
Zahra kemudian beranjak berganti baju ia dan Kiran harus segera pergi ke rumah Vera.
ia meraih tas kecilnya tak lupa ia membawa diary sang ibu serta hasil tas DNA tersebut.
Zahra pun memakai gelang pemberian sang ibu.
Kiran hanya diam menatap Zahra, ia tak banyak bicara ia hanya percaya Zahra dapat membantunya.
saat Zahra sedang berganti pakaian Kiran sudah terlebih dahulu memesan taxi Online.
agar mereka cepat sampai kerumah Vera.
saat di rasa Zahra cukup ia pun mengajak Kiran untuk pergi.
"Yaudah yuk Kiran"
Kiran pun bangkit mengikuti Zahra.
tak selang beberapa lama taxi yang di pesan Kiran pun tiba.
di sepanjang perjalanan Kiran menggenggam tangan Zahra, mungkin hal itu sudah menjadi candu bagi Kiran saat ia dekat dengan Zahra.
sementara Zahra ia merasa gugup, ia harus mengungkap semua kebenaran itu saat mental dan keadaan dirinya belum siap.
sekitar 20 menit perjalanan taxi yang mereka tumpangi masuk ke sebuah komplek perumahan.
dan berhenti di salah satu bangunan rumah megah dengan dua lantai.
Kiran membayar taxi tersebut dan mereka segera turun.
di depan pagar terdapat seorang security yang menghampiri mereka.
"selamat malam non mau cari siapa yah"
tanya bapak security tersebut.
"maaf pak saya mau nyusulin mamah saya, saya anaknya pak Wijaya"
Security tersebut langsung mempersilakan mereka berdua untuk masuk. ia mengenali pak Wijaya.
terlihat di halaman rumah tersebut mobil Bagas telah terparkir.
"ini rumahnya pak Bramantio? "
Zahra mengangkat pandangannya melihat betapa megahnya rumah ini
"iyah kak"
jawab Kiran
Merek berdua langsung masuk ke dalam rumah tersebut dan sudah di pastikan saat ini dua keluarga tersebut berada di ruang makan.
sebab malam ini mereka mengadakan makan malam.
…
sementara di dalam rumah Bramantio, kedua keluarga tersebut sedang makan.
Wijaya merasa tidak nyaman berada disini, semua ia lakukan hanya karena demi menyelamatkan semua perusahaannya.
Begitu pun Bagas, ia sangat tidak ikhlas jika dirinya harus benar-benar melanjutkan perjodohan ini tanpa ada rasa cinta di hatinya.
"ayo nak Bagas di makan lagi makanannya"
Yura berusaha membuat suasana tidak hening.
Vera pun tersenyum sinis, ia merasakan kemenangan karena saat ini Bagas pasti akan menikahinya.
"Jadi bagaimana soal perjodohan ini? "
"kapan acara pertunangan mereka akan di langsungkan"
tanya Yura membuat Bagas berhenti menyuapkan makananya.
hening di antara mereka tidak ada yang menjawab.
tiba-tiba Zahra dan Kiran hadir.
"perjodohan ini tidak akan pernah ada "
Ucap Zahra lantang, membuat semua orang yang berada di ruang makan pun menoleh ke arahnya.
"kamu? "
Jawab Vera ia heran bagaimana bisa Zahra berada disini
Bagas tak percaya ia melihat Zahra begitu juga dengan Hera, ia membulatkan matanya.
"siapa kamu, berani-beraninya masuk ke dalam rumah saya dan lancang berbicara"
Yura terlihat marah, sebelumnya ia belum pernah melihat Zahra.
"Saya Zahra Andriani"
"Putri Pak Bramantio"
ucap Zahra dengan pandangan menatap ke arah semua orang yang berada di meja makan.
"kamu sudah gila yah"
"ngaco kamu. Mih suruh pak satpam usir dia"
rengek Vera pada Yura momynya.
__ADS_1
"apa maksud kamu? "
ucap Bramantio pada Zahra
Bramantio merasa kesal dengan apa yang di lakukan Zahra.
Zahra melangkah mendekat ia mengacungkan pengelangan tangannya .
