Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
25 kenyataan pahit


__ADS_3

Venti terduduk lemas di tepi ranjang, kondisinya yang masih lemah dan belum sepenuhnya pulih membuat tubuhnya terasa lemas, dengan air mata yang masih mengalir.


"ibu"


Zahra menghampiri ibunya dan ikut duduk di tepi ranjang.


"bu tolong jelaskan ke Zahra apa maksud ayah bu? "


Venti semakin terisak


"bu, rahasia apa yang sebenarnya ayah dan ibu sembunyikan dari Zahra. apa maksud ayah bu? "


"jawab Zahra bu"


Zahra menghujani pertanyaan kepada ibunya ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


Perlahan Venti membalas genggaman tangan Zahra dan mengangkat pandangannya melihat Zahra.


"ibu akan memberitahumu nak, asalkan kamu Janji tak membenci ibu"


suaranya terasa berat mengucapkannya dan sorot matanya melemah ketika beradu pandang dengan Zahra.


"Zahra janji bu Zahra gak akan benci ibu. bagaimana bisa Zahra membenci orang yang sudah mempertaruhkan nyawanya demi Zahra bisa lahir ke dunia ini"


Genggaman tangan Zahra tak terlepas


"apa yang di katakan ayahmu benar Ra kamu bukan anak kandungnya"


Venti kembali tertunduk


"duaaaaaaaarrrrrrrr"


Bagai di sambar petir di siang bolong, Zahra sungguh tak menyangka kenyataan pahit ini ia dapati. semua alasan dan perlakuan ayahnya terjawab sudah dengan kalimat yang di ucapkan ibunya barusan.


Perasaan Zahra hancur mengetahui kebenaran ini. benar kata orang lebih baik merasakan sakit karena kejujuran.


Bahkan nenek Zahra tak pernah menceritakan rahasia sebesar ini padanya.


"Lantas Zahra ini anak siapa bu? "


dengan perasaan kalut Venti menceritakan semua yang terjadi pada Zahra tanpa ada yang terlewatkan.


walaupun ia takut jika Zahra akan membencinya dan enggan menemuinya kembali, tapi semua sudah terlanjur ia harus mengatakan sejujurnya.


cepat atau lambat Zahra juga harus mengetahui siapa ayah biologisnya.


Dan benar saja air mata Zahra tak bisa di bendung mendengar semua penjelasan ibunya.


"maafkan ibu nak, ibu terpaksa melakukan hal itu selama bertahun-tahun lamanya, karena ibu sudah janji padanya untuk tak menyayangi mu melebihi Zahira"


Venti berusaha mengatakan sejujurnya pada Zahra.

__ADS_1


"ibu takut jika dia membawamu ke panti asuhan. ibu tak ingin berpisah denganmu nak ibu menyayangimu"


"Bu"


"Zahra gak marah sama ibu Zahra juga gak pernah membenci ibu. justru Zahra yang minta maaf ke ibu karena Zahra udah berpikir kalau ibu tak menyayangi Zahra.


Genggaman tangan Zahra semakin kuat untuk meyakinkan ibunya, agar ibunya tak merasa bersalah.


"bu sekarang Zahra sudah dewasa, Zahra juga harus tahu siapa ayah Zahra sebenarnya"


"bagaimana ibu memberitahu mu Ra?"


Venti terdiam sejenak mengingat suatu hal. sepertinya ia masih menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan Bram.


Venti berusaha bangkit dari duduknya dan melangkah menuju lemari kayu yang berukuran cukup besar yang terletak di sudut kamarnya.


ia membuka sebuah tas hitam di bawah tumpukan baju,venti mengambil sebuah buku kecil dengan sampul terbuat dari kulit.


buku itu terlihat sudah usang karena termakan usia. ia juga mengambil sebuah gelang dengan tali berwarna hitam dan sebuah huruf BV di tengahnya.


