Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
86 kejutan dan kekecewaan


__ADS_3

"kalian sebenarnya mau kemana? "


bisik Eza pelan ke telinga Bagas.


"aku di minta buat ajak Zahra. soalnya pak Bramantio mau kasih kejutan "


ucap Bagas tak kalah berbisik.


"kamu ikut juga yuk biar rame"


timpal Bagas sambil melirik Zahra dan. Rianda yang masih mengobrol dengan anak-anak.


"emang boleh? "


tanya Eza


"boleh lah, ibu kamu kan juga disana? "


"kamu tahu darimana? "


Eza mengerutkan keningnya


"tadi sore pak Bramantio sudah memberitahu kan ku. bahkan pak Adam juga ikut padahal tadi aku berpura-pura pamit padanya"


sahut Bagas.


"baik lah aku juga ikut"


seru Eza.


"kalian ngapain sih? "


tanya Zahra yang curiga melihat kelakuan Eza dan Bagas yang sedari tadi berbisik.


"Ehmm ini, Eza anu itu mau buang air"


jawab Bagas sekenanya membuat Eza membulatkan matanya.


"Apasih lu, "


Eza menyikut Bagas. namun Bagas mengisyaratkan agar mengatakan iyah.


"ah iya-iya, cuma ga jadi Ra. mau kakak simpan aja buat besok pagi"


jawab Eza nyengir.


Rianda hanya mengerutkan dahinya tak mengerti maksud Bagas dan Eza namun ia memilih diam.


"mau buang air aja pada bisik-bisik. kayak mau buang air barengan aja"


jawab Zahra ketus, Eza dan Bagas hanya nyengir dan menggaruk kepala mereka yang tak gatal seecara bersamaan.


setelah selesai Zahra dan Bagas pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.


diikuti oleh Eza dan Rianda yang kini berada di belakang mobil mereka.


Rianda memilih untuk naik motor dengan alasan Eza kasihan jika sendirian.


Sementara Zahra dia hanya duduk diam di samping Bagas yang sedang mengemudi.


tak membutuhkan waktu lama mereka sampai di tempat yang mereka tuju.


Zahra mengedarkan pandangannya, ia seperti mengenal tempat ini.


"ini bukannya Caffe pak Budi kan kak? "


tanya Zahra pada Bagas yang kini sedang membuka seatbelt.


"iyah"


sahut Bagas singkat


"kok jadi beda tempatnya.apa di renovasi yah kak?"


Zahra bertanya-tanya


"Resto Putri Tunggal"


Zahra membaca Plang besar yang terdapat di atas bangunan Caffe itu.


"namanya juga di ubah"


ucap Zahra lirih


"udah yuk turun, ngapain bengong"


Bagas mengajak Zahra turun. terlihat Eza dan Rianda juga sudah sampai.


"pakai ini dulu yah"


ucap Bagas sambil memperlihatkan sapu tangan bermotif kotak miliknya.


"kenapa mesti pakai itu? "


Zahra bingung


"ada kejutan buat kamu "


Bagas tersenyum manis membuat Zahra tak mampu menolak.


Bagas pun menutup mata Zahra perlahan.


"sakit ga? "


tanya Bagas takut jika penutup mata tersebut terlalu erat.


"enggak kok kak"


Zahra merasakan aroma parfum Bagas yang terdapat di sapu tangannya.


"udah yuk"


Bagas menggandeng tangan Zahra dan berjalan perlahan.


Tempat tersebut terlihat sepi namun di dalam ruangan Resto tersebut sudah ramai.


Sinta, Adam,Bramantio serta keluarga Wijaya dan tak luput Kiran turut hadir.


Eza pun ikut masuk


"ayo"


Eza menggandeng tangan Rianda dengan lembut. membuat Rianda menurut.


"kakinya di naikin?"


seru Bagas memberi intrupsi pada Zahra


"di naikin kemana kak? "


tanya Zahra


"Haduh maksudnya di angkat di depan kamu ada anak tangga"


"bilang dong kak, Zahra kira di naikin kemana ini kaki"


Eza yang melihat Bagas dan Zahra hanya tertawa.


"udah belum"

__ADS_1


tanya Zahra


"sebentar lagi"


seru Bagas.


Bramantio terlihat senyum-senyum, karena kedatangan Zahra.


"udah stop"


ucap Bagas membuat Zahra menghentikan langkahnya.


"sebentar kakak bukain"


Bagas membuka penutup mata Zahra.


Zahra perlahan menunduk untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.


pelan-pelan Zahra mengangkat pandangannya.


