Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
72 Perasaan Suka


__ADS_3

Malam terasa dingin dengan hembusan angin lembut yang menggoyangkan dedaunan.


kini Zahra berada di teras rumahnya.


ia menunggu Eza, sebab siang tadi Eza meneleponnya dan berjanji untuk mengajaknya pergi.


Zahra mengenakan celana jeans serta baju rajut,sebab udara di luar lumayan dingin.


terlihat sorotan cahaya lampu motor sedang masuk ke halaman rumah Zahra. sepertinya motor Eza


"malam adik manis"


sapa Eza yang kini sudah berada di depan rumah Zahra.


"lama bener"


ucap Zahra


"kakak juga baru balik Ra dari kantor"


"kamu usah siap? "


tanya Eza.


ia melangkah turun dari motornya


"udah dari tadi kak, nungguin kakak lama banget"


Zahra memasang ekspresi kesal.


"udah donk, kamu kalau sama kakak kerjaannya ngambek terus"


"ayah kamu mana, kakak mau pamitan dulu "


ucap Eza


"Yaudah yuk, ayah di dalam lagi nonton televisi "


Zahra pun bangkit dari duduknya dan melangkah masuk untuk menemui Adam yang di ikuti oleh Eza.


"nak Eza"


sapa Adam ketika melihat Eza


"iyah pak"


Eza tersenyum


"yah Zahra mau keluar sebentar ya sama kak Eza"


ucap Zahra sekaligus menyalami tangan sang ayah.


"iyah pak, saya izin ya pak mau bawa Zahra keluar sebentar "


Eza pun meminta izin pada Adam.


"Oh iyah nak, kalian hati-hati dijalan ya"


Adam mengizinkan sebab Adam sudah sangat kenal dengan Eza yang selama ini di anggap kakak oleh Zahra.


"kalau begitu kami pamit ya pak"


Eza pun menyalami tangan Adam.


Zahra dan Eza pun pergi, mereka berencana hendak ke toko aksesoris.


"kita mau kemana si kak? "


tanya Zahra yang belum tahu tujuannya.


"temenin kakak beli hadiah buat gebetan kakak"


ucap Eza sedikit berteriak


"ehm gitu"


sahut Zahra singkat. jujur saja hatinya turut senang saat mengetahui Eza dekat dengan seorang wanita.


30 menit kemudian motor yang mereka kendarai berhenti di salah satu toko aksesoris di pusat kota.


Zahra pun turun dari motor ia mengedarkan pandangannya.


"yuk Ra"


ajak Eza yang terlebih dulu melangkah menuju pintu masuk.


Zahra pun turut mengikuti langkah Eza.


"kakak mau beli apa? "


tanya Zahra dengan pandangan ke berbagai macam pernak pernik khusus wanita.


"kakak juga bingung soalnya kakak ga tahu kesukaan dia itu apa? "


Eza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"kakak udah lama dekat sama wanita itu? "


Zahra sebenarnya sudah tahu dari bu Sinta namun Zahra ingin mendengar dari Eza secara langsung.


"yah lama juga sih"


ucap Eza singkat.


"apa dia hari ini ulang tahun? "


tanya Zahra


Eza hanya mengangguk, ia teringat Rianda yang selalu bercerita soal dirinya.


jika kini Rianda tidak memiliki siapapun.


"kakak kok bengong? "


Zahra mengguncang lengan Eza.


"Ehmm iyah. "


"kakak cuma kepikiran sama cewek itu, dia anak yatim piatu kedua orang tuanya sudah meninggal dunia sejak ia masih kecil"


Zahra merasa ingin tahu lebih lanjut soal wanita itu.


"sekarang dia tinggal sama siapa kak? "


"dia sekarang tinggal sendirian di kontrakan depan perumahan Cemara Indah. dahulu ia tinggal di panti Asuhan"


ucap Eza


Zahra yang mendengar pun merasa turut perihatin.


"ehm gimana kalau kita beliin boneka teddy bear yang besar kak. kayak begitu"


Zahra menunjuk ke arah bagian boneka.

__ADS_1


"kamu yakin? "


Eza terlihat ragu


"kak gini yah kalau perempuan itu lagi kesepian biasanya dia selalu peluk boneka supaya merasa ga sendirian "


Zahra juga melakukan hal itu ketika merasa kesepian.


"boleh deh, yuk lah"


Eza menggandeng tangan Zahra. Zahra pun menurut.


