Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
106 om-om absurd


__ADS_3

"Zahra? "


"kenapa kamu tergesa-gesa"


Ucap Sinta saat tiba-tiba Zahra kembali lagi ke rumah sakit.


"Haa.. Haa.. haa"


"tunggu mah, Zahra tarik nafas dulu"


Zahra merasa nafasnya seakan tercekat, sebab ia berlari dari parkiran rumah sakit menuju ruangan dimana Zahira di rawat.


Zahira juga terlihat sudah membaik bahkan ia sudah mau berbicara.


"kau kenapa?"


tanya Zahira saat melihat Zahra seperti habis lari maraton.


"Neng Gak apa-apa kan? "


Bi Darmi turut bertanya.


Sementara Zahra memilih duduk di sofa di samping bi Darmi.


"minum dulu neng"


Bi Darmi menyerahkan air mineral untuk Zahra.


"terimakasih bik"


Zahra kemudian minum dan hanya menyisakan sedikit air tersebut.


"ahhhhh"


Ucap Zahra merasa legah


"kamu kenapa sih Ra? "


desak Sinta memperhatikan anaknya


"gini mah, "


"pertama tama yang paling utama Zahra mau tanya dulu"


"tanya apaan? "


Sinta sedikit kesal karena Zahra tak kunjung bercerita.


"kenapa ga ada yang angkat telepon Zahra"


rengek Zahra membuat orang yang ada di dalam ruangan saling pandang.


"Handphone aku kan dirumah Ra"


jawab Zahira, ia memang tak membawa ponsel sebab kemarin ia sudah merasa mulas dan tidak terpikirkan untuk membawanya


"Handphone mamah, mamah buat mode silent"


Sinta nyengir kuda


"Aduhhh mah, ada hal penting yang harus Zahra tanya"


"kan jadinya Zahra bolak balik"


"yah maaf .kan mamah lupa"


Sinta menggaruk tengkuknya yang tak gatal


"ah yasudah lah mah"


Zahra kemudian menghampiri Zahira ia duduk di samping ranjang dimana Zahira tengah terbaring.


"Gimana keadaan mu? "


"aku sudah lumayan baik, ga berasa takut lagi. "


Tutur Zahira


"syukurlah, jangan bersikap seperti itu lagi. aku khawatir"


"hemm"


Zahira hanya mengangguk.


"apa aku boleh bertanya? "


"boleh"


jawab Zahira yang kini berusaha untuk duduk.


"Apa benar kalau Yohana Alex Chandra itu nama asli Alex?"


"soalnya aku lupa"


tanya Zahra memastikan


"iyah itu nama Alex"


jawab Zahira


"Ehm kalau boleh tahu dia kuliah jurusan apa? "


"dia kuliah jurusan Culinary arts"


jawaban Zahira membuat Zahra mengerutkan keningnya


"Hehehe. aku ga ngerti itu jurusan apa? "


"itu jurusan tata boga Ra"


"karena sebagian besar bisnis orang tuanya adalah bisnis kuliner jadi dia memilih jurusan itu. tujuannya untuk mengembangkan bisnis orang tuanya"


"ada apa? "


tanya Zahira heran.


Zahra pun membuka tasnya dan membaca nama narasumber tersebut.


"apa orang tua Alex memiliki restoran di Itali? "


"yah, itu restoran terbesar yang mereka punya, "


"Nah pas, ga salah"


Gumam Zahra


"ada apa sebenarnya? "


tanya Sinta


"aku mendapatkan undangan seminar ke Itali mah, dan aku lihat nama narasumbernya seperti nama Alex"


Zahra menyerahkan undangan tersebut pada Sinta


"Zahra memutuskan untuk menghadiri seminar itu mah, dan membawa Alex kesini"


Zahra tersenyum sambil menggenggam tangan Zahira.


"tapi ini sangat jauh nak"


Sinta khawatir melepas Zahra untuk pergi.


