
Hembusan angin pagi yang cerah, menyapa Zahra di hari ini.
kini ia sudah berada di teras rumah Eza untuk menunggu bu Sinta, pasalnya Zahra sudah bersiap terlebih dahulu.
pagi ini ia dan bu Sinta hendak berkunjung ke rumah Bramantio.
benar apa yang di katakan bu Sinta setiap dendam yang kita simpan itu akan membuat perasaan kita tidak akan menjadi tenang.
Zahra memutuskan untuk berhubungan baik dengan Bramantio. bagaimana pun juga dia adalah ayah kandungnya.
walau tidak bisa di pungkiri rasa sakit itu masih ada, tapi Zahra berharap dengan memaafkan luka itu akan berangsur sembuh.
"Ra"
"ko melamun? udah siap kan? "
Sinta mengejutkan Zahra, membuat Zahra membuyarkan lamunannya.
"Ehh ibu, sudah kok buk. "
Zahra tersenyum.
"Yaudah yuk bu kita ke depan, nunggu taksi pesanan Zahra"
Zahra mengajak Sinta untuk menunggu taksi yang ia pesan.
tangan Zahra membawa dua kotak yang berisikan bolu pisang buatannya dan bu Sinta malam tadi sebagai buah tangan.
jujur saja saat ini langkah Zahra tak seperti menapaki tanah, ia sangat gugup.
bahkan ketika sudah berada di dalam taksi pun ia masih merasa gugup.
tak berapa lama taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah Bramantio.
Zahra melangkah kan kakinya menuju gerbang.
"cari siapa neng? "
tanya sampan yang biasa menjaga gerbang rumah mewah ini.
"mau cari pak Bramantio pak"
ucap Zahra.
"Oh mari masuk neng, biar saya panggil bapak dulu"
"terimakasih pak"
Satpam tersebut pun melangkah masuk ke dalam rumah.
Zahra menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan.
Sinta menggenggam tangan Zahra, seakan ia tahu rasa gugup yang di rasakan Zahra.
"Zahra "
ucap Bramantio pada Zahra, matanya berbinar bahagia saat melihat kehadiran Zahra.
"pak"
sapa Zahra ia pun menyalami serta mencium tangan Bramantio.
Bramantio yang melihat hal itu pun merasa kan desiran sejuk di dadanya.
"ini buk Sinta pak, "
Sinta menelungkup kan kedua tangannya di depan dada sambil mengangguk ke arah Bramantio.
yang di balas senyuman oleh Bramantio.
"Oh iyah pak, Ehmm saya bawain bapak sedikit bolu"
Zahra menyerahkan bingkisan tersebut pada Bramantio.
"wah terimakasih"
"kalau begitu silah kan masuk "
Bramantio mempersilahkan Zahra dan Sinta untuk masuk.
"bik…bik"
panggil Bramantio pada asisten rumah tangganya.
terlihat wanita paruh baya dengan serbet menghiasi punggungnya berjalan ke arah Bramantio.
"iya tuan"
"ini bik bawa ke dapur. sama buatin minum yah ada tamu"
Bramantio menyerahkan bingkisan yang di beri Zahra.
wajahnya terlihat bahagia, melihat Zahra menginjakkan kaki di rumahnya.
"ayo Ra, bu silahkan duduk"
Zahra masih merasa canggung bahkan gugup.
"Zahra ga kerja? "
tanya Bramantio sekedar basa basi untuk menghilangkan ke canggungan di antara mereka.
__ADS_1
"Ehmm Zahra shift malam pak"
Zahra tak berani menatap manik mata laki-laki yang duduk di depannya.
"ada perlu apa yah Zahra ke sini? "
Bramantio yang penasaran pun berusaha menanyakan hal itu.
walau di hatinya ada perasaan legah melihat sifat Zahra yang tidak lagi ketus padanya.
Zahra yang di beri pertanyaan demikian semakin menunduk.
"sa…saya kesini, ehm mau minta maaf sama bapak atas sikap saya selama ini pak"
ucap Zahra lirih membuat bibir Bramantio mengembangkan senyuman.
