Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
55 malu-malu


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 5 sore, Eza bergegas hendak pulang .


ia merapikan meja kerjanya serta men shutdown komputernya .


"tring"


notifikasi pesan masuk di ponselnya


terlihat ada namanya Dewa tertera di layar handphonenya


"Za, gue tunggu lu di tempat biasa yah".


isi pesan dari Dewa teman dekat Eza.


tanpa membalas pesan tersebut, Eza pun melangkah keluar dari ruangannya.


ia berjalan menuju pintu masuk terlihat Bagas yang juga baru keluar dari lift.


Eza kemudian menghampiri Bagas.


"maaf pak, bapak hendak pulang? "


tanya Eza pada Bagas.


"iyah saya mau pulang, ada apa yah Za? "


"saya bisa minta tolong ga pak? "


Eza lupa, sore ini harus menjemput Zahra.


namun ia juga harus menemui temannya.


"minta tolong apa? "


Bagas menatap wajah Eza.


"Ehmm bapak bisa jemput Zahra kan, soalnya saya lagi ada urusan sama teman saya pak "


Bagas yang mendengar hal itu pun tak akan menolak jika bersangkutan dengan Zahra.


"Oh iyah ,biar saya saja yang menjemput Zahra"


Bagas tersenyum.


"terimakasih yah pak, kalau begitu saya duluan pak,"


"mari"


Eza dengan langkah terburu-buru keluar kantor.


Sementara Zahra sudah menunggu di depan Caffe, ia selalu melihat arloji di tangannya.


"kak Eza kemana sih, katanya mau jemput"


Eza celingukan melihat ke arah jalanan namun Eza tidak terlihat.


"aku pulang duluan deh"


Zahra bangkit dari duduknya, namun ia kembali duduk.


"Is kalau aku balik duluan ,entar dia nyariin lagii"


Zahra pun mengurungkan niatnya.


"dari tadi pesan ku ga di balas, di telpon ga di angkat.kak Eza sebenarnya kemana sih"


Zahra kesal, ia kembali melihat layar handphonenya berharap Eza membalas pesannya.


Tak berapa lama terlihat Bagas mengendarai motornya dan berhenti tepat di depan Zahra.


"Ayok Ra"


ucap Bagas membuat Zahra mengernyitkan keningnya karena bingung.


"ayo kemana kak? "


"yah pulang donk"


ucap Bagas ringan.


"Hah, pulang?. Zahra ga ada bilang mau pulang sama kakak"


Zahra memasang ekspresi bingung dengan kondisi mulut terbuka.


membuat Bagas tergelak karena tawa.


"Kakak kesayangan kamu yang minta supaya aku jemput kamu Ra"


"kakak? "


"kak Eza maksudnya? "


tanya Zahra.


"iyah Ra"


ucap Bagas.


Zahra melirik penuh selidik, takut jika Bagas berbohong.


Bagas hanya tertawa melihat Zahra.


"aku ga bohong Ra"


Bagas paham Zahra tidak mempercayai ucapannya.


Zahra pun melihat layar handphonenya dan mencari nama seseorang untuk segera di hubungi.


"Hallo"


ucap Zahra saat telepon sudah tersambung

__ADS_1


"Hallo Ra"


ucap Eza di seberang telepon, sebab saat ini Zahra meneleponnya.


"kakak kemana? apa bener kakak meminta kak Bagas untuk jemput Zahra? "


rengek manja Zahra pada Eza.


Bagas yang melihat hal itu pun percaya dengan ucapan Eza siang tadi. bahwa Eza sangat menyayangi Zahra layaknya adik kandungnya.


terbukti dari sikap Zahra yang manja seakan telah nyaman dengan Eza.


"maaf in aku yah, aku ada urusan sama teman, kamu balik sama Bagas aja yah. aku yang minta dia buat jemput kamu"


"tapi kakak janji mau jemput Zahra terus mau ke alun-alun kota"


Zahra kesal sebab Eza mengingkari janjinya. malam tadi Eza telah berjanji untuk mengajak Zahra menikmati suasana sore hari di alun-alun kota.


"maafin aku yah, soalnya aku ada penting Ra. ehm ya udah sebagai gantinya kamu mau aku bawak in apa pulang nanti"


bujuk Eza pada Zahra.


"Zahra ga mau! "


jawab Zahra ketus ia pura-pura ngambek.


"sih Zahra jangan ngambek donk, Yaudah aku bawain sate kambing kesukaan kamu deh. tapi jangan ngambek. nih aku beneran ada urusan ga bohong"


kebiasaan Eza selalu menyuap Zahra dengan makanan ketika Zahra ngambek.


"Yaudah iyah kak, kalau ada sate kambing Zahra ga ngambek"


Zahra nyengir manja.


"Huh dasar!, suka di bujuk pake makanan baru seneng"


"Yaudah nanti aku bawain. udah dulu yah"


Eza pun mematikan sambungan teleponnya.


"Iss ngeselin! "


gerutu Zahra sambil memasukkan handphonenya ke dalam tas miliknya.


Bagas yang melihat Zahra kesal pun berinisiatif .


"udah yuk, pulang"


ucap Bagas


Zahra hanya mengangguk dan beranjak naik ke atas motor Bagas.


"pegangan donk"


goda Bagas membuat Zahra membulatkan matanya.


