Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
50 salah menilai


__ADS_3

Hera masih memandang ke luar jendela ia khawatir mengapa Bagas selarut ini belum pulang.


Biasanya jika ia lembur dan tidur di kantor Pak Seno supir pribadi Bagas pasti sudah menyampaikan hal itu.


ketika Pak Seno memasukkan mobil ke garasi sore tadi, ia tidak ada menyampaikan pesan dari Bagas bahkan Pak Seno sendiri tidak mengetahui Bagas dimana.


Hera juga tidak melihat motor Bagas di garasi.


ia terus mencoba menghubungi Bagas namun nomor Bagas sedang tidak aktif.


Wijaya yang melihat istrinya sedang mondar-mandir di dekat pintu masukpun berusaha menghampiri.


"Mamah kenapa?. kok gelisah gitu? "


"Bagas ko belum pulang yah pah? "


Hera kembali melihat arloji di tangannya


"mungkin dia masih ada kerjaan di kantor mah"


Wijaya berusaha menenangkan istrinya


"tapi pah. Bagas tidak ada menyampaikan pesan pada pak Seno, bahkan motor Bagas tidak ada di garasi"


Wajah Hera terlihat cemas.


"mah mungkin Bagas lagi main sama temannya"


Hera hanya mengangguk, mencoba melawan rasa khawatirnya.


"Yaudah deh pah. mamah mau ke kamar Kiran dulu"


Hera pun melangkah menuju kamar putrinya.


Kiran belum tertidur ia masih mengerjakan tugasnya. sambil mendengarkan alunan musik.


"Kiran"


panggil Hera dari luar kamar


"iyah mah"


"mamah boleh masuk gak? "


Tanya Hera yang masih berada di depan pintu kamar Kiran


"masuk aja mah"


Hera melangkah masuk, di lihat putrinya sedang mengerjakan tugas.


"belom tidur? "


tanya Hera, ia mendekati Kiran.


"belum mah, Kiran belum selesai ngerjain tugas"


tatapan Kiran tak beralih dari buku tulisnya.


Hera kembali khawatir, sesekali ia berjalan ke arah jendela kamar Kiran melihat suasana di luar.


hujan yang turun di sertai angin tak kunjung reda, membuat ia semakin cemas dengan Bagas.


Kiran melirik mamahnya yang terlihat gusar.


"mamah kenapa? kok gelisah gitu"


Kiran menghentikan acara menulisnya dan melihat sang mamah.


"kakak kamu kok belum pulang yah"


"udah malam banget, pak Seno juga ga tahu kakak kamu kemana"


Hera kembali mendekati Kiran.


"Ohh"


Kiran pun kembali menulis.


"Is kamu ini bukannya bantuin cari kakak kamu malah nanggapinnya singkat gitu"


Hera kesal dengan putrinya yang terlihat acuh.


Kiran pun kembali menatap mamahnya.


"Udah mamah jangan khawatir "


Kiran menjawab seringan mungkin.


"gimana mamah ga khawatir Kiran. handphone kakak kamu ga aktif"

__ADS_1


"mamah udah berusaha hubungi tapi ga bisa"


Hera kembali menatap layar handphonenya berharap Bagas menghubunginya.


"Kak Bagas lagi berjuang mah"


Kiran menjawab tanpa melihat wajah mamahnya.


"berjuang? "


Hera mengernyitkan dahinya.


"berjuang gimana sih Kiran. kamu jangan ngaco deh"


Hera mencolek lengan Kiran yang masih asyik menulis tanpa melihatnya.


"Haaaa"


Kiran menghela nafasnya berat.


Kiran beranjak dari duduknya, menarik tangan Hera dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.


"mamah ga usah khawatir kak Bagas lagi berjuang untuk dapatin maaf dari kak Zahra "


Bagas sebelumnya sudah bercerita pada Kiran bahkan sore tadi Bagas baru saja menghubungi Kiran.


"maksud kamu gimana sih? "


Hera terheran ia tak mengerti apa maksud ucapan Kiran.


"mamah ingat ga sewaktu mamah marah-marah sama kak Kiran di kantor? "


tanya Kiran pada Hera. Kiran mengetahui hal itu sebab Kiran memaksa Bagas untuk bercerita padanya, saat Bagas bertengkar dengan mamahnya.


Hera hanya mengangguk jelas saja ia ingat karena kejadian itu Bagas sampai sekarang jarang berbicara padanya.


mungkin Bagas merasa kecewa atas apa yang di lakukannya.


"Semenjak kejadian itu , kak Zahra gak pernah dekat lagi sama kak Bagas. Kasihan tahu mah kak Bagas, dia selalu melamun"


Kiran mencoba bercerita pada Hera


"apa kak Bagas selalu cerita sama kamu? "


tanya Hera


Bahkan Bagas tidak pernah curhat dengan Hera.


"Kiran kenal dekat sama kak Zahra? . kemarin kok bisa barengan ke rumah Om Bramantio? "


Hera bahkan baru sekarang mempertanyakan hal itu pada Kiran .


"Mah. Kiran itu udah dekat banget sama kak Zahra. Kiran itu juga cari tahu siapa kak Zahra bagaimana sifatnya"


"Kiran sama kak Zahra juga kemarin yang ikutin tante Yura sama kak Vera sewaktu di mall, makanya bisa dapatin rekaman itu"


Kiran mengubah posisi duduknya menjadi bersila.


