Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
115.Sesakit ini


__ADS_3

Hari demi hari di lalui Zahra tanpa ada kabar dari Bagas. Bahkan sudah seminggu tidak ada kabar dari lelaki itu.


Namun ia senantiasa mengirim pesan dan selalu mencoba menghubunginya, walaupun tidak ada jawaban dari Bagas.


Sama halnya seperti kemarin, pagi ini Zahra juga tengah mengetik pesan untuk Bagas.


Hanya sebatas ucapan 'Good Morning' yang di kirim Zahra. Dari ratusan pesan tapi tidak ada satupun balasan dari Bagas.


Zahra hanya menghela nafas, cukup dengan hal itu ia mengungkapkan rasa lelahnya sebab matanya sudah tak sanggup menangis.


Zahra nemilih beranjak dari tempat tidurnya, ia segera menuju kamar mandi.


Hari ini adalah hari pernikahan Eza, tentu saja Zahra juga turut sibuk mengurus catering.


__


Sekitar 20 menit Zahra baru keluar dari kamar, ia mengenakan pakaian biasa.


"loh Ra, kok ga pakai kebaya? "


tanya Adam saat Zahra hendak pamit pergi.


"entar aja yah di resto"


"oh iyah, nanti papa yang bakal jemput ayah sama Zahira kesini"


Ucap Zahra sambil membenarkan Resleting jaketnya


"Iyah, tadi malam juga sudah di beri tahu pak Bram"


"kamu ga sarapan dulu? "


"enggak deh yah, Zahra mau langsung ke resto .Zahra sarapan disana aja"


"lagipula waktunya ga keburu yah, sebab hari ini restorant Zahra harus mengisi pesanan catering di dua tempat sekaligus "


Zahra mendekati Adam dan mengulurkan tangan hendak menyalami sang ayah


"yasudah kamu hati-hati, harus sarapan dulu. "


"Iyah ayah"


Zahra sedikit berlari, ia takut terlambat.


Ia memacu sepeda motornya lebih cepat agar tidak terlambat dan bisa turut membantu karyawannya.


Zahra lebih nyaman memakai motor sebab dirasa lebih cepat.


Saat tiba di restorant,terlihat para karyawannya tengah sibuk menyusun menu dan hal yang di perlukan lainnya.


Zahra turut membantu,ia mengecek menu beserta dessertnya.


Setelah selesai mereka pun membagi karyawan menjadi 3 tim.


Tim pertama tetap stay di restorant dan membuat menu untuk hari ini.Tim kedua di utus menuju hotel Graha Buana untuk acara resepsi.


Dan tim ketiga di utus untuk menuju resepsi Eza.


"sebelum berangkat sebaiknya kita berdoa dulu"


instruksi Zahra pada karyawannya


"Fadil silahkan pimpin doa"


"baik mbak"


Ucap karyawan Zahra.


Setelah selesai, semua berangkat. Sementara Zahra harus sarapan dan berganti pakaian terlebih dahulu.


Ia mengenakan kebaya yang seragam dengan keluarganya. Zahra juga tidak mengetahui jika sang mamah sudah membelikannya kebaya.


Sebab yang di pikiran Zahra hanya mengurus resto dan juga Bagas.Ia sama sekali tidak ikut memilih kebaya dan sebagainya.


Bahkan malam tadi ia tidak datang kerumah papanya, ia memilih di resto menyiapkan beberapa kebutuhan bahan untuk di olah pagi ini.


Hanya satu harapan Zahra untuk hari ini, ia berharap Bagas akan kembali dan hadir di pernikahan Eza.

__ADS_1


Ia juga Tak pernah bosan mengecek ponselnya.


Berharap ada satu balasan pesan dari Bagas. Walau nyatanya nihil.


__


Zahra turut berbaur dengan keluarganya, prosesi akad telah usai dan berjalan dengan lancar.


Zahra yang biasanya ceria dan terkesan heboh kini memilih lebih banyak diam.


Ia senantiasa mengedarkan pandangannya berharap ada Bagas di antara tamu yang hadir.


Mata Zahra membulat saat melihat kedua orang tua Bagas, bergegas ia menghampiri keduanya.


