
Dengan langkah gontai Zahra berjalan menyusuri jalanan, cuaca yang tadinya terik kini berubah mendung seakan mengerti dengan keadaan Zahra saat ini.
Bulir bening air mata Zahra menetes di pipinya, sekuat dan seberani apapun sikap Zahra dia tetaplah manusia biasa yang akan merasakan lelah dan rapuh jika terus-menerus di terpa masalah.
Zahra memilih berhenti di taman kota ia duduk di bangku taman yang menghadap ke arah sebuah danau kecil.
angin berembus menjatuhkan de daunan dan menerpa lembut pipi Zahra. sepertinya akan turun hujan.
"Andai saja nenek di sini sama Zahra"
Selama hidupnya hanya neneknya yang menjadi sandaran hidupnya tapi kini ia harus menjalani semuanya sendiri.
Bahu Zahra bergetar karena tangisnya. Di balik sifat Zahra yang ceria dan humoris ternyata ia menyimpan luka yang mendalam.
"Nek apa memang takdir Zahra selalu tersisihkan, terbuang bahkan tidak di anggap ada"
tanpa Zahra sadari di belakangnya ada seseorang yang mendengarkannya dan melihatnya sedang menangis.
"Zahra rindu nenek, Zahra ingin merasakan di sayang lagi nek"
Seiring dengan tangisnya rintik hujan pun turun, tapi Zahra tidak beranjak dari duduknya sampai hujan deras dan membasahi tubuh Zahra.
Sesaat kemudian tubuhnya tidak lagi merasakan tetesan air hujan. Zahra membuka matanya dan mengangkat pandangannya, ternyata Eza berdiri di sampingnya.
Eza melindungi tubuh Zahra dari tetesan air hujan menggunakan jaketnya.
"Ra kenapa kamu disini, ini hujan nanti kamu sakit"
Eza berbicara dengan sedikit teriak karena suara hujan yang sangat deras mengalahkan suaranya.
Eza rela kehujanan demi menutupi tubuh Zahra.
Zahra hanya terdiam.
Eza menarik tangan Zahra mengajaknya untuk berteduh di sebuah warung di pinggir taman, warung tersebut sedang tutup.
Zahra hanya mengikuti Eza.
"Ra, kamu ngapain hujan-hujanan? "
tanya Eza
Baju Eza sudah basah kuyup karena air hujan.
Zahra terdiam mata sembapnya menatap manik mata Eza.
sesaat kemudian Zahra memeluk Eza dan menangis.
"Ra baju aku lagi basah"
Zahra tidak peduli ia semakin mengeratkan pelukannya membuat Eza membiarkan Zahra menumpahkan tangisnya.
Wajar saja jika Zahra serapuh ini dan mencari sandaran, bahkan sekarang Zahra seakan hidup seorang diri.
Eza memberanikan diri mengangkat tangannya dan membalas pelukan Zahra.
mendengar Zahra menangis terisak membuat hati Eza berdenyut sakit.
Eza menjadi teringat dengan sosok adiknya yang sudah meninggalkannya untuk selamanya.
Usia adik Eza pada saat itu sama persis dengan Zahra bahkan Zahra memiliki kemiripan dengan adiknya.
mulai dari rambut, postur tubuh, hidung serta matanya sama persis dengan adiknya.
itu kenapa Eza berusaha dekat dengan Zahra tak lain hanya ingin mengobati rasa rindunya pada sang adik.
Saat pertama kali Eza melihat Zahra ia sempat tak percaya ia bisa melihat adiknya kembali, namun Eza sadar itu adalah Zahra bukan adiknya.
Adik Eza meninggal saat seusia Zahra sekarang. adiknya meninggal karena kecelakaan bersama ayahnya. dan kini Eza tinggal berdua dengan ibunya.
Eza memejamkan matanya saat membalas pelukan Zahra, ia rindu pelukan sang adik.
Zahra melepaskan pelukannya ia kembali menatap wajah Eza.
Eza kemudian menghapus bulir air mata yang jatuh di pipi Zahra.
"kamu jangan sedih lagi yah"
Yang Eza tahu saat ini Zahra terpukul karena permasalahan di kantor tadi, Eza tidak melihat kejadian tadi sebab ia tidak berada di kantor melainkan sedang mengantar berkas.
Namun teman-temannya menceritakan semuanya pada Eza atas apa yang di lakukan mamahnya Bagas.
Eza khawatir dengan Zahra takut akan terjadi sesuatu hal ,itu sebabnya ia berinisiatif menyusul Zahra.
Eza mengelus lembut kepala Zahra, hal itu yang selalu di lakukan Eza dahulu kepada adiknya.
"Kamu jelek kalau lagi nangis"
"ingusan"
Eza berusaha menghibur Zahra, Zahra hanya mencebikkan bibirnya.
