
Jam menunjukkan pukul 06:30 pagi, kabut tipis masih menyelimuti.
Serta angin pagi masih terasa ketika menyelinap masuk melalui pori-pori.
Bagas baru saja tiba di kantornya, ia mengambil ransel miliknya dan tas kerja yang selalu ia bawa di dalam mobil.
Perjalanan dari kota C ke kantor Bagas memakan waktu 5 jam perjalanan, Bagas memilih untuk pulang pada malam hari agar tidak terjebak macet.
Dan bisa langsung ke kantor saat tiba pada pagi hari serta bisa menyerahkan berkas yang ia kerjakan selama mengawasi proyek.
Sekaligus ia ingin beristirahat di ruangan pribadinya.
"Imey, kunci ruangan saya mana? "
tanya Bagas pada karyawannya
"ini pak,"
Imey menyerahkan kunci tersebut pada Bagas
"Oh Iyah pak beberapa hari yang lalu mbak Zahra kesini, dia bilang mau antar barang milik bapak ke ruangan, tapi kemarin pas saya cek ruangan bapak. barang yang di bawa mbak Zahra tidak ada"
tutur Imey, sebab ia tak mengetahui di dalam ruangan Bagas terdapat ruangan pribadi.
"barang? "
Bagas mengernyitkan keningnya
"Iyah pak, mbak Zahra bilang itu milik bapak. dan dia bilang bapak yang memintanya untuk mengantar ke ruangan"
"tapi pas saya cek ternya..... "
Imey belum selesai berbicara Bagas sudah terlebih dahulu berlari masuk.
"Astaga saya belom selesai bicara"
Imey menghela nafas melihat kelakuan sang bos.
"kelamaan kamu jelasinnya"
ledek teman Imey yang berada di sampingnya membuat Imey mencebikkan bibirnya.
Sementara Bagas ia berlari menuju ruangannya, dengan cepat ia mengunci pintu ruangannya.
Ia yakin Zahra meletakkan barang yang di maksud Imey di dalam ruangan pribadi miliknya.
Benar saja saat pintu bergeser tampak sebuah kotak telah bertengger di atas nakas samping tempat tidur miliknya.
tanpa menunggu lama Bagas pun menghampiri kotak tersebut.
"apa ini? "
gumamnya
Tangan kekar miliknya membuka kotak tersebut yang di rekatkan dengan lakban.
Bagas mengernyitkan dahinya saat ia lihat isi kotak tersebut. beberapa barang yang pernah ia berikan pada Zahra.
Bahkan kalung yang selama ini selalu di pakai Zahra kini turut berada di dalam kotak tersebut.
"apa maksudnya ini? "
tanyanya dalam hati, netra matanya menangkap sebuah secarik kertas di dalam kotak tersebut.
Ternyata sebuah surat, yang berisi tulisan tangan Zahra
..."Jika ingin mengakhiri maka selesaikan dengan cara dewasa, menghilang tanpa kata bukanlah solusi sebenarnya. kita bertemu baik-baik, maka akhiri pula dengan cara yang baik"...
...Zahra...
"Zahra? "
lirih Bagas, dengan cepat ia meraih kotak kalung tersebut dan berlari keluar ruangan.
Ia berniat untuk menemui Zahra, tak peduli rasa kantuk dan lelah yang di rasakannya.
Berharap Bagas bisa memberi efek jera, justru Zahra mengira ini jalan perpisahan.
hal itu membuat Bagas khawatir, bagaimana jika benar Zahra mengakhiri semua ini.
__
"Ayah sarapannya sudah Zahra siapkan sekaligus bekal buat ayah di atas meja makan"
ucap Zahra pada Adam yang hendak berangkat ke kantor
"Iyah terimakasih yah sayang, kita sarapan bersama yah"
tuturnya sambil merapikan rambut miliknya
"Zahra sarapan di resto aja yah "
"berarti ayah sarapan sendirian dong"
Adam menampilkan wajah sedih agar Zahra merasa iba.