"saya su…sudah bersikap tidak sopan pada bapak"
Zahra berusaha mengontrol rasa gugupnya.
"Zahra, justru saya yang seharusnya meminta maaf sama kamu. Saya sudah membuat hidup kamu jadi tidak bahagia nak"
penuturan Bramantio membuat Zahra memberanikan untuk mengangkat pandangannya.
"saya berusaha paham kok pak, semua ini sudah takdir saya. bahkan tuhan masih baik sudah mempertemukan saya dengan seseorang yang notabenya ayah kandung saya "
Zahra memberanikan menatap wajah laki-laki yang berada di hadapannya.
Sinta yang melihat hal itu pun ikut merasa legah, bahkan sejak awal melihat Bramantio ia sangat terkejut melihat kemiripan di antara Zahra dan Bramantio.
"seandainya waktu bisa terulang lagi, saya tidak akan melakukan hal sebodoh itu Ra"
wajah Bramantio menjadi sendu mengingat masa lalu itu..
"pak…tidak perlu kita menyesali kejadian di masa lalu, lebih baik fokus dengan yang ada sekarang. "
Sinta berusaha untuk menenangkan hati Bramantio agar tidak terlalu menyalahkan dirinya.
"tapi bu…karena saya Zahra tidak bahagia, "
Bramantio menatap wajah Zahra.
"saya sudah berusaha menerima semuanya pak, karena kejadian semua ini saya bisa bertemu dengan orang-orang baik, bahkan bisa menjadi pribadi yang mandiri. walau pun di hati saya luka itu masih tertoreh, tapi saya yakin luka itu akan sembuh ketika kita tidak terus menerus menyimpan dendam dan menyalahkan takdir"
Zahra tidak ingin siapapun yang terlibat di kejadian memilukan itu merasakan penyesalan yang berlarut-larut..
seharusnya kejadian itu di jadikan pelajaran dan di ambil hikmahnya.
"masih ada banyak waktu kan pak untuk kita memperbaiki diri"
Zahra bangkit dari duduknya dan menghampiri Bramantio.
Zahra duduk di dekat kaki Bramantio.
air mata Zahra menetes.
"Grepp"
Bramantio memeluk tubuh Zahra dan menangis..
"izin kan papah nak menebus semua kesalahan papah, izinkan papah menjadi papah yang baik buat kamu, izin kan papah merawatmu"
Bramantio berusaha meluapkan isi hatinya.
Zahra pun tak kuasa menahan tangis, hatinya merasakan sejuk saat di peluk oleh Bramantio .
"beginikah pelukan seorang ayah, beginilah rasanya di anggap berharga"
ucap Zahra, membuat Bramantio semakin tak kuasa membendung air matanya.
bahkan Sinta juga yang menyaksikan hal mengharukan itu turut meneteskan air mata.
Bramantio melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Zahra.
"mulai sekarang kamu panggil saya papah oke. saya tidak akan melakukan hal yang membuat air mata kamu jatuh kembali nak"
Zahra hanya mengangguk.
"papah? "
sebut Zahra. yang di balas anggukan oleh Bramantio.
"papah ingin merawatmu nak, tuhan masih baik pada papah walau papah melakukan kesalahan dan dosa sebesar di masa lalu. tapi tuhan masih memberikan papah kesempatan untuk melihat kamu bahkan memeluk kamu nak"
Bramantio menyibakkan rambut Zahra yang menutupi sebagian wajahnya.
"papah.. Zahra boleh sayang sama papah "
"tentu boleh sayang. saat ini kamu harta papah yang paling berharga"
Zahra kembali memeluk Bramantio.
"kita harus melakukan tes DNA lagi pah"
ucap Zahra di pelukan Bramantio .
"tidak perlu nak, papah percaya semua itu. papah percaya kamu anak papah. ikatan batin seorang ayah tidak akan mungkin salah"
Zahra kemudian melepaskan pelukannya.
"tapi pah…?"
