
Hay guys,
di part ini Author ngetiknya Emosi sendiri.
kalau ga ada yang like and Vote tega bener dah 🙁😭😭
Happy Reading 🤗
……………………………………
cuaca pagi ini terlihat cerah dengan dukungan sinar mentari yang terik. saat ini jam sudah menunjukan pukul 9 pagi.
Zahra berdiri di pinggir jalan raya ia sedang menunggu angkutan umum untuk ke kantor.
Zahra baru saja pulang dari rumah sakit, pagi tadi Zahra bahkan sudah menghubungi Laras agar menyampaikan pada Pak Hendra bahwa Zahra hari ini tidak bekerja
dengan waktu yang full.
Sebab Pagi ini Zahra harus kerumah sakit untuk melakukan tes DNA. Niat Zahra untuk melakukan tes tersebut sudah bulat.
Sayangnya hasil tes baru bisa di ketahui sekitar 2 minggu kedepan. hal itu membuat Zahra harus sabar menunggu.
Sesampainya di kantor Zahra langsung bekerja seperti biasa, dan tidak ada lagi ribuan pertanyaan dari teman-temannya, hal tersebut membuat dirinya sedikit legah.
……
Siang ini Hera memutuskan untuk ke kantor Bagas. Hera penasaran siapa gadis yang di ceritakan suaminya malam tadi, gadis yang saat ini memiliki hubungan dengan anaknya.
Jujur saja saat ini Hera sedang emosi dan merasa kesal dengan gadis itu. sungguh lancang gadis itu berani mendekati anaknya tanpa melihat status sosial dirinya terlebih dahulu.
Hera berangkat ke kantor Bagas dengan di antar oleh supir pribadinya.
tak butuh waktu lama untuk Hera sampai di kantor Bagas. sesampainya di sana ia langsung mencari keberadaan gadis yang bernama Zahra tersebut.
Semua karyawan memandang Hera dengan tatapan heran. mereka bingung , hal apa yang membuat istri dari pemilik perusahaan ini datang ke kantor.
Hera berjalan mencari keberadaan sekretaris Bagas. ia langsung menuju ruangan Mora, terlihat Mora sedang menyusun berkas.
"Mora" panggil Hera
"Ehh ibu, ada apa yah bu? "
Mora menghampiri Hera yang sedang berdiri di ambang pintu.
"bisakah kamu memberitahukan kepada saya mana Cleanning servis yang bernama Zahra"
"bisa bu, mari bu saya antar"
Mora bertanya-tanya dalam hati mengapa ibunya Bagas mencari Zahra. namun Mora tidak berani menanyakan hal itu secara langsung.
akhirnya Mora meliha Zahra, gadis itu sedang mengepel lantai.
"itu bu yang namanya Zahra"
Mora menunjuk ke arah Zahra
"oke terimakasih"
Hera dengan langkah cepat mendekati Zahra ia langsung mencekal lengan Zahra dengan kuat dan menariknya.
Zahra yang sedang mengepel pun terkejut dan menjatuhkan pengepelnya ke lantai.
"maaf bu, ada apa yah bu? "
Zahra berusaha melepaskan tangan Hera yang saat ini menariknya.
Hera terus menarik Zahra dan membawanya ke lobby, semua mata karyawan tertuju pada Hera yang dengan kasar menarik Zahra.
__ADS_1
Hera menghempaskan lengan Zahra hingga Zahra terjatuh di lantai.
"saya ingatkan sama kamu, jauhi anak saya atau saya akan bertindak lebih kasar dari ini"
Mata Hera membulat meluapkan emosinya.
"Harusnya kamu sadar siapa kamu dan siapa anak saya. Kamu hanya seorang Cleanning servis yang sama sekali tidak pantas dengan anak saya"
Hera menunjuk Wajah Zahra, adegan tersebut menjadi bahan tontonan para karyawan namun tidak ada yang berani menolong Zahra.
Runi yang melihat Zahra di perlakukan demikian pun langsung berlari menuju ruangan Bagas.
"Pakk…pak…pak Bagas"
Dengan napas terengah-engah Runi mengetuk pintu ruangan Bagas sambil berteriak.
"ada apa? "
"kenapa kamu teriak-teriak? "
Bagas terkejut melihat Runi
"itu pak, anu pak ,itu"
"anu itu apa? "
"bicara yang jelas"
Bagas sedikit marah sebab ia tak mengerti apa yang di bicarakan Runi.
"Zahra pak Zahra"
"Dia lagi di marahin sama bu Hera"
Bagas membulatkan matanya
"Zahra? "
Bagas yang mendengar hal itu langsung berlari menuju lobby.
Sementara Hera masih memarahi Zahra bahkan ia dengan tega mengeluarkan kalimat yang kasar.
Awalnya Zahra hanya terdiam, bukan ia tak berani melawan hanya saja dia masih menghormati istri dari pemilik perusahaan ini.
"kamu butuh uang berapa, saya bakal kasih ke kamu berapa pun itu,asal kan kamu jangan mendekati anak saya lagi"
"saya tahu kamu hanya ingin morotin uang anak saya. bahkan kamu tak lebih sebagai wanita murahan yang menggilai harta"
Kata-kata Hera benar-benar tajam bak belati yang langsung menancapkan di hati Zahra.
