Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
65 Rumah Baru


__ADS_3

Di perjalanan pulang Zahra tak melepaskan genggaman tangannya pada sang ayah.


hal yang sedari dulu ingin ia lakukan, namun baru dapat ia rasakan sekarang.


bahkan Adam membiarkan Zahra yang tak melepaskan tangannya. hatinya merasa berdesir melihat gadis yang ia besarkan namun tidak dengan kasih sayang.


justru gadis ini bagai malaikat di tengah keterpurukan hidupnya.


Bagas sesekali melihat Zahra melalui kaca spion yang berada di dalam mobil. entah mengapa hati Bagas turut tenang saat Zahra merasa nyaman di samping ayahnya.


mata Adam terlihat sayu, rasa kantuk menguasainya perlahan-lahan matanya terkatup. namun ketika mobil menabrak sebuah jalanan yang tidak rata Adam kembali membuka mata.


ada rasa takut ketika ia harus duduk di bangku penumpang, rasa traumanya belum hilang.


"Ayah ngantuk? "


tanya Zahra yang sedari tadi memperhatikan Adam


"Ehmm enggak "


Adam beralasan ia berusaha menahan rasa kantuknya.


"kalau ayah ngantuk. ayah bisa kok tidur"


ucap Zahra


"kenapa Ra? "


tanya Bagas yang melirik ke arah kaca spion


"ayah ngantuk kak"


"Tiduran aja pak , ga apa-apa "


"Ra di belakang tempat duduk kamu ada bantal sama selimut tuh"


ucap Bagas ia sengaja membawanya karena ia tahu hari ini Zahra akan pulang. siapa tahu ada yang kelelahan dan ingin tidur.mengingat perjalanan yang cukup lama.


Zahra meraih bantal dan selimut yang berada di bangku belakang.


"nih yah, ayah tidur aja yah. masih jauh lagi kok"


ucap Zahra merentangkan selimut ke tubuh Adam dan meletakkan bantal di kepala Adam sebagai sandaran.


"ayah takut"


seketika ekspresi wajah Adam terlihat ketakutan.


"takut apa yah? "


Zahra mengerutkan keningnya


"ayah merasa sedang berada di kejadian yang kemarin"


Adam mengedarkan pandangannya.


Zahra mengerti apa maksud sang ayah ia paham soal kecelakaan yang di alami sang ayah hingga merenggut nyawa ibunya.


"ayah ga perlu takut, Zahra disini di samping ayah. sekarang ayah tidur yah"


Zahra berusaha membujuk sang ayah.


Adam mengangguk ia perlahan menyandarkan kepalanya di bantal yang di berikan Zahra.


Sementara Zahra terus menggenggam tangan Adam untuk memberikan rasa nyaman dan menghilangkan rasa takut pada diri Adam.


perlahan-lahan Adam terlelap, sementara Zahra tetap terjaga.


"kamu kalau capek istirahat aja Ra"


ucap Bagas saat di lihat Adam sudah terlelap.


"Zahra ga capek kok kak. kalau Zahra tidur kakak ga ada teman ngobrol"


Zahra membenarkan posisi duduknya.


"yasudah lah, tapi kalau ngantuk di bawa tidur aja yah"


Bagas sangat perhatian dengan Zahra, membuat Zahra merasa berharga.


seketika Zahra mengingat kenangan pertama kali bertemu dengan Bagas di terminal.


Bagas melirik Zahra dari spion terlihat Zahra tersenyum sambil sesekali menutup wajahnya dengan tangan kirinya.


"kamu kenapa? "


tanya Bagas membuat Zahra langsung memasang ekspresi datar.


"engga apa-apa kak"


Zahra tersenyum manis


....................................


setelah berjam-jam di perjalanan akhirnya kedua mobil mewah tersebut sampai di sebuah rumah yang terbilang cukup luas.


Zahra membuka kaca jendela ia mengeluarkan kepalanya melihat rumah tersebut.


"ayo nak sudah sampai"


ucap Bramantio yang sudah turun dari mobil.


Zahra pun keluar sambil mengedarkan pandangannya


"ini rumah siapa yah? "


tanya Zahra ke heranan


"yah ini rumah kamu lah"


ucap Bramantio santai


"loh tapi kemarin kak Bagas kirim foto rumahnya bukan begini yah"


Zahra heran pasalnya sehari sebelum mereka pulang Bagas mengirim foto rumah baru Zahra.


bangunannya tidak seluas ini, membuat Zahra bingung.


"maafin papa sayang. papa yang suruh kirim foto itu. kalau foto rumah ini yang di kirim ke kamu pasti kamu bakal nolak dan ga mau pulang. "


Bramantio sudah hapal dengan sikap putrinya yang merasa tidak enak hati pada siapapun yang ingin berbuat baik padanya.


"tapi pah, ini rumahnya terlalu besar"


protes Zahra


"Ssstttt....ga boleh bolak rezeki semua barang-barang kamu sudah tersusun di dalam jadi ga ada alasan lagi yah"


Bramantio tidak menerima penolakan membuat Zahra pasrah dan menghela nafasnya.


