Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
91 asal ibu bahagia


__ADS_3

Eza menghentikan motornya tepat di depan rumahnya. ada perasaan ragu di hatinya tatkala hendak melangkah masuk.


Sementara Sinta yang sedang memasak langsung mematikan kompornya untuk melihat Eza, sebab ia mendengar suara motor Eza.


terlihat Eza sedang duduk di depan rumah


"Eza"


panggil Sinta lembut,ia kini berdiri di ambang pintu.


"iyah bu"


sahut Eza.


"ibu mau bicara sama kamu boleh kan? "


tanya Sinta ragu


"kita ngobrol di dalam aja bu"


Eza bangkit dari duduknya, ia mengikuti Sinta yang kini duduk di sofa.


Sinta memandangi wajah Eza, tidak terlihat aura kemarahan di wajah tampan putranya.


tidak seperti malam tadi, bahkan Sinta tak mengenali Eza ketika Eza sedang emosi seperti itu.


"ibu mau minta maaf sama kamu"


"ibu menyimpulkan se…"


"Eza tidak melarang ibu buat menikah"


sergah Eza sebelum Sinta menuntaskan kalimatnya.


"tidak nak, ibu tidak akan melanjutkan rencana itu"


Sinta tertunduk. ia paham setiap kehidupan pasti ada pilihan.


ia tak ingin egois memikirkan kebahagiannya sendiri tanpa memikirkan perasaan anaknya. karena hanya Eza lah saat ini yang ia punya.


Namun Sinta juga tak menepis rasa pedih di hatinya tatkala ia harus mengubur dalam perasaan cintanya.


setelah bertemu Bramantio,hidupnya kembali berwarna setelah di tinggal pergi untuk selamanya oleh ayah Eza.


kedekatan Bramantio dan Sinta terbilang tidak sengaja, karena seringnya mereka bertemu dan bersama.tak di pungkiri benih cinta di hati keduanya kini tumbuh.


Awalnya Sinta ragu akan perasaannya, ia juga takut jika cintanya bertepuk sebelah tangan. ia berpikir mana mungkin Bramantio yang memiliki segalanya akan memiliki perasaan yang sama dengannya.


namun tak di sangka Bramantio juga menaruh hati dengan Sinta. sosok Sinta yang lemah lembut serta penyayang membuat Bramantio luluh kepadanya.


di tambah lagi Zahra begitu dekat dengan Sinta. namun sayang kisah itu sepertinya akan berakhir karena Eza tidak menyetujui nya.


Eza tak menjawab ucapan sang ibu ia memperhatikan raut wajah ibunya yang tertunduk lesu. Eza tahu Sinta menyimpan rasa kecewa karenanya.


"Rianda benar, aku ga pernah tahu apa yang sebenarnya buat ibu bahagia"


Gumam Eza dalam hati.


ia mendekati sang ibu dan meraih tangannya membuat Sinta mengangkat pandangannya.


"bu, jika itu yang buat ibu bahagia Eza bakal setuju bu. maaf Eza sudah kasar berbicara ke ibu. Eza hanya terkejut mendengar keputusan ibu tanpa sepengetahuan Eza"


ucap Eza lembut. Sinta menatap lekat manik mata Eza.


"ibu salah nak, ibu berpikir kamu akan setuju dengan keputusan ibu. makanya ibu tak memberitahumu. ibu sadar apa yang ibu lakukan salah. ibu tak menyesal jika harus membatalkan semua itu. "


ucap Sinta


"ibu tak ingin egois Za, ibu juga harus memikirkan perasaan kamu"


"bu, ibu ga perlu membohongi perasaan ibu demi Eza. Eza tahu Eza juga dapat melihat perasaan ibu ke pak Bram seperti apa"

__ADS_1


"Eza setuju bu, apapun keputusan ibu asal itu bisa membuat ibu bahagia Eza bakal dukung"


Eza tersenyum. mata Sinta berkaca-kaca mendengar ucapan Eza.


"Greeppp"


Sinta memeluk Eza.


"apa kamu siap untuk memiliki seorang ayah? "


tanya Sinta sambil memeluk Eza


"Eza siap bu, asal ibu bahagia Eza pasti akan bahagia. "


"terimakasih nak"


air mata bahagia menetes di pipi Sinta.


