
Hari ini Eza mendapat tugas untuk mengantar berkas ke kantor cabang.
Walau perasaannya begitu malas untuk keluar kantor, namun karena sudah menjadi tugasnya ia dengan terpaksa melangkah.
"Hooaaaaaammm"
Eza mengendarai sepeda motor dengan sesekali menguap.
Cuaca yang begitu terik seakan membakar kulitnya dan mengeringkan giginya.
sekitar 30 menit ia sampai di depan sebuah kantor yang tidak begitu besar.
ia pun memarkirkan sepeda motornya di area parkiran kantor.
ia merogoh sakunya untuk mengambil handphone , ia mencari nomor seseorang.
"hallo"
"aku sudah di depan kantor"
"ohh iyah"
setelah sambungan telepon terputus Eza masuk ke dalam kantor tersebut.
tak beberapa lama Eza keluar dengan sedikit berlari.
"Mas"
panggil seseorang, membuat Eza menoleh.
"Rianda? "
yang memanggilnya adalah Rianda.
"mas ngapain disini? "
tanya Rianda ke heranan.
"tadi lagi antar berkas"
Eza menatap lekat wajah ayu Rianda.
"berkas? "
"mas kerja di kantor pusat yah? "
tanya Rianda memastikan
"iyah, "
jawab Eza.
"ko kita ga pernah ketemu? "
Rianda seakan mengingat-ingat
"emang kamu kerja dimana? "
Eza mengernyitkan keningnya.
"saya kerja disini mas di kantor ini, bahkan saya juga sering mengantar berkas ke kantor pusat"
ucap Rianda.
"loh iyah ya, kita ko ga pernah ketemu"
Eza menggaruk kepalanya.
"Hahaha iyah mas"
"kamu lagi mau kemana? "
Eza memperhatikan Rianda .
"lagi mau makan siang mas"
Eza pun melihat arloji di tangannya benar saja jam sudah menunjukkan jam makan siang.
"makan siang bareng yuk"
Eza menawarkan, Rianda pun menyetujui ajakan Eza.
..................................
Hari ini Bagas bangun lebih awal.
ketika membuka mata ia langsung melihat layar handphonenya.
dan mengetik pesan untuk Zahra.
"Good Morning Princess, cepat bangun yah entar aku jemput"
hari ini Bagas hendak menjemput Zahra dan mengajaknya untuk ke rumah.
selain ia ingin Zahra lebih dekat dengan keluarganya, Bagas juga mendapat desakan dari Kiran sang adik, agar membawa Zahra datang ke rumah mereka.
Sementara Zahra sudah bersiap untuk menunggu Bagas.
ada rasa canggung di hatinya saat hendak bertamu ke rumah Bagas.
Zahra menunggu Bagas di depan kostnya sambil memainkan ponselnya.
Tak berapa lama Bagas pun datang.
"Zahra"
sapa Bagas
"iyah kak"
"udah siap? "
tanya Bagas pada Zahra
"ehm udah kak. tapi apa kakak yakin sepagi ini"
Zahra merasa tidak enak hati saat bertamu sepagi ini.
Bagas pun terdiam sejenak, ia tahu Zahra merasa tidak nyaman jika harus pagi-pagi begini datang bertamu.
"kamu bisa masak? "
tanya Bagas, membuat Zahra keheranan akan pertanyaan Bagas.
"bisa kak"
"kenapa kak? "
Zahra memperhatikan Bagas.
"gimana kalau kita ke pasar dulu beli bahan-bahan buat masakan"
ucap Bagas membuat Zahra semakin bingung
"Hah? "
Zahra menampilkan ekspresi bingung membuat Bagas terkikik geli.
"sayang. maksud aku kamu kan katanya bisa masak, gimana kalau kamu hari ini masakin buat aku. tapi kita ke pasar dulu beli bahan-bahannya"
"pengen juga kali di masakin sama pacar"
Bagas menaik turunkan alisnya.
Zahra merasa malu-malu saat Bagas menyebutnya dengan kata sayang.
"yah Zahra mau sih kak"
ucap Zahra, ia sama sekali tidak keberatan.
"yaudah yuk"
ajak Bagas bersemangat
"tapi kak? "
ucapan Zahra membuat Bagas mengurungkan langkahnya.
