Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
20 perdebatan


__ADS_3

Haii Guys.. balik lagi nih Author tergokil, terhitz, terbaper, teruwu, dan Terr... terr... terrrrr love ❤😆.


terimakasih buat para readers yang setia nungguin Zahra dan Bagas.. dont forget like and vote 💋💞.


Happy Reading


********


Rahang Bagas mengeras dan tangannya mengepal kuat, melihat Zahra tertawa riang serta makan bersama dengan karyawannya.


"Sialll ! "


rutuk Bagas emosi.


Bagas yang tadinya hendak makan siang memutuskan masuk kembali ke dalam ruangan setelah melihat pemandangan yang membuat hatinya tiba-tiba memanas.


Wajah Bagas terlihat memerah menahan amarah, sampai ia tak perduli dengan sapaaan para karyawan yang di lewatinya.


Dari arah berlawanan tampak Mora sedang berjalan sambil membawa berkas di map biru, ia menghampiri Bagas yang sedang berjalan.


"selamat siang pak"


Mora menyapa namun yang Di sapa tetap berjalan tanpa melirik apalagi menyahut. Mora terus mengikuti langkah Bagas dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Bagas.


"Maaf pak sore ini kantor kita harus menyerahkan berkas ke kantor cabang 2 pak"


tak ada jawaban dari bibir Bagas ia tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan.


"Pak ini berkasnya perlu di tanda tanganin"


Mora berusaha mengajak Bagas berbicara walaupun tak ada jawaban sama sekali.


Sampai di ruangannya Bagas masuk dan menutup pintu cukup keras,membuat Mora terkejut dan menghentikan langkahnya.


Bagas masuk ke ruangan pribadinya merebahkan dirinya di tempat tidur, mengusap wajahnya dengan kasar.


Mora yang masih setia berdiri di depan ruangan Bagas mencoba untuk mengetuk pintu.


"tok,, tok,, tok"


"permisi pak? . ini bekasnya perlu di tanda tanganin"


Mora mencoba mengetuk pintu berulang-ulang namun tak ada suara Bagas untuk mempersilahkan masuk.


"Masuk aja deh"


Mora berinisiatif masuk ke ruangan tersebut perlahan ia membuka pintu, Mora mencari Bagas tapi ruangan tersebut kosong tak ada Bagas di dalamnya.


"Pak, Pak Bagas"


Mora celingukan, ia berjalan menyusuri ruangan kerja Bagas dan sesaat langkahnya terhenti mengingat sesuatu.


"kok gak ada orang"


Mora mengedarkan pandangan tak ada tanda-tanda siapapun di dalam ruangan tersebut.


"jangan-jangan !"


"Aaaaaaaaa, Hantuuuuuuuu !!!! "

__ADS_1


Mora berteriak histeris lari keluar ruangan dengan wajah ketakutan.


sementara Bagas masih terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit.


Ia tak mendengar panggilan Mora sebab ruangan pribadinya ini kedap suara .


bahan kedap suara pada ruangan umumnya di pakai untuk meredam suara dari luar yang masuk kedalam begitupun sebaliknya. sehingga suara sekeras apapun tak akan terdengar dari dalam ruangan ini.


Bagas mencoba bangkit berjalan menuju jendela yang memperlihatkan suasana jalanan kota.


"kenapa aku merasa cemburu ? aku dan Zahra bahkan hanya sebatas teman, tapi perasaan ini? "


"Argggggggggghhhhhh"


Bagas mengacak rambutnya. tak pernah dirinya merasa segila ini di buat seorang perempuan, namun dengan kehadiran Zahra yang di anggapnya hanya seorang bocah malah membuat perasaannya kewalahan.


jam kerja sudah usai, seperti biasa Zahra menunggu Bagas di depan ruangannya


Terlihat Bagas keluar dengan meletakkan jas di bahunya. namun ada hal yang aneh Bagas tak menyapa hanya melewati Zahra yang sedang duduk .


Zahra yang melihat hal tersebut hanya mengangkat bahu acuh, Zahra mengikuti Bagas yang sedari tadi melangkah tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Kak Bagas"


Zahra mensejajajarkan langkahnya tepat di samping Bagas.