"tapi Eza boleh meminta 1 hal pada ibu? "


pertanyaan Eza membuat Sinta melepaskan pelukannya


"pinta lah nak apa yang ingin kamu pinta"


Sinta menghapus air matanya.


"Eza cuma minta ibu dan pak Bram meminta izin dulu ke ayah"


walaupun ayah Eza sudah tiada, tetap saja harus ada Itikad baik untuk menghargainya dengan cara nyekar ke makam sang ayah.


"tanpa kamu meminta ibu akan melakukannya nak, bagaimana pun juga almarhum ayah kamu adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup ibu"


Sinta mengelus lembut kepala Eza.


"baik lah bu hanya itu yang Eza minta. Eza berharap ibu bisa bahagia"


Eza meraih tangan sang ibu dan menciumnya.



ucap Nia teman kuliah Zahra. mereka baru saja selesai kelas.


"Oh iya. hati-hati ya"


Zahra turut melambaikan tangannya.


ia masih sibuk dengan ponselnya bahkan ia memilih untuk berjongkok di parkiran.


Zahra tidak menghiraukan berapa banyak mahasiswa yang melintas.


"Kak Bagas udah balik apa belum yah"


Zahra mencari nomor Bagas dan segera menghubunginya.


"halo kak"


"kakak udah balik? "


"ehm kalau udah balik dan ga sibuk kakak bisa ga temuin Zahra di resto sore ini? "


"iyah mau persiapan buat Grand opening besok"


"Oke Zahra tunggu "


Zahra memutuskan sambungan teleponnya, ia bergegas memakai helm dan mengeluarkan motornya dari parkiran.


kini ia melajukan kendaraannya menuju restonya. ia terpaksa meminta Bagas untuk menemaninya, seharusnya ia ingin bersama Eza.


namun sampai detik ini Eza bahkan tak memberi kabar padanya.


Zahra yakin Eza sedang marah pada Zahra atas kejadian itu.

__ADS_1


Zahra menggelengkan kepalanya dan kembali fokus untuk mengemudi. jarak kampus dengan restonya hanya di tempuh dengan 35 menit perjalanan.



tak membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraannya kini ia sudah sampai.


terlihat karyawannya sudah ramai untuk sekedar membersihkan dan menata resto tersebut.


"bu"


sapa salah 1 karyawannya.


"panggil aja Zahra, kita seumuran kok"


Zahra menepuk bahu wanita manis tersebut. Zahra tidak ingin miliki jarak dengan karyawannya. bagi Zahra dia dan karyawannya adalah tim.


sebagian karyawan disini sudah mengenal Zahra. mereka adalah karyawan caffe milik pak Budi. lebih tepatnya teman kerja Zahra dahulu.


"yasudah, panggil teman-teman yang lain yah. kita buat sebuah meeting kecil buat schedul besok"


Zahra tersenyum manis hingga memperlihatkan gigi ginsulnya.


wanita tersebut pun beranjak untuk mencari teman-temannya.



Pekerjaan mereka untuk berberes sudah selesai semua karyawan sudah di perbolehkan Zahra pulang.


kini Zahra masih menunggu Bagas untuk menemaninya ke pasar induk. untuk mencari pedagang sayur mayur serta bumbu dapur yang bersedia menyetok di restonya.


sekitar 5 menit menunggu akhirnya mobil Bagas memasuki area parkiran.


Bagas turun dan langsung menghampiri Zahra.


"maaf sayang, kakak terlambat "


ucap Bagas


Zahra bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Bagas.


"kenapa Hmm? "


Bagas mengelus rambut Zahra


"lelah"


rengek Zahra manja.


"maaf kakak tidak membantumu hari ini"


"tak apa kak, kakak juga sibuk"


Zahra melepaskan pelukannya.


"kita mau berangkat sekarang? "


tanya Bagas


"yaudah yuk kak biar ga kemalaman"


"Oh iya motor Zahra bagaimana? "


tanya Zahra sambil menunjuk motornya


"biar kakak masuk in aja ke dalam resto kita naik mobil biar kamu bisa nyaman"


Bagas pun memasukkan sepeda motor milik Zahra.


kini mereka berdua menuju pasar serta Minimarket membeli kebutuhan untuk esok hari.


…………

__ADS_1


__ADS_2