Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
94 niat baik


__ADS_3

"hallo"


sapa Bramantio saat teleponnya tersambung dengan Zahra.


"kamu udah pulang nak? "


tanya nya


"sudah pah, baru juga sampai. ada apa ya pah? "


"papah malam ini mau kerumah kak Eza. kamu mau ikut? "


Malam ini Bramantio hendak berkunjung ke rumah Eza sekaligus ingin meminta izin pada Eza atas niatnya untuk menikahi Sinta.


"enggak deh pah, lain kali aja. Zahra lagi capek banget"


sahut Zahra dengan nada lemah


"Oh yaudah, kamu istirahat aja deh. jangan lupa makan malam"


"iya pah.Semangat papah "


ucap Zahra memberi support pada papahnya.


Bramantio pun hanya tertawa dan tak lama kemuadian obrolan mereka selesai ia pun memutuskan sambungan teleponnya.


ia sudah bersiap-siap hendak pergi ke rumah Sinta.


malam ini jalanan kota lumayan ramai ,walaupun malam ini bukan malam weekend.


Setelah Bramantio membeli buah tangan untuk di bawa kerumah Sinta, ia pun melanjutkan perjalanannya.


Bramantio sudah sangat yakin hendak membicarakan persoalan ini. masalah Eza setuju atau tidaknya itu urusan belakang.


yang terpenting ia sudah berusaha untuk meminta izin. toh dia tidak akan bermain-main mengingat usianya tak lagi muda bahkan bisa di katakan sudah pantas memiliki cucu. jika harus bercanda soal hubungan rasanya itu tidak mungkin.


jika di tanya sejak kapan mereka dekat dan seberapa lama mereka pacaran. Bramantio juga bingung sebab ia maupun Sinta tidak pernah mengungkapkan rasa layaknya ABG yang sedang jatuh cinta.


mereka mengikuti alur, tanpa mengungkapkan rasa .seiring berjalannya waktu keduanya memiliki kesamaan rasa.


Pada saat itu Bramantio dengan tiba-tiba mengatakan akan menikahi Sinta dan begitupun juga dengan Sinta, ia tidak berpikir panjang untuk menerimanya.


tak terasa 40 menit berlalu kini mobil Bramantio memasuki kawasan perumahan .


rumah Sinta hanya berjarak sekitar 100 meter dari pintu masuk.


Sementara Sinta yang baru saja selesai memanaskan sayur mendengar deru suara mobil.


dengan langkah cepat ia berlari menuju pintu depan. dengan kain lap masih bertengger di bahunya.


"Assalamualaikum, "


ucap Bramantio


"Walaikum salam "


Sinta membuka pintu terlihat Bramantio sudah berdiri di depan pintu.


"eh mas "


"silahkan masuk"


Sinta mempersilahkan Bramantio untuk masuk.


"Oh iyah terimakasih "


"Eza ada dirumah? "


Bramantio celingukan mencari Eza


"ada kok mas dia lagi mandi baru pulang kerja "


"Eza lembur ?"


tanya Bramantio


"iyah mas"


"ada kerjaan tadi yang harus di selesaikan "


"ehmm. Oh iyah ini ada bingkisan tadi saya mampir sebentar di toko kue"


Bramantio menyodorkan bungkusan plastik berisikan bolu.


"Ya ampun pakai repot-repot si mas. makasih yah"


Sinta pun menerimanya


"mas silahkan duduk saya mau ke dapur dulu"


Bramantio hanya mengangguk dan berjalan menuju sofa sementara Sinta ia sudah beranjak menuju dapur.

__ADS_1


Eza yang baru selesai mandi pun menghampiri sang ibu yang sedang memasak air.


"Ada siapa bu? "


tanya Eza tangannya sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


"ada pak Bram "


ucap Sinta yang kini sedang menyeduh teh


"Oh. yaudah Eza ke depan yah bu"


Eza melangkah pergi menuju kamarnya untuk memakai baju yang lengkap.


kini Eza menghampiri Bramantio


"eh ada pak Bramantio "


sapa Eza


"ah iyah Za. kamu baru balik dari kantor?"


"iyah pak ada berkas perusahaan tadi yang harus di selesaikan"


Eza turut duduk di sofa yang berada di depan Bramantio.


"bapak sendirian aja? "


Eza celingukan mencari bocil kesayangannya yaitu Zahra.


"ah iyah. Zahra tidak ikut soalnya baru pulang kuliah. lelah katanya"


tutur Bramantio


"iyah sih pak lagipula ini hari pertama ia menjalankan usaha restonya"


"pasti dia lelah"


Eza seolah mengerti


"iyah dan hari ini bapak juga baru memasukkan 1 karyawan sebagai chef untuk fatner kerjanya. supaya ada yang handel kalau Zahra tidak masuk, yah sekaligus supaya Zahra tidak terlalu lelah mengerjakan sendiri"


tutur Bramantio


"Oh bagus deh pak. pantesan tadi siang ada karyawan yang menurut saya asing ternyata karyawan baru"


"iyah Zah"


Sampai akhirnya Sinta datang membawa nampan yang berisikan teh hangat beserta camilan.


"Silahkan di minum pak tehnya"


Sinta meletakkan teh hangat, di atas meja yang berada di depan Bramantio .