"bapak ingat dengan gelang ini? "
Tanya Zahra membuat Bramantio membulatkan matanya.
jelas saja ia mengingat gelang tersebut bahkan ia juga menyimpan gelang yang sama.
"dari mana kamu mendapatkan gelang itu"
Bramantio terheran bagaimana bisa gelang tersebut ada pada Zahra.
"ibu saya yang memberikan gelang ini pada saya , ia meminta saya untuk mencari orang yang statusnya ayah kandung saya"
jawab Zahra lantang.
"Degggg"
jantung Bramantio berdegub ia tak menyangka jika Zahra benar adalah anaknya.
dugaannya benar anak yang di kandung Venti adalah anaknya.
"tanpa saya jelaskan bapak seharusnya tahu siapa saya"
"bapak ingat kejadian keji yang bapak lakukan kepada ibu saya"
Mata Zahra memanas
"Kejadian itu yang menghadirkan saya ke dunia ini dengan status anak biologis bapak"
Zahra benar-benar berusaha membongkar semuanya.
sementara Bagas ,Wijaya serta Hera mereka terdiam tidak mengerti apa maksud ucapan Zahra.
"saya Putri Venti sekaligus Putri bapak "
Bramantio beranjak dari duduknya ia masih tak percaya dengan semua ini.
Bagas baru paham ternyata sosok ayah yang di cari Zahra adalah Bramantio.
"ka…kau putriku"
ucap Bramantio
"iyah, aku adalah Putri bapak"
"bapak tahu apa yang terjadi dengan hidup saya ketika lahir dan menyandang status sebagai anak biologis bapak? "
"hidup saya tersiksa pak, bahkan ayah dan ibu saya enggan menerima saya "
"saya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka. ibu saya sampai harus menutupi rasa sayangnya demi menyelamatkan saya agar saya tidak di kirim ke panti. Bapak tahu ayah saya bahkan sangat membenci saya. kini hidup saya berantakan bahkan saya harus menghidupi diri saya sendiri pak. sementara bapak hidup bergelimang harta tanpa mengingat kejadian yang bapak lakukan"
Yura marah dengan apa yang di jelaskan Zahra
"jadi dia anak mu mas? "
tanya Yura sambil menarik lengan Bramantio
"benar saya adalah anaknya."
Zahra menjawab hal tersebut.
"kamu bohong, apa buktinya jika kamu anaknya papi. kalau hanya sekedar gelang banyak di pasaran yang menjual gelang seperti itu"
Vera tidak percaya mengira ini cuma ide konyol Zahra.
"kamu lakuin ini cuma karena kamu ingin perjodohan ini batalkan, "
suara Vera meninggi.
Zahra kemudian membuka tas kecilnya dan mengambil bukti tes DNA tersebut.
"saya punya tes DNA nya"
Zahra meletakkan kertas tersebut di meja makan.
Bramantio mengambil kertas tersebut dan membacanya
"saya mengambil rambut bapak ketika bapak mengajak saya ke barbershoop. rambut itu saya gunakan sebagai sample tes "
Bramantio jelas mengingat kapan ia mengajak Zahra ke Barbershop
"dan ini buku diary ibu saya, data diri bapak semua ada disini saya juga pernah memfoto data diri bapak sewaktu saya masih bekerja di kantor pak wijaya ternyata ada kesamaan di dalam data diri tersebut. "
Bramantio melihat buku yang di pegang Zahra terdapat fotonya ketika ia masih muda dahulu.
"ternyata Venti masih menyimpan ini semua"
Bramantio tidak menyangka.
"kamu mempunyai anak mas dengan wanita lain? "
Yura marah mengetahui kebenaran tersebut. ternyata Bramantio pernah melakukan hubungan terlarang sampai ia memiliki seorang anak.
"Cukup! "
Vera berteriak kesal, ia marah karena Zahra sudah membuat ke kacauan di acara makan malamnya.
__ADS_1
"kau hanya anak har*m. dengan tidak punya rasa malu kau mengungkapkan semua itu".
ucap Vera ketus membuat Zahra semakin emosi.
"kau menyebut ku anak har*m lantas apa bedanya dengan kau !"
