Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
40 peringatan


__ADS_3

Bramantio memutuskan untuk melakukan penarikan dana perusahaan yang ada di perusahaan Wijaya, Karena desakan Yura sang istri untuk memberikan peringatan pada keluarga Wijaya perihal kejadian malam tadi.


hal itu yang membuat Bramantio terpaksa melakukan hal yang tak sewajarnya.


ia memutuskan untuk menemui Bagas dan Wijaya di kantornya.


Sebenarnya ia enggan melakukan hal ini, jika ia membatalkan proyek kerja sama serta menarik modalnya hal itu juga akan membuat dirinya mengalami kerugian yang besar.


tapi, Bramantio melakukan ini demi sang putri Vera.



Jam menunjukkan pukul 9 pagi, tetapi Zahra belum juga menyelesaikan pekerjaannya mengepel lantai.


Status Zahra sekarang memanglah pacar pak direktur di kantor ini, tapi hal itu tidak membuat dia semena-mena bisa bermalas-malasan.


bahkan tidak ada yang mengetahui perihal hubungan mereka berdua. mereka sama-sama berjanji untuk menutupi hubungan ini dan tidak mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan.


Semua itu atas permintaan Zahra.


Saat ini Zahra sedang mengepel lantai tepat di depan ruangan Bagas.


Zahra melihat pak Bramantio sedang berjalan tergesa-gesa bahkan sama sekali tidak menoleh Zahra yang sedang mengepel lantai.


Sementara pintu ruangan tersebut masih terbuka.


Zahra mendengar jelas obrolan Pak Wijaya dan Pak Bramantio di dalam ruangan tersebut.


Zahra pura-pura mengepel lantai dekat dengan pintu ruangan Bagas , ia ingin tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


Zahra mendekatkan daun telinganya ke pintu.


"Pak Bramantio saya minta maaf atas kejadian tadi malam, saya tidak bisa memaksakan Bagas untuk melanjutkan perjodohan itu"


terdengar suara pak Wijaya


"maafkan saya pak, saya hanya tidak ingin menyakiti Vera lebih dalam"


Bagas pun ikut serta angkat bicara


"saya harap Pak Wijaya dan Bagas bisa memikirkan kembali perihal perjodohan ini, karena sampai saat ini Vera anak saya masih mengurung diri di dalam kamar karena kejadian tadi malam"


"anak saya benar-benar mencintai Bagas"


Zahra yang mendengar hal itu merasa sakit hati .


perempuan manapun akan merasakan sakit hati saat org yang di sayangi juga di cintai perempuan lain.


"jika perjodohan ini batal mohon maaf pak Wijaya ,saya tidak bisa meneruskan proyek kerja sama ini, saya juga terpaksa menarik modal dari perusahaan ini"


Zahra membulatkan mata mendengar ucapan Bramantio.


"sampai segitunya banget membela Vera, bahkan salah pun tetap saja di bela"


Zahra menggerutu kesal, entah mengapa Zahra cemburu saat mengetahui Bramantio sangat memanjakan Vera.


"Jika pak Bramantio akan melakukan hal itu saya tidak bisa mencegah pak. dan saya juga tidak mungkin memaksakan perasaan Bagas anak saya"


"pak Bramantio sebagai orang tua ingin membuat putri bapak bahagia, bahkan apapun akan bapak lakukan demi kebahagiaan anak bapak.begitu juga dengan saya pak, saya juga ingin melihat Bagas bahagia dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan. Saya rasa permasalhan ini lebih baik di selesaikan oleh anak-anak kita"


Wijaya dengan bijak menuturkan hal itu


"saya cuma berharap ada itikad baik dari keluarga pak Wijaya untuk datang dan menjelaskan hal ini"


Bramantio pun beranjak dari duduknya


"saya permisi pak"


Bramantio melangkah keluar meninggalkan Wijaya dan Bagas di dalam.


Zahra dengan cepat membalikkan tubuhnya dan berpura-pura kembali mengepel lantai saat mengetahui Pak Bramantio akan keluar dari ruangan tersebut.


Sesaat setelah Bramantio sudah berjalan sedikit jauh dari ruangan tersebut Zahra kembali mendekati pintu ruangan Bagas.


Zahra mendengarkan pembicaraan Bagas dan Wijaya.