"hmmm"


hanya sebuah deheman yang keluar dari mulut Bagas


"kakak hari ini gak ada jadwal meeting yah, tumben cepat banget pulangnya"


Memang Bagas hari ini memutuskan pulang lebih awal, sebenarnya ada meeting namun jadwalnya di undur karena moodnya yang berantakan.


"kakak hari ini bawa Motorkan? "


"kita ke warung nasi uduk dekat terminal itu yukk kak, hari ini Zahra gajian loh, Zahra traktirin kakak deh"


Zahra mengoceh panjang lebar, namun tetap sama Bagas memilih diam tanpa berniat menjawabnya.


Zahra menghentikan langkahnya dirinya kesal di acuhkab tanpa sebab.


Bagas yang menyadari Zahra tak terlihat di sampingnya pun ikut menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya mencari Zahra.


Di lihat Zahra berhenti dan mentapanya dengan kondisi bibir mengkerucut.


"Hahhhhh ! "


Bagas mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa ia mengacuhkan bocah ini.


Dia kembali melangkah mendekati Zahra


"kenapa berhenti hmm ?"


Bagas membuka suara.


"kakak kenapa ga jawab pertanyaan Zahra , dari tadi Zahra ajak ngobrol kakak diem aja"


"aku gak apa-apa Zahra"

__ADS_1


"Bohong! "


sergah Zahra.


"Zahra buat salah apa sama kakak?"


" kamu ga buat salah. udah ayokk"


Bagas menarik tangan Zahra dan menggandengnya, Zahra hanya diam ikut melangkah tak ada penolakan dari dirinya.


"Mulai besok semua Cleabning servis gak boleh ada yang keluar kantor untuk makan siang"


Tiba-tiba Bagas bersuara.


"memangnya kenapa kak? "


"itu peraturan baru disini dan setiap makan siang harus membawa bekal atau hanya boleh delivery saja"


Bagas berbicara tanpa menghentikan langkahnya pandangannya tetap lurus dengan posisi tangan tetap menggandeng tangan Zahra.


"sejak kapan kak ada peraturan itu, biasanya setiap jam istirahat semua karywan maupun Cleanning Servis bebas mau makan di mana aja asal masuk kembali tepat waktu".


"Ingat Ra disini aku bosnya jadi apapun peraturannya itu sudah menjadi ketetapan"


Bagas sedikit meninggikan nada bicaranya.


"iyah kak Zahra tau kakak bossnya disini, tapi apa ada alasan yang lebih tepat kak? "


"karena aku ga suka ada karyawan yang berbaur dengan Cleanning servis saat makan"


perkataan itu membuat Zahra menghentikan kembali langkahnya.


"apa maksudnya kak, salahnya dimana bukan kah selama ini tak ada larangan sejenis itu"


Zahra melepaskan gandengan tangan Bagas.


"aku gak suka Ra kamu makan berduaan bareng karyawan laki-laki apalagi di luar kantor"


wajah Bagas memerah tanpa sadar dirinya sedikit lantang bersuara.


"kakak memang boss disini. setiap peraturan itu atas dasar persetujuan kakak, tapi kakak juga gak berhak mengatur urusan privasi karyawan disini"


Zahra terlihat emosi


"selama tak mengganggu pekerjaan dan itu ada di waktu jam istirahat kenapa ada peraturan yang ga masuk di akal kak"


"Bukan gitu Ra, tapi,.. "


belum sempat Bagas menjelaskan Zahra memotong ucapan Bagas.


"apakah di kantor ini ada batasan bahwa Cleanning servis tak boleh berbaur dengan karyawan. apakah di kantor ini status Cleanning servis serendah itu di mata bos"


nafas Zahra memburu menahan kesal.


"Lantas kakak sendiri yang meminta Zahra untuk pulang dengan kakak, padahal kakak disini boss. apa maksudnya kak? "


Bagas diam melihat Zahra yang sedang marah, baru kali ini Bagas melihat Zahra sebegitu marahnya .


tak terlihat lagi wajahnya yang menggemaskan.

__ADS_1


"Zahra ga ngerti sama kakak, Zahra ga habis pikir sama peraturan yang menurut Zahra konyol"


Zahra melangkah pergi meninggalkan Bagas.


__ADS_2