
terpaksa hari ini Zahra pulang menggunakan jasa Ojek Online yang di pesannya, perdebatan dengan Bagas barusan membuat dirinya enggan di antar pulang.
dirinya sangat merasa aneh dengan bossnya tersebut, Zahra memijat keningnya yang berdenyut sakit.
"Tringgggggg"
ada notifikasi pesan di handphonenya
"Maya"
Zahra mengerutkan keningnya melihat nama yang tertera di layar handphonenya.
Maya adalah teman Zahra sejak kecil, letak rumah Maya tak jauh hanya berjarak 3 rumah dari rumah Zahra.
saat ini hanya Maya yang mengetahui di daerah mana Zahra kerja dan tinggal.
sebab Zahra selalu komunikasi hanya dengan Maya untuk mengetahui informasi keadaan keluarganya. bahkan Zahra pun tak pernah mengirim pesan kepada kakaknya.
"Assalamualaikum Ra. Ra aku mau kasih tau kamu kalau ibu kamu lagi sakit.kemarin baru pulang dari rumah sakit tapi sekarang kambuh lagi".
Zahra terkejut membaca pesan dari Maya. walaupun selama ini Zahra tak pernah di perhatikan layaknya seorang anak, namun dirinya tetap sangat khawatir akan kesehatan ibunya.
Sesampainya di dalam kamar kost Zahra merebahkan tubuhnya di kasur.
"apa aku pulang yah, aku khawatir sama ibu"
pikirannya kalut memikirkan kondisi ibunya, dan terbersit rasa rindu di hatinya akan keluarganya.
Zahra memutuskan untuk pulang besok, walaupun ada kekhawatiran di hatinya perihal ayahnya jika ia kembali kerumah. namun bagaimana pun juga ia harus mengetahui kondisi ibunya.
Hari masih sangat pagi bahkan mentari belum menyinari seutuhnya tapi Zahra sudah berangkat ke kantor.
bukan untuk kerja melainkan untuk permisi pada pak Hendra pasalnya beberapa hari ini Zahra tak masuk sebab ia akan pulang.
Jatah cuti Zahra selama kerja di kantor ini sama sekali belum pernah ia gunakan sehingga jika dirinya cuti tak akan ada potongan gaji bagi dirinya.
suasana kantor masih sepi belum sepenuhnya karyawan hadir, jam masih menunjukkan pukul 06:10 pagi.
Zahra mempercepat langkahnya menuju ruangan pak Hendra.
pak Hendra selalu datang sebelum semua karyawan kantor datang tugasnya untuk memantau semua Cleanningservis sehingga Zahra tak perlu menunggunya.
"tok... tok... tok"
tangan Zahra perlahan mengetuk ruangan pak Hendra
"iyah Silahkan masuk"
Zahra melangkah masuk terlihat pak Hendra di dalam ruangan sedang menyusun sebuah berkas entahlah berkas apa yang jelas tangannya sedang memegangi lembaran kertas Hvs yang terlihat banyak sekali huruf tertera di dalamnya.
"Pagi pak"
Zahra menganggukkan kepala menyapa pak Hendra
__ADS_1
"pagi Zahra, ada apa ya"
"gini pak saya mau ambil cuti untuk beberapa hari"
"kenapa mendadak permisinya Ra"
Pak Hendra masih sibuk berkutat menyusun lembaran kertas.
"maaf pak soalnya baru tadi malam saya dapat kabar kalau ibu saya lagi sakit jadi saya harus pulang pak"
Zahra berharap dirinya mendapatkan izin,bagaimanapun juga ia harus bisa pulang.
"positifnya berapa hari Zahra"
pak Hendra melihat Zahra dan menanyakan kepastian perihal cuti yang di ambilnya
"ehmm 4 hari pak"
"apa sebelumnya kamu pernah ambil jatah cuti? "
"belum pak baru kali ini saya ambil cuti pak"
pak Hendra mengangguk.
