Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
26 pamit


__ADS_3

Bagas melangkah keluar meninggalkan kamar ibunya Zahra, ia melewati Zahira yang sedang duduk memainkan ponselnya di sofa ruang tamu.


Bagas tak nemperdulikannya ia melewatinya begitu saja seperti tak ada siapapun disana.


berbeda dengan Zahira tangannya berhenti memainkan ponsel, pandangannya beralih melihat Bagas yang melewatinya.


"siapa pemuda tampan itu, apakah dia kekasih Zahra, sepertinya dia pemuda tajir"


Zahira bergumam dan buru-buru bangkit untuk menghampiri pemuda itu.


Sementara Bagas memilih duduk di ayunan yang letaknya di bawah pohon mangga.


Hatinya ikut berdenyut sakit melihat Zahra di perlakukan demikian,walaupun dengan orang tuanya sendiri.


"tapi yang aku dengar tadi ayah Zahra mengatakan kalau Zahra bukan anaknya"


Bagas berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi di keluarga ini mengapa orang tua Zahra bisa membenci Zahra yang notabenya anak mereka.


"Hay"


sapaan seseorang membuat lamunan Bagas menjadi buyar.


ternyata Zahira sudah berdiri di samping Bagas.


"Ehh hay"


Bagas memperhatikan Zahira, gadis yang berdiri di sampingnya


"namaku Zahira"


Zahira mengulurkan tangannya


"Bagas"


di sambut Bagas


Bagas tersenyum berusaha untuk sedikit ramah karena mengingat dirinya adalah tamu.


Ia memperhatikan Zahira , wajah Zahira tak memiliki kemiripan dengan Zahra. Zahira memiliki warna kulit yang cenderung lebih putih di bandingkan Zahra.


Dengan mata yang sedikit besar dan hidungnya yang mancung. Zahira di kategorikan gadis yang cantik berbeda dengan Zahra, Zahra tak secantik Zahira tapi Zahra jauh lebih manis dan lebih nyaman di pandang mata. siapapun tak bosan memandangi wajahnya.


"Kamu siapanya Zahra? "

__ADS_1


Zahira penasaran siapa pemuda ini dan memiliki hubungan apa dengan Zahra


"aku teman dekatnya Zahra"


Zahira terkejut ternyata adiknya yang berpenampilan seperti itu memiliki teman dekat setampan ini bahkan dirinya saja tak memiliki satupun teman dekat yang sebanding dengan pemuda ini.


Andai saja Zahira tahu kalau Bagas adalah direktur bahkan pewaris perusahaan terbesar di kota B mungkin Zahira pingsan mendadak.


Zahira terkesan playgirl sejak masih sekolah ia sering bergonta ganti pasangan, ia mencari pasangan sesuai isi dompet, yah Zahira terbilang matre dan tak bisa tenang jika melihat laki-laki tajir apalagi tampan.


Namun Bagas sama sekali tak tertarik dengan Zahira walaupun gadis itu cantik. Zahira juga termasuk gadis yang sexy.


bisa di lihat dari penampilannya yang memakai stelan jeans pendek di atas lutut yang di padukan dengan kaos ketat berwarna hitam dengan potongan kaos yang rendah di bagian lehernya, menampilkan kulit putihnya.


gadis idaman Bagas bukanlah yang berpenampilan seperti itu, ia sangat jengah dengan perempuan yang memilih penampilan yang sangat terbuka.


ia lebih tertarik dengan gadis seperti Zahra berpenampilan sederhana dan sedikit tertutup.


benar kata kebanyakan orang, laki-laki yang berilmu tinggi akan lebih memilih perempuan dengan penampilan sederhana di banding dengan perempuan yang berpenampilan berlebihan.


Lain halnya dengan Zahra setelah ia pamit dengan ibunya dia melangkah keluar kamar untuk pulang.


tapi di urungkan niatnya, Zahra ingin bertemu ayahnya terlebih dahulu sebelum pulang.


Zahra mencari keberadaan ayahnya, Zahra tahu dimana ayahnya sering menyendiri.


Benar saja saat Zahra menghampiri ruang kerja ayahnya terlihat sang ayah berdiri di dekat jendela. pandangannya lurus ke arah luar jendela.


"Ayah"


Zahra memberanikan diri untuk memanggil ayahnya namun yang di panggil tak menjawab hanya diam dengan pandangan yang tak beralih sedikitpun.