"Welcome Zahra ! "


teriak semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut .


Zahra terkejut dan memperhatikan keadaan sekitar.


"hai sayang"


sapa Bramantio


"papah! "


"Loh ada ayah juga"


Zahra terlihat kebingungan di tambah lagi terdapat banyak hidangan makanan di meja panjang yang berada di depannya.


"in…ini maksudnya apa yah? "tanya Zahra polos.


"kamu bingung yah? "


tanya Adam


Zahra mengangguk


"begini nak, kita disini mau memberikan kejutan untuk kamu. karena Resto ini akan di buka besok lusa "


Tutur Bramantio


"hubungannya sama Zahra apa pah? "


Zahra semakin bingung


"Ra, ini Resto punya kamu. ini Resto buat kamu. papa kamu sudah mengatas namakan Resto ini untuk kamu"


Bagas menjelaskan pada Zahra, membuat Zahra membuka mulutnya tak percaya.


"serius pa? "


tanya Zahra.


"iyah sayang"


"tapi pah, ini terlalu berlebihan buat Zahra kenapa mesti atas nama Zahra"


Zahra merasa semua ini terlalu mewah jika di berikan kepadanya.


"begini saja jika kamu merasa keberatan dan merasa Resto ini milik papah. bagaimana kalau hasil setiap bulannya dari Resto ini kamu bagi dua sama papah anggap saja itu uang cicilan "


ucap Bramantio


"kalau Zahra ga bisa bayar gimana pah? "


"tidak masalah, berapapun yang kamu kasih setiap bulannya akan papah terima. asal kamu bisa mengelolah tempat ini. semua keputusan perihal resto ini sudah hak dan tanggung jawab kamu."


"papa ga ingin kamu bekerja lagi di tempat lain, papa ingin kamu fokus menjalankan bisnis ini sambil kuliah. lagi pula kamu kuliah jurusan bisnis kan jadi sekalian kamu bisa menerapkan ilmu yang kamu dapat disini."


Bramantio menjelaskan


"iyah Ra kamu kan jago masak jadi ibu yakin Resto ini pasti berkembang "


sahut Hera


"kalau kamu merasa kewalahan dan kesulitan bu Sinta bisa bantu kamu atau kak Eza"


tutur Bramantio


"iyah Ra, kakak siap kok ngebantu"


jawab Eza


"terimakasih kak Eza. terimakasih papa, Zahra janji akan serius mengelola Resto ini. dan Zahra janji akan membayar tiap bulannya"


Zahra tersenyum bahagia impiannya untuk memiliki sebuah bisnis terwujud


"kamu jangan pikirkan bayarannya kamu fokus saja mengelola tempat ini. kita disini sudah berdiskusi sejak tadi menu yang pas yang cocok untuk di Resto ini. karena kami semua sudah pernah mencoba masakan kamu"


seru Bramantio


"iyah pah, terimakasih buat semuanya Zahra sayang kalian"


Zahra meneteskan air matanya karena bahagia di keliling orang yang menyayanginya.


"sudah jangan menangis, lebih baik kita makan sudah lama kami menunggu pasti sudah lapar"


ajak Bramantio


mereka pun makan malam bersama-sama, kini Zahra duduk di antara Adam dan Bramantio.


"ayah kok bisa disini? "


bisik Zahra


"Hahah ayah tadi di jemput pa Bram"


sahut Adam santai


"ayah nakal yah ngerjain Zahra. pake acara ngizinin keluar dengan syarat jangan pulang malam ga tahunya ayah disini"


ucap Zahra sewot.


"Hahah namanya juga kejutan"


Adam mengusak rambut Zahra lembut. membuat Zahra tersenyum.


Zahra beralih ke Bramantio yang kini sedang mengambil nasi.


"pah, maafin Zahra yah. Zahra kira papah marah sama Zahra"


Zahra menempelkan pipinya ke bahu Bramantio.


"iyah papa ngambek"


sahut Bramantio


"Aaa papa, Zahra minta maaf. Zahra janji bakal nurut"


rengek Zahra.


"iyah papa ga marah kok. papah sengaja ga kasih kabar terus ga jemput kamu di rumah sakit papah lagi urusin ini. papa juga ngerenovasi Resto ini"

__ADS_1


tutur Zahra


"emang pak Budi kemana pah? "


Zahra agak berbisik


"pak Budi papah asingkan ke pulau terpencil "


Bramantio menjawab asal


"ih papah jangan bercanda dong"


"Hahah pak Budi sengaja menjual Caffe ini dia pindah ke luar kota"


Bramantio tertawa melihat Zahra.