Zahra yang semula diam pun akhirnya tersulut emosi.
Zahra tidak akan diam ketika harga dirinya di persoalkan apalagi di rendahkan.
bahkan tidak ada lagi respect di diri Zahra untuk orang yang berada di hadapannya ini.
Zahra bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Hera dengan tatapan tajam, membuat Hera melangkah mundur.
"jaga ucapan ibu, dari tadi saya diam dan berusaha menghormati anda yang notabenya ibu dari bos saya. Tapi ketika ibu merendahkan bahkan menginjak-injak harga diri saya, saya tidak tinggal diam"
Zahra menunjuk kan Jarinya tepat di wajah Hera, emosi Zahra benar-benar meluap ketika ia di sama ratakan dengan wanita murahan.
Zahra memang tidak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, tapi bukan berarti sekarang ia tumbuh menjadi gadis rendahan yang tidak bermoral.
"Saya memang hanya seorang Cleanning servis bu, tapi saya tidak menghalalkan semua cara hanya demi uang".
Zahra benar-benar geram atas apa yang di lakukan wanita ini kepadanya.
__ADS_1
" saya memang tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tua saya tapi saya tahu bagaimana cara menghargai orang lain, tidak seperti ibu yang tidak memiliki attitude"
"bahkan ibu lupa, cara ibu menghina saya, menginjak-injak harga diri saya di depan semua karyawan di sini. itu sama aja membuka sifat asli ibu bahkan mencoreng harga diri ibu sendiri "
Secara tidak langsung Hera menunjukkan sifat aslinya sendiri ketika menghina Zahra di depan orang banyak.
"Terlalu miris, orang sukses dan kaya yang mengutamakan bibit, bobot, bebet, seperti ibu justru ibu sendiri yang tidak memilikinya. Bahkan seolah ibu tidak memiliki rasa malu menghina orang di depan umum menggunakan bahasa dan cara yang kasar"
Zahra tersenyum sinis, bahkan Zahra tidak peduli dengan siapa ia berhadapan saat ini.
ketika sudah menyangkut harga diri, Zahra tidak pernah takut sedikit pun.
Semua karyawan yang menyaksikan hal itu salut akan ke beranian Zahra termasuk Mora.
bahkan Pak Hendra tidak mengenali Zahra ketika sedang emosi seperti ini. Zahra termasuk karyawan yang baik penurut dan rajin terlebih dia gadis yang care pada siapapun. tapi sifat itu tidak lagi melekat di diri Zahra ketika seperti ini.
"Kurang ajar kamu yah "
"Mulai hari ini kamu saya pecat! "
Hera tidak terima dengan perkataan Zahra ia merasa tersinggung dan merasa di permalukan.
Bagas yang melihat hal itu pun langsung berlari mendekati mamahnya.
"mah"
"apa yang mamah lakuin mah? "
"Ingat Bagas mamah ga akan setuju kamu dengan wanita ini, wanita yang tidak memiliki rasa hormat dan sopan santun"
Hera menunjuk Zahra
"saya bahkan bisa menghormati orang gila yang berada di jalanan dari pada menghormati orang yang waras tapi dengan mudah dan lancang merendahkan orang lain"
Zahra tidak tinggal diam di saat Hera terus menghinanya.
"Cukup Zahra"
Bagas membentak Zahra ia tidak terima ketika Zahra mengatakan hal itu pada ibunya.
"kamu sudah kelewatan Ra"
Ucap Bagas
Zahra semakin emosi ketika Bagas membentaknya.
"kamu ngatain aku kelewatan ?.lantas ibu kamu menghina dan ngatain aku murahan itu yang kamu anggap wajar"
"Ingat Bagas cinta itu bukan untuk di tukar dengan uang, selama ini aku tulus cinta sama kamu bukan karena harta kamu. aku pikir kamu nepatin janji kamu buat jagain aku .tapi kenyataannya kamu bahkan membela ibu kamu yang salah dan memperlakukan aku kaya gini di depan semua karyawan kamu"
Tidak adalagi sebutan kakak maupun pak untuk Bagas. Zahra benar-benar kecewa.
"kamu sendiri yang ngeyakinin aku buat perjuangin semua ini tapi buktinya apa? "
"Omong kosong! "
Zahra berlalu untuk mengambil ranselnya di dapur.
Sementara Bagas masih berdiri mematung.
"apa yang sudah aku lakukan"
Bagas bergumam dalam hati.
Zahra kembali membawa ranselnya dan berlalu pergi meninggalkan kantor ini.
ia tidak memperdulikan panggilan Bagas.
__ADS_1
Banyak pasang mata melihat Zahra. mereka terkejut ternyata selama ini Zahra memiliki hubungan dengan Bagas.
teman-teman Zahra pun ikut sedih melihat Zahra di permalukan oleh ibunya Bagas. namun mereka tidak berani untuk membela Zahra sebab mereka tidak mengetahui pokok permasalahannya.