"kayak begini Ra"


Bagas meraih tangan Zahra dan melingkarkan ke pinggangnya membuat pipi Zahra bersemu merah.


namun tidak menuju arah kost Zahra melainkan berlawanan arah.


"loh! . kita mau kemana kak? "


"kost Zahra arah sana kak"


ucap Zahra ke heranan.


"tadi kamu bilang mau ke alun-alun kota, Yaudah yuk sama aku aja. Lagian kakak kamu kan lagi ada urusan"


ucap Bagas santai.


Zahra bingung sedari tadi Bagas selalu menyebut Eza dengan sebutan Kakak.


namun Zahra tak berani bertanya.


sekitar 15 menit kemudian Sampailah Zahra dan Bagas di alun-alun yang terletak di tengah kota.


Suasana sore hari di tempat ini terasa nyaman.


terlihat banyak sekali orang yang sedang bersantai, bahkan bermain bola di lapangannya.


juga banyak booth yang menjajakan makanan dan minuman , yang membuat air liur menetes karena aromanya yang menggugah selerah.


Bagas memarkirkan motornya, kemudian ia mengajak Zahra untuk sekedar jalan-jalan.


"ayo Ra"


tangan Bagas menggandeng tangan Zahra.


membuat Zahra terdiam tak mampu untuk melangkah.


ia hanya melihat gandengan tangan Bagas.


"sama Pacar masih aja malu-malu "


ledek Bagas membuat Zahra tersenyum canggung.


Bagas dan Zahra keliling sambil melihat-lihat suasana yang cukup ramai.


Zahra pun menikmati suasana di tempat tersebut.


"capek ga? "


tanya Bagas.


Zahra mengangguk.


"Yaudah yuk kita duduk di situ "


jari Bagas menunjuk salah satu booth yang menjual aneka minuman boba yang sedang trend.

__ADS_1


Zahra pun hanya menurut.


setelah Bagas memesan minuman ia pun duduk kembali di samping Zahra.


"suka ga sama suasananya" Bagas melihat ke arah Zahra.


"suka kak, walaupun rame tapi tetap aja nyaman" Zahra mengulas senyum..


tangan Bagas terulur merapikan rambut Zahra yang berantakan karena tertiup angin.


membuat Zahra tertegun karena perlakuan Bagas.


"kamu manis kalau lagi senyum" ucap Bagas sambil menatap lekat manik mata Zahra.


membuat Zahra salah tingkah.


"Ck. kakak gombal"


Zahra mengalihkan pandangannya agar Bagas tak melihat pipi Zahra yang kini sudah bersemu merah seperti tomat.


Bagas merasa gemas melihat tingkah Zahra.


"silahkan mas"


ucap pedagang minuman yang sedang mengantarkan pesanan Bagas tadi.


"Oh iyah terimakasih mas" balas Bagas dengan ramah.


Zahra dan Bagas pun menikmati pesanan mereka.


"kak"


panggil Zahra.


"hmm"


Bagas menyahut dengan deheman.


"tadi mamah kakak datang ke Caffe tempat Zahra bekerja dan nemuin Zahra"


ucap Zahra.


"Brrrrrrpppppttt"


Bagas menyemburkan minumannya karena terkejut mendengar penuturan Zahra.


"eh kakak? "


Zahra terkejut.


"mamah marahin kamu lagi Ra? "


"Ckk, Apasih maunya mamah"


Bagas mengepal tangannya karena kesal


"eh kak, bukan kok"


"mamah kakak ga marah sama Zahra justru mamah kakak minta maaf sama Zahra"


Zahra mengulurkan tangannya dan mengelap sudut bibir Bagas yang basah karena sisa minuman.


Bagas yang semula merasa kesal menjadi terenyuh oleh perlakuan Zahra.


"mamah kamu ga marah lagi ko kak, Zahra juga minta maaf yah kak, soalnya Zahra sempat marah-marah juga sama mamah kakak"


Wajah Zahra terlihat sendu


"Iyah aku maafin kok"


"Oh iyah kak, Zahra juga udah minta izin buat dekat lagi sama kakak. terus mamah kakak ga melarang"


Bagas mendengar hal itu turut merasa senang. itu artinya tidak ada halangan lagi untuk hubungan mereka.


"terimakasih yah Ra, kamu udah kasih kesempatan buat aku terus kamu juga udah mau maafin mamah aku"


Bagas menggenggam tangan Zahra dan di balas oleh Zahra.


"sama-sama kak, kita mulai semuanya dari awal yah"


Zahra tersenyum manis.


"grepp"


Bagas memeluk tubuh Zahra ia tidak perduli dengan suasana di sekelilingnya.


hatinya terlampau bahagia.


"ih kakak, ini di tempat umum"


Zahra melepaskan pelukan Bagas dan melihat keadaan sekitar.


Bagas tertawa melihat Zahra.


"ehm berarti kalau ga di tempat umum, "


Bagas menunjuk bibirnya.


Zahra paham apa maksud Bagas.


"Issss dasar mesum!"


ketus Zahra memalingkan wajahnya karena malu.


Bagas hanya terkekeh ia sangat menyukai wajah Zahra yang terlihat malu-malu seperti ini.


itu membuatnya menjadi tambah gemas.


.....................


Hahh Author baper sendiri 😩😩.

__ADS_1


Yaudah deh... jangan lupa yah like dan votenya ...


😊😊😊😊


__ADS_2