yang membangun namun dengan bahasa yang pantas.


Jika di antara para readers ada yang tidak menyukai karya Author, silahkan tinggal di skip. tapi tolonglah jangan meninggalkan coment yang jahat.


Tidak semua penulis mentalnya sekuat baja.


Dan jika ada yang mengatakan


"Sudah resiko sebagai penulis, harus siap d kritik dong"


Yah tapi setidaknya jika mengkritik pakailah bahasa yang baik dan tidak menyakiti.


Niat Author hanya ingin sekedar menghibur melalui tulisan.


Dan untuk para readers yang masih setia dan terus support author dari awal sampai part ini. Author ucapkan terimakasih banyak.


Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat.

__ADS_1


Sekian Curahan hati Author


Terimakasih


__ADS_2