"ohh Yaudah, karena kamu belum pernah izin cuti jadi saya beri izin. yang terpenting setelah 4 hari kamu harus masuk"
"baik pak"
perasaan Zahra legah mendapat izin
"Amiiin, baik pak terimakasih, kalau begitu saya permisi pak"
"iya silahkan"
Zahra meninggalkan ruangan pak Hendra.
sementara Bagas baru membuka matanya melihat cahaya pagi masuk ke ruangannya. semalaman ia tidur di ruangan pribadinya karena perdebatan dengan Zahra membuat dirinya tak mood untuk kembali kerumah dan memutuskan tidur di kantor.
Bagas membasuh mukanya dan memutuskan untuk pulang kerumah sejenak lalu akan kembali lagi ke kantor.
ia berjalan sedkit terhuyung karena pusing semalaman matanya sulit untuk di pejamkan ia baru bisa tertidur menjelang subuh dan sialnya sepagi ini ia terbangun.
kakinya melangkah keluar lift terlihat Zahra keluar dari ruangan pak Hendra, namun yang membuat Bagas bingung mengapa sepagi ini dia sudah datang dan tak mengenakan seragam kerjanya.
"apa dirinya Resign karena perdebatan semalam"
Bagas khawatir jika benar Zahra memutuskan untuk berhenti bekerja di kantornya.
Entah mengapa perasaan takut menyeruak di hati Bagas, bergegas ia menyusul Zahra yang sudah melangkah keluar kantor.
"Zahra tunggu ! "
Bagas menarik pergelangan tangan Zahra membuat Zahra langsung membalikkan badan.
__ADS_1
"Ada apa yah pak? "
Zahra melepaskan pegangan tangan Bagas, sebab dirinya tak enak hati banyak karyawan berlalu lalang mulai berdatangan ke kantor.
"kamu kenapa gak pake seragam kerja? "
pertanyaan tersebut lah yang di pertanyakan terlebih dahulu pada Zahra
"Maaf pak mulai hari ini sampai 3 hari kedepan saya gak masuk kerja, saya ambil cuti"
"kenapa? "
Bagas mengerutkan keningnya
"saya mau pulang pak ibu saya sakit"
Zahra lupa jika dirinya sedang kesal dengan bossnya ini karena saat ini yang ada di pikiran Zahra hanya kondisi ibunya.
"kamu pulang naik apa? "
entah mengapa Bagas juga merasakan ke khawatiran yang di rasakan Zahra.
"saya naik bis pak"
"kira-kira berapa lama perjalanan jika naik bis? "
"sekitar 7 sampai 8 jam pak"
jarak rumah Zahra ke wilayah ini terbilang jauh, dahulu saja sewaktu Zahra pertama kali ke kota ini berangkat tengah malam dan baru sampai di pagi hari.
"kalau begitu kita naik kendaraan pribadi agar cepat sampai"
Bagas memutuskan untuk ikut Zahra pulang, ia khawatir jika Zahra pulang sendirian dengan kondisi pikiran yang sedang kalut.
terlihat dari raut wajah Zahra bahwa ia sedang gelisah.
"maksudnya bagaimana yah pak? "
Zahra tak mengerti apa arti kendaraan pribadi yang di usulkan Bagas.
dahinya mengerut berusaha mencerna perkataan Bagas.
"kamu saya antar pulang, lebih jelasnya saya ikut kamu "
Bagas merogoh sakunya mengambil ponsel untuk meminta supirnya mengantar mobil ke kantor sebab kemarin ia menggunakan motor.
"tapi pak, saya...... "
belum selesai Zahra berbicara Bagas telah dulu memotong ucapan Zahra.
"tidak ada penolakan, supaya kita cepat sampai dan mengetahui kondisi ibu kamu"
Zahra hanya mengangguk tak banyak protes lagi sebab ia sudah sangat khawatir akan keadaan ibunya.
__ADS_1
Tak lama supir Bagas datang menggunakan mobil pribadi Bagas berwarna hitam. mereka tak langsung pergi Bagas hendak berganti pakaian dirumah tante Erin sementara Zahra mengambil beberapa barang di kostnya.
sembari menunggu Bagas Zahra juga mengganti pakaiannya, mengenakan celana jeans dan setelan kemeja dengan rambut di kuncir menambah kesan menggemaskan di diri Zahra.