"iyah terimakasih "


ucap Bramantio. Sinta masih canggung memanggil Bramantio dengan sebutan mas ketika tidak sedang berdua.


Bramantio tidak keberatan akan hal itu, menurutnya setiap manusia pasti memiliki proses untuk menyesuakan diri dengan keadaan yang menurutnya masih baru.


"Oh iyah Za. kedatangan bapak kesini mau membicarakan hal penting sama kamu"


Bramantio mulai berbicara serius.


"hal penting apa yah pak? "


Eza mengernyitkan keningnya


"Sebelumnya bapak minta maaf jika lancang sudah mengumumkan soal pernikahan bapak dan ibu kamu yang belum kamu ketahui sebelumnya "


"bapak meminta izin, bapak ingin menikahi ibu kamu "


Sorot mata Bramantio memancarkan keseriusan yang dapat di rasakan oleh Eza.


"bapak tidak perlu meminta maaf. justru saya yang minta maaf karena sudah bersikap tidak sopan dengan ibu saya dan juga bapak"


Eza sedikit memainkan jarinya ia merasa tidak enak hati.


"wajar saja kamu marah mungkin kamu terkejut akan hal itu. yah bisa terbilang mendadak"


tutur Bramantio


Sinta hanya terdiam ia menyerahkan semua keputusan tersebut pada Eza.


"Saya mengizinkan jika bapak ingin membangun bahtera rumah tangga dengan ibu"


ucap Eza tegas.


"dengan syarat bapak berjanji tidak akan menyakiti hati ibu saya apalagi fisiknya"


timpal Eza menegaskan.

__ADS_1


Bramantio tersenyum mendengar hal itu. ia tahu Eza sangat menyayangi ibunya.


"kamu tidak perlu khawatir. bapak tidak akan menyakiti hati wanita yang sangat berharga dalam hidupmu. kebahagiaannya adalah tanggung jawab bapak begitu juga denganmu"


"kamu bisa pegang kata-kata bapak"


Bramantio menatap Eza lembut seakan mengatakan semua akan baik-baik saja


"baik pak . bapak harus tahu jika hal itu terjadi saya orang pertama yang akan berhadapan dengan bapak"


Eza tidak main-main dengan ucapannya. baginya sang ibu adalah berlian terindah yang harus ia jaga baik-baik .


"kamu bisa lakukan apa saja yang kamu mau untuk menghukum bapak jika hal itu terjadi"


"bapak serius ingin menjadi imam buat ibu kamu dan ingin menjadikan ibu kamu sebagai ibu bagi Zahra"


Bramantio sesekali menatap Sinta


"iyah pak. saya percaya bapak"


Eza sudah yakin tentu saja berkat masukan dari Rianda dan juga Bagas.


"terimakasih Eza bapak akan menjaga ibumu sebaik mungkin. dan bapak juga akan meminta izin pada ayahmu besok pagi"


"baik lah pak. saya cuma berharap wanita terhebat dalam hidup saya ini bisa bahagia "


Eza memandang Sinta yang kini matanya sudah berkaca-kaca.


"kamu tenang saja, saya akan membahagiakannya "


Bramantio tersenyum lembut.


"dan kapan kira-kira pernikahan itu akan di laksanakan? "


tanya Eza


"kalau bapak berharap secepatnya namun kembali lagi pada ibu kamu dan yah tentunya kamu"


Bramantio tak mempermasalahkan hal itu.


"Saya sih terserah bapak dan Eza aja. bagi saya izin dari Eza sudah membuat saya legah"


Sinta membuka suara


"yasudah bu niat baik harus di segerakan. toh Eza mengizinkan kok"


tutur Eza


"yasudah mungkin dalam waktu dekat ini akan di laksanakan "


ucap Bramantio


"maaf pak Bram. boleh kah saya meminta sesuatu hal? "


pinta Sinta


"iyah silahkan Sinta"


"saya hanya ingin pernikahan ini di gelar sederhana saja dan tidak perlu mewah apalagi mengundang banyak tamu"


"loh kenapa bu? "


tanya Eza terkejut.


"iyah Sinta .kenapa? "


timpal Bramantio


"yah menurut saya sederhana saja sudah lebih dari cukup. lagipula kita bukan anak muda yang baru merasakan pernikahan. biarlah pernikahan anak-anak kita saja nanti yang mewah"


Sinta benar-benar ingin pernikahan itu di adakan sederhana


"baik lah bu terserah ibu saja bagi Eza yang terpenting kebahagiaan ibu "


"bagaimana pak. bapak tidak keberatan kan? "


Eza beralih bertanya pada Bramantio


"tentu saja tidak. bapak juga malu dengan usia bapak jika harus menikah dengan acara megah"


Bramantio tertawa


Mereka pun mengobrol dan membicarakan tanggal serta hari bahagia untuk Bramantio dan Sinta


…………


"Bukan seberapa banyak rayuan yang di lontarkan tetapi seberapa yakin akan pembuktian yang di berikan. Cinta bukan sekedar janji tapi juga bukti yang menjadi penguatnya"


Selamat malam guys. semoga suka dengan kelanjutannya jangan lupa like and votenya


terimakasih😊

__ADS_1


__ADS_2