"tapi apa? "
"apa kakak gak apa-apa kalau mesti ke pasar. masak iyah bos ke pasar"
ledek Zahra.
Bagas hanya tersenyum
"aku kemana aja juga mau asal sama kamu"
Bagas menggombal, membuat Zahra salah tingkah.
"udah yuk jangan senyum-senyum gitu"
ajak Bagas.
mereka pun beranjak pergi ke pasar .
Sekitar 30 menit Zahra dan Bagas sampai di sebuah pasar tradisional terbesar di kota ini.
Zahra memilih pasar tradisional karena baginya lebih nyaman.
Bagas memarkirkan mobilnya di area parkir di depan pasar.
"kakak disini aja yah,"
ucap Zahra
"loh kenapa? . aku mau ikut lah"
__ADS_1
Bagas protes saat Zahra menyuruhnya menunggu.
"entar kakak ga nyaman loh di dalam, ini bukan mall"
Zahra khawatir Bagas tidak terbiasa dengan situasi pasar.
"gak apa-apa sayang, aku ga mungkin biarin kamu sendirian. udah yuk jangan banyak protes nanti aku cium kamu"
ucap Bagas membuat Zahra membulatkan matanya.
"Ishh kakak"
ia memanyunkan bibirnya.
Zahra dan Bagas keluar dari mobil, mereka melangkah masuk ke dalam pasar yang saat ini kondisinya sangat ramai.
Bagas menggandeng tangan Zahra , membuat Zahra tersenyum.
"kita mau beli apa dulu? "
tanya Bagas sambil memperhatikan banyaknya penjual sayur mayur.
"kakak mau aku masakin apa? "
tanya Zahra.
"ehm apa aja deh asal buatan kamu aku mau"
Bahkan di pasar pun Bagas masih sempat merayu Zahra.
"Yaudah yuk, kita kesana"
ajak Zahra dia tahu apa yang harus di beli.
Bagas hanya mengikut dengan tangan tetap menggandeng tangan Zahra.
Bagas memperhatikan Zahra saat memilih aneka bumbu di pasar. membuat hati Bagas berdegub.
"calon istri idaman"
Gumam Bagas sambil tersenyum.
bahkan Zahra jago menawar, bukan Zahra namanya jika tidak bisa menawar harga.
Bagas hanya tersenyum.
"sini aku bawain"
Bagas meraih kantong plastik yang di bawa Zahra.
Zahra pun menyerahkannya.
"kita beli sayur yah kak"
Zahra memperhatikan aneka macam sayur.
ia dengan teliti memilih sayuran yang hendak ia beli.
Bahkan pedagang sayur senyum-senyum melihat ke romantisan Zahra dan Bagas.
"kakak harus mau makan sayur yah"
ucap Zahra dengan tangan masih memilih wortel dan kentang.
"iyah sayang"
ucap Bagas santai.
"romantis banget sih mbak, dari tadi saya perhatikan suaminya ngeggandeng tangan mbaknya terus "
ucap seorang ibu yang tak lain adalah penjual sayur.
"iyah donk bu kan harus sayang istri"
ucap Bagas, membuat Zahra membulatkan matanya.
"romantis apanya bu, saya susah jadinya milih sayur pake tangan satu"
ucap Zahra ketus
membuat Bagas nyengir.
saat semua di rasa cukup Zahra pun mengajak Bagas untuk pulang.
"udah nih kak cukup, kita pulang yuk"
ajak Zahra dengan masih celingukan mencari sesuatu
"katanya udah ko masih cari sesuatu"
ledek Bagas.
"Hehehehe ga ko kak. udah yuk"
Zahra menarik Bagas untuk pulang.
…
Zahra semakin deg-degan ia sama sekali belum pernah datang ke rumah Bagas.
ternyata rumah milik Bagas bak istana megah dengan pilar besar sebagai penopangnya.
Bagas membuka bagasi mobilnya untuk mengambil sayur mayur yang mereka beli tadi. lalu menggandeng tangan Zahra untuk masuk.