Zahra hanya membulatkan mulutnya dan mengangguk.


"Oh iyah acara Grand Opening Resto ini bakal di adain lusa. jadi kita semua lusa kumpul disini"


Ucap Bramantio


"iyah lebih cepat lebih bagus kan"


sahut Wijaya


"iyah pak,"


ucap Bramantio.


mereka pun melanjutkan acara makan malam tersebut.


Setelah selesai kini mereka kembali memakan camilan yang di sajikan oleh pramusaji disini.


Bramantio sudah mencari pramusaji bahkan security untuk Resto ini sehingga Zahra tinggal menjalankan tanpa susah mencari karyawan lagi.


sebagian besar pramusaji disini adalah karyawan lama disini.


"Saya juga ada pengumuman penting selain membahas soal Resto ini"


ucap Bramantio


membuat semua yang ada di tempat tersebut terdiam dan fokus mendengarkan Bramantio.


"terkhusus buat Eza"


timpal Bramantio membuat Eza mengerutkan dahinya penasaran


"pengumuman apa pah? "


Zahra bertanya


"Jadi saya mau mengumumkan dalam waktu dekat saya dan Bu Sinta akan menikah"


ucap Bramantio membuat Eza membulatkan mata tak percaya.


Sinta hanya diam dan mengulas senyum tipis.


"apa, menikah? "


ulang Eza tak percaya


"iya Za, bapak meminta izin pada kamu karena bapak mau menikahi ibu kamu"


tutur Bramantio


"bu, apa maksudnya bu? "


tanya Eza pada Sinta


"iyah nak ibu dan pak Bramantio akan menikah"


Sinta meyakinkan Eza


"ibu kenapa ga bilang terlebih dahulu sama Eza bu"


Eza bangkit dari duduknya, ia merasa marah.


"maaf Eza kami sengaja tak memberitahukan karena kami akan mengumumkannya disini "


tutur Bramantio sambil ikut berdiri


"pak Bram ga bisa seperti itu dong seharusnya masalah seperti ini di obrolin dulu secara keluarga baru di umumkan"


ketus Eza tidak suka


"ibu yang meminta pak Bramantio tak mengatakannya padamu Za"


sahut Sinta


"bu, Eza ini anak ibu seharusnya hal penting seperti ini ibu obrolin sama Eza. apa Eza ga penting buat ibu sampai Eza sendiri ga pernah tahu kalau ibu punya niat untuk menikah"


Eza berbicara dengan nada tinggi, Rianda yang paham jika Eza sedang emosi pun ikut berdiri dan mengelus pundak Eza.


"maafin ibu nak ibu cuma ma…"


belum selesai Sinta berbicara Eza sudah memotong


"bahkan ibu ga pernah minta pendapat apapun soal ini kan sama Eza, Eza kecewa sama ibu. bahkan ibu ga melibatkan Eza dalam rencana besar di hidup ibu"


"Ayok Rianda kita pulang"


Eza beranjak pergi dan menarik tangan Rianda.


"Eza tunggu za"


panggil Sinta


"kak Ezaa"


Zahra pun turut memanggil namun Eza tidak memperdulikan panggilan mereka ia terus melangkah dan menarik Rianda.


"mas Eza. mas"


panggil Rianda namun Eza yak menyahut ia terus menarik tangan Rianda.


Zahra merasa sedih ia juga kecewa dengan keputusan Sinta yang bahkan tidak mengatakan apapun pada Eza.


seharusnya malam ini akan menjadi malam bahagia bagi Zahra namun melihat kejadian ini Zahra turut merasa sedih.


"ayo naik"


perintah Eza pada Rianda dengan nada marah membuat Rianda tidak berani menolak dan nurut untuk naik ke motornya.


Eza memacu motornya meninggalkan Resto tersebut bahkan Bagas tidak bisa mengejar Eza yang kini sudah jauh.


Rianda mengeratkan pelukannya karena Eza memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


Rianda sudah sangat ketakutan


"Mas Eza pelan mas, "


teriak Rianda, ia semakin mengeratkan pelukannya sampai Eza merasakan pelukan tangan Rianda yang erat bahkan tangan Rianda sampai berasa gemetar.


Eza baru sadar saat ini ia sedang membawa Rianda.


……………


jangan lupa like dan votenya yah guys.

__ADS_1


Selalu jaga kesehatan buat kita semua. jangan lupa yah patuhi Protokol kesehatan dimanapun berada.


__ADS_2