
Bagas terlihat sudah rapi mengenakan stelan casual, pagi ini ia berniat menghampiri kost Zahra.
Bagas ingin menjelaskan semuanya pada Zahra.
ia pun melangkah keluar kamar.
"Loh Bagas kamu ga ke kantor? "
sapa Hera ketika Bagas keluar kamar.
"Mah hari ini Bagas ga ke kantor Bagas mau cari Zahra mah"
"buat apa kamu mencari gadis itu"
walaupun kejadian semalam sudah menjelaskan bahwa Zahra tidak bersalah namun hati Hera masih teguh untuk tidak menerima Zahra.
"Mah, mamah jangan egois dong mah. mamah lupa Zahra yang udah nyelamatin perusahaan kita. Zahra juga yang membongkar kebusukan tante Yura"
Bagas kesal mamahnya termasuk orang yang keras kepala.
"tapi Bagas dia wanita yang tidak memiliki sopan santun, mamah ga mau kamu sama dia"
Hera berusaha membujuk Bagas.
"Mah, Zahra itu wanita yang baik. dia bersikap demikian karena Zahra melindungi dirinya. seandainya mamah di posisi Zahra di hina dan di permalukan pasti mamah akan melakukan hal yang sama kan. ga mungkin mamah diam aja saat ada yang merendahkan harga diri mamah"
Perdebatan itu kembali terjadi di antara Bagas dan Hera.
"Mah, mulai sekarang Bagas ga mau di atur-atur tentang masalah perasaan, biarin Bagas mah menentukan kebahagiaan Bagas sendiri, Bagas sudah dewasa mah Bagas tahu mana yang terbaik untuk Bagas mana yang tidak".
Hera terdiam mendengar ucapan Bagas, ia sadar selama ini selalu memaksakan ke hendaknya.
"Mah, mamah ingin Bagas bahagia kan mah. mamah tahu ga apa yang buat Bagas bahagia? "
Bagas bertanya pada Hera. seketika Hera menggelengkan kepalanya, selama ini ia tidak pernah mendengar kan penjelasan Bagas.
"Bagas akan bahagia mah dengan wanita pilihan Bagas sendiri tanpa ada paksaan. Bagas saat ini merasakan ke bahagiaa itu saat bersama Zahra"
Hera terdiam mendengar penjelasan Bagas.
"Bagas pergi mah. Bagas harap mamah ngertiin Bagas"
Bagas melangkah pergi meninggalkan Hera yang masih berdiri mematung.
ucapan Bagas bagai tamparan keras bagi Hera.
Bagas mengendarai Motornya untuk ke kost an Zahra. ia memacu Motornya dengan kecepatan tinggi.
yang ada di pikirannya saat ini ia harus segera bertemu Zahra.
beberapa menit kemudian Bagas tiba di depan kost Zahra .
"tok......tok... tok"
"Ra, Zahra"
Bagas terus memanggil Zahra dan mengetuk pintu kamar Zahra.
namun beberapa saat kemudian pintu kamar Zahra tak kunjung terbuka.
"sepertinya Zahra benar-benar tidak ada"
Bagas berlari menuju rumah tante Erin.
"Tante.... tante"
Panggil Bagas dengan suara sedikit keras.
tante Erin keluar dengan sedikit berlari
"ada apa Bagas? "
"tante tahu ga Zahra kemana? "
tanya Bagas
"emang ga ada di kamarnya? "
Tante Erin menoleh ke arah kamar Zahra
"ga ada tante"
__ADS_1
ucap Bagas dengan raut wajah khawatir.
"dari kemarin tante ga liat Zahra "
Sejak semalam tantenya Bagas sama sekali tidak bertemu dengan Zahra.
hal tersebut membuat Bagas frustrasi ia mengacak rambutnya kasar.
"Ckk. dimana kamu sekarang Ra"
gumam hati Bagas. hatinya sangat mengkhawatirkan Zahra berbagai spekulasi timbul di pikirannya.
...…………………...
Eza saat ini sedang menyuapi bubur untuk Zahra .
dengan lembut Eza memperlakukan Zahra, ia menganggap Zahra sebagai adikny sendiri.
"Beruntung banget wanita yang bisa miliki kak Eza, dia bahkan dengan lembut memperlakukan aku"
Zahra bergumam pandangan matanya tak lepas dari wajah Eza.
"ngapa lihatin aku kaya gitu? "
Eza mengejutkan Zahra membuat Zahra membuang pandangannya ke arah lain.
Eza yang sedang menyendok bubur menyadari sejak tadi ia di pandangi oleh Zahra.
"En…enggak kok siapa yang mandangin kakak"
Zahra gugup karena ketahuan memandangi Eza.