"Kak"
panggil Zahra lirih
"iyah"
"apa Zahra seburuk itu? "
Mata Zahra berbinar ia menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Ssstttt"
"jangan di bahas lagi, kamu itu ga seperti yang mereka katakan.kamu adik kak Eza yang paling baik"
Eza mengusak rambut Zahra, membuat perasaan Zahra sedikit legah. ternyata masih ada yang peduli dengannya.
....................
sudah seminggu lebih kejadian itu telah berlalu, kini Zahra memilih untuk bangkit dan menata perasaanya.
Zahra kembali beraktivitas dan bekerja.
sekarang ia bekerja di salah satu Caffe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat kostnya.
walaupun gaji yang di dapatnya sebagai waiters di caffe tidak sebesar sewaktu ia bekerja sebagai Cleanning servis.
Namun Zahra tetap memilih pekerjaan itu, bagi Zahra asalkan halal dan cukup untuk makan dan membayar uang kost, itu sudah lebih dari cukup.
Zahra tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Zahra sadar bahwa hidup terus berlanjut jika dirinya masih terus dalam kesedihan siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Ra itu ada pelanggan"
__ADS_1
Rendra teman baru Zahra membuyarkan lamunannya.
"eh iya Ren"
"melamun aja, entar tua loh"
ledek Rendra
"ga ngaruh kaleeee"
Zahra berlalu pergi menghampiri pelanggan.
…………
Zahra sedang membersihkan meja , di lirik arloji di tangannya menunjukkan pukul 3 sore.
tiba-tiba suara handphone Zahra berdering.
terlihat nomor tanpa nama melekat di layar handphonenya.
"Halo"
sapa Zahra ketika sudah mengangkat panggilan telepon
"Halo, Selamat Sore"
"ini dengan Mbak Zahra Andriani? "
"iyah saya sendiri"
Zahra terheran dan penasaran siapa yang sedang meneleponnya
"Saya dari pihak rumah sakit Bumi Lestari mbak, memberitahukan bahwa tes DNA nya sudah keluar dan sudah bisa di ambil sore ini "
ternyata dari pihak rumah sakit.
membuat Zahra sedikit menghela nafas karena akhirnya hasil tes tersebut sudah keluar.
"Oh iya mbak saya akan segera kesana"
"Terimakasih mbak".
Zahra bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan berniat untuk langsung kerumah sakit tersebut.
Setelah Zahra mendapat izin dari bosnya untuk keluar, ia pun segera memesan ojek online agar lebih cepat sampai ke rumah sakit.
Zahra tak sabar melihat hasil tes tersebut.
…
Zahra sudah keluar dari rumah sakit dengan memegang sebuah amplop yang berisikan hasil tes.
ia tak berani membukanya, jantungnya berdegub kencang.
"kenapa aku jadi takut untuk membukanya"
Zahra membolak balik amplop cokelat tersebut.
Ia memilih duduk di sebuah bangku panjang yang terdapat di parkiran rumah sakit tersebut.
tangan Zahra gemetar saat membuka amplop tersebut.
perlahan ia membuka lipatan kertas tersebut.
seketika Zahra membulatkan mata saat keterangan di dalam kertas tersebut mengatakan bahwa Bramantio adalah ayah biologisnya.
"Duaaaarrr! "
Bagai di sambar petir di siang bolong.
Berulang kali kertas tersebut di baca Zahra untuk memastikan kebenarannya.
"dugaanku benar"
Zahra menutup mulutnya air matanya kembali tumpah.
tubuhnya seketika lemas berasa tidak bertulang.
ternyata ini rencana tuhan untuk mempertemukan Zahra dengan ayah kandungnya.
"Di…dia ay…ayahku"
bibir Zahra bergetar.
orang yang selama ini ia harapkan menjadi ayahnya ternyata memang benar adanya.
Kejutan hidup datang silih berganti menghampiri Zahra. ia tidak menyangka seakan ia sedang bermimpi.
Sulit bagi Zahra menelaah semua kejadian yang terjadi di hidupnya.
………
Zahra memilih untuk pulang ke kostnya ia tidak kembali ke Caffe. perasaannya kembali berkecamuk.
ternyata Bram yang di maksud sang ibu di diary tersebut adalah Bramantio.
Ia menangis saat memandangi foto yang ada di diary tersebut.
"ternyata kamu benar ayahku. apa kamu tidak menyadari kamu memiliki seorang anak. bahkan saat ini kamu memanjakan orang lain yang dengan jelas bukan darah dagingmu"
"sementara aku"
Zahra memegangi dadanya yang kembali terasa sakit.
"aku harus menerima semua beban hidup atas perbuatanmu"
Zahra terduduk di lantai dengan keadaan air mata membanjiri wajahnya.
