Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
95 buku harian


__ADS_3

"Kring………kring…kring"


bunyi alarm yang berasal dari jam wekker milik Zahra sudah berbunyi.


menandakan sudah pukul 5 pagi. mata Zahra masih terkatup namun tangannya meraba-raba nakas di samping tempat tidurnya, untuk mematikan alarm.


"Hoaaammmm"


Zahra menggeliat dan ia mengumpulkan segenap kesadarannya.


saat matanya sudah mulai terbuka sempurna , barulah ia mencari ponselnya.


Jari jemarinya menari ria di layar ponselnya. ia sedang mencari nama seseorang di ponselnya.


"Halo"


ucap Zahra dengan nada lembut


"iya halo. ada apa ya mbak? "


Sahut Gracia alias karyawan barunya.


"Grac mbak minta tolong yah kamu handle semua bagian dapur pagi ini. mungkin mbak akan terlambat sedikit "


ucap Zahra


"baik mbak, "


sahut Gracia tegas. Gracia merupakan salah satu siswa lulusan Kejuruan Tataboga. ia merupakan lulusan terbaik di Sekolah kejuruan ternama di kota ini.


Bramantio sudah memperhatikan baik dari skill maupun karakternya. maka dari itu ia tak sembarangan mencari karyawan khusus untuk di resto putrinya .


"baik lah terimakasih Gracia"


Zahra pun mengakhiri panggilan teleponnya. ia segera beranjak ke kamar mandi, sekedar untuk membasuh wajah.


Setelah itu seperti biasa ia akan mempersiapkan bekal untuk Adam.


.......


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Zahra baru selesai mandi. kini ia tengah bersiap-siap hendak ke resto.


pagi ini ia sengaja datang sedikit terlambat ia juga ingin melihat cara kerja Gracia saat ia menghandle semua pekerjaan tanpa dirinya.


Zahra telah selesai, kini ia keluar kamar hendak sarapan.


namun ia tak melihat sang ayah. bahkan bekal yang ia siapkan sudah tidak terdapat di atas meja.


"bik, bibik"


panggil Zahra


"iyah neng, ada apa? "


bi Darmi datang dengan membawa penggorengan di tangannya.


"ayah kemana bi? "


Zahra mencari keberadaan Adam, saat di lihat piring sarapan Adam masih terisi nasi yang sama sekali belum berkurang.


"bapak sudah pergi neng, bapak tadi buru-buru setelah mendapat telepon"


ujar bi Darmi


"jadi ayah belum sarapan bi? "


"belum neng, tuh sarapannya belum di makan sama sekali"


bi Darmi menunjuk piring di atas meja yang isinya masih utuh.


"Hmm ayah kalau ga di tunggui buat sarapan pasti ga bakal sarapan"


Gumam Zahra kesal.


"yasudah bi, terimakasih yah"


"bibi sudah sarapan? "

__ADS_1


tanyanya


"sudah neng, neng Zahra sarapan gih keburu siang"


ucap bi Darmi


"baik bi terimakasih "


Zahra pun duduk ia mengamati sarapannya. saat ia mengedarkan pandangannya ia melihat sebuah map berwarna hijau di bangku sebelahnya.


"sepertinya ini punya ayah"


ia memperhatikan map tersebut.


Zahra pun langsung mengambil ponselnya ia segera menghubungi Adam.


"halo ayah"


"apakah berkas ayah ada yang tertinggal? "


"yah Zahra menemukannya di bangku meja makan "


"Oh begitu, baiklah yah"


Zahra memutuskan sambungan teleponnya.


ia segera beranjak dari duduknya untuk meletakkan map yang berisikan berkas tersebut ke dalam kamar sang ayah.


tentu saja atas perintah Adam,sebab ia lupa membawanya dan beruntung berkas tersebut tidak sedang di butuhkan hari ini.


Zahra melangkah masuk ke dalam kamar Adam, perlahan tangannya membuka lemari kecil yang berada di samping tempat tidurnya.


Zahra pun meletakkan map tersebut di tumpukan buku.


pergerakan tangannya seketika terhenti saat melihat sebuah buku yang menurutnya unik, dan ia belum pernah melihatnya.


sebuah buku kecil dengan sampul berwarna biru, bahkan di bagian depan buku tersebut terdapat sebuah magnet kecil untuk membukanya.


ia pun meraih buku tersebut. karena penasaran apa isi dari buku itu.


Zahra terkejut saat melihat isi di bagian lembar pertama buku itu.


ada sebuah foto keluarganya ,dan tentu saja ada dirinya. di foto tersebut tampak Zahra masih kecil kemungkinan besar usianya masih 3 tahun.