Semenjak Zahira pindah, Zahra dan Adam kembali tinggal berdua. Yah Zahira sudah menikah dengan Alex setelah hasil tes DNA milik Fatan anak Zahira sudah keluar.
Pernikahan di adakan sekitar 5 hari yang lalu, hanya di hadiri keluarga dekat saja bahkan mami Alex tidak hadir sebab ia belum memberi restu. Hanya Tristan yang mendampingi Alex.
Tristan percaya bahwa Fatan adalah cucunya setelah melihat tes DNA yang di lakukan di beberapa rumah sakit dan semua hasilnya sama, bahwa Fatan positif anak biologis Alex.
Kini Alex dan Zahira tidak kembali ke Italia melainkan pindah ke Kota K tempat kelahiran Alex. Mereka mengelola bisnis kuliner disana.
Atas permintaan Tristan, akhirnya Zahira mau mengikuti Alex.
"yaudah, Zahra temenin deh"
Zahra mengulas senyum tak ingin melihat Adam kecewa.
keduanya akhirnya makan bersama di meja makan.
"pagi neng"
sapa bi Darmi
"pagi bik"
"mari bik sarapan dulu"
ucap Zahra
__ADS_1
"bibik sudah sarapan neng, beli nasi uduk tadi di depan "
"beneran bik, sudah? "
selidik Zahra
"bener neng, masa bibik bohong"
"yaudah bik kalau sudah, kalau bibik mau sarapan lagi tadi Zahra simpan ayam goreng buat bibik di lemari atas"
kebiasaan Zahra selalu ingat dengan bi Darmi
"iya neng terimakasih yah, kalau begitu bibik mau langsung beres-beres"
"mari neng, mari pak Adam"
bi Darmi pun menuju dapur sementara Zahra langsung pergi setelah membereskan meja makan.
__
Bagas tiba di depan rumah Zahra, terlihat Adam hendak melangkah keluar kemungkinan akan berangkat kerja.
"pagi pak Adam"
sapa Bagas saat menghampiri Adam
"pagi juga"
"loh nak Bagas? "
Ucap Adam sedikit terkejut
"Iyah pak"
Bagas menyalami Adam
"nak Bagas kemana saja? "
"Iyah pak, saya mengawasi proyek papah di kota C"
tutur Bagas
"ohh begitu"
"Iyah pak, Oh Iyah Zahranya ada pak? "
tanya Bagas sambil melirik pintu rumah Adam
“Zahra sudah pergi ke resto dari tadi nak Bagas”
Ucap Adam
“ehm begitu yah pak”
“bapak mau berangkat kerja, biar saya antar yah pak”
Tawar Bagas
“Iyah nak Bagas, tapi bapak sudah janjian sama teman bapak buat berangkat bareng”
Tolak Adam secara halus.
“ehmm begitu yah pak, yasudah ya pak saya mau nyusulin Zahra dulu.
Bagas menyalami dengan takzim tangan Adam
“Walaikum salam “
Adam tersenyum .
Adam masih menatap mobil Bagas yang sudah menjauh. Adam juga berharap Bagas dan Zahra baik-baik saja.
--
“Selamat pagi mbak? “
Sapa Gracia saat melihat mbak boss datang.
“pagi Gracia”
Ucap Zahra, ia segera menuju dapur untuk mencari apron miliknya.
“loh mbak kok pakai apron? “
“mbak mau buat sarapan? “
Tanya Ika sambil memperhatikan apron yang di kenakan Zahra
“enggak kok, hari ini Desi yang jaga kasir mbak milih ikut masak aja”
"lagipula Desi kan sudah paham"
Tutur Zahra sambil melihat catatan yang tertempel di dinding . catatan menu hari ini.
Ika hanya manggut-manggut.
Zahra mulai menyiapkan bahan-bahan yang di bantu oleh Ika sementara Gracia sudah mulai memasak menggunakan kompor yang lain.
