
Zahra perlahan membuka matanya di lirik jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 6 pagi.
ia beranjak dari tempat tidurnya untuk segera mandi.
setelah selesai ia keluar dari kamar di lihat Bagas dan Eza masih terlelap dengan posisi yang sedikit aneh.
bahkan kedua lelaki itu tidur dengan kondisi mulut terbuka membuat Zahra terkikik geli melihatnya.
Zahra menghampiri kamar sang ayah perlahan ia membuka pintu, terlihat Adam juga masih terlelap tidur.
Zahra berjalan menuju dapur , betapa terkejutnya Zahra ketika di dapur ada seorang wanita paru baya sedang menyusun bahan-bahan masakan.
"ibu siapa? "
tanya Zahra pada wanita itu.
"nyonya sudah bangun. saya bi Darmi nyonya asisten rumah tangga disini"
ucap wanita tersebut
Zahra mengernyitkan kening heran ia melihat kaki wanita tersebut ternyata menapak di lantai.
"dia bukan hantu"
Gumam Zahra sedikit legah.
"loh bibi kok bisa masuk?. semalam kan ga ada orang dan ini belanjaan ini? "
Zahra menunjuk bahan-bahan dapur yang berada di pantry.
Wajah Zahra terlihat ke bingungan.
"maaf nyonya saya baru tiba jam 5 subuh tadi sehabis dari pasar saya langsung kesini. dan yang buka in pintu mas Bagas"
"saya di suruh sama pak Bramantio buat bekerja disini "
ucap bi Darmi menjelaskan membuat Zahra mengangguk.
"lasti kerjaan papah ini si"
Gumam Zahra.
"Oh iya nyonya mau sarapan apa biar saya buatin? "
tanya bi Darmi dengan sopan
"Bi, panggil saya neng aja yah jangan nyonya"
Zahra merasa tidak hati dengan sebutan yang di sematkan bi Darmi.
"baik neng"
ucap bi Darmi mengangguk
"bibi jangan canggung gitu donk, biasa aja saya ga galak kok"
Zahra berusaha mencair kan suasana agar bi Darmi tidak merasa canggung
"iyah neng. jadi neng mau saya buatin sarapan apa? "
bi Darmi mengulang pertanyaannya
"biar saya aja bi yang buat sarapan bibi nyusun bahan-bahan masakan ini ke dalam kulkas "
ucap Zahra
"baik neng"
bi Darmi menyusun berbagai macam sayuran serta berbagai macam bumbu dapur ke dalam kulkas.
"Oh iya bi. bibi ko bisa belanja sebanyak ini kan saya belom kasih uang"
Zahra memandangi bi Darmi
"pak Bramantio yang memberikan saya uang belanja neng. dia minta saya pagi ini berbelanja kebutuhan untuk di rumah ini"
ucap bi Darmi.
"bibi rumahnya di mana? "
tanya Zahra yang sedang menyiapkan peralatan dapur ia hendak membuat sarapan pagi
"rumah bibi ga jauh kok neng dari komplek ini . itu di depan komplek kan ada warung di samping warung itu gang masuk rumah bibi"
ucap bi Darmi sembari tangannya membersihkan sayur mayur yang hendak di masukkan ke dalam kulkas.
"ohh gitu. bibi ko bisa di suruh papa kerja disini? "
Zahra mengambil telur yang baru saja di beli oleh bi Darmi dari pasar.
"iyah neng. kemarin temen bibi yang kasih tahu ke bibi. kalau pak Bramantio lagi cari asisten rumah tangga "
ucap bi Darmi
Zahra pun melanjutkan membuat sarapan pagi .tak lupa ia membuat bubur untuk ayahnya.
setelah selesai, Zahra menyusun sarapan di meja makan.
ia pun beranjak untuk membangunkan Eza dan Bagas.
"kak…kak Eza bangun udah pagi"
Zahra mengguncang lengan Eza
"hemmm…iyah Ra"
Eza mengerjapkan mata berusaha untuk bangun sementara Zahra beralih menghampiri Bagas.
"kak Bagas…kak, bangun yuk"
Bagas pun perlahan turut membuka matanya.
Eza dan Bagas malam tadi menginap di rumah Zahra mereka ke Lelahan sehingga tertidur di sofa ruang tamu.
"Ra…peluk"
Bagas mengulurkan tangannya seakan meminta pelukan dari Zahra.
__ADS_1
Eza yang melihat hal itu merasa kesal.
"udah tua juga , manja banget. "
Eza melempar bantal ke wajah Bagas membuat Zahra tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"syirik aja lu Za"
sahut Bagas
"udah cepetan bangun cuci muka, terus kita sarapan bareng"
"emang ga pada mau balik? ga ngantor apa? "
tanya Zahra
"males aku Ra mau ke kantor"
sahut Eza yang kini kembali merebahkan tubuhnya di sofa
"jangan males ya Za. ingat kamu sudah berhari-hari ga masuk"
sahut Bagas melirik Eza.
"lah…ada si bos ternyata"
ledek Eza membuat Bagas kembali melemparkan bantal ke arah Eza.
sementara Zahra memilih pergi ke kamar ayahnya ia pusing melihat kelakuan dua lelaki ini.
perlahan Zahra membuka pintu kamar ayahnya.
Zahra terkejut saat di lihat Adam sudah terduduk di lantai
"ayah"
Zahra berlari menghampiri ayahnya
"ayah kenapa ko duduk di lantai? "
tanya Zahra
"ayah tadi habis mandi mau ke tempat tidur ga bisa"
ucap Adam,
"maafin Zahra ya yah. Zahra kelamaan yah lihatin ayah? "
Zahra merasa bersalah
"enggak kok nak ayah juga sekalian latihan biar ga selalu ngerepotin kamu"
"ayah ga apa-apa kok"
Adam mengulas senyum.
