
Zahra melangkah keluar rumah, ia tidak memperdulikan keadaan di dalam rumah Bramantio setelah semuanya terbongkar.
Air mata Zahra masih setia mengalir di pipinya, kondisi di luar sedang turun hujan namun Zahra tetap melangkah keluar.
ia berjalan dengan langkah cepat kini bajunya basah kuyup karena guyuran hujan.
Tubuhnya terasa lemas, langkah Zahra yang semula cepat kini berubah lamban.
Zahra baru ingat bahkan sejak siang tadi belum makan hingga malam ini.
Tubuh Zahra terhuyung pandangannya seketika gelap, ia jatuh pingsan di pinggir jalan.
tubuh Zahra tergeletak di bawah guyuran hujan yang sangat deras.
…………
Di dalam rumah Bramantio semua terdiam hanya Bagas yang keluar untuk mengejar Zahra.
Wijaya tahu keluarga tersebut sedang mengalami masalah ia memutuskan untuk pamit pulang agar keluarga ini bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
"kalau begitu kami permisi pulang pak"
Ucap Wijaya
"saya meminta maaf atas semua ini"
Bramantio merasa tidak enak hati sebab keluarga Wijaya menjadi tahu permasalahan di keluarganya.
Wijaya beserta anak dan istrinya pun melangkah pulang.
Bramantio yang masih terduduk di kursi meja makan , ia masih memegangi kertas hasil tes yang di beri Zahra.
perasaannya bercampur menjadi satu. satu sisi ia merasa sangat senang akhirnya ia menemukan anak itu. di sisi lain hatinya berdenyut pedih ketika anaknya kecewa dan membencinya.
"ternyata hidup Zahra menderita karena aku"
gumamnya dalam hati
"ma…mas"
panggil Yura dengan terbata, jujur saja Yura merasa takut .
Bramantio sadar dari lamunannya ia teringat dengan rekaman yang di putar Zahra.
Matanya melirik Yura dengan tajam, Yura yang di pandang hanya tertunduk diam.
"Praaannkkkkkk"
Bramantio melempar gelas yang ada di hadapannya
membuat Vera dan Yura berjengit karena terkejut.
"Kau sudah membohongiku Yura?!"
wajah Bramantio terlihat merah padam. ia merasa emosi ,21 tahun lebih Yura menutupi ke bohongannya.
"Ma…maaf mas"
"ak…aku melakukan ini karena terpaksa"
Yura menangis ia tak pernah melihat Bramantio semarah ini.
"Terpaksa kamu bilang"
Bramantio tersenyum sinis
"Dia anak siapa? "
Bramantio menunjuk Vera
"Di…dia anak mantan suami ku mas."
"Mantan suami? "
Bramantio juga tidak mengetahui jika Yura sudah menikah sebelum menikah dengannya
"bahkan kau membohongi ku atas status mu Yura? "
"aku tak menyangka, selama ini aku selalu membela kau dengan anakmu. apapun yang kau minta aku turuti "
"kaubohongiku Yura. ternyata kau melakukan ini semua hanya demi harta? "
Bramantio benar-benar marah.
"Mas aku mohon dengar kan aku dulu mas, aku bisa jelasin"
Yura menangis dan bersimpuh di kaki Bramantio.
Bramantio membuang pandangannya
"aku melakukan ini karena sayang dengan Vera mas. bagaimanapun juga dia anakku mas.mass beri aku kesempatan mas. aku mohon"
Yura masih bersimpuh di kaki Bramantio.
"tidak Yura"
"aku tidak bisa memaafkan mu, kemasi barang-barang mu dan pergi dari sini"
Bramantio mengusir Yura ia sangat kesal. tanpa ia ketahui situasi seperti ini pernah di alami oleh keluarga Zahra.
bahkan sekarang di rasakan Bramantio.
"Pi jangan usir mommy. Vera mohon"
__ADS_1
Vera menangis melihat Mommynya di perlakukan demikian.