"kak Eza "


panggil Zahra pada Eza yang kini duduk santai di teras rumah tersebut.


ia sedang meluruskan pinggangnya yang berasa geser ke kiri sebab terlalu lama duduk di dalam mobil. serta mengingat dalam beberapa hari ini ia kurang beristirahat.


Zahra menghampiri Eza.


"apa Ra? "


jawab Eza malas masih dengan posisi duduk santai.


"pesanan Zahra yang kemarin udah kakak siapin"

__ADS_1


ucap Zahra


"udah dong"


Eza mengacungkan jempol sementara matanya tertutup sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.


"terimakasih kak"


Zahra tahu Eza sangat kelelahan terlihat lingkaran mata panda menghiasi matanya. pertanda ia kurang istirahat.


Zahra pun kembali ke mobil untuk menurunkan koper baju Adam.


"ibu pulang duluan yah nak"


ucap Sinta menghampiri Zahra


"loh ibu ga istirahat disini aja"


ucap Zahra, terlihat wajah Sinta juga kelelahan


"ga nak ibu mau pulang soalnya udah berapa hari kan rumah ibu tinggalin"


ucap Sinta


"maaf yah bu, Zahra ngerepotin ibu"


Zahra merasa tidak enak hati


"gak apa-apa kok sayang, ibu senang bisa nenenin kamu. kamu jangan sedih-sedih lagi yah"


Sinta mengelus kepala Zahra.


"iyah bu, terimakasih yah"


mata Zahra berkaca-kaca, ia beruntung di pertemukan dengan bu Sinta. ia sangat berharap bisa memiliki ibu seperti bu Sinta.


"papah juga mau pulang yah,"


sahut Bramantio


"loh kok papah pulang"


Zahra mencebikkan bibirnya


"papah mau sekalian anterin bu Sinta, kamu juga biar cepat istirahat"


"yasudah deh pah, papah sama ibu hati-hati yah"


Zahra memeluk Bramantio dan bergantian memeluk Sinta


Sinta masuk ke dalam mobil Bramantio


"loh bu, kak Eza ko di tinggalin"


Zahra melihat Eza sedang Rebahan di teras rumahnya


"dia baliknya sama aku Ra"


sahut Bagas yang sekarang berdiri di belakang Zahra.


"ia biar dia bantuin kamu angkat koper-koper ini"


ucap Sinta.


Zahra hanya mengangguk.


mobil Bramantio meninggalkan halaman rumah Zahra.


"Yaudah yuk kita masuk"


ajak Bagas


Zahra perlahan membuka pintu mobil untuk membangunkan Adam


"bangun yuk, kita udah sampai"


Adam mengerjapkan matanya dan berusaha membuka mata.


ia melihat sekeliling untuk mengumpulkan kesadarannya.


"sini Ra aku bantu"


Bagas membantu Adam untuk turun serta duduk di kursi roda


"terimakasih kak"


ucapan Zahra di balas senyuman oleh Bagas.


mereka pun melangkah masuk sementara Bagas menarik 2 koper.


"wuyy.. …bangun"


Bagas menyenggol kaki Eza yang sedang terlelap. ia dan Eza seperti teman ketika di luar kantor.


sementara di kantor mereka berdua sama-sama sportif dalam bekerja seperti layaknya karyawan dan atasan pada umumnya.


"hemmm…apasih"


Eza menjawab tanpa membuka matanya


"itu bawak 2 koper lagi entar keburu di angkut maling"


ucap Bagas melewati Eza yang belum bangun dari posisi rebahannya.


"iyah-iyah "


dengan segenap tenaga sisa serta mata yang memiliki kekuatan hanya 5 watt Eza berusaha bangkit untuk mengambil koper.


Sementara Zahra sudah melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.


mata Zahra berbinar melihat isi rumah tersebut terkesan cukup luas dengan nuansa berwarna putih.


terdapat figur berukuran besar dengan wajah dirinya terpampang di ruang tengah, membuat Zahra membulatkan matanya.


"ini ko bisa ada foto aku? "


tanya Zahra menoleh ke belakang melihat Bagas.


"Hehehe …ide aku, "


Bagas nyengir saat di beri pertanyaan membuat Zahra menggelengkan kepalanya.


Zahra berlutut di depan Adam


"yah, sekarang kita tinggal di rumah ini"


Zahra tersenyum


"ini rumah siapa? "


Adam melihat seisi rumah ini, rumah ini jauh lebih luas dari rumahnya yang dulu.


"ini rumah Zahra pak, sekarang Zahra dan bapak tinggal disini"


sahut Bagas.


Zahra hanya memandang Bagas seakan Bagas tahu Zahra membutuhkan bantuan untuk menjelaskan pada Adam.


"sekarang kita ke kamar ayah yuk, biar ayah bisa istirahat"


ajak Zahra


"kamarnya dimana kak? "

__ADS_1


tanya Zahra pada Bagas pasalnya Zahra belum paham denah rumah ini.


karena semalam hanya Bramantio, Bagas serta Eza yang menyibukkan diri merapikan rumah ini.


"itu Ra "


tunjuk Bagas pada sebuah kamar dengan pintu berwarna cokelat.