"kau lupa. kau bahkan bukan anak Pak Bramantio. ingat itu !"
jarinya menunjuk Vera.
Kalimat Zahra sudah tidak lembut lagi ia bahkan tidak peduli jika keluarga Bagas tahu sifat Zahra.
yang ada di pikirannya saat ini adalah membongkar rahasia itu.
"tutup mulut mu! "
Lancang kamu berbicara
Yura emosi saat Zahra mengatakan Vera bukan anak dari Bramantio.
"Ibu Yura yang terhormat, saya akui permainan anda sangat bagus !"
Zahra menyeringai menarik sudut bibirnya sinis.
"Anda menghalalkan segala cara hanya demi harta" ucap Zahra sinis
"apa maksud kamu, jangan kurang ajar kamu"
Yura semakin emosi.
Hera pun ikut bangkit dari duduknya merasa kesal dengan apa yang di lakukan Zahra.
"dasar wanita tidak punya sopan santun"
ucap Hera ketus.
"mah. mamah jangan membentak kak Zahra "
Kiran yang semula diam pun kini ikut membuka suara,
"apa yang di katakan kak Zahra benar. kak Vera bukan anak om Bramantio, mamah tahu tante Yura melakukan ini semua semata-mata cuma karena harta .dia cuma menjebak keluarga kita mah"
Kiran menjelaskan
"Kiran? !"
bentak Wijaya pada putrinya
"jaga ucapan mu, papah tidak pernah mengajarkanmu bersikap demikian, "
Wijaya tidak menyangka putrinya berani berkata hal demikian tentang Yura.
"pah percaya sama Kiran apa yang di katakan kak Zahra itu benar"
"kak ayo kak tunjuki rekaman itu"
Kiran mengguncang lengan Zahra.
Zahra akhirnya mengambil ponselnya dan memutar rekaman tersebut.
seketika semuanya terdiam.
Bramantio mengepal kan tangannya matanya melirik Yura.
begitupun dengan Wijaya ia sangat kecewa dengan apa yang di lakukan Yura.
Untung saja Zahra cepat membongkar rahasia itu sebelum perjodohan ini berlangsung.
"Pak Bramantio bahkan bapak melakukan berbagai cara demi anak yang sama sekali bukan anak bapak. sementara saya anak kandungmu harus mati-matian bangkit karena beban hidup yang saya emban"
"apa yang bapak lakukan di masa lalu bukan hanya membuat ibu saya terpukul tetapi membuat hidup saya berantakan sampai saat ini"
Hera terdiam melihat Zahra selama ini orang yang di hinanya ternyata benar anak kandung dari Bramantio.
"jika bapak masih ragu dengan semua ini saya siap melakukan tes DNA ulang"
Zahra merasa legah ia sudah mengungkapkan kebenarannya.
Bramantio pun menangis menyesali perbuatannya. ia percaya dengan apa yang di ucapkan Zahra
sementara Yura dan Vera terdiam karena semua rahasianya telah terbongkar.
"Dan buat ibu Hera, Terimakasih atas hinaan yang ibu ucapkan saat itu untuk saya. bahkan sampai saat ini saya tidak akan mengganggu putra ibu lagi. "
Hera hanya terdiam tidak mampu menjawab ucapan Zahra
pandangan Zahra beralih ke Bagas.
"Bagas asal kamu tahu apa yang aku lakukan ini semata-mata bukan untuk membatalkan perjodohanmu, tapi untuk memberitahukan kebenaran yang terjadi "
" aku melakukan itu bukan karena untuk memperjuangkan hubungan kita. ingat Bagas aku ga akan memperjuangkan seseorang yang sama sekali tidak memperjuang kan aku"
Zahra pun melangkah pergi. ia tak sanggup jika harus berlama-lama di dalam rumah tersebut.
Bahkan ia sama sekali tidak mengharapkan pengakuan dari Bramantio. bagi Zahra ia membuka semuanya itu sudah cukup baginya.
.………………
ga seru ah ga ada adegan tonjok-tonjok an 😂😂
becanda guys
jangan lupa vote dan likenya di banyakin 😁😁😁
__ADS_1