__ADS_1
Zahra memperhatikan wajah Bramantio.
"bagaiman dengan tante Yura dan Vera"
Zahra ingat dengan nasib dua wanita itu.
"papah sudah menceraikan Yura nak, bahkan sekarang mereka tidak tinggal di sini lagi"
Zahra membulatkan matanya mendengar hal itu.
"maafin Zahra pah, semua ini karena Zahra"
Zahra merasa bersalah atas perbuatannya.
"Enggak sayang ini bukan salah kamu, ini kesalahan mereka yang sudah membohongi papah. mereka hanya menginginkan harta. papah tidak bisa mempertahankan rumah tangga ini atas dasar kebohongan nak"
Bramantio mengelus kepala Zahra.
"Sekarang papah cuma mau fokus merawat kamu nak, bagi papah sekarang hanya kamu yang berharga"
"terimakasih nak, sudah mau memperjuangkan kebenaran ini dan menerima papah, "
Bramantio berusaha senyum di sela tetesan air matanya.
"Zahra juga terimakasih pah, papah mengakui Zahra sebagai anak papah. tuhan memberikan petunjuk untuk Zahra sampai Zahra bisa berada disini memeluk papah"
Zahra tersenyum.
Bramantio mengusak kepala Zahra.
"Silahkan tuan"
ucap asisten rumah tangga Bramantio, yang memberi jeda pada obrolan haru mereka.
Zahra kembali duduk di samping Sinta, sementara Sinta mengelus punggung Zahra dan memberikan senyuman seakan mengatakan.
"sudah seharusnya"
Zahra menggenggam tangan Sinta.
"Silahkan di minum dulu bu Sinta, Zahra"
"iyah pak"
ucap Sinta mengangguk.
"nak"
panggil Bramantio pada Zahra
"iyah, pah"
"kamu ga perlu kerja lagi yah, papa akan tanggung semuanya dan kamu tinggal disini sama papah dan kamu tidak perlu kost lagi"
Bramantio tidak akan tega membiarkan Zahra bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri.
"pah, biarkan Zahra kerja yah. Zahra bahagia kok melakukan hal itu, Zahra juga pengen mandiri pah. dan Zahra ga selalu di kost pah Zahra lebih sering tinggal sama bu Sinta"
ucap Zahra.
"tapi nak, papah khawatir kalau kamu kelelahan"
terbersit rasa khawatir di wajah Bramantio
"Zahra ga apa-apa pah. Zahra bakalan sering main ke sini ko lihatin papah"
Zahra tersenyum, entahlah perasaannya berasa legah saat apa yang di harapkan semua sudah terjadi.
"kalau itu yang buat kamu senang yasudah papah tidak akan melarang. tapi jangan terlalu lelah bekerja yah"
"iyah pah"
Zahra kemudian menyeruput minuman yang di sediakan.
"bu Sinta terimakasih yah sudah menjaga Zahra"
ucap Bramantio
"iyah pak, saya juga senang .saya merasa Zahra seperti anak saya sendiri"
ucap Sinta.
"iyah pah, bu Sinta selama ini baik banget sama Zahra. bahkan bu Sinta menganggap Zahra seperti anaknya. "
Zahra menggenggam tangan bu Sinta.
kini Zahra seakan memiliki keluarga inti.
Zahra percaya di balik kesedihan pasti ada ke bahagiaan. derita Zahra selama ini yang seakan terbuang kini merasa berharga.
Hati Zahra tak hentinya bersyukur, bukan karena harta yang ia bahagiakan tapi karena pengakuan seorang ayah lah yang membuatnya merasa berharga.
hujan pun akan ada redahnya, begitu juga masalah pasti akan ada ujungnya.
...........
Terimakasih yang sudah banyak memberikan masukan serta kritik an buat Author.
Author juga baru belajar untuk membuat karya tulis seperti ini. jika masih banyak ke kurangan author minta maaf yah guys.
terimakasih yang sudah mengapresiasi karya Author dan masih setia sama Zahra.
__ADS_1
love you all 🤗