"Hemmm bohong"
"siapa yang bohong"
Zahra berusaha menutupi ke gugupannya.
"nih buburnya di makan lagi. Aaaaaaaaa"
Eza dengan telaten menyuapi Zahra membuat Zahra benar-benar merasakan kasih sayang sosok seorang kakak.
Sinta yang melihat ke akrab an mereka berdua hanya tersenyum.
"Apa Zahra sudah boleh pulang,? "
tanya Zahra sambil memasukan suapan bubur dari Eza ke mulutnya.
"kata dokter kamu besok baru boleh pulang"
"kenapa ga hari ini aja? "
Zahra Mengernyitkan keningnya
"Zahra udah merasa baikan kok kak? "
tangan Eza terus menyuapi Zahra.
"ga boleh membantah ucapan dokter"
Zahra yang mendengar hal itu hanya memanyunkan bibirnya.
ia takut jika terlalu lama ia di rawat di rumah sakit sudah jelas biaya yang akan di keluarkan tidak lah sedikit.
bahkan kini Zahra tidak masuk kerja, uang simpanannya pun semakin menipis.
"Lagian kamu itu kenapa sih dari tadi minta pulang terus? "
Tanya Eza sedikit kesal.
"yah Zahra kan harus kerja kak"
Eza membulatkan matanya, dalam ke adaan seperti ini Zahra masih memikirkan kerjaannya.
"Kamu ini lagi sakit Ra, masih aja mikirin kerja"
Eza terlihat kesal.
"kalau Zahra ga kerja gimana Zahra bayar kost kak, ini lagi bayar biaya rumah sakit"
Wajah Zahra terlihat sendu.
__ADS_1
"dengar Zahra biaya rumah sakit kamu sudah aku lunasin, sekarang kamu fokus aja ke kesehatan kamu sampai benar-benar pulih"
Ucap Eza tegas
Zahra tidak percaya Eza melakukan semua itu
"kakak bayari? "
"tapi kak? …"
begitulah sifat Zahra keras kepala, ia bahkan tidak memperdulikan kesehatannya.
"nak Zahra, Eza benar ."
"Zahra harus sembuh dulu yah"
Sinta ibunya Bagas menghampiri Zahra.
"sepulang dari rumah sakit kamu tinggal di rumah ibu dulu yah sampai kondisi kamu benar-benar pulih. ibu khawatir jika kamu tinggal sendirian di kos"
Sinta khawatir akan terjadi hal yang tidak di inginkan lagi pada Zahra.
"tapi bu, Zahra ga enak sama ibu sama kak Eza"
"Zahra sudah banyak merepotkan kak Eza dan ibu"
Zahra merasa tidak enak di perlakukan sebaik ini oleh Eza dan ibunya..
"Zahra, ibu berharap kamu ga menolak permintaan ibu untuk tinggal sementara di rumah ibu yah."
"kamu sama sekali tidak merepotkan justru ibu dan Eza senang bisa merawat kamu"
Sinta menyibakkan helai rambut Zahra yang jatuh di wajah Zahra.
binar mata Sinta membuat Zahra tidak berani menolak ia hanya mengangguk.
"nah gitu dong nurut, jangan bandel"
"Yaudah nih abisin buburnya entar keburu dingin"
Eza kembali menyuapkan bubur ke mulut Zahra.
Zahra hanya menurut untuk membuka mulut.
"kak Eza, Zahra boleh minta tolong sekali lagi ga sama Zahra"
Zahra memasang wajah puppy eyes .
"itu wajah jangan di imut-imutin, tinggal bilang aja mau minta tolong apa"
Zahra nyengir mendengar penuturan Bagas.
"Kak siapapun yang cari Zahra, Zahra minta tolong ke kakak jangan beri tahu Zahra ada dimana yah kak"
Zahra sudah tahu pasti Bagas akan mencarinya, ia belum siap bertatap muka dengan Bagas.
"Terus? "
Eza masih sibuk menyendok bubur yang tak kunjung habis.
"kak"
Zahra merengek manja
"iyah-iyah kakak ga bakal bilang"
Eza tersenyum terpaksa.
Zahra sudah menceritakan semuanya pada Bagas dan ibunya namun Zahra tidak mengatakan bahwa ia anak dari pak Bramantio.
Zahra takut jika Eza mengetahui hal tersebut Eza akan menjauhinya.
karena saat ini Zahra merasakan kenyamanan berada di tengah-tengah Eza dan ibunya.
…………………
seketika Author blank memikirkan alurnya 😂
buat yang meminta Crazy up Author belom bisa nepatin, Author takut kalau di paksain Crazy up ceritanya jadi berantakan.
terimakasih sebelumnya
__ADS_1
Salam manis Author
~EtyRamadhii