
Suasana masih gelap, bahkan masih terasa hening namun Zahra sudah bangun dari tidurnya.
pagi ini ia cepat bangun karena hendak membuat kan bekal untuk sang ayah sekaligus untuk dirinya.
matanya masih terasa sangat kantuk sampai sukar untuk terbuka sempurna. mengingat malam tadi Zahra baru tidur sekitar pukul 2 pagi.
Pikirannya sangat risau mengingat kejadian di resto itu, membuat matanya sulit untuk di pejamkan.
ia mengikat rambutnya asal, langkahnya masih gontai. perlahan ia menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya agar sedikit hilang rasa kantuk di matanya.
setelah membasuh wajahnya kini Zahra berjalan menuju dapur, ia memeriksa freezer.
matanya mengedar di dalam benda berbentuk persegi tersebut. ada banyak sayur mayur serta bumbu dapur di dalamnya.
sebab kemarin bi Darmi baru saja berbelanja.
"masak apa yah? "
Zahra masih mengamati sayur mayur tersebut.
"masak ini aja deh"
tangannya terulur mengambil wadah yang berisikan daging ayam, serta mengambil beberapa brokoli dan beberapa sayur lainnya.
ia memakai apron pink miliknya, tangannya mulai mengotak atik bahan masakan tersebut.
dari mulai membersihkan daging ayam sampai mencuci sayur mayur.
Zahra lebih memilih untuk menguleg bumbu masakannya karena ia sangat ingat pesan sang nenek. masakan akan lebih nikmat jika bumbunya di haluskan secara manual.
Zahra sangat cekatan memasak ia sudah sangat terbiasa melakukan hal itu.
sembari ia menunggu ayamnya matang, Zahra tidak lupa memasak nasi.
sesekali ia melirik jam dinding. entah mengapa menurutnya jarum jam terlalu lama bergerak ,Zahra sudah tak sabar ingin segera bertemu Bramantio.
ia ingin segera menanyakan perihal kejadian malam tadi.
Zahra tidak sempat untuk bertanya lebih dalam soal pernikahan papanya. sebab Adam sudah mengajaknya untuk segera pulang.
Adam juga tidak enak hati jika Zahra terus mendesak Bramantio untuk menjelaskan hal itu sementara disana masih ada keluarga Wijaya.
Zahra kembali memeriksa sayurnya, sesekali ia mencicipi rasanya.
setelah ayam kecap buatannya matang ia beralih menggoreng ayam untuk sarapan pagi ini.
bi Darmi sudah jarang tinggal disini, ia baru akan datang sekitar pukul 6 pagi .
Zahra tidak mempermasalahkan hal itu . Bagi Zahra selagi pekerjaan rumah masih bisa ia lakukan sendiri pasti ia akan melakukannya.
Zahra tidak pernah menganggap bi Darmi memakan gaji buta atau sejenisnya.Zahra lebih tidak enak hati jika semua pekerjaan rumah bi Darmi yang mengerjakan sendiri.
Sementar Adam, ia baru saja selesai mandi ia mencium aroma gurih yang membuat perutnya berdendang ria.
hari ini adalah hari pertamanya bekerja, kini ia sudah di pindahkan di kota ini.
Adam berjalan menuju dapur, penasaran aroma apa yang menelusup masuk di indera penciumannya.
ia berjalan sembari tangannya mengancingkan baju kemejanya.
"anak ayah sudah bangun? "
tanya Adam saat melihat Zahra sedang memasak.
"ah iyah ayah. mulai hari ini Zahra kan harus selalu bangun pagi"
tangannya menggerakkan penggorengan untuk membeli ayamnya agar tidak gosong.
"kenapa begitu? "
__ADS_1
tanya Adam
"kan mulai hari ini ayah kerja, jadi Zahra harus selalu siapin bekal buat ayah"
Zahra masih sibuk dengan masakannya
"kamu ga perlu repot-repot masak Ra, ayah kan bisa makan di luar"
"ga ayah, pokoknya Zahra yang buatin bekal ayah. kalau bawa bekal sendiri kan lebih sehat terjamin juga kebersihannya"
tutur Zahra.
ia berjalan menuju lemari yang yang berada di samping freezer untuk mengambil wadah bekal.