Zahra membantu sang ayah untuk duduk di kursi roda.
"ayah ko bisa ganti baju, bukannya baju ayah masih di koper"
"ayah tadi berusaha mengambil sendiri nak, ayah bisa lakuin sendiri kok ga harus semuanya ngerepotin kamu"
Adam memandang wajah Zahra, ia sangat bersyukur Zahra sangat memperhatikannya.
"tapi beneran kan yah ayah ga ada yang sakit? "
Zahra memperhatikan kaki Adam
"ga kok ayah ga apa-apa "
ucap adam meyakinkan.
"syukurlah. kalau begitu kita sarapan yuk yah. Zahra sudah buatin bubur untuk ayah"
Adam pun mengangguk.
Eza, Bagas serta Adam sedang sarapan pagi sementara Zahra masih sibuk untuk menuangkan air di gelas.
"kamu makan juga nak"
ucap Adam
"iyah Ra kita bisa kok ambil minum sendiri"
ucap Eza
"Hahah iyah kak "
Zahra pun turut duduk dan mengambil nasi goreng beserta telur dadar buatannya.
saat Zahra hendak menyuapkan nasi ke mulut Zahra teringat oleh bi Darmi
Zahra kembali meletakkan sendoknya dan beranjak menuju dapur .
Bagas serta Eza hanya melirik Zahra.
"bik"
"bik Darmi"
panggil Zahra saat berada di dapur
bi Darmi menghampiri Zahra dengan sedikit berlari
"iyah neng ada apa yah? "
"bibi lagi ngapain? "
tanya Zahra
"lagi ngepel lantai dapur non "
ucap bi Darmi
"bibi sarapan dulu yuk "
ajak Zahra
__ADS_1
"bibi sudah sarapan ko neng. neng sarapan aja bibi masih lanjutan kerjaan bibi"
tolak bi Darmi
"udah bi Ayok kita sarapan bareng ga boleh nolak"
Zahra meraih tangan bi Darmi dan mengajaknya ke meja makan untuk makan bersama.
"silakan duduk bi, kita sarapan bareng yah"
ucap Zahra
"tapi neng. bibi makan di dapur aja"
bi Darmi merasa tidak enak hati jika harus makan bersama dengan majikannya
"ga bi. disini aja kita makan sama-sama "
Zahra tersenyum ia tak ingin bi Darmi merasa canggung.
"bibi ini siapa Ra? "
tanya Adam ia belum bertemu sebelumnya
"ini bi Darmi yah. papa Bram yang minta bi Darmi kerja disini"
ucap Zahra. adam hanya mengangguk ia sudah tidak se emosi dahulu ketika mendengar nama Bramantio di sebut.
"bi, silakan di makan jangan malu-malu "
ucap Adam.
Bi Darmi melirik Adam Eza serta Bagas ia sangat tidak enak
"bi, ini ayah saya"
ucap Zahra memperkenalkan Adam.
"pak, saya bi Darmi"
sapa bi Darmi pada Adam.
"iyah bi,silahkan dimakan bi"
Adam kembali mempersilahkan bi Darmi.
sementara Bagas ia hanya melihat Zahra, betapa lagunya ia dengan gadis itu entah terbuat dari apa hatinya.
Zahra sangat perduli dengan siapapun bahkan dengan berbaik hati ia mempersilahkan bi Darmi yang statusnya asisten rumah tangganya untuk makan satu meja dengan dirinya.
mereka pun melanjutkan acara sarapan paginya.
"Oh iyah, kak Eza. "
panggil Zahra pada Eza.
"hemm"
Eza berdehem sebab mulutnya masi teriak penuh oleh nasi.
"gimana yah Zahra belum bilang ke pak Budi kalau Zahra mau risgn dari Caffe itu"
ucap Zahra
"Kemarin pak Bramantio sudah menemui Pak Budi Ra. ia sudah mengatakan kalau kamu tidak bekerja lagi"
Bagas menuturkan
"aku yang di tanya pun"
sahut Eza kesal
"lah kan aku yang kemarin nemenin pak Bramantio "
ucap Bagas
"haduhh udah-udah malah berdebat"
Zahra merasa heran dengan kedua lelaki ini sejak kapan mereka seperti Tom dan Jerry.
padahal selama ini jika di kantor mereka sangat sportif.
"kamu berhenti kerja Ra? "
tanya Adam
"iyah pah. Zahra berhenti tadinya Zahra kerja di salah satu Caffe di daerah sini. "
"apa kamu berhenti bekerja itu karena ayah"
Adam merasa bersalah
"enggak ayah Zahra emang mau berhenti kerja kok. Lagian papa Bram marah jika Zahra terus bekerja ia meminta Zahra untuk fokus merawat ayah"
Zahra tersenyum
"udah ya ayah jangan berpikir yang Macem-macem"
Adam hanya mengangguk ia sangat beruntung bisa di beri kesempatan untuk memperbaiki diri serta melupakan rasa sayangnya untuk Zahra.
Adam berjanji akan menyayangi Zahra walau Adam sadar bukan hanya dia yang di anggap ayah oleh Zahra melainkan ada Bramantio juga.
……………………
huy" Author balik lagi
yang setia nunggu Zahra terimakasih yah
dan kalau Ada yang rindu sama Vera nanti bakal Author munculin lagi.
So Author minta masukan nih cocoknya bu Sinta sama Bram atau Adam yah.
dan jangan lupa juga mampir ke karya Author yang kedua yah ada Andra di sana menanti para readers.
jangan lupa like and vote Okeh.
Salam Manis Author
__ADS_1