
Suasana masih gelap, bahkan mentari belum terbit. hawa pagi yang dingin bagai belati yang menembus tulang-tulang.
Namun Zahra sudah bangun. ia mempersiapkan bekal Adam. walaupun hari ini hari pertamanya bekerja di resto namun ia tak melupakan tugasnya.
setelah selesai membuat bekal dan sarapan pagi yang di bantu oleh bi Darmi, Zahra langsung bergegas mandi.
Bi Darmi memutuskan untuk datang lebih awal karena ia tahu Zahra akan bekerja dan mengurus resto. bahkan acara grand opening kemarin bi Darmi turut hadir atas paksaan Zahra.
sementara Adam belum bangun karena hari masih sangat pagi, Tapi Zahra sudah selesai.
"bi, entar kalau ayah bangun bilang yah Zahra sudah ke resto"
Ucap Zahra sambil memakai arloji mungil di tangannya.
"iya neng entar bibi sampaikan. biar bekal bapak saya yang beresin neng. soalnya masih panas"
tutur bi Darmi lembut.
"iyah bu terimakasih ya bi. Oh iyah, bibi jangan lupa sarapan sebelum berberes "
Zahra tersenyum
"baik neng"
Zahra pun melangkah keluar dengan menyambar tas kecilnya yang berada di meja makan.
Zahra mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. sebab udara sangat dingin.
Tak butuh waktu lama Zahra sudah sampai di restonya. sepi belum ada siapapun disana karena karyawan akan datang sekitar pukul 7 pagi. dan kini masih pukul 5:30 pagi.
Zahra sengaja datang lebih awal selain untuk mengecek keadaan ia juga harus mengecek jika mang Urga penyetok sayur mayur serta aneka bumbu datang.
walaupun Zahra sudah sepenuhnya di beri tanggung jawab. bahkan bisa di katakan anak dari pemilik Resto ini tapi Zahra tak ingin berpangku tangan.
tak sepenuhnya pekerjaan di Resto ia emban kan kepada karyawan di sini.
………………
pagi ini Bramantio sudah berada di kantornya. semenjak ada Zahra ia sudah jarang tinggal di luar negri.
semua perusahaannya ia serahkan pada orang kepercayaannya.
kini ia menetap di negara tempat kelahirannya ini.
ia mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di samping laptop miliknya.
"aku rasa ini hari pertamanya untuk bekerja"
Gumam Bram sambil tersenyum
jari jemarinya menari di layar ponsel. ia mengetik pesan untuk putrinya.
"Selamat pagi putri papah. semangat buat hari ini, jaga kesehatan semoga usahanya lancar. Semangat"
isi pesan Bramantio yang di akhiri dengan emoticon tangan yang berotot.
"Tringgg"
tak butuh waktu lama Zahra sudah membalas pesannya.
"Pagi juga papah. terimakasih , papah juga harus jaga kesehatan. dan jangan lupa sarapan ingat ga boleh makan makanan yang instan. di Kurangin yah makan manis-manis. dan 1 lagi, semangat mengejar cintanya"
isi pesan Zahra membuat Bramantio tersenyum sambil menggelengkan kepalanya
"iyah anak papa yang bawel"
balasnya melalui pesan singkat.
Bram menghela nafasnya, ia teringat Sinta. bagaimana hubungan mereka kedepannya jika dirinya tidak mengambil tindakan.
sebenarnya ketika di acara kemarin baik Sinta maupun Eza mereka bersikap biasa saja seperti tidak ada masalah.
begitupun keluarga Wijaya mereka tidak ada menyinggung soal kejadian itu.
"mungkin aku harus menemui mereka"
gumamnya dalam hati.
pandangannya pun beralih ke ponselnya yang masih ia genggam. Bramantio mencari nama Sinta disana.
__ADS_1
ia segera menghubungi Sinta
"hallo"
ucapnya saat sudah tersambung.
"malam ini saya akan berkunjung ke rumah kamu, apa Eza malam ini dirumah? "
"ah baik lah saya akan kesana malam ini, "
"oke sampai nanti"
ia memutuskan sambungan teleponnya.
"ah aku harap semuanya bisa lancar, aku ingin melihat putri ku memiliki ibu "
Bramantio membayangkan wajah Zahra.
ia pun kembali berkutat dengan laptopnya
…....
Matahari bersinar tepat di atas kepala, itu menandakan bahwa waktu sudah siang.
Bagas memutar tubuhnya kekanan dan ke kiri. bokongnya terasa panas , karena sejak pagi tadi ia duduk dengan menatap layar monitor.
"ga makan siang pak"
sapa Eza yang masuk ke ruangan Bagas.
"bentar lagi deh, masih mau mereggangkan otot yang kaku"
sahut Bagas sambil menjepit lengan kanannya dengan tangan kiri. seperti gerakan senam.