"yaudah deh iyah, anak ayah yang bawel"
ucap Adam sambil meledek membuat Zahra mencebikkan bibirnya.
"kamu masak banyak ga? "
tanya Adam yang kini menghampiri Zahra.
"lumayan banyak sih yah. Kayaknya kebanyakan malah"
jawab Zahra sambil nyengir.
"bawain buat papah kamu juga gih. masak ayah doang yang di bekalin"
ucap Adam, sambil mengambil sendok yang berada di atas wastafel.
"ehm iya ya, yaudah deh yah Zahra bawain buat papah juga. entar sekalian lewat Zahra singgahin kerumah papa"
Zahra pun kembali mengambil wadah bekal lagi untuk Bramantio.
sementara Adam sibuk mencicipi masakan Zahra.
"ayah mending duduk di meja makan deh entar Zahra siapin sarapannya. jangan disini entar habis ayah comotin terus"
"hahahah maaf sayang. Abisnya masakan anak ayah enak banget"
"Dih ayah modus kan "
sahut Zahra
"sedikit"
Adam tertawa lepas
"Hadehh, yaudah deh ayah nunggu di meja makan"
Adam pun beranjak pergi ke meja makan, ia meletakkan sendoknya di wastafel bersama tumpukan piring kotor lainnya.
setelah semua selesai, kini Zahra sarapan bersama Adam.
ia membuat nasi goreng dengan ayam goreng untuk menu sarapan pagi ini.
terlihat Adam sangat lahap, membuat Zahra senang.
"pagi neng, maaf bibik terlambat yah"
ucap Bi Darmi yang baru tiba.
"pagi bik, enggak kok bi. Zahra aja yang cepat masak, soalnya ayah mulai hari ini sudah kerja jadi harus bawa bekal"
tutur Zahra
"maaf in bibi neng, bibi ga tahu kalau bapak sudah masuk kerja. "
terlihat wajah bi Darmi merasa bersalah.
__ADS_1
"tak apa bi, Lagian bibi ga terlambat kok masih jam 6 kurang 15 menit kok"
Zahra menunjuk jam dinding yang berada di ruang makan.
"tapi kan jadi non yang mengerjakan semuanya"
ucapnya karena tak enak hati.
"ga semua kok bi, Zahra cuma buat bekal sama buat sarapan doang. yaudah bibi sarapan dulu yuk"
ajak Zahra
"terimakasih neng,tapi bibi tadi habis sarapan dari rumah neng"
tolak bi Darmi
"beneran bi? "
"iyah neng beneran"
"yasudah kalau begitu Zahra lanjut makan yah bi"
ucap Zahra
"iyah neng, bibi mau ke dapur dulu mau beres-beres. mari neng, Mari pak"
Bi Darmi pun melangkah menuju dapur. begitulah Zahra tidak pernah memarahi bi Darmi.
baginya bi Darmi sudah menjadi bagian dari keluarganya.
"ayah mau berangkat naik apa? "
"ayah naik motor Zahra aja ya? "
tanya Zahra pada Adam
"ayah naik Ojek online saja. kamu yang naik motor "
Ucap Adam.
"beneran ayah ga apa-apa naik ojek? "
Zahra merasa khawatir
"tak apa nak.sudah lah jangan khawatir berlebihan kepada ayah. "
Adam melanjutkan sarapannya
Zahra hanya menganggukkan kepalanya.
kemuadian Zahra kembali ke dapur untuk mengambil bekal Adam. terlihat bi Darmi sedang mencuci piring kotor.
"bi, tadi Zahra masak banyak. Zahra tinggalin sayur buat bibi. entar di makan yah bi. Zahra letak di lemari "
ucap Zahra
"iyah neng. terimakasih ya neng"
"sama-sama bi"
Zahra berlalu pergi.
Zahra tidak pernah melupakan bi Darmi ia selalu membagi makanan dengan bi Darmi.
tak jarang jika Zahra sedang makan di luar ia juga selalu membeli makanan untuk di bawa pulang.
ia juga selalu membelikan bi Darmi.
entah dari mana datangnya kebiasaan baik itu sudah di miliki Zahra.
__ADS_1
…