"kak"
ucap Zahra
"iyah"
"Zahra malu"
Zahra merasa canggung saat harus berhadapan dengan keluarga Bagas, padahal sewaktu di rumah Bramantio untuk mengungkapkan bukti itu. Zahra tidak merasa canggung sedikitpun.
mungkin karena suasananya berbeda.
"jangan malu. kan ada aku"
Bagas tersenyum meyakinkan.
membuat Zahra percaya diri.
Bagas melangkah masuk tanpa memencet bel.
Zahra hanya mengikuti Bagas.
"Assalamualaikum mah"
ucap Bagas pada Hera yang sedang duduk di ruang Keluarga.
"Walaikum salam. loh Bagas, "
Hera terheran saat Bagas tidak pergi ke kantor.
"mamah kira kamu ke kantor"
ucap Hera beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka berdua.
"ga mah. Bagas jemput Zahra"
Bagas melihat Zahra
"hai bu. "
Zahra menyalami Hera dan mencium tangannya
"hai sayang"
Hera perlahan-lahan sudah bisa menerima Zahra demi kebahagiaan Bagas.
"kok pada bawa sayuran "
Hera bingung saat Bagas menenteng kantong plastik yang berisikan sayur mayur.
"iyah mah tadi Bagas sama Zahra habis dari pasar. katanya Zahra mau masakin buat calon suami"
ucap Bagas ngaco, membuat Zahra mengeratkan genggaman tangannya sebagai tanda protes.
Hera tersenyum melihat tingkah kedua insan yang sedang di mabuk asmara ini.
"wah bagus donk, mamah juga pengen nih di masakin sama Zahra"
ucap Hera
"ya udah yuk Ra kita masak"
Bagas dengan semangat menggandeng Zahra menuju dapur.
"ibu ga sabar pengen nyobain"
ucap Hera pada Zahra sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Hera sengaja tidak ikut membantu, ia tak ingin mengganggu kedua anak muda tersebut.
Bagas meletakkan semua bahan masakan di atas meja yang terdapat di dapur.
" pake ini dulu, biar ga kotor baju kamu"
Bagas memasangkan apron di tubuh Zahra.
mata Bagas dan Zahra saling menatap, membuat jantung Zahra berdebar tak beraturan.
perlahan Bagas mendekatkan wajahnya di depan wajah Zahra, bahkan hembusan nafas Bagas begitu terasa di bibir Zahra.
Zahra berusaha mundur namun wajah Bagas semakin dekat, Zahra memejamkan matanya.
"kenapa kok di tutup matanya"
__ADS_1
tanya Bagas pada Zahra, Zahra melihat Bagas sudah berdiri di depannya.
"kamu kira aku mau cium kamu yah. aku tuh ngikat tali apron ini di belakang pinggang kamu "
ucap Bagas.
Zahra meraih pinggang bagian belakangnya ternyata terdapat simpulan apron .
Zahra menunduk karena malu.
"apa beneran mau aku cium"
goda Bagas membuat Zahra salah tingkah.
"ehmm…apaan sih kak, udah ah Zahra mau cuci bahan-bahannya dulu"
Zahra meraih kantung plastik dan menuju wastafel untuk mencuci semua bahan masakan yang di belinya tadi di pasar.
sekaligus untuk menghindari Bagas, agar Bagas tidak melihat wajah Zahra yang kini sudah semerah tomat karena malu.
"loh… den Bagas kok di dapur? "
seorang asisten rumah tangga Bagas heran ketika melihat Bagas tak biasanya berada di dapur.
"ini bi, nemenin calon istri mau masak"
jawab Bagas santai, membuat Zahra melirik tajam ke arahnya.
"Ohh gitu den"
"biar bibi bantu yah non"
Ucap bi Yem pada Zahra.
"engga usah bi, biar Zahra aja"
tolak Zahra lembut sambil tersenyum.
"Oh nama non, Zahra ya"
ucap bi Yem
"iyah bu saya Zahra"
Zahra menyalami bi Yem dan mencium punggung tangannya, membuat bi Yem merasa tidak enak hati.
begitulah Zahra selalu memperlakukan siapapun dengan sopan, ia tidak perduli status sosial orang tersebut.
begitupun sebaliknya ,Zahra tidak akan berlaku sopan jika orang tersebut orang terpandang yang tidak menghargai siapapun.