"Pah bagaimana ini? "


"Bagaimana jika Pak Bramantio membatalkan proyek kerja samanya bahkan menarik modalnya"


Bagas merasakan khawatir.


tapi di sisi lain ia tak mungkin menerima perjodohan ini untuk di lanjutkan.


"kamu tenang saja, bagi papah itu tidak masalah. "


"papah tidak keberatan jika perusahaan ini harus rugi karena hal itu. Papah juga tidak menyukai jika hal bisnis di campurkan dengan urusan pribadi"

__ADS_1


Wijaya benar tak seharusnya hal itu di kaitkan dengan masalah di perusahaan.


"terimakasih pah, papah sudah mengerti perasaan Bagas"


"lalu bagaimana kita mengatasi keadaan seperti ini pah?. pengeluaran di perusahaan ini semakin banyak"


Bagas memperhatikan papahnya


"jalan satu-satunya kita harus melakukan pengurangan karyawan baik itu security, Cleanning servis, ataupun staf produksi untuk meminimalisir pengeluaran uang perusahaan"


"bisa saja papah mengambil dana dari usaha papah yang lain, tapi sepertinya itu tidak perlu "


Zahra yang mendengar hal itu pun terkejut, Zahra tak rela jika sebagian dari teman-temannya harus di keluarkan dari kantor ini.


mungkin Zahra tidak akan di keluarkan, Zahra yakin Bagas tidak akan mengeluarkannya.


tapi bagaimana dengan teman-temannya.


"secara tidak langsung semua ini karena aku"


ucap Zahra dalam hati


Zahra berjalan gonta menuju dapur, pikirannya berkecamuk setelah mendengar obrolan Bagas dan Wijaya.


Zahra menghentikan langkahnya saat melihat teman-temannya sedang beristirahat di dapur sambil bercanda .


"aku gak akan mungkin bisa memaafkan diriku sendiri jika mereka sampai di keluarkan hanya gara-gara ke egoisanku"


"mereka adalah keluarga bagi ku, banyak sekali kenangan tercipta bersama mereka di kantor ini. Bagaimana jika pak Bramantio benar-benar membatalkan kerja sama dan menarik modalnya"


Zahra sedih ia menyalahkan dirinya sendiri, sudah dapat di pastikan Bagas menolak perjodohan itu pasti karena dirinya.


Zahra merasa egois ketika ia menerima Bagas. Zahra tak menyangka apa yang di lakukannya berdampak besar bagi perusahaan ini dan nasib teman-temannya.


Andai saja teman-temannya mengetahui hal ini sudah dapat di pastikan mereka akan membenci Zahra.


Tidak seharusnya Zahra hadir di tengah-tengah perjodohan mereka.


Ada rasa geram di hati Zahra pada Vera.


Vera semena-mena melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di inginkannya. Bahkan pak Bramantio sangat membela anaknya dan mengikuti semua kemauan anaknya.


Zahra mengepal tangannya . Zahra bukan termasuk gadis yang memiliki sifat dendam. tapi entah mengapa menyangkut hal ini ia merasa ingin membalaskan kekesalannya.


"Aku sangat yakin pak Bramantio itu ayahku."


Zahra kemudian teringat dengan potongan rambut Bramantio yang di dapatnya kemarin.


Entah mengapa keyakinan di diri Zahra tentang Bramantio adalah ayahnya semakin besar.


"jika semua dugaan ku selama ini benar, aku akan membalaskan semuanya"


Zahra mengepalkan tangannya.


Zahra merasa kesal Bramantio dengan mudahnya melakukan hal ini demi membela Vera anaknya.


……………


jarum jam sudah menuju angka 12 itu artinya jam istirahat untuk makan siang pun tiba.


Zahra serta teman-temannya yang lain pun hendak makan siang.


mereka baru saja memesan nasi bungkus, tidak ada yang di perbolehkan makan di luar ketika jam makan siang tiba.


peraturan konyol itu ternyata tetap di buat oleh Bagas. mau tidak mau Zahra pun harus mematuhi setiap peraturan yang ada.


"Kak Zahra"


terdengar suara Kiran memanggil Zahra membuat semua orang yang berada di dapur menoleh ke arah sumber suara.