Zahra melangkah sedikit mendekati ayahnya dan berdiri agak jauh di belakangnya.


Adam menyadari kedatangan Zahra bahkan mendengar panggilan Zahra tapi ia memilih diam.


"Yahh, Zahra sudah tahu semuanya"


"Zahra minta maaf yah jika kehadiran Zahra di keluarga ini menjadi pokok masalah terbesar bagi ayah"


Zahra terus mencoba berbicara dengan ayahnya walau tak di tanggapi sang ayah.


"ayah ,seandainya Zahra bisa memilih takdir"

__ADS_1


Zahra menghentikan ucapannya mencoba menahan air matanya.


"Zahra tak ingin lahir ke dunia ini karena kejadian itu. pasti Zahra akan memilih menjadi anak ayah. sekarang Zahra tahu apa alasan ayah tak menyayangi Zahra"


Air mata yang berusaha ia tahan akhirnya lolos membasahi pipinya.


"Andai ayah tahu Zahra sangat menyayangi ayah dan juga ibu. bagi Zahra, ayah teap ayah Zahra dan juga pahlawan bagi Zahra. Zahra sama sekali tak dendam apalagi benci walaupun ayah sedikit keras pada Zahra. "


Sesekali ia menyeka air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.


"ayah tahu gak sifat ayah ke Zahra itu yang buat mental Zahra menjadi kuat, bahkan sekarang Zahra bisa jalanin hidup di kota orang dan Zahra sudah bekerja yah punya penghasilan sendiri"


Zahra berusaha tersenyum sedikit di paksakan dengan air mata masih menetes.


"Ayah ingat ga sewaktu Zahra masih kecil saat itu usia Zahra masih 8 tahun, Zahra pernah jatuh dari pohon mangga dan kaki Zahra mengalami patah tulang dan di saat itu juga ayah sigap menggendong Zahra. itulah pertama kali Zahra ngerasain di gendong ayah"


Zahra berusaha menceritakan kenangan indah yang ia ingat. walaupun patah tulang tapi karena kejadian itu ia bisa merasakan gendongan ayahnya.


"Zahra bisa rasain kok yah kalau ayah punya sedikit rasa sayang untuk Zahra, mungkin ayah belum bisa terima kenyataan dan belum bisa sepenuhnya memaafkan kejadian puluhan tahun itu"


Adam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Zahra .apa yang dikatan Zahra benar dihatinya tersimpan rasa sayang untuk Zahra tapi tertutup oleh rasa dendam,benci, dan juga rasa egois yang tinggi.


Adam sebenarnya bangga dengan Zahra sedari kecil ia mandiri dan tidak manja, sekeras dan sekasar apapun sikapnya terhadap Zahra namun, Zahra tak pernah sekalipun melawan atau menentang ucapannya.


bahkan Zahra anak yang penyayang dan perhatian terlebih pada orang tuanya.


pernah Suatu hari Adam jatuh sakit dan tak masuk kerja. dan kebetulan juga di hari itu di sekolah Zahira mengadakan pentas seni yang di haruskan orang tua atau wali siswa hadir ke sekolah.


karena Zahira ngambek memaksa salah satu dari mereka harus hadir mau tidak mau Venti harus menghadiri acara itu dan meninggalkan Adam dirumah yang sedang sakit.


Pada saat itu Zahra masih duduk di bangku SMP dan memilih tidak masuk sekolah demi menjaga dan merawat Adam. sementara nenek Zahra berada di rumah paman Zahra .


Dengan cekatan tangan mungil Zahra mengompres kening Adam dan tak ragu Zahra menyuapi bubur untuk Adam. Adam masih mengingat jelas kenangan itu.


Adam sudah terlanjur bersifat kasar pada Zahra sungguh dendam di hatinya mengalahkan rasa sayangnya. Andai saja Zahra bertemu ayah kandungnya jujur saja hati Adam tak akan rela.


bukan waktu yang sebentar Adam hidup berdampingan dengan anak ini, tentu saja perasaan sayang layaknya seorang ayah tumbuh di hatinya.


pikiran Adam masih jauh mem-flashback kejadian di masa lalu sampai ia lupa Zahra masih ada di belakangnya.


************


Author ngetiknya sampe kebingungan antara Zahra dan Zahira,sampe" di ketik Zahora. 😂 semoga kalian yang baca lidahnya gak pegal linu yah 😆

__ADS_1


Salam manis Author


~EtyRamadhii 🤗


__ADS_2