"Duhh Manis banget yah calon istri den Bagas"
puji bi Yem membuat Zahra tertohok sekaligus malu.
"iya dong bi, Bagas gitu loh"
sahut Bagas dengan tengil nya.
"bibi istirahat aja hari ini Zahra yang masak"
ucap Zahra
"non ga apa-apa, "
Bi Yem merasa tidak enak.
"ga apa-apa bi, Zahra kan punya asisten "
lirik Zahra pada Bagas yang sedang duduk santai di dekat freezer.
bi Yem pun tersenyum paham.
"yasudah non, bibi mau nyapu rumah dulu yah. mari non"
bi Yem pun melangkah pergi dari dapur.
"iyah bi"
sahut Zahra.
Zahra kembali berkutat dengan sayur mayurnya.
Bagas menghampiri Zahra.
ia berdiri di samping Zahra dan memandangi gadis berginsul tersebut.
Zahra tidak mempedulikan Bagas ia masih sibuk mencuci sayur mayur serta daging ayam.
ia meniriskan semua sayuran yang baru ia cuci.
"Ishh kakak jangan lihatin aja dong, bantuin kek"
Zahra lama-lama merasa risih saat Bagas tak hentinya memandanginya.
"aku bantuin apa? "
Bagas bingung sebab ia tidak pernah berkutat soal masalah dapur.
"nih, kakak potongin kentang sama wortelnya. kaya begini bentuknya "
Zahra memberikan contoh pada Bagas.
"ahh begitu sih kecil. sini aku yang kerjain"
ucap Bagas sombong.
"awas yah kalau salah, "
ancam Zahra
"siap manis"
Bagas pun beralih ke meja dapur untuk menjalankan tugas dari Zahra.
sementara Zahra merebus ayam dan berbagai macam sayuran, yang akan di buatnya menjadi gado-gado.
Zahra memilih memasak gado-gado , sup ayam , serta ayam goreng lengkuas dan tidak ketinggalan sambal khas buatannya , semua itu ia pelajari dari sang nenek.
dan resep yang ia dapat juga dari almarhumah sang nenek.
hening di antara mereka, hanya suara benturan penggorengan yang terdengar.
tiba-tiba Zahra merasakan ada sesuatu yang menempel di pundaknya.
ternyata Bagas menempelkan dagunya di bahu Zahra.
"udah siap "
ucap Bagas.
"ih kakak buat jantungan aja"
Zahra merasa kesal karena ke datangan Bagas yang tiba-tiba.
"bawang merahnya sekalian yah kak, "
ucap Zahra membiarkan Bagas yang masih menempelkan dagunya di bahu Zahra.
"gimana bentuk potongannya? "
Bagas merasa malas, tapi karena Zahra ia menjadi semangat.
"sini Zahra ajarin"
Zahra melangkah ke meja dapur dan di ikuti oleh Bagas. Bagas memperhatikan Zahra mengiris bawang.
"ohh gitu, kecilll"
ucap Bagas, Zahra pun menyerahkan pisau pada Bagas. ia kembali melihat ayam yang di gorengnya.
"Hiks…hiks"
tiba-tiba terdengar suara isakan, Zahra menoleh ke arah Bagas terlihat Bagas berurai air mata.
membuat Zahra dengan cepat menghampiri Bagas.
"kakak kenapa? kena pisau? "
tanya Zahra panik
"bukan. hiks…"
Bagas mengelap air matanya.
"lalu kenapa? "
Zahra semakin terheran.
"ini bawangnya pedas banget bikin sedih"
Bagas menampilkan ekspresi mewek.
membuat Zahra terkikik geli.
Zahra memegangi perutnya karena tertawa. ia tak menyangka Bagas yang di kenal sebagai bos cuek dan berwibawa saat di kantor akan mewek manja ketika di hadapkan dengan bawang.
…………………
sekali-kali partnya agak santai ga mewek terus 😂😂
maaf yah guys Author baru up hari ini, karena semalam dapat tugas kenegaraan dari Emaknya Author 😂😂😂😆
jangan lupa like and votenya yah guys
Salam manis Author
~EtyRamadhii
__ADS_1