Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
32 adik bos


__ADS_3

Bramantio menuju ruangan Bagas ia melangkah masuk.


namun Bagas tidak ada di ruangannya ia pun kembali keluar.


"maaf pak, bapak cari siapa yah? "


sapa Mora ketika melihat Bramantio kembali dari ruangan Bagas


"Bagas kemana yah?, apa dia belum datang? "


"Oh pak Bagas Tidak masuk hari ini pak"


"apa ada pesan pak untuk pak Bagas, nanti biar saya sampaikan ke pak Bagas"


Mora sangat berhati-hati berbicara pada orang yang ada di depannya ini, mengingat orang ini adalah fatner kerja bosnya yang paling berpengaruh di kantor ini.


"tidak terimakasih"


Bramantio hendak melangkah pergi namun ia mengurungkan niatnya dan berbalik badan.


"kenapa Bagas tidak masuk hari ini?"


"tadi pak Bagas bilang adiknya sedang sakit dan di rawat drumah sakit pak"


"Kamu tahu dirumah sakit mana? "


"sebentar yah pak saya cek dulu pesannya"


Mora membuka handphonenya untuk melihat di rumah sakit mana adik Bagas di rawat


"di rumah sakit Harapan Bunda pak"


"Oh iyah terimakasih yah atas informasinya"


Baramantio pun pergi ia berencana hendak menjenguk adiknya Bagas di rumah sakit.


saat langkah Bramantio sampai di pintu masuk ia melihat Zahra yang sedang memegangi cairan pembersih kaca dan sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding.


gadis itu melamun sampai-sampai Zahra tak sadar sedang di perhatikan.


Bramantio menghampiri Zahra yang masih setia dengan acara melamunnya


"Heii"


Bramantio mengibaskan tangannya di depan wajah Zahra


"Ehhh ,i…iyah pak"


Zahra terkejut dan gugup saat tiba-tiba Bramantio sudah ada di hadapannya.


"apakah kamu selalu mengawali pagi mu dengan lamunan? "


ucap Bramantio dengan sedikit nada mengejek


"Ohh eng,…enggak pak saya cu…. cuma itu anu Ehmm liat mobil itu iyah liat mobil itu"


Zahra menyengir gugup , menjawab sedapatnya dan menunjuk ke segala arah.


Bramantio tersenyum melihat tingkah lucu gadis ini


"dari pada kamu melamun terus lebih baik kamu ikut saya"


"Hahhh kemana pak? "


Zahra membulatkan matanya


"kerumah sakit"


jawab Bramantio singkat tak mengatakan tujuan sebenarnya


"maaf pak, sa…saya sehat kok gak lagi sakit"


Zahra menampilkan ekspresi ke bingungan, sementara Bramantio tertawa di buatnya.

__ADS_1


"saya bukan mau periksain kamu, tapi saya lagi mau jenguk seseorang di rumah sakit"


Zahra mengaruk kepalanya yang tak gatal karena merasa malu sudah salah paham


"Sudah, ayo"


ajak Bramantio yang lebih dahulu melangkah


"tapi pak? "


ucapan Zahra menghentikan langkah Bramantio


"tapi apa? "


"ini kan masih jam kerja kalau saya pergi di jam kerja, nanti atasan saya bisa marah pak"


wajah Zahra menampilkan ke khawatiran sebab, semua karyawan di kantor ini yang akan keluar di jam kerja di wajibkan izin terlebih dahulu.


"masalah atasan kamu itu urusan saya, kamu tenang saja. "


"sudah ayo"


Bramantio melangkah menuju mobilnya sementara Zahra mengikutinya.


sesaat kemudian Zahra terheran melihat Pak Bramantio yang menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke dalam mobil.


dan memperhatikannya dengan tatapan sedikit aneh.


"ada apa yah pak? "


Tanya Zahra melihat Bramantio mengerutkan keningnya sambil menatapnya.


"apa kamu yakin kerumah sakit dengan membawa cairan pembersih kaca? "


Bramantio melirik tangan Zahra yang masih menggenggam cairan pembersih kaca.


"oh ma…maaf pak saya lupa. sebentar pak saya mau mengembalikan ini dulu"


Zahra kembali masuk ke dalam kantor dengan sedikit berlari.


......


di perjalanan Zahra hanya terdiam sembari memperhatikan jalanan kota.


sesekali Bramantio memperhatikan Zahra dari kaca spion yang ada di plafon mobilnya.


tak lama kemudian setelah mereka membeli parsel buah dan boneka untuk adiknya Bagas, mereka pun melanjutkan perjalanan yang di tempuh selama kurang lebih 15 menit.