"bahkan kau sekarang bahagia dengan keadaan bergelimang harta sementara aku yang menanggung kejamnya kenyataan hidup karena ulahmu"
Zahra melupakan istilah
"takdir"
kata itu yang selalu di ingat Zahra saat ia merasa dendam dan marah atas semua kejadian yang terjadi di hidupnya.
seketika ia tidak mengingat istilah takdir. hatinya benar-benar merasa hancur .
Zahra lelah menangis ia meringkukan tubuhnya .
perlahan-lahan mata sayunya pun terkatup . Zahra terlelap tidur.
…………
__ADS_1
"KaK"
"tok…tok…tok"
"Kak Zahra"
sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggil nama Zahra.
Zahra perlahan mengerjapkan matanya, ia terbangun dari tidurnya .
"Kak Zahra"
suara seseorang terus memanggil namanya membuat ia bangun. di lirik jam di dinding menunjukkan pukul 8 malam.
ternyata ia terlelap tidur sejak sore tadi.
"iyah sebentar"
Zahra berjalan menuju pintu kamar kostnya.
ketika ia membuka pintu terlihat Kiran berada disana
"Kiran? "
Zahra terkejut ketika melihat Kiran menangis.
"Kak Zahra"
Kiran memeluk erat tubuh Zahra dan Kiran terisak.
"Kiran ada apa? "
"apa yang terjadi"
Kiran melepaskan pelukannya dan melihat Zahra.
"bantuin Kiran kak, "
bibir gadis ini bergetar karena tangis
"Ayo Kita masuk dulu"
Zahra mengajak Kiran untuk masuk ke kamarnya.
mereka duduk di tempat tidur Zahra.
"Kiran coba jelasin sama kakak, kamu kenapa? "
Zahra menyibakkan rambut Kiran yang menutupi wajahnya.
"Kak bantuan Kiran buat ngebatalin perjodohan kak Bagas sama kak Vera "
air mata Kiran menetes
"Cuma kak Zahra yang punya bukti buat ngebongkar rencana tante Yura"
"Kiran mohon kak, Kiran ga mau kalau Kak Bagas nikah sama kak Vera. "
Kiran mengguncang lengan Zahra sambil terus menangis.
sementara Zahra hanya terdiam, ia sebenarnya sudah tidak ingin kembali ikut campur dengan permasalahan itu.
Zahra menatap Kiran. terbesit rasa kasihan melihat Kiran yang merasa khawatir dengan kakaknya.
"Kak Zahra, bantu Kiran kak"
mata Kiran terus meneteskan bulir air mata. gadis kecil ini sungguh khawatir hal yang tidak di inginkannya selama ini terjadi.
"kakak mesti bantu apa? "
Zahra mengernyit, ia bingung dengan situasi ini.
"sekarang mamah sama papah juga kak Bagas sedang berada di rumah kak Vera buat langsungin perjodohan itu kak. bahkan mereka akan mempercepat pertunangan kak Bagas"
"Pak Bramantio mengancam keluarga kami kak ,dia akan mem blacklist perusahaan papah, itu berarti akan banyak investor yang menarik modalnya di perusahaan papah "
Kiran gadis kecil ini sudah memahami permasalahan yang terjadi di keluarganya.
Sementara Zahra merasa bingung haruskah ia senang atas semua ini agar apa yang di lakukan Hera kepadanya terbalaskan tanpa susah payah Zahra membalasnya.
di sisi lain ia juga sedih melihat Kiran dan Pak Wijaya. mereka orang baik terlebih lagi Bagas.l, hidupnya pasti akan tertekan jika harus menikah tanpa rasa cinta.
"Sungguh kelewatan kamu Vera"
Zahra menggerutu kesal dalam hati, ia yakin semua yang di lakukan Bramantio pasti atas dasar desakan anak dan istrinya.
"Ayo kak Kita kerumah kak Vera. kita beri tahu rekaman itu kak"
Kiran terus mengguncang lengan Zahra.
"tapi Kiran? "
Zahra terlalu malas untuk melakukan hal itu tapi ia pun berniatan membongkar semuanya di depan keluarga Bagas terutama mamahnya Bagas.
Ia juga terlampau geram dengan kelakuan Yura dan Vera.
"Kak Pleasee tolong Kiran"
gadis itu terus menangis dan memohon pada Zahra.
Zahra menghela nafas berat.
"Hmm baiklah"
"kita kerumah kak Vera"
Zahra pun mengingat kembali rencananya untuk membongkar semuanya.
walaupun mental Zahra belum sepenuhnya siap.
.............
Jangan lupa like Vote serta tambahkan kritik dan saran yang membangun.
Author berharap mengkritik lah dengan bahasa yang lembut karena tidak semua Author memiliki mental yang kuat.
maaf jika Author lama upnya. Author juga baru belajar menulis dan tidak secapat kilat bisa menyusun alur ceritanya.
terimakasih yang masih mau setia
Salam Manis Author
~EtyRamadhii
__ADS_1