"saraf lu kaku juga? "
ledek Eza sambil tertawa.
"serah kau saja lah "
Bagas menatapnya jengah. di ruangan Bagas hanya ada mereka berdua jadi mereka berbicara sesuka hati.
Eza duduk di sofa, sepertinya ia lupa dengan rasa laparnya.
"ya tentulah, kau juga pasti pergi dengan Rianda kan"
mereka di undang ke acara parti salah satu Client mereka. acara tersebut di adakan di sebuah gedung mewah yang terletak di samping pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
"yah jelas lah"
sahut Eza santai.
"Good lah"
Bagas turut duduk di samping Eza.
perlahan Bagas melirik Eza sekilas.
"Ehmmm aku boleh nannya sesuatu? "
tanya Bagas lembut.
"Dih najis, tinggal nannya doang ga usah lebai"
Eza merasa geli saat Bagas permisi hendak bertanya padahal biasanya Bagas selalu berbicara asal tanpa permisi.
"aneh yah, sopan salah barbar salah. dasar kanebo kering"
gerutu Bagas membuat Eza terkikik geli hingga wajahnya merah padam karena tawa.
"aku serius "
"tak"
satu jitak an mendarat sempurna di kepala Eza , membuatnya menghentikan tawanya.
"oke-oke. aku serius"
ucap Eza sambil nyengir memegangi kepalanya yang sedikit panas karena jitak an dari Bagas.
__ADS_1
"Soal pak Bramantio "
Bagas melirik Eza
"kenapa? "
"yahh, apa kau tak menyetujui jika dia menjadi ayahmu? "
Bagas berhati-hati mengatakan hal itu khawatir akan menyulut emosi Eza .
" menurutmu? "
tanya Eza kembali dengan wajah bingung.
"Yah mana aku tahu, "
Bagas menggendik kan bahunya
"awalnya aku ga setuju tapi setelah mendengar masukan dari Rianda bahkan dari ibuku. aku jadi yakin mungkin tidak ada salahnya jika aku memberi persetujuan untuk kebahagiaan ibu ku"
tutur Eza
"aku yakin pak Bramantio sungguh-sungguh dengan ucapannya"
timpal Bagas
"maksudnya? '
Eza menaik kan sebelah alisnya mencari jawaban.
"iyah, aku rasa ia sungguh-sungguh ingin menikahi ibumu. lagipula mereka kan sama-sama singel jadi tidak ada salahnya kan. aku tahu pak Bramantio sejak lama jadi aku yakin pasti dia akan menyayangi dan melindungi ibumu"
"lagipula Zahra juga menyayangi ibu mu dan yahh juga menyayangi mu"
Bagas memutar bola matanya jengah.
"hahahha apa kau cemburu melihat Zahra sayang padaku? "
Eza menggoda Bagas agar lelaki di sampingnya itu emosi.
"awalnya sih aku cemburu tapi setelah melihat Zahra sangat dekat dengan ibumu bahkan dia menganggapmu abang kesayangannya jadi aku sudah terbiasa"
"lagipula aku sudah tahu ketika kau memperlakukan Rianda dan Zahra .hal itu sudah bisa menjelaskan kalau kau memperlakukan dua gadis itu dengan istimewa. namun bedanya kau memperlakukan Rianda layaknya pasangan hidupmu sementara Zahra, kau memperlakukannya seperti adik kesayanganmu"
tutur Bagas panjang lebar. sebenarnya ia tidak cemburu hanya saja yah ingin menjelaskan kepada Eza.
"kau tenang saja, aku menyayangi Zahra karena dia adikku. siapapun tak ku izinkan menyakitinya. dan jika kau sendiri menyakitinya dan membuatnya menangis siap-siap akan aku simpul tulangmu"
ancam Eza dengan ekspresi wajah datar.
"hahahah kau tenang saja aku mencintainya dan aku tidak akan menyakiti adik kesayanganmu"
Bagas tertawa saat Eza mengancamnya.
"dan kau sendiri kapan berencana akan menikah? "
tanya Bagas mengalihkan pembahasan.
"aku ingin secepatnya, tapi saat aku tahu ibuku punya niatan untuk menikah jadi biarlah ibu ku dulu. "
"kalau kau kapan akan menikahi adikku hmm"
Eza menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"kalau aku sudah ingin menikah hanya saja kau tahu adik mu, ia masih kuliah di tambah lagi kini ia masih ingin mengembangkan restonya. mau tidak mau aku harus menurutinya. "
Bagas menghela nafas
"sudah lah jalani saja dahulu, "
Eza menepuk pundak Bagas
"ah iya. sudahlah aku lapar kita ke kantin yuk atau kita ke resto? "
ajak Bagas
"Ehmm boleh lah. "
keduanya pun beranjak hendak makan siang.
__ADS_1
.........