Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
88 meredam Emosi


__ADS_3

Eza baru saja selesai mandi ia melangkah kan kakinya keluar dari dalam kamar mandi.


terlihat Rianda sedang berada di dapur sambil memegangi gelas.


"sedang apa? "


Eza menghampiri Rianda


"buat teh hangat mas"


Rianda tersenyum


"Mas, tadi Rianda mau ke dapur ga sengaja lihat handphonenya mas ada panggilan masuk dari ibu"


ucap Rianda


"ga kamu angkat? "


Eza mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk.


"engga mas, Rianda ga berani "


Selama ini Rianda tidak pernah mengecek ataupun memainkan ponsel Eza.


padahal Eza sama sekali tidak melarang namun Rianda menganggap apa yang ada di dalam ponsel Eza adalah privasi bagi Eza.


"yaudah mas ke depan dulu"


Eza pun melangkah meninggalkan Rianda.


ia meraih ponselnya terlihat puluhan panggilan tak terjawab serta 5 pesan dari ibu.


entah mengapa rasanya Eza belum siap untuk berkomunikasi dengan ibunya.


Eza kembali meletakkan ponselnya di tempat semula.


"mas ga balik nelpon ibu ?"


tanya Rianda yang baru datang dari dapur dengan membawa segelas teh hangat serta camilan di toples kaca yang berukuran kecil.


"enggak, mas belum berani takut kalau ucapan mas semakin nyakitin ibu"


Eza duduk di karpet lembut milik Rianda yang terhampar di depan televisi .


"Oh yasudah, Rianda juga udah kasih tahu ibu kalau mas disini . supaya ibu ga khawatir "


Rianda meletakkan segelas teh hangat


"di minum dulu mas biar hangat"


"iyah terimakasih yah"


Eza pun menyeruput teh hangat buatan Rianda.


sementara Rianda sedang memakan camilan yang di bawanya.


"makan terus ga takut gendut? "


ledek Eza


"biarin, gak apa-apa gendut juga cakep"


jawab Rianda acuh


"tengah malam ngemil, emang ga ngantuk udah malam loh"


Eza memperhatikan Rianda yang masih sibuk mengunyah


"Rianda pengen denger cerita mas Eza"


Rianda menyodorkan toples kaca yang berisikan keripik balado kepada Eza.


Eza menggeleng kan kepalanya sambil tersenyum.


"cerita Apasih udah malam loh besok kamu kerja. tidur aja gih"


Eza mencoba membujuk Rianda.


"ga mau mas"

__ADS_1


"jadi sekarang mas Eza ga mau yah cerita sama Rianda lagi"


Rianda menghentikan acara mengunyahnya.


dengan ekspresi cemberut Rianda menatap Eza .


"ya ampun. yaudah iyah mas cerita"


"jangan gitu dong ekspresinya horor banget"


Eza mencolek pipi Rianda gemas.


"yaudah makanya cerita kenapa mas semarah itu sama ibu? "


Rianda penasaran.


"Mas ga marah kalau ibu jujur sama mas. Mas kan anak ibu kenapa ibu ga cerita dulu dari awal sama mas"


"jujur aja mas belum siap kalau ibu menikah lagi. mas masih ngerasa kalau ayah masih ada"


Eza mengubah posisi duduknya.


"Menurut Rianda maksud ibu ga kayak gitu deh mas. Mas kan selama ini dekat sama pak Bram sama Zahra juga ,mungkin ibu kira mas akan setuju kalau ibu menikah dengan pak Bram"


tutur Rianda yang kini kembali mencomot keripiknya.


"ya tapi kan tetap aja sayang mas kecewa. mas kan anaknya seharusnya rencana sebesar ini mas wajib tahu dulu. Lagian selama ini mas juga udah berusaha mencukupi segala kebutuhan ibu. ibu ga pernah mengeluh soal ekonomi jadi mas rasa ibu sudah cukup tinggal sama mas aja"


Eza terlihat sedikit emosi.


Rianda yang tahu Eza kembali emosi ia pun mendekati Eza dan menggenggam tangannya.


"Mas. dengar Rianda dulu deh"


"Ibu juga berhak bahagia mas. Rianda tahu mas ga pernah kurang memberi materi buat ibu ,tapi apa mas tahu ibu bahagia atau tidak jika hanya dengan materi? "


Rianda mengelus tangan Eza berusaha mendinginkan hati lelaki di hadapannya itu.