Eza memilih boneka berwarna pink yang berukuran cukup besar .


"tapi gimana cara bawanya yah"


Zahra menggaruk kepalanya


"kita pesan taxi aja, kan gampang"


sahut Eza dengan tatapan masih ke arah boneka tersebut.


"eh…eh tumben pintar"


ledek Zahra membuat Eza mencubit hidungnya.


"udah pintar dari dulu"


dengus Eza.


Mereka pun membawa boneka tersebut ke kasir. tak lupa Eza membelikan sebuah gelang tangan untuk Rianda.


setelah selesai Zahra memesan sebuah taxi untuk membawa boneka tersebut.


"udah Zahra pesan nih kak taxinya. sekarang kita ke toko sebelah yuk beli kue tart"


ajak Zahra.


di sepanjang area toko ini masih banyak terdapat toko lagi. bukan hanya toko aksesori tapi ada juga terdapat toko buku, toko kue, toko pakaian, toko mainan dan masih banyak lagi.


sehingga tidak perlu jauh-jauh untuk mencari toko kue.


setelah semuanya sudah terbeli Eza dan Zahra pun menuju rumah Rianda. mereka harus putar balik sebab rumah Rianda berada di dekat perumahan dimana Eza tinggal.


di ikuti oleh mobil taxi yang membawa boneka.


"kebalik ini kak, masak bonekanya yang naik taxi"


ucap Zahra membuat Eza tertawa.


"sekali-kali deh di tipuan sama boneka"


mereka berdua tertawa di atas motor.


yak berapa lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Rianda.


Eza dan Zahra pun menyiapkan semuanya.


sementara Rianda malam ini sedang berada di dalam kamar. ia tengah melihat drama korea melalui layar ponselnya.


"tok…tok…tok"


terdengar suara ketukan pintu membuat Rianda bergegas bangkit.


"siapa yah malam-malam kok ada tamu "


Gumam Rianda dalam hati. ia melngkah mendekati jendela dan menyibakkan sedikit kain jendela untuk melihat siapa yang datang .


perlahan Rianda memutar kunci untuk membuka pintu rumahnya.


"Happy birthday to you"


teriak Eza dari samping pintu membuat Rianda berjengit kaget.


"mas Eza! "


bentak Rianda karena terkejut


"happy birthday Rianda"


ucap Eza sambil memegangi kue tart dengan angka 23 di atasnya.


"mas kok tahu hari ini hari ulang tahunku?"


Rianda bingung ia tidak pernah memberitahu Eza soal tanggal lahirnya.


"tahu dong"


"oke sebentar yah kamu pegang dulu kuenya"


Eza menyerahkan bolu tersebut ke Rianda , sementara Eza menepuk tangan untuk memberi kode pada Zahra agar membawa boneka tersebut.


Namun hanya Zahra yang muncul tanpa membawa boneka tersebut. Zahra memasang senyuman tanpa dosa.


"aa elahh bukan kamu Zahra tapi itunya"


ucap Eza


"Heheheh gak apa-apa kak. kan Zahra mau kenalan dulu"


Zahra menghampiri Rianda dan mengulurkan tangannya.


"hai kak kenalin aku Zahra, adiknya kak Eza"


ucap Zahra yang di balas uluran tangan oleh Rianda


"hai juga namaku Rianda,"


Rianda terlihat bingung sebab Eza pernah bilang kalau adiknya sudah meninggal dunia karena kecelakaan .


Eza paham dengan ekspresi yang di tampilkan Rianda


"ini adik angkat aku,"


ucap Eza tersenyum dan Rianda mengangguk paham.


"ehm sebentar yah kak"


Zahra pun berlari ke samping rumah Rianda untuk mengambil boneka yang di beli Eza tadi.


"Surprisee"


teriak Zahra sambil bersusah payah membawa boneka besar tersebut. bahkan bisa di katakan lebih besar dari tubuh Zahra.


Rianda membulatkan matanya tidak percaya.


"ini…?"


tunjuk Rianda ke Boneka tersebut.


"iyah kak ini buat kakak, dari kak Eza"


ucap Zahra sambil mengerlingkan matanya.

__ADS_1


Rianda menatap Eza yang kini hanya tersenyum memandanginya.


"serius itu buat kamu, biar kamu ada temannya"


Rianda yang mendengar hal itu pun seketika matanya berkaca-kaca. bahkan seumur hidupnya ia tidak pernah mendapatkan kejutan seperti ini.


