
"Zahra"
panggil Alex saat Zahra tengah mengobrol dengan Bagas.
"iyah"
Zahra menoleh ke Alex, begitu juga dengan Bagas.
"bisakah aku berbicara dengan Zahira "
"sekarang? "
Tanya Alex sedikit hati-hati
"apa tidak sebaiknya kita mengobrol di tempat yang sedikit nyaman"
Sahut Bagas, membuat Alex mengerutkan keningnya. ia heran melihat Bagas.
sebab ia belum pernah melihatnya, bahkan sepertinya Bagas bukan anggota seminar.
Seakan paham dengan ekspresi Alex, Zahra pun buka suara.
"perkenalkan dia ini kak Bagas, calon suami saya"
ucap Zahra lantang membuat pipi Bagas bersemu merah.
jika saja tidak ramai orang berlalu lalang di sekitarnya, ingin rasanya Bagas berguling-guling manja karena bahagia di sebut calon suami oleh Zahra.
"Oh begitu"
"Saya Alex"
Alex mengulurkan tangannya dan di sambut ramah oleh Bagas
"saya Bagas"
"gimana kalau ngobrolnya di caffe depan hotel saja"
ajak Alex
"yasudah yuk"
jawab Zahra singkat.
Dan ketiganya menuju caffe yang letaknya berhadapan dengan hotel tersebut.
"Pegangin kakak Ra"
ucap Bagas saat berjalan di samping Zahra
"emang kenapa kak? "
Zahra mengerutkan keningnya
"rasanya kakak ingin terbang saat kamu sebut calon suami"
ucap Bagas dengan nada di buat selebay mungkin
"Dih, kakak !"
"terpaksa kali ah, Udah yuk masih sempat-sempatnya berlebay ria"
Zahra mempercepat langkahnya meninggalkan Bagas.
sementara Bagas nyengir kuda melihat Zahra yang sedikit kesal karena ulahnya.
--
ketiganya kini tengah ngobrol di sebuah caffe bergaya Eropa.
Zahra kini tengah mencoba menghubungi Zahira.
akhirnya setelah tiga kali Zahra mencoba menghubungi melalui sambungan video call barulah di angkat oleh Zahira.
"ada apa Ra? "
tanya Zahira
"kemana saja kau ini"
"maaf Ra, aku tidak mendengar suara dering handphone ku"
Zahra menatap Alex yang berada di depannya, seakan memberi kode bahwa ia siap untuk berbicara dengan Zahira.
"Ehmm ada yang ingin berbicara denganmu"
ucap Zahra berhati-hati
"siapa? "
Zahira terdengar sangat penasaran, dengan cepat Zahra menyerahkan ponselnya pada Alex.
"Zahira"
panggil Alex
"A.. alex"
__ADS_1
"kamu kemana saja? "
ucap Zahira dengan suara haru.
"maafkan aku Zahira, a.. aku tidak memberimu kabar"
sahut Alex
"Lex, anak kita sudah lahir"
di seberang sambungan video call air mata Zahira menetes.
Alex terdiam, di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih ragu akan kebenarannya.
apakah itu darah dagingnya atau tidak.
Sementara Zahra menggenggam tangan Bagas, ia khawatir bagaimana jika Alex mengatakan secara jelas jika ia meragukan anak itu.
"a... aku percaya itu anakku"
"tapi bolehkah aku mengusulkan untuk tes DNA terlebih dahulu agar aku bisa memberikan bukti pada orang tuaku"
ucap Alex secara hati-hati agar Zahira tidak tersinggung, lagipula dia juga harus memastikan sendiri.
"baiklah, tanpa kamu minta aku juga akan melakukannya agar semuanya jelas lex"
"dan jujur, aku tak berbohong padamu ini benar-benar anak kamu"
"aku tak menghianati mu Lex"
Ucap Zahira sambil mengusap air matanya
"terimakasih Zahira kau tetap setia, maafkan aku yang meninggalkan mu tanpa kabar"
"aku juga masih setia, kau paham kan bagaimana kedua orang tuaku"
"mereka mengirimku ke desa itu"
tutur Alex, hubungan keduanya tidak di restu oleh orang tua Alex.
Zahira pun mengerti akan hal itu, ia tidak menyangka jika ancaman yang di berikan ibu Alex akan benar-benar terjadi.
Dahulu Alex pernah bercerita jika sampai sang ibu mengetahui bahwa Alex masih berhubungan dengan Zahira maka Alex akan di kuliahkan di negara itu.
dan kini di saat mereka bisa bersama lagi sang ibu justru mengirim Alex ke desa itu agar komunikasi keduanya terputus.