"Vera yakin papi sudah memiliki rasa sayang kan untuk Vera? "
gadis itu terisak, berat rasanya ketika melihat Bramantio seakan membencinya.
selama ini Bramantio menyayanginya dan memanjakannya. namun kini semua berbanding terbalik.
"Diam! "
"kau bukan anak ku"
Bramantio menunjuk wajah Vera. membuat Vera terdiam dan tertunduk menangis.
"sekarang juga pergi kalian"
Bramantio melepaskan pegangan tangan Yura di kakinya. ia beranjak melangkah ke dalam kamarnya.
sementara Yura masih terduduk di lantai sambil menangis.
Vera mendekati Mommynya dan memeluknya
"Zahra, kau sudah menghancurkan keluargaku"
Vera mengepalkan tangannya erat, ia tidak terima dengan apa yang di lakukan Zahra.
...………………...
Bagas terus menyusuri jalanan di bawah lebatnya guyuran hujan .
Bagas berusaha menyusul Zahra ,namun sejauh Bagas melangkah ia tidak melihat Zahra.
"Ra kamu dimana? "
Bagas tidak perduli dengan keadaan bajunya yang basah kuyup.
dingin yang serasa menusuk di kulit tidak lagi di rasakan oleh Bagas.
yang ada di pikirannya hanya mencari Zahra dan menemukannya.
"Ra, kamu dimana? "
Bagas terus melangkah menyusuri jalanan
seketika ia terduduk di pinggir jalan dan menangis.
"Bukan aku ga memperjuangkan mu Ra, aku sayang sama kamu sampai detik ini kamu masih ada disini "
Bagas memegangi dadanya, tak perduli dengan keadaan di sekitarnya saat ini.
"Andai kamu tahu Ra apa yang terjadi selama ini"
Jujur saja selama ini Bagas berusaha untuk menemui Zahra namun Zahra selalu menghindar .bahkan telpon dari Bagas tidak pernah di angkat Zahra. serta pesan yang mungkin ratusan kali di kirim Bagas tidak di balas bahkan hanya sekedar di buka.
Bagas terpaksa menerima acara makan malam tersebut karena ia memikirkan perusahaan papahnya.
Bagas bahkan sempat bertengkar hebat dengan mamahnya pada saat mamahnya menghina Zahra di depan karyawannya.
pertengkaran itu membuat penyakit serangan jantung yang di derita Hera kambuh.
Sampai Hera di rawat di rumah sakit, bagaimana bisa Bagas menolak permintaan sang mamah untuk melanjutkan perjodohan itu, walaupun saat itu posisi Hera bersalah.
"Ra aku mohon kamu dimana? "
"aku harap kamu kasih aku kesempatan satu kali lagi"
Bagas menangis di bawah guyuran hujan, tak pernah ia selemah ini.
tapi di saat menyangkut soal Zahra dirinya rapuh.
...…………...
"nenek"
"nek"
bibir Zahra memanggil neneknya.
membuat Eza yang berada di sampingnya berusaha membangunkan Zahra.
"Ra, Zahra"
Eza menepuk pelan pipi Zahra dengan jarinya.
Perlahan dahi Zahra mengerut, matanya mengerjap berusaha untuk membukanya.
Zahra saat ini berada di rumah sakit.
kondisi Zahra yang sangat lemah membuat Eza membawanya ke rumah sakit.
Malam tadi Eza menerima telepon dari Angga teman kantornya. Angga menemukan Zahra pingsan di pinggir jalan.
Angga tidak mengetahui dimana alamat rumah Zahra, ia teringat Zahra sering dekat dengan Eza. maka dari itu Angga menghubungi Eza untuk meminta bantuan.
Sebelum Zahra di bawa ke rumah sakit Zahra sempat di bawa ke rumah Eza.
bahkan baju Zahra yang basah di ganti kan oleh ibunya Eza. Namun karena kondisi Zahra yang tak kunjung sadar ,Ezapun memutuskan membawanya kerumah sakit.