Saat sedang memasak, Desi menghampiri Zahra
“mbak Ra, ada yang mau ketemu sama mbak”
Ucap Desi
“siapa? Apakah sepagi ini sudah ada pelanggan? “
Tanya Zahra
“sepertinya bukan pelanggan deh mbak”
__ADS_1
Desi yang baru masuk seminggu yang lalu tidak mengetahui jika yang mencari Zahra adalah Bagas.
“yasudah, sebentar lagi mbak kesana”
“Ika kamu tinggal masukkan bumbu iris yah, jangan lupa tes rasa “
Perintah Zahra
“baik mbak”
Ika mengambil alih masakan sementara Zahra berjalan menemui seseorang yang mencarinya.
Bahkan Zahra tak melepaskan apron yang melekat di tubuhnya.
Zahra mengernyitkan kening sesaat melihat tubuh seorang lelaki membelakanginya.
Tanpa melihat wajahnya Zahra tahu siapa orang tersebut.
Sementara Bagas mendengar langkah kaki yang berhenti tepat di belakangnya membuat ia menoleh
“Zahra”
Senyum manis mengembang memperlihatkan lesung pipinya .
Sementara Zahra menatap tanpa ekspresi tidak tersenyum bahkan tidak menjawab.
“Ra , kakak mau bicara sama kamu”
Ucap Bagas lembut
“bicara soal apa?”
Akhirnya Zahra bersuara dengan tatapan datar.
“Ra, kakak mau jelasin sebenarnya kakak menghilang itu karena kakak lag... “
“untuk apa di jelaskan setelah di lakukan”
Seka Zahra membuat Bagas terdiam.
Untung saja resto masih dalam keadaan sepi hanya beberapa karyawan yang tengah berberes di sudut ruangan.
“Ra dengarin dulu penjelasan kakak”
Pinta Bagas
“sebelum kakak pergi meninggalkan Zahra di taman dua minggu yang lalu. Apa kakak mau mendengarkan penjelasan Zahra? “
Zahra balik bertanya dengan tatapan tajam
Membuat bibir Bagas tertutup rapat seakan kelu hendak menjawab.
“Lalu untuk apa kakak datang setelah ratusan pesan dan panggilan dari Zahra kakak abaikan? “
“hukuman paling menyakitkan adalah saat seseorang menghilang dan memilih diam tanpa penjelasan”
Tutur Zahra
“Ra, kakak lakuin itu agar kamu sadar hubungan kita juga penting Ra”
“Kakak hanya ingin kamu sekali saja memprioritaskan hubungan kita”
Bagas menatap manik mata Zahra
“bukan kakak ingin mengakhiri hubungan kita, kamu salah paham Ra”
"kakak sayang sama kamu"
“apa dengan cara seperti ini? “
ketus Zahra
“lalu apa yang kakak inginkan? “
“kakak hanya ingin kita menjalani hubungan serius”
Terlihat raut wajah Bagas memohon.
Zahra menghela nafas , ia sebenarnya tidak ingin mengakhiri semua ini.
Tapi sebagai seorang wanita yang memiliki tingkat egois serta gengsi di atas rata-rata membuat Zahra bertahan dengan sikap ketusnya.
“baiklah kalau itu yang kakak inginkan”
“Zahra penuhi”
Zahra menarik tangan Bagas menuju mobil membuat Bagas terlihat bingung.
“kita mau kemana? “
Tanya Bagas
“buka pintu mobilnya “
Ucap Zahra saat tahu pintu mobil Bagas masih terkunci.
Setelah Bagas membukanya, Zahra terlebih dahulu masuk dan langsung memasang seltbeld.
Bagas hanya terdiam melihat Zahra, membuat Zahra mendongakkan kepalanya melalui kaca mobil.
“ayo cepetan “
Pinta Zahra membuat Bagas mau tidak mau turut masuk ke dalam mobil, walaupun ia tak tahu Zahra akan kemana.
__ADS_1
__