"apakah ini buku harian ayah? "


gumamnya


tangannya pun berlanjut membaca tulisan di setiap lembar buku tersebut.


Zahra seakan bisa memflashback masalalu keluarganya hanya dengan membaca tulisan Adam.


Bahkan Zahra baru tahu jika dahulu Adam selalu mencium keningnya saat Zahra tertidur. tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun.


Zahra tahu sejak dahulu Adam tak pernah membencinya hanya saja karena dendam di masalalu sang ayah yang membuatnya bersikap demikian.


Zahra berlanjut membaca isi buku tersebut hingga di rasa lembaran yang berisikan curahan hati Adam tinggal tersisa dua lembar lagi.


Jarinya terhenti untuk membuka lembaran yang menurutnya paling mencuri perhatiannya.


sebuah curahan hatinya yang baru saja di tulis Adam kemarin. terlihat dari tanggal dan hari yang berada di sudut halaman buku ini.


"Venti apa kabarmu? aku merindukanmu. aku disini masih setia untukmu aku harap kau bahagia disana.


kau tak perlu risau aku disini bersama Zahra anakmu, kini ia sudah menjadi gadis yang baik dan sukses .


Namun, ada hal yang membuat hati ku pedih. sampai saat ini aku belum bisa menemukan anak kita Zahira. bagaimanapun juga dia tetap anakku dan anakmu aku tak mungkin bisa tenang sementara aku tak mengetahui keberadaannya serta keadaannya.


aku berjanji akan mencarinya dan membawanya pulang. "


Zahra menutup buku tersebut dan mengembalikan ke dalam lemari.


ia terduduk, selama ini ia mengira Adam sudah bahagia. ternyata dia salah.


Adam masih sedih dan sering memikirkan Zahira.


"Zahra bakal cari kakak yah"

__ADS_1


gumamnya, walaupun ia tahu sejak dahulu Zahira tidak menyukainya tapi ia akan tetap mencarinya. bagaimanapun juga Zahira adalah saudaranya bahkan satu rahim dengannya.


Hatinya masih merasa sakit ketika mengingat Zahira namun ia berusaha menepis rasa egoisnya demi Adam sang ayah.


..............


Malam teramat dingin, Zahra sudah bersiap hendak di jemput Bagas.


malam ini Bagas akan mengajaknya ke sebuah pesta, yang menurut penuturan Bagas adalah pesta yang diadakan oleh rekan kerjanya.


awalnya Zahra tak ingin ikut namun Bagas mengatakan akan mengajak wanita lain sebagai gantinya jika Zahra tidak ikut.


hal itu membuat Zahra mau tidak mau harus mengikutinya dari pada kekasihnya pergi dengan wanita lain.


walaupun Zahra tahu Bagas tak akan melakukan hal itu.


Sekitar 15 menit berlalu akhirnya Bagas datang. malam ini Bagas mengenakan stelan formal sementara Zahra dengan anggunmya mengenakan dress dengan warna senada dengan jas Bagas.


tentu saja mereka sudah janjian perihal baju.


"ga sia-sia"


ucap Bagas


"apanya yang ga sia-sia? "


Zahra mengernyitkan keningnya


"ga sia-sia kamu jadi pacar kakak. cantik banget"


Bagas memasang ekspresi lucu


"emang kalau ga jadi pacar kakak bakalan sia-sia yah? "


tanya Zahra


"ya iyalah, sia-sia kecantikannya tanpa kakak"


ucap Bagas menaik turunkan alisnya


"apaan sih ga jelas"


"dah yuk ah, keburu malam"


Zahra melangkah terlebih dahulu meninggalkan Bagas.


"Hei kita belum izin ke ayah"


tanya Bagas


"ayah belum pulang, Zahra sudah telepon ayah tadi"


sahut Zahra yang terus melangkah tanpa menoleh Bagas


"pintu rumah kamu bagaimana? "


Bagas terlihat bingung


"ada bi Darmi kak"


"sudah ayo "


rengek Zahra kesal


"kamu PMS yah? "


tanya Bagas yang kini sudah berjalan di samping Zahra


"Is kakak bertanya terus"


Zahra kesal entah apa sebabnya atau mungkin pikirannya sedang kalut memikirkan Zahira.


atau memikirkan ujian kuliah atau bisa jadi karena memikirkan resto.


yang jelas Zahra sedang tidak ingin banyak bicara.


.................

__ADS_1


__ADS_2