"ibu juga butuh seseorang yang bisa mengerti hati dan perasaannya mas. ibu pasti kesepian mas. mas apa pernah bertanya sama ibu apa ke inginkan ibu selain membahagiakan mas? "


tanya Rianda


"nah itu mas. ibu kan juga ingin punya seseorang yang bisa menemani harinya mas. Rianda yakin ayah mas juga bakal bahagia kalau lihat ibu juga bahagia"


Eza terdiam mencerna kalimat yang terucap dari bibir Rianda.


"lagian kan mas juga bakal menikah nantinya, apa mas ga mau lihat ibu bahagia juga sama pilihannya "


"jadi mas harus gimana? "


tanya Eza bingung.


"menurut mas, pak Bram itu seperti apa. menurut penilaian mas deh"


Rianda menatap wajah tampan Eza.


"baik sih, baik banget malah. "


Eza menjawab jujur itulah yang ia ketahui selama dekat dengan pak Bram.


bahkan ketika mengurus rumah baru Zahra kala itu, Eza dan Bramantio sering bersama. Bramantio tak segan berboncengan motor dengan Eza. mereka terlihat akrab.


Eza tidak pernah menyangka kedekatan ibunya dengan pak Bramantio akan berakhir dengan niatan menikah.


"lalu apa yang mas ragukan, Rianda juga merasa pak Bram akan menyayangi ibu"


"mas, coba deh bicara dulu sama ibu Pelan-pelan. jangan marah-marah begini apalagi emosi seperti tadi. kasihan ibu mas"


Rianda menunjukkan raut wajah sedih.


"kasih ibu kesempatan untuk memilih kebahagiaannya. Rianda tahu mas juga ingin lihat ibu bahagia kan. Mas masih beruntung memiliki kesempatan itu, coba lihat Rianda mas.Rianda bahkan ga memiliki kesempatan lebih lama untuk dekat sama orang tua Rianda"


mata Rianda berkaca-kaca, ia mengingat sosok ibunya.


Eza menatap wajah Rianda lekat-lekat, apa yang di katakan Rianda benar. bukan kah hal ini bisa di bicarakan secara baik-baik.


Eza termasuk seseorang yang sulit mengontrol emosi, untung saja Rianda wanita yang bisa meredam emosinya.


jika ada perdebatan di antara mereka Rianda selalu mencoba mendinginkan keadaan.

__ADS_1


"Greeep"


Eza memeluk tubuh Rianda.


"terimakasih sayang sudah menyadarkan mas. mas janji ga akan marah-marah sama ibu lagi. "


ucap Eza di pelukan Rianda


"iyah mas. mas ga pernah tahu kan sebenarnya Rianda takut kalau mas marah-marah "


ucapan Rianda membuat Eza melepaskan pelukannya.


"takut? "


tanya Eza


Rianda mengangguk.


"apa mas akan seperti ini jika kita menikah?. at…atau mas akan lebih galak? "


Rianda mengerjapkan matanya.


"enggak sayang. mas juga berusaha mengontrol emosi. jangan takut yah mas ga akan seperti ini kok ke kamu"


Eza mencolek hidung Rianda


"Emamg beneran udah mau nikah sama mas? "


Eza menaik turunkan alisnya


"Ehmm it…itu kan perumpamaan mas"


Rianda mengalihkan pandangannya


"jadi ga mau beneran? "


tanya Eza kecewa


"bukan, bukan gitu mas. Ehmm Rianda mau lah mas"


ucap Rianda membuat Eza tertawa. wanita di hadapannya ini selalu saja membuatnya gemas.


"ha yaudah"


"tidur gih udah malam besok kerja"


Eza merapikan rambut Rianda.


"mas juga tidur yah, tuh Rianda udah bawa in selimut sama bantal"


Rianda menunjuk selimut di samping Eza.


"mas ga mau pakai selimut"


Eza melirik Rianda


"kenapa mas. dingin loh entar mas masuk angin gimana? "


Rianda sedikit mencebikkan bibirnya


"kamu aja yang jadi selimut"


Eza menggoda Rianda


"Mesum! "


sergah Rianda


"udah ah Rianda ga mau disini lama-lama. ntar mas Eza khilaf"


Rianda bangkit dari duduknya dan buru-buru masuk kamar serta menutup pintu kamarnya. tak lupa ia menguncinya.


Eza tertawa melihat tingkah Rianda, padahal dia hanya bercanda.


Eza tidak akan melakukan hal sekeji itu. baginya seorang lelaki terhormat tidak akan melakukan hal sebodoh itu sebelum menikahinya.


…………


Jangan lupa like dan Votenya sayang

__ADS_1


Semangat pagi🤗


__ADS_2