Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
60 kabar buruk


__ADS_3

"udah ih gitu aja nangis"


ucap Zahra meledek.


"pedas Ra"


Bagas mengucek matanya yang sudah berair.


"Yaudah deh biar Zahra aja yang ngerjain"


ucap Zahra sambil mengambil alih pisau yang di pegang Bagas.


"sini sayang. duduk"


ucap Bagas sambil menepuk pahanya.


membuat Zahra sedikit kesal.


"ga mau ah"


Zahra memilih berdiri sementara Bagas tertawa geli.


Bagas hanya memperhatikan Zahra memotong semua bahan-bahan masakan.


"kak sini deh"


panggil Zahra


Bagas bangkit dari duduknya


"cobaan deh"


Zahra mengambil kuah sup dengan sendoknya, Zahra meniup perlahan kuah panas tersebut dan menyuapi Bagas.


"gimana kak? udah pas belum"


tanya Zahra penasaran. Bagas hanya membulatkan mata.


"Ishh kakak jangan bercanda"


Zahra kesal melihat tingkah jahil Bagas.


"ini enak banget sayang"


Bagas mengacungkan dua jempol tangannya mengisyaratkan kalimat enak.


Zahra merasa legah saat mendengar penilaian Bagas .


Zahra merapikan semua masakan yang sudah masak .


ia tinggal mengulek sambal buatannya.


Zahra mengulek sambal dengan berdiri sementara Bagas hanya duduk memperhatikan.


"kamu sexy banget sih kalau lagi ngulek"


goda Bagas sambil menopang dagunya.


"kakak ih"


Zahra kesal melihat tingkah Bagas yang tidak bosan menggodanya.


jujur saja Bagas sebagai laki-laki normal akan menilai Zahra termasuk gadis yang memiliki body sexy.


walau postur tubuh Zahra mungil namun karena dukungan bodynya yang sedikit berisi membuatnya terkesan sexy.


"udah deh ga usah mikir mesum. aku uleg nih"


Ancam Zahra sambil mengacungkan anak uleg an yang ia pegang.


membuat Bagas tersadar dari lamunannya.



jam sudah menunjukkan pukul 12 siang Zahra sudah selesai memasak.


ia dan Bagas pun menyusun masakan di meja makan.


"kak Zahra"


teriak Kiran yang baru pulang sekolah, ia langsung berlari memeluk kakak kesayangannya.


"Kiran udah pulang"


tanya Zahra saat Kiran masih di pelukannya.


"sudah kak"


Bagas yang melihat hal itu pun menggelengkan kepalanya melihat betapa manjanya Kiran pada Zahra.


"Wahhh banyak banget masakannya"


ucap Kiran saat pandangannya tertuju ke meja makan


"yasudah kamu ganti baju gih terus kita makan sama-sama "


ucap Zahra membuat Kiran langsung berlari menuju kamarnya.


Zahra melanjutkan aktivitasnya untuk menyusun piring di meja makan.

__ADS_1


sayup-sayup terdengar suara orang ramai mengobrol, membuat Bagas melihat siapa yang datang.


terlihat pak Bramantio dan papahnya sudah berada di rumah sedang berbincang dengan Hera.


"pak"


sapa Bagas pada Bramantio


"loh ga ke kantor kamu Bagas"


ucap Bramantio.


hubungan Bramantio dan keluarga Wijaya masih tetap terjalin bagus.


meski dahulu Bramantio akan mengancam mem blacklist perusahaan Wijaya. namun Wijaya paham jika hal tersebut karena desakan mantan istri Bramantio yaitu Yura.


maka dari itu hubungan Wijaya dan Bramantio tetap terjalin baik.


"Bagas lagi menemin Zahra masak pak hari ini"


sahut Hera tersenyum.


"loh Zahra disini "


Bramantio tidak mengetahui putrinya ada disini


"iyah pak" ucap Hera.


"kalau begitu kita makan siang bareng yuk mah"


ajak Bagas pada mamahnya


"wah iyah yah. ayuk pak Bramantio kita makan siang bersama"


ajak Hera.


mereka pun menuju meja makan .terlihat Zahra sedang merapikan piring.


"papah? "


Zahra terkejut saat melihat Bramantio berada disini.


"iyah sayang"


Zahra pun menyalami papannya dan memeluknya.


Hera dan wijaya jadi mengetahui hubungan baik ayah dan anak ini.


"yasudah yuk kita makan.kita cobain masakan Zahra"


ajak Hera.


mereka mulai menikmati masakan Zahra.