"Kiran awalnya heran tahu mah, ga percaya aja gitu kak Bagas bisa jatuh cinta"


Kiran senyum senyum sendiri seakan dirinya yang sedang jatuh cinta.


Hera yang melihat hal itu pun menaikkan sebelah alisnya .


"mamah tahu ga kak Zahra itu orangnya baik banget mah, Kiran ajah yang cewek nyaman banget dekat kak Zahra apalagi kak Bagas. uhhhhh pastinya luluh"


Kiran menutup matanya sambil tersenyum.


"Is Kiran serius dong ceritanya"


Hera mengusap wajah Kiran dengan telapak tangannya.


"Is mamah"


Kiran merengut karena perlakuan Hera.


"kamu kenapa ga bilang kalau Kak Zahra itu anaknya Om Bramantio? "


"mah kak Zahra itu ga pernah cerita soal kehidupan pribadinya. palingan juga dia cerita soal ayah ibunya yang tinggal di kota A terus kak Zahra itu punya kakak namanyan Zahira. Yahh itu doang si mah"


Hera semakin penasaran dengan Zahra bahkan ia masih tak percaya putrinya bisa sedekat itu dengan Zahra.


"terus Zahra itu tinggal dimana? "


"kak Zahra tinggal di kost an bukde Erin mah"


Hera bahkan sama sekali tak mengetahui kalau Zahra menempati salah satu kamar kost kakak sepupunya itu.


"Mah, mamah jangan marahin kak Zahra lagi dong, dia itu baik mah. Kiran aja pengen punya kakak kaya kak Zahra"

__ADS_1


"Lagian mamah kenapa sih kalau cari menantu harus yang tajir, coba deh mamah lihat kak Vera, percuma aja berpendidikan tinggi, karirnya bagus, studinya ke luar negri tapi sikap sama adabnya di bawah rata-rata "


Kiran ngedumel ia balik menceramahi Hera.


"Untung aja kemarin Kiran sama kak Zahra penyamaranya jago melebihi detektif , jadi ke bongkar semua dah tuh buruknya kak Vera sama tante Yura. coba kalau enggak? bukan hanya papah sama kak Bagas doang yang frustasi "


"mungkin juga Kiran bisa terkena gejala sroke di usia muda karena punya kakak ipar jelmaan keong sawah"


Kiran berbicara asal membuat Hera terkikik geli melihatnya.


"iyah-iyah mamah minta maaf "


"ehm mamah boleh minta tolong sama Kiran? "


Kiran langsung mengalihkan pandangannya menatap Hera.


"Minta tolong apa mah? "


"tolong temenin mamah yah buat ketemu sama kak Zahra "


Kiran melirik penuh selidik ke arah Hera.


"jangan bilang mamah mau marahin kak Zahra lagi."


"Oh tidak-tidak,Kiran ga mau yah mah. Kiran ga mau lihat kak Bagas jadi di benci kak Zahra, Kasihan tahu mah kak Bagas mukanya kusut banget kalau lagi galau"


Kiran mengoceh tanpa henti sampai tak memberikan peluang untuk Hera berbicara.


"Mamah tuh kerjaannya marah-marah mulu sama orang sampe hmppppp moamah"


Hera membekam mulut Kiran menggunakan tangannya, hingga Kiran sulit berbicara..


"Ckk kamu tuh yah nyerocos terus sampai mamah ga di kasih kesempatan untuk bicara. dengerin mamah dulu makanya"


Hera terlihat kesal dengan putrinya


"mamah ih"


Kiran memajukan bibirnya.


"mamah tuh mau minta maaf sama Zahra, mamah sudah kelewatan batas memperlakukan dia. Mamah juga sadar kalau Bagas beneran cinta sama Zahra"


pandangan Hera tertunduk ia malu pada dirinya sendiri karena sudah menilai orang dari penampilannya.


Kiran tersenyum sumringah mendengar penuturan mamahnya.


"tapi? "


"tapi apa mah?"


Kiran mengaruk tengkuknya yang gatal.


"apa Zahra mau maafin mamah, mamah sudah terlalu kasar sama dia"


terbersit rasa bersalah dan khawatir di hati Hera mengingat perlakuannya pada Zahra.


Kiran meraih tangan mamahnya ia tahu mamahnya sedang khawatir.


"Mah? "


"kak Zahra itu orang baik pasti dia mau maafin mamah. buktinya aja setelah mamah marahin, kak Zahra tetap mau bantuin Kiran buat bongkar kejahatan tante Yura"


Kiran mengelus tangan Hera.


Kiran benar bahkan Zahra masih mau membantu Kiran walau saat itu ia sudah berlaku kasar padanya.


selama ini Hera salah menilai Zahra.


"apa kamu yakin"


Hera menatap Kiran


"He'em"


Kiran mengangguk mantap seakan memberi semangat pada mamahnya.


"mamah tenang aja entar Kiran temenin kalau mau ketemu kak Zahra, Kiran juga mau ketemu sama kak Zahra. Kiran udah kangen banget "


Kiran tersenyum hingga mata sipitnya seakan terkatup.


Hera pun merasa semangat dan percaya atas dorongan Kiran, ia ingin Bagas bahagia.


…………………………


Haaaaiiiii 😁


pengen dah punya adek kayak Kiran punya bakat humor yang terpendam, huu pastinya kalau ngobrol auto pengen nyentil tuh bocah .😂😂


like, like, like guys 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2