Zahra masih belum mengerti siapa yang akan di jenguk pak Bramantio .mengapa ia di perintahkan untuk memilih boneka


akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit yang di sebutkan oleh Mora pagi tadi.


Bramantio menanyakan letak kamar Kiran pada seorang suster yang berada di ruang administrasi.


Bramantio pun memerintah kan supirnya untuk membawakan boneka dan parsel tersebut .sementara Zahra hanya mengikuti langkah mereka.


Sesampainya di lorong ruangan kelas VVIP, Bramantio pun menuju salah satu kamar yang bertuliskan Mawar II.


"maaf pak saya nunggu di luar aja"


pinta Zahra sebab ia tak enak hati jika ikut masuk ke dalam ruangan.


"saya mengajak kamu kesini untuk ikut menjenguk bukan menunggu saya"


Bramantio melihat Zahra merasa tak nyaman.


Terpaksa Zahra mengangguk kan kepala dan ikut masuk ke dalam ruangan.


Seketika mata Zahra membulat melihat keberadaan Bagas ada di dalam ruangan ini.


Bagas pun tak kalah terkejutnya dengan Zahra.


mereka berdua saling menatap menampilkan ekspresi mereka masing-masing.

__ADS_1


Bramantio yang melihat hal itu pun akhirnya memahami cara Bagas memandang Zahra.


sepertinya pemuda ini menaruh hati pada Zahra.


"Hai Kiran"


sapa Bramantio pada Kiran


"Hai om"


"sebenarnya Kiran sakit apa ?"


Bramantio mendekati Kiran yang masih terbaring


"Kiran cuma alergi susu sapi kok om, ini juga udah enak an tinggal lemasnya aja"


Kiran mengulas senyum


"nih om bawain buah sama boneka buat kamu"


Bramantio menyerahkan boneka beruang yang berukuran cukup besar


"wahhh terimakasih om"


Kiran terlihat senang mendapatkan hadiah dari teman papanya itu.


Sementara supir Bramantio permisi keluar setelah meletakkan parsel di atas meja yang terdapat di samping tempat tidur Kiran.


Zahra yang tak tahu siapa gadis kecil yang terbaring itu pun hanya diam memperhatikan.


"bagaimana bapak tahu Kiran di rawat di rumah sakit pak"


tanya Bagas keheranan


"saya tadi ke kantor kamu, sekretaris kamu yang memberitahunya"


Bagas baru ingat tadi pagi ia mengirim pesan ke Mora


"ohh iyah saya minta izin untuk membawa Cleanning servis kamu kesini. saya meminta tolong ke dia untuk memilih kan boneka untuk Kiran"


Zahra yang memilih boneka yang saat ini di pegang Kiran.


"Oh iya Zahra saya minta maaf belum menjelaskan siapa yang sakit. ini adiknya bos kamu "


Zahra tersenyum manis ke arah Kiran dan di balas dengan lambaian tangan dari gadis kecil itu.


Zahra baru tahu Bagas memiliki adik secantik ini, wajah mereka sangat lah mirip.


"Oh iyah Bagas ,orang tua kamu kemana? "


Bramantio mencari kedua orang tua Bagas sebab di dalam ruangan ini hanya ada Kiran dan Bagas.


"mamah sama papah tadi pulang sebentar om sebab tadi pagi kami terburu-buru dan tidak membawa barang apapun selain mobil dan handphone saya"


"mungkin mamah mengambil sesuatu"


Bagas pun belum sempat sarapan bahkan ia baru mencuci muka di kamar mandi yang ada di ruangan ini.


"Bagas, bisakah kita mengobrol sebentar di luar? ada sesuatu hal yang perlu saya bicarakan sama kamu"


Bagas melihat ke arah Kiran ia bingung jika ia keluar siapa yang akan menjaga adiknya.


Zahra yang memahami ekspresi Bagas, ia pun menawarkan diri.


"biar saya pak yang menemani adik bapak disini "


"baiklah, terimakasih Zahra saya titip adik saya"


Bagas dan Bramantio pun pergi keluar meninggalkan Zahra dan Kiran di dalam kamar.


********


Author balik lagi nih. walaupun belum fit banget kesehatan matanya.

__ADS_1


tapi Author ttep semangat up karena banyak yang support 🤗🤗


__ADS_2