"Wahhh enak banget ini masakannya"


puji Wijaya


"iyah pah rasanya pas banget"


sahut Hera membuat Zahra sedikit legah.


"kamu pintar masak nak? "


Bramantio baru mengetahui jika Zahra pintar memasak.


"ga pintar pah cuma sekedar bisa. almarhumah nenek yang ajarin Zahra"


ucap Zahra.


"wah-wah kalau begini kita bisa menjalin kerja sama untuk membuka restoran pak"


"kita sudah memiliki koki hebat"


ucap Wijaya semangat. membuat mereka yang berada di meja makan pun menyetujui.


"Kiran boleh nambah ga ka? "


Tanya Kiran membuat Hera tertawa melihat putrinya


"tuh Kiran aja makannya sampai nambah"


ledek Wijaya pada putrinya.


Bagas tersenyum melihat adiknya, sekaligus senyuman bangga pada Zahra yang menurutnya gadis komplit.


"sudah manis, baik, mandiri, pintar masak lagi"


ucap Bagas dalam hati sambil memandangi Zahra yang sedang mengambilkan lauk untuk Kiran.


Zahra pun merasa bahagia saat masakannya di sukai.


ia merasa kini hidupnya terasa lengkap dan berharga.


setelah selai makan siang Zahra membereskan piring.


"udah non biar bibi aja yang beresin"


ucap bi Yem pada Zahra.

__ADS_1


"ga usah bi biar Zahra saja, bibi makan siang aja dulu tadi Zahra simpanin lauk di lemari dapur untuk bibi"


Zahra tidak melupakan bi Yem ia sudah menyimpankan lauk untuk bi Yem. membuat bi Yem berbinar.


"non ko baik banget sih"


ucap bi Yem memandangi Zahra sedang membereskan piring.


"ah bibi, yasudah bibi makan aja dulu yah"


Zahra pun mengangkat piring kotor ke dapur dan mencucinya.


sementara bi Yem sedang makan di meja dapur.


Zahra di bantu oleh Kiran, Kiran yang biasanya enggan untuk sekedar mengangkat piring kini ikut serta mencuci piring.


Bagas memperhatikan Zahra dari pintu dapur.


"makan den"


sapa bi Yem


"iyah bi Bagas sudah makan ko"


Bagas pun meninggalkan dapur dan menuju ruang tamu untuk bergabung dengan Papah dan mamahnya serta pak Bramantio.


setelah selesai Zahra pun menyusul Bagas ke ruang tamu.


"sini sayang"


panggil Bramantio dan menyuruh Zahra untuk duduk di sampingnya.


Mereka pun mengobrol tentang banyak hal, membuat Hera merasa legah.


"ternyata pilihan Bagas tidak salah"


Gumam Hera dalam hati.


Saat sedang mengobrol handphone Zahra berdering.


"sebentar yah pah, Zahra angkat telepon dulu"


Zahra pun menjauh dan melihat layar handphonenya ternyata maya yang menghubunginya.


Bagas memperhatikan Zahra.


"hallo may"


ucap Zahra saat mengangkat panggilan telepon dari Maya.


"Apa? "


teriak Zahra membuat semua orang yang sedang duduk melihat ke arahnya.


"ga mungkin may "


Zahra menangis dan terperosok.


ia mendapat kabar buruk , Maya mengabarkan ibunya Zahra meninggal dunia karena kecelakaan.


Zahra menangis sejadi-jadinya, membuat Bagas menghampiri Zahra.


"apa yang terjadi Ra kamu kenapa? "


tanya Bagas pada Zahra


"ibu…kak ibu"


teriak Zahra sambil menangis. Bagas meraih handphone Zahra.


"hallo…"


"apa yang terjadi? "


tanya Bagas saat sambungan telepon dengan maya masih terhubung.


Bagas membulatkan matanya tak percaya, begitupun Bramantio ia tidak menyangka Venti pergi secepat itu.


Bramantio merangkul tubuh Zahra yang sedang histeris karena tangisnya.


"pahh…ibu pah ibu"


teriak Zahra


baru saja Zahra merasakan secuil kebahagiaan kini ia harus menerima kabar buruk yang menyakitkan baginya.


Seketika dunianya terasa runtuh saat seseorang yang paling ia sayangi di dunia ini pergi meninggalkannya.


pandangan mata Zahra kembali gelap, ia pun terjatuh pingsan.


membuat Bagas terlihat panik.


…………………


Part berikutnya mengandung bawang lagi.


jangan lupa votenya yah biar Author semangat up nya


terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2