"aku mengerti Lex bukan kah sejak awal hubungan kita di tentang keras oleh kedua orang tuamu"
"aku hanya berharap kali ini kau akan berjuang untukku dan bertanggung jawab pada anakmu "
tutur Zahira
"maafkan kedua orang tuaku Zahira, yang berusaha memisahkan kita. Maafkan aku yang sempat memilih keputusan orang tuaku dan meninggalkanmu"
ucap Alex penuh sesal
"aku mengerti, kuharap kita bisa berjuang bersama"
tutur Zahira
keduanya mengobrol cukup lama, sementara Bagas dan Zahra hanya diam dalam keheningan. keduanya berperang dengan pikiran masing-masing.
Zahra tak begitu tahu kisah Zahira dengan Alex, sebab Zahra tak begitu dekat apalagi beberapa tahun belakangan ini ia tak pernah bersama Zahira lagi.
Zahira juga tidak bercerita jika hubungan mereka berdua terhalang restu kedua orang tua Alex.
sebab Zahira hanya menceritakan garis besar permasalahan mereka mengenai anaknya saja.
Syukurlah respons Alex cukup baik walaupun masih ada sedikit penolakan dan keraguan, tapi dirinya masih mau mencari solusi dan berbicara dengan Zahira.
"kakak rasa akan sedikit rumit"
bisik Bagas membuat Zahra terdapat dari lamunannya
"apanya yang rumit"
jawab Zahra tak kalah berbisik
"hubungan mereka terganjal restu"
"Entahlah kak, Zahra rasa juga begitu. tapi kita coba saja dulu"
sahut Zahra.
--
Sementara Eza, ia kini sudah berada di Bandara. jadwal kepulangannya di percepat sebab proyek yang ia awasi ,untuk sementara waktu di tunda.
karena keadaan cuaca yang tak memungkinkan di lapangan.
kini Eza sudah bersama Rianda di Bandara sebab Rianda menjemputnya.
keduanya berjalan keluar Bandara untuk mencari taxi.
"mas kata ibu, pernikahan kita akan di percepat? "
tanya Rianda sambil terus berjalan di samping Eza
__ADS_1
"Iyah, mas yang meminta. lagipula untuk apa kita mengulur waktu apalagi yang mesti di tunggu? "
sahut Eza
"baiklah mas, terserah mas saja"
"apa kamu keberatan? "
tanya Eza pada tunangannya tersebut
"tidak mas, aku hanya bingung siapa yang akan mendampingiku di hari pernikahan nanti"
Rianda menundukkan kepalanya, ia bahkan tak memiliki keluarga disini.
"kenapa harus bingung? "
"ada Zahra, ada Kiran bahkan masih banyak lagi"
ucap Eza
"apa aku boleh mengundang keluarga di Panti ? "
tanya Rianda, ia juga harus berbagi kebahagiaan pada keluarganya yang berada di Panti Asuhan.
sebab sedari kecil ia tumbuh besar di sana.
"boleh sayang, kamu boleh undang siapapun"
"mas tidak akan melarangnya, yang terpenting kamu bahagia"
Eza mencolek dagu Rianda.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan Rianda.
"terimakasih mas"
ucap Rianda, gadis manis itu selalu membuat Eza gemas.
"Zahra kemana yah mas, biasanya kalau mas dari luar kota tuh dia yang paling semangat buat jemput"
tanya Rianda sambil bergelayut manja di lengan kanan Eza
"Dia kan lagi Seminar ke Itali "
"Oh yah"
"pantas aja ga ngebet ngejemput kamu"
Rianda tertawa mengingat betapa hebohnya Zahra , apalagi jika sudah menyangkut Eza.
"sepi yah ga ada Zahra, biasanya tuh bocah yang paling heboh"
"Lagian dia di temanin Bagas kok, sekalian mencari Alex"
ucap Eza
"Alex? "
"siapa? "
Rianda menghentikan langkahnya mendengar nama Alex.
"suami Zahira, eh lebih tepatnya pacar Zahira"
"Oh Zahira"
"Baik banget yah Zahra"
Rianda melanjutkan langkah kakinya
"kenapa? "
"Iyah padahal kan Zahira sudah jahat banget sama Zahra, mas lupa gimana masa lalunya Zahra. aku aja yang ga ngalamin ikutan kesal"
"dan sekarang giliran Zahira susah, Zahra lah yang paling semangat membantunya"
tutur Rianda
"mas juga heran, gak tahu deh terbuat dari apa hati Zahra."
" baik banget "
"mungkin nih yah, rasa sayang dia ke pak Adam di bandingkan papa Bram lebih dalam sayang ke pak Adam"
"padahal dahulunya Zahra di perlakukan tidak baik"
ucap Eza mengingat-ingat kejadian itu.
"Iyah ya kak, salut banget deh sama Zahra"
kedua pasangan sejoli ini akhirnya menggosip tentang Zahra bahkan sampai di dalam taxi pun pembahasan keduanya masih mengenai Zahra.
.----
like and vote kakak.
jangan pelit jempol dong. ðŸ˜
__ADS_1
biar ceritanya ga sepi... boleh deh di ramaikan sama komen yang positif, membangun serta membangkitkan semangat.