Zahra perlahan membuka mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
ia melihat Eza di sampingnya.
"Kak Eza"
__ADS_1
Panggil Zahra lirih nyaris tak terdengar
"iyah Ra"
Eza mendekatkan wajahnya dengan Zahra berusaha mendengarkan apa yang di ucapkan Zahra.
"Zahra dimana kak? "
Zahra bingung ketika melihat ruangan serba putih. serta tangan kirinya di hiasi selang infus.
"Zahra lagi di rumah sakit, semalam Zahra pingsan di pinggir jalan"
Eza menatap wajah Zahra yang terlihat pucat.
Zahra berusaha mengingat kejadian tadi malam.
"ehm terimakasih yah kak"
Zahra pun berusaha mengedar kan pandangannya ia terkejut saat baju yang di pakainya berbeda dengan yang ia kenakan malam tadi.
Eza seolah paham dengan apa yang di pikirkan Zahra.
"baju kamu di gantiin sama ibu ku, soalnya tadi malam baju kamu basah karena hujan"
Eza tersenyum tangannya mengelus kepala Zahra.
"ini baju siapa kak? "
Zahra terheran baju yang di pakainya bahkan pas di badan Zahra.
"itu baju Almarhumah adik ku Ra, "
Mata Eza seketika sendu kembali mengingat kenangan dulu.
"maaf kak Zahra ga tw "
Zahra merasa bersalah ia tak mengetahui jika adik Eza telah tiada.
"alhamdulillah sudah sadar ternyata"
Suara seorang wanita mengejutkan Zahra, ia bingung siapa wanita yang baru datang dari kamar mandi ini.
"Ra ini ibu ku, ibu tadi malam ikut nganterin kamu kerumah sakit"
Eza memperkenalkan ibunya pada Zahra. sejak malam tadi ibunya berada di rumah sakit untuk menjaga Zahra.
Zahra pun tersenyum
"terimakasih yah bu,"
mata Zahra berkaca-kaca .ternyata masih ada orang baik di dunia ini.
"iyah nak sama-sama"
ucap Sinta ibunya Eza.
ia pun mendekati Zahra dan duduk di tepi ranjang Zahra.
tangannya mengelus lembut kepala Zahra. Eza pernah bercerita kepadanya bahwa teman kerja Eza ada yang mirip dengan adiknya.
benar saja saat Sinta melihat Zahra ia merasa bertemu kembali dengan putrinya yang telah tiada.
"masih ada yang sakit? "
tanya Sinta pada Zahra
"engga ada ko bu, Zahra cuma lemas aja"
"sekali lagi terimakasih yah bu"
Zahra meraih tangan Sinta.
"Za tolong kamu beliin bubur di luar, biar Zahra makan"
Perintah Sinta pada Eza
"iyah bu, ibu jagain Zahra dulu yah"
Eza pun melangkah keluar dari kamar tempat Zahra di rawat.
Sementara Sinta masih setia duduk di samping Zahra.
"sebenarnya apa yang terjadi sama Zahra, kok bisa malam-malam berada di pinggir jalan"
tanya Sinta penasaran
Zahra pun terdiam ia mengingat kejadian tadi malam, rasa perih itu kembali menghujam batinnya.
air matanya pun kembali menetes membuat Sinta terheran mengapa Zahra menangis.
"nak Zahra kenapa? "
Zahra hanya menggelengkan kepalanya, membuat Sinta paham Zahra belum mau bercerita.
"yasudah kalau nak Zahra belum mau cerita ga apa-apa "
"Zahra istirahat lagi yah, sebentar lagi Eza datang kok"
Sinta terus mengelus kepala Zahra membuat Zahra merasa nyaman.
ia pun teringat dengan sang nenek yang selalu mengelus kepalanya saat hendak tidur.
……………………
__ADS_1
Part semalam serasa Author di demo. 😂😂 Rame buangettt guys.
Terimakasih masih setia sama Zahra dan terimakasih sudah membanjiri like and vote untuk Zahra