"apa itu bu? "


Zahra berjalan mendekati ibunya


"ini buku diary ibu, sepertinya ibu menyimpan sesuatu disini"


tangannya membalik lembaran buku usang tersebut. seketika gerakan tangannya terhenti melihat di salah satu lembaran buku ada foto yang tertempel beserta biodatanya.


ia meletakkan pita pembatas di lembaran buku yang terdapat foto tadi dan menutup buku itu kembali.


"kamu bisa gunakan buku ini sebagai petunjuk untuk mencari keberadaan ayahmu, di dalam buku ini terdapat fotonya bahkan lengkap dengan biodatanya"


Zahra mengambil buku itu


"dan ini gelang miliknya,ibu yakin ia masih mengingat gelang ini"


gelang itu adalah pemberian Bram untuk Venti mereka memiliki gelang yang sama dengan inisial huruf depan nama mereka yaitu BV


"setahu ibu ia menikah dan pindah ke kota B "


Zahra terkejut kota yang di sebut ibunya adalah kota dimana Zahra sekarang tinggal dan bekerja namun ia tak memberitahukan ke ibunya soal itu.


kemungkinan besar hal itu bisa menjadi petunjuk buat dirinya.


"ibu masih menyimpan semua ini? "


"iyah. apapun yang terjadi di hidup ibu, bahkan orang yang menjadi bagian dari hidup ibu semua ibu cantumkan di buku itu dan gelang itu ibu tak pernah membuangnya"


Venti melangkah menuju lemari kecil di samping tempat tidurnya.


ia mengambil gunting di dalam laci lemari itu.perlahan ia membuka ikatan rambutnya dan memotong bagian ujung rambutnya cukup banyak.

__ADS_1


"apa yang ibu lakukan?"


Zahra terheran mengapa ibunya memotong rambutnya


"tolong kamu simpan potongan rambut ibu ini nak"


"buat apa bu? "


"ini bisa kamu gunakan untuk tes DNA, jika suatu saat kamu menemukan seseorang yang ciri-cirinya dan data dirinya sama dengan yang ada di buku ibu"


Venti menyerahkan potongan rambutnya pada Zahra


"Zahra yakin bu bisa temuin orang itu"


" berusaha lah nak ibu berharap kamu bisa bertemu dengannya"


Venti sangat berharap Zahra bisa menemukan Bram walaupun seperti mencari jarum di atas jerami. semoga ada keajaiban untuk Zahra.


"bu, boleh kah Zahra bertanya sesuatu? "


"iyah Ra"


Venti kembali duduk di tepi ranjang dan mengikat rambutnya, yang disusul oleh Zahra.


"apakah ibu masih mencintai laki-laki itu? "


tanya Zahra penasaran sebab Venti masih menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan laki-laki itu.


"dulu ibu sangat menyayanginya juga mencintainya bahkan hubungan kami berdua terjalin cukup lama. sampai akhirnya orang tua ibu memiliki hutang pada orang tua ayah Zahira. hal itu yang membuat ibu di jodohkan dengan Adam dan semenjak kehadiran Zahira ibu tak mencintainya lagi. ibu fokus pada mas Adam dan Zahira"


Zahra hanya mengangguk tak bertanya lagi


"bu Zahra tak bisa berlama-lama disini Zahra takut ibu bakal di marahin ayah"


Zahra mengurungkan niatnya untuk menginap disini ia takut ibunya juga akan menjadi sasaran kemarahan ayahnya.mengingat kondisi ibunya yang belum sembuh total.


"iyah nak jaga dirimu baik-baik yah, ibu sangat menyayangimu"


Venti memeluk Zahra dan mencium pucuk kepala gadis itu.


*************


Terimakasih guys yang sudah like, vote dan buat yang masih setia menunggu Zahra , Author cuma bilang I love you all. ❤❤❤


dapet like sama vote dari kalian itu berasa dapet doorprize guyss. 🤑🤑🤑


Author masih pusing memikirkan alurnya jadi harap sabar yah 😘


Salam Manis Author


~EtyRamadhii

__ADS_1


__ADS_2