"Itukan adiknya pak Bagas"


Tangan Erma yang hendak membuka bungkusan nasipun jadi terhenti.


"Ehh iyah"


Jawab Laras yang berada di samping Erma.


Kiran masuk ke dapur dan menghampiri Zahra, gadis itu turut duduk secara lesehan di dapur.


"Loh Kiran ngapain disini? "


sebelumnya Zahra tidak pernah melihat Kiran berada di kantor.


"Kiran tadi nyusulin papah, jadi sekalian mau ketemu kakak"


"Kiran kangen"

__ADS_1


Kiran tersenyum manja pada Zahra.


Sementara itu Erma, Runi dan Laras tercengang melihat anak dari pemilik perusahaan ini bisa akrab dengan Zahra.


mereka bertiga saling memandang satu sama lain, Zahra yang melihat hal itu pun tahu apa yang sedang di pikirkan oleh ke 3 temannya.


"aku udah kenal sama Kiran, aku pernah menemani dia sewaktu di rumah sakit"


seolah Zahra paham pertanyaan yang akan keluar dari mulut temannya.


"tapi kok.. "


belum sempat Erma bertanya Zahra mengangkat tangannya.


"tidak menerima berbagai macam pertanyaan lagi. soalnya mau makan "


ucap Zahra membuat Erma mencelikkan bibirnya karena kesal.


Erma adalah teman Zahra yang paling rempong sekaligus terlalu banyak bertanya.


Runi dan Laras tertawa melihat tingkah kedua temannya.


"Kiran sudah makan siang? "


Tanya Zahra pada gadis cantik itu


Kiran menggelengkan kepalanya.


"ehhmmm Kiran emangnya mau makan bareng sama kakak? "


Zahra ragu menawarkan Kiran makan bersama sebab Zahra berpikir gadis ini tidak akan mau makan makanan sederhana seperti ini.


"Kiran mau banget kak"


Kiran dengan semangat menjawab membuat Zahra tersenyum.


"yaudah kita makan berdua yah"


akhirnya Zahra dan Kiran makan satu piring berdua, membuat semua teman Zahra tak percaya dengan apa yang mereka lihat .


Baik Kiran maupun Bagas mereka tidak pernah memiliki rasa gengsi yang tinggi.


Bukan hanya Kiran saja yang mau makan secara lesehan di dapur kantor.


Bagas juga seperti itu ia tak sungkan jika harus makan di warung sederhana yang terletak di pinggir jalan. bahkan makanan kesukaan Bagas adalah nasi uduk.


itu sebabnya Bagas sering mengajak Zahra makan di warung nasi uduk favoritnya ,yang letaknya di dekat terminal.


Sesekali Zahra tampak menyuapi Kiran.


Kiran merasa senang, sejak awal pertama bertemu Zahra ia sudah merasakan yang namanya kasi sayang. Kiran sudah menganggap Zahra sebagai kakaknya.


sekarang Kiran tahu kenapa Bagas menyukai Zahra. ternyata Zahra memiliki ke istimewaan dan rasa peduli yang tinggi bahkan siapapun yang mengenalnya akan merasa kenyamanan bila dekat dengan Zahra.


"Kak nunti tumunin Kiran yuk"


Kiran berbicara dengan keadaan mulut masih penuh..


"Kiran, itu makanannya di telan dulu nanti kamu kesedakan loh"


Zahra memperingati Kiran


Kiran dengan cepat mengunyah dan menelan makanannya.


membuat Zahra menggelengkan kepalanya dan yersenyum


"kak entar temenin Kiran yah ke mall"


Kiran kembali menyuapkan nasi ke mulutnya


"tapi kakak masih kerja"


"udah gak apa-apa kak, kan kakak menemin Kiran ga ada yang bakal marahin kakak kok"


Kiran nyengir dengan keadaan pipi menggembung karena berisi makanan.


"Lagian mana ada yang berani marah kalau anak pak bos yang minta"


Ledek Zahra sambil mengusak lembut kepala Kiran.


………


Author baru balik up lagi


terimakasih yang masih setia terus buat nunggu Zahra.


terimakasih juga buat yang udah hujanin vote buat Zahra.. love you all 🤗🤗

__ADS_1


Salam Manis Author


~EtyRamadhii


__ADS_2