"Zahira bakal ikut bu, "


tiba-tiba Zahira menyahut


"enggak, kau tak boleh ikut"


"kau baru saja melahirkan "


cegah Zahra


"tapi aku tak mungkin membiarkan mu pergi sendiri Ra"


"aku ga mau kalau kau kenapa-kenapa gara-gara aku"


"tidak mungkin kau ikut, sementara anakmu bagaimana? "


perdebatanpun akhirnya tak terelakkan

__ADS_1


"sudah-sudah jangan berdebat, mamah juga ga bakal izinin kalau Zahra pergi kesana"


"ini terlalu jauh"


"tapi mah? "


rengek Zahra kepada mamahnya


"biar aku saja yang menemui Alex Ra"


Zahira terus mendesak


"Gak! "


"pikirkan anakmu Zahira"


Zahra meninggikan nada bicaranya


Saat mereka tengah memperdebatkan hal itu, tiba-tiba terdengar pintu ruangan di ketuk.


"tok.. tok.. tok"


"Assalamualaikum "


terdengar Suara Bramantio


"Walaikum salam "


sahut bi Darmi yang sedari tadi hanya diam melihat perdebatan di ruangan ini.


ia bangkit dan membuka pintu ruangan.terlihat Eza, Bagas,Bramantio dan juga Adam tengah berdiri di ambang pintu.


"masuk pak"


ucap bi Darmi mempersilahkan.


"terimakasih bi"


ucap Bramantio


"bibi sudah makan siang belum, aku bawain nih ayam bumbu rica"


Eza mengulurkan kantong plastik berisikan nasi dan lauk.


"terimakasih den"


"Iyah bi sama-sama"


"skuy bi kita masuk"


Eza merangkul pundak bi Darmi dan duduk di sofa.


"ibu tidak makan siang? “


Tanya bi Darmi pada Sinta


“saya belum lapar bi, bibi makan saja dulu yah “


 


“beneran gak apa-apa nih bu? “


Bi Darmi masih memegangi kantong kresek yang berisikan nasi dan lauk, pemberian Eza tadi.


“Iyah bi, jangan sungkan-sungkan”


 


“Iyah bibi makan saja dulu”


Ucap Zahra


 


“Iyah neng, mari, pa,k bu, mas makan”


Tawar bi Darmi dengan sopan


“Iyah bi terimakasih”


Jawab Bagas


 


Zahra melangkah menuju lemari pendingin,untuk mengambilkan bi Darmi air mineral.


 


“ini bi air minumnya”


Ucap Zahra


“terimakasih neng”


Bi Darmi melanjutkan makannya


 


“tadi papah dengar kok lagi ribut-ribut,kenapa?”


Tanya Bramantio  yang kini duduk di samping Sinta


 


“ini mas,  Zahra ada undangan seminar membahas tentang usaha kuliner tapi lokasinya di Italia”


Tutur Sinta


“boleh yah pa,  Zahra kesana”


Rengek Zahra manja


“tapi kan jauh sayang”


Ucap Bramantio


“ya pah, Lagian narasumbernya si Alex pah”


“Zahra kan sudah janji mau bantu Zahira buat nemuin Alex”


Zahra memasang wajah memelas agar Bramantio bersimpati.


“biar saya yang Menemani Zahra om”


Timpal Zahira


“tidak Zahira, kamu baru saja selesai


melahirkan."


"om ga akan izinin kamu pergi kemana-mana dulu”


Sahut Bramantio.


“tapi mas,  kalau Zahra sendiri yang pergi aku ga izinin mas,  itu terlalu jauh mas”


“Zahra anak perempuan loh mas”


Sinta sangat mengkhawatirkan Zahra ia trauma kehilangan anak perempuan.