"Pak, buk"


sapa Zahra, ia menyalami keduanya


"eh Zahra, "


"cantik banget"


puji Hera sambil cipika cipiki dengan Zahra


"ah ibu bisa aja, "


Zahra mengulas senyum ramah


"ibu baru sampai? "


"Iyah tadi nungguin papanya Bagas dari kantor, jadi ga menyaksikan proses akadnya Eza deh"


Hera mencebikkan bibirnya sambil melirik Wijaya


"Kiran ga bisa ikut sebab ia harus sekolah"


Timpal Wijaya


"Ehmm begitu yah"


"oh iyah bu, kak Eza kemana yah soalnya Zahra telepon ga pernah di angkat Zahra sampein ke kantor tapi ga ada? "


"Bagas lagi di luar kota, cuma kita ga tahu pasti sih ada dimana"


"karena dia sedang mengawasi beberapa proyek "


tutur Wijaya sedikit hati-hati


"Ehmm begitu yah pak, yasudah pak terimakasih "


"oh iyah ,pak Wijaya sama ibu sudah di tungguin papah disana"


" silahkan pak bu"


Zahra mempersilakan keduanya, ia tak meneruskan pertanyaannya karena merasa tidak enak hati..


Ia memilih bergabung dengan karyawannya dan sibuk mengecek menu.


Sinta sedari tadi yang duduk di samping Eza dan Rianda juga memperhatikan Zahra.


Ia melihat putrinya lebih banyak diam dan justru sibuk dengan karyawannya.


"Eza kamu keterlaluan banget si"


Sinta menyenggol lengan Eza


"kenapa bu? "


Eza yang terkejut langsung bertanya


"yah kamu, seharusnya di hari bahagia kamu jangan membebankan adikmu lagi "


"lihat Zahra sedari tadi sibuk, seharusnya dia duduk manis bersama kita disini. "


"maaf bu"


ucap Eza, ia juga merasa bersalah tidak seharusnya membebani Zahra.

__ADS_1


Tapi ia sudah terlanjur memesan catering di resto Zahra, ia juga tidak mengetahui jika hari ini resto Zahra tengah mengisi catering di dua resepsi sekaligus.


Ia juga sedari tadi memperhatikan Zahra yang lebih banyak diam dan murung.


"Mbak, tadi Vina menghubungi saya. dia bilang mereka kekurangan anggota sebab mbak Gracia memerintah Ika untuk ke hotel Graha."


Ucap Nisa pada Zahra


"loh kenapa Ika kesana?. bukan kah kita sudah membagi tiga tim"


Zahra keheranan mendengar penuturan karyawannya


"mbak Gracia bilang mereka kewalahan dan membutuhkan 1 anggota lagi, jadi sekarang di resto hanya tersisa Vina dan Wahyu saja"


"yasudah kalau begitu, biar saya saja yang ke Resto, dan kamu tolong handle yang disini yah. saya percayakan pada kamu "


tutur Zahra.


"baik mbak"


ucap Nisa


Sementara Zahra menuju toilet hendak berganti pakaian, ia lebih memilih membantu karyawannya di resto.


Lagipula disini tidak terlalu sibuk dan masih bisa di handle ke tiga karyawannya.


Zahra buru-buru melangkah, ia memasukkan kebayanya ke dalam ransel.


"Zahra mau kemana? "


Tanya Bramantio saat berpapasan dengan putrinya, ia heran saat Zahra justru mengenakan kemeja restorant.


"Zahra harus ke Resto pah, sebab di resto kekurangan anggota sebentar lagi jam makan siang"


jawab Zahra sambil melihat arlojinya


"kenapa kamu ga tutup restonya Ra inikan hari pernikahan kakak kamu? "


"Ga bisa pah ini hari kerja,Zahra takut para customer kecewa. lagipula hanya buka di lantai satu pah. "


"tapi nak kamu nanti akan kele...."


belum selesai Bramantio berbicara Zahra sudah mencium pipinya.


"sudah yah pah Zahra ga bisa lama-lama "


"Dahhh papah"


Zahra ngeloyor pergi meninggalkan Bramantio yang masih menggeleng melihat tingkah putrinya.


__


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Zahra baru saja istirahat.


Ia memilih duduk di tepi balkon lantai atas. Matanya menatap perkebunan jagung yang berada di belakang resto miliknya.


Cuaca terik yang menyilaukan mata namun tak menyurutkan Zahra untuk mengedarkan pandangannya.


Hari ini lantai dua tidak di buka untuk resto, hanya lantai satu saja sebab hanya ada 3 karyawan yang berada disini.


Hal itu membuat Zahra lebih leluasa beristirahat.


Ia kembali menatap layar ponselnya, ia selalu berharap ada pesan Bagas disana namun sampe detik ini tidak ada pesan darinya.


Matanya mulai berkaca-kaca, ada rasa sesak dan ngilu namun tak bisa ia ungkapkan.


Bukan hanya raganya yang lelah tapi hati dan pikirannya lebih lelah.


"Haaa"


"kenapa rasanya sesakit ini"


Gumam Zahra air matanya meleleh membasahi pipinya.


ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit di hatinya.


"Zahra? "

__ADS_1


Suara seseorang membuyarkan lamunan Zahra.


__


__ADS_2