"Kita masuk dulu yuk kasihan Zahra susah bawanya"


Rianda mengajak Eza dan Zahra untuk masuk.


"ga di tolongin"


bisik Zahra pada Eza membuat Eza tertawa.


mereka pun duduk di ruang tamu.


"kak Rianda, tiup dong lilinnya"


seru Zahra yang kini sangat antusias.


Rianda pun meniup lilin tersebut, sementara Zahra yang bersorak kegirangan.


"Dih malah kamu yang heboh"


ucap Eza pada Zahra


"biarin week"


Zahra mengulurkan lidahnya ke arah Eza.


Rianda hanya tertawa melihat kelakuan Eza dan Zahra.


"terimakasih mas Eza, Zahra kalian udah ingat sama ulang tahun ku, jujur aja aku ga pernah di kasih kejutan seperti ini"


Rianda menatap bolu yang ada di depannya


"sama-sama kak Rianda, sekali lagi selamat ulang tahun yah"


ucap Zahra.


"terimakasih "


Rianda tersenyum ramah ke arah Zahra.


mereka pun mengobrol sambil menikmati kue tersebut tak lupa Rianda mengeluarkan minuman serta biskuit.


"Ehmm Rianda, ada hal yang mau aku omongin sama kamu"


ucap Eza tiba-tiba


" apa mas, ngomong aja ga apa-apa "


Rianda menghentikan acara mengunyahnya sementara Eza menatap Zahra.


Zahra yang seakan paham dengan tatapan itu pun akhirnya berpura-pura pamit mau keluar.


"a…aku mau keluar bentar yah soalnya ehmm"


belum sempat Zahra mencari alasan ponselnya pun berdering.


"ini mau angkat telepon "


Zahra nyengir dan melangkah keluar.


terlihat di layar ponselnya Bagas menelepon


"halo kak"


"kamu dimana sayang? "


"chat dari aku kenapa ga di balas"


Bagas terdengar khawatir


"maaf yah kak, Zahra lagi nemenin kak Eza beli kado buat Ehmm pacarnya"


ucap Zahra


"ada apa emangnya kak? "


"ga ada apa-apa, kakak cuma khawatir karena chat kakak ga kamu balas. kakak juga rindu kamu"


Zahra terkikik geli mendengar penuturan manja dari Bagas.


sementara Eza kini sedang menatap lekat-lekat wajah Rianda.


Eza meraih tangan Rianda.


"Rianda, aku mau jujur ke kamu sejujurnya aku suka sama kamu. dari awal kita bertemu aku mulai menaruh hati ke kamu"


Ucap Eza membuat Rianda membuka mulutnya ia tak percaya. selama ini Eza memiliki perasaan yang sama dengannya.


namun Rianda ingat dengan masa lalunya membuat ia berusaha mengontrol diri.


"kamu mau kan jadi pacar ku? "


tanya Eza yang kini menatap manik mata Rianda.


"a... aku ehmmm"


Rianda gugup bahkan bukan kali pertama ini Rianda di tembak oleh seorang pria namun semuanya di tolak dengan alasan tertentu.


tapi kini hati Rianda merasa bimbang mulutnya seakan kelu untuk mengucapkan kata tidak, sebab hatinya pun telah luluh karena Eza.


Rianda tidak ingin menjalin hubungan ia takut akan merasakan sakit yang teramat dalam jika Eza maupun pria yang menyatakan cinta padanya akan kecewa dan pergi setelah tahu masa lalunya.


Eza mengibaskan tangannya di depan Wajah Rianda yang kini sedang melamun.


"Rianda... Hei "


"Ehh i..... iyah mas"


Rianda tersadar dari lamunannya


"jadi gimana kamu mau? "


tanya Eza


"Ehmmm mas... boleh ga Rianda pikirkan dulu. Rianda bakal kasih jawaban ke kakak ehm lusa"


ucapan Rianda membuat Eza sedikit kecewa namun Eza berusaha memahami.


Rianda tidak akan rela jika harus menolak pria sebaik Eza, namun ia juga takut untuk memulai semuanya.


..................


part ini untuk Eza yah .kasihan dia kalau jadi antinyamuk terus.


karena Author tahu gimana rasanya kalau di posisi Eza pas jadi antinyamuk.


rasanya sedih banget dah


Oke jangan lupa like dan votenya yah guys.

__ADS_1


__ADS_2