"Yaudah yuk"


Bagas berjalan terlebih dahulu membawa koper serta membuka kan pintu kamar, sementara Zahra mendorong kursi roda Adam.


Zahra tertegun melihat suasana kamar terlihat rapi dan nyaman. ia juga melihat figura yang berukuran besar tertempel di dinding kamar tersebut.


Adam terkejut melihat foto tersebut ia bahkan tak mengalihkan pandangannya


"yah…Zahra sengaja minta kak Eza sama kak Bagas buat tempelih foto ibu di sini"


Zahra mendekati sang ayah dan berlutut mensejajarkan pandangannya dengan Adam.


"Zahra pengen ayah selalu bisa Pandangin ibu, jadi ayah ga merasa kesepian "


Zahra tersenyum


"terimakasih nak, jujur saja ayah saat ini merasa ibu kamu berada disini"


pandangan mata Adam tak beralih dari foto itu. matanya berkaca-kaca saat memandangi wajah seseorang yang di cintainya.


Zahra mengelus punggung tangan milik Adam.


"maafkan ayah nak ayah sudah banyak merepotkanmu"


Adam beralih menatap wajah Zahra.


"Zahra ga di repotin sama ayah justru Zahra senang bisa tinggal sama ayah lagi"


"mulai sekarang ayah jangan merasa merepotkan Zahra yah. ini juga rumah ayah dan ayah ga boleh banyak pikiran, kesehatan ayah jauh lebih penting"


ucap Zahra tegas.


"iyah nak. terimakasih "


Adam memeluk Zahra sambil mengusap lembut kepala Zahra.


"yasudah ayah istirahat yah"


Zahra mendorong kursi roda Adam, ia membantu Adam untuk tidur di bantu oleh Bagas.


"Zahra keluar dulu ya yah"


Zahra pun keluar meninggalkan Adam diikuti oleh Bagas.


"kak Eza mana kak? "


tanya Zahra pada Bagas


"tadi aku lihat dia ngambil koper"


ucap Bagas


" lah itu kopernya. kak Ezanya mana? "


Zahra terheran hanya ada 2 buah koper namun tidak ada Eza.


"Cekk…dasar ngebo"


ucap Bagas saat di lihat Eza sudah tertidur lelap di sofa ruang tamu.


"sudah kak biar kan kak Eza tidur. kasihan dia ke cape an"


"Oh iyah kak, kamar Zahra mana? "


tanya Zahra pada Bagas


"kamar kamu, di kamar aku"


ucap Bagas asal membuat Zahra kesal dan memukul lengannya.


"becanda Ra. tuh kamar kamu "


Bagas menunjuk sebuah kamar dengan pintu bertuliskan ' Zahra Andriani '.


"haduhh ide siapa lagi ini"


Gumam Zahra saat dia sudah berada di depan pintu kamarnya.


matanya terbelalak saat di lihat betapa mewah desain kamarnya. bernuansa warna hijau warna favoritnya.


terlihat barang-barang miliknya sudah tersusun rapi di dalam kamar ini. pasalnya baik barang-barang di rumah orang tuanya maupun barang-barang miliknya yang berada di kost sudah di pindahkan dan disusun di rumah ini.


pelakunya tak lain adalah papannya serta 2 lelaki tengil yang berada di ruang tengah.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya mengingat betapa sweetnya konsep yang di usung oleh papanya.


bukan Bramantio namanya jika tidak bisa mensulap bangunan dengan segala isinya menjadi rapi dalam hitungan hari.


wajar saja jika memiliki uang apapun bisa di lakukan dengan sekejap mata.


Zahra mengambil bantal dan selimut untuk Eza ia melangkah keluar menghampiri Eza.


terlihat Bagas turut duduk sedang memainkan ponselnya di sofa. ia melirik Zahra.


Zahra membentangkan selimut menutupi tubuh Eza serta membenarkan posisi kepala Eza agar berada di antar bantal.


"dia doank yang di selimutin Pacarnya engga"


jawab Bagas sambil terus memainkan ponselnya.


"uhhh ngambek"


goda Zahra menghampiri Bagas.


"jangan ngambek"


Zahra mengusak lembut rambut Bagas.


"sebentar yah Zahra ambilin selimut sama bantal juga"


Zahra berbalik badan hendak melangkah namun tangannya di tarik oleh Bagas hingga Zahra jatuh tepat di atas tubuh bagas yang sedang duduk di sofa


mata Zahra membulat saat tubuhnya berada di atas tubuh Bagas , bahkan tidak tersisa jarak di antara mereka.


"kamu aja yang selimutin aku"


ucap Bagas menarik turunkan alisnya menggoda Zahra.


"Issss dasar mesum! "


ucap Zahra.


Zahra bangkit, sementara Bagas terkekeh geli melihat ekspresi wajah Zahra.


………………


Huy" guysss Author balik lagi.


maaf yah baru nongol Authornya lagi atit 😭😭😭😭 .


walau ini kepala uyeng" an tapi tetap di paksain up.


terimakasih yang masih setia sama Zahra, jangan lupa like and votenya..


Salam manis Author

__ADS_1


~EtyRamadhii


__ADS_2