 


“Mas juga ga akan izinin Zahra pergi sendirian”


Bramantio  menggenggam tangan Sinta


“yah papah”


“gimana kalau perginya bareng sama mamah sama papah? “


 


Usul Zahra


 


“mamah harus jagain Zahira sayang,  papah juga lagi banyak kerjaan yang ga bisa di tinggal atau di wakilkan”


 

__ADS_1


“terus gimana dong pah? “


“Zahra yakin pah kalau itu Alex”


Zahra menceritakan semua informasi tentang Alex  agar sang papah percaya.


 


“sama kak Eza atau kak Bagas saja bagaimana? “


Ucap Sinta memberikan pendapat.


 


Sementara Bagas dan Eza , keduanya tengah asyik memandangi anak Zahira yang sedang tertidur di box bayi.


“hidungnya imut banget”


Eza merasa gemas dengan bayi mungil tersebut


“yaiyalah Za,  ga mungkin kan baru lahir hidungnya gede”


Tutur Bagas


 


“Iyah aku juga tahu”


“liat deh dia menggeliat “


 


Eza menunjuk bayi mungil tersebut yang tengah menggeliat.


“kira-kira pas aku kecil begini juga ga yah, “


Tanya Bagas pada Eza yang masih serius memandangi bayi Zahira


“kalau kamu beda Gas,  kamu lahir langsung gede begini”


Ucap Eza sewot


“enak aja, gua juga pernah seimut ini, “


 


Bagas menyenggol lengan Eza


 


“kakak pada ngapain sih di situ, entar dedeknya bangun loh”


Tegur Zahra pada kedua om-om absurd tersebut.


 


“ini Ra,  pacar kamu nanya dulu sewaktu kecil dia seperti ini atau enggak”


Lirik Eza pada Bagas,  membuat Bagas mengerutkan dahinya.


 


“apaansih lu za”


 


“awas yah kalau dedeknya bangun,  Zahra suruh kakak berdua yang diemin”


Ancam Zahra,  membuat kedua om-om itu pun perlahan menjauh dari box bayi.


Zahira tersenyum melihat tingkah keduanya.


“gimana kalian ada yang bisa buat temanin Zahra ?”


Ucap Bramantio  pada Eza dan Bagas.


“Eza kan besok sampai lusa harus keluar kota pa buat mengawasi proyek baru”


Eza duduk di samping bi Darmi


“iyah yah,  lagian entar malam kamu sudah berangkat”


“kalau Bagas bagaimana? “


 


Tanya Bramantio bergantian


“saya bisa om,  tapi Cuma 2 hari saja kalau lebih dari itu takutnya kerjaan saya ga bisa di handle sekretaris saya”


Tutur Bagas


“iyah kak ga apa-apa,  di usahain kok 2 hari”


Zahra berusaha meyakinkan


“iyah Ra, kakak bisa kok”


“emang kapan berangkatnya? “


 


“besok sih kak, karena jadwal seminarnya kan lusa”


“nih undangannya”


Zahra menyerahkan undangan tersebut pada Bagas


“yaudah biar nanti papah yang pesan kan tiketnya”


“Zahra kamu izin dulu sama ayah,  dan jangan lupa vitamin kamu di bawa. Baju hangatnya juga di bawa”


Tegas Bramantio mengingatkan pada putrinya itu.


“Iyah pah”


“terimakasih yah pah”


 


“Jagain Zahra yah nak Bagas”


Ucap Sinta


“Iyah bu saya akan menjaga Zahra”


 


 


“kalau dia petakilan,  lu tinggal tenteng aja Gas”


Timpal Eza sambil melirik Zahra


“apaan sih kak,  kakak kira Zahra karung beras main tenteng aja”


Zahra mencebikkan bibirnya karena kesal.


“yahkan kalau kamunya petakilan kalau enggak yah ga di jadiin karung beras”


Ledek Eza, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tertawa


 


“ehh sssttttt”


“entar dedeknya bangun”


Ucap Sinta.


 


“dia anteng ko bu”


Sahut Zahira saat di lihat sang anak tak merasa terganggu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2