ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Sudah terlambat


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Salah satu laki-laki yang tampak duduk di samping wanita tua itu beranjak, kemudian menghampiri Alvin yang masih menatap mereka dengan sorot mata bingung.


"Apa benar, Anda, yang bernama Alvin Bramantya?" tanya laki-laki itu saat sudah berdiri di depan Alvin.


"Iya benar, saya Alvin Bramantya. Anda, siapa dan ada perlu apa ingin bertemu dengan saya?" Alvin menjawab sekaligus bertanya kembali pada laki-laki itu. Dia sudah tidak suka jika ada yang mengaku sebagai keluarga, hanya untuk bertemu dengannya.


"Saya adalah Roni, kepala pengawal dari Nyonya Hartari dan Tuan Gemang Karyoso," jawab laki-laki  itu memperkenalkan diri.


"Kami terpaksa menemui Anda ke kantor, karena kami tidak bisa menemui Anda di rumah. Maaf, bila kedatangan kami ke mari mengganggu waktu, Anda," ujar laki-laki yang menyebut namanya Roni.


Alvin mengangguk samar, dia seperti pernah mendengar nama keluarga Karyoso. akan tetapi, tidak terlalu mengetahui banyak tentang mereka, karena keluarga itu memang cukup tertutup.


"Tidak apa. Tapi, boleh kita langsung ke intinya saja, karena ini masih jam kerja saya." Alvin berusaha mempercepat pertemuannya, dia merasa tidak terlalu penting bertemu dengan orang-orang yang dia tidak kenal sama sekali, seperti mereka.


Alvin semakin malas saat mendengar kalau mereka adalah dari golongan orang kaya. Berbeda dari orang lainnya yang mungkin akan menganggap beruntung jika bertemu dengan orang-orang ber-uang banyak, Alvin yang merasa hidupnya selalu berantakan ketika bersama orang yang banyak uang, malah semakin malas untuk bertemu golongan orang seperti mereka.


"Ibu yang duduk di sana adalah Nyonya Hartari Karyoso, dia adalah ibu kandung dari wanita yang bernama Rengganis Karyoso. Apa Anda mengenal nama itu?" tanya Roni memperkenalkan wanita tua yang masih bertahan di atas kursi duduknya dengan satu laki-laki lainnya.


Deg!


Alvin sempat terdiam saat nama ibunya disebutkan. Dia tidak menyangka kalau wanita tua itu memang neneknya. Nenek yang tidak pernah dia ketahui di dalam hidupnya, jangankan raga dan kasih sayangnya, bahkan untuk nama saja dia tidak pernah tahu.


"Maaf, saya tidak mengenal nama itu. Mungkin Anda salah mengenali orang." Alvin menggeleng samar, nada bicara yang awalanya ramah kini berubah hingga terdengar dingin.


"Tidak mungkin, kami sudah menyelidiki Anda sejak lama." Roni tampak bersikukuh.

__ADS_1


Alvin tersenyum tipis sambil menghembuskan napas kasar, dia kemudian melirik pada wanita tua yang masih tampak memperhatikannnya.


"Kalau tidak ada lagi yang mau Anda bicarakan saya pamit kembali bekerja. Permisi." Alvin langsung menolak, tanpa memberi jeda waktu untuk orang itu membalas perkataannya. Dia segera menunduk kilas kemudian melangkah ke luar dari ruang tunggu itu, Alvin sempat kembali melirik sekilas wanita tua di kursi dari ujung matanya, sebelum meninggalkan mereka yang hanya bisa memandang punggungnya.


"Tunggu, Nak!" Suara bergetar yang terdengar, membuat Alvin menghentikan langkahnya.


Tangan yang menjuntai lurus di samping tubuhnya kini mengepal mencoba menenangkan rasa yang bergejolak di dalam dada. Alvin sudah tau pasti kalau wanita itu adalah ibu dari Ganis yang berarti ibu dari Pak Mardo juga. Bertemu dengan mereka hanya akan menambah rumit masalah yang sedang dia hadapi dengan Pak Mardo.


Walaupun di dalam hati, Alvin pasti ingin mengenal juga keluarga dari ibunya yang bahkan belum pernah dia temui. Akan tetapi, jika semua itu hanya akan membahayakan hidupnya dan hidup Ganis, Alvin akan lebih memilih tidak pernah bertemu ataupun mengenal mereka seumur hidupnya.


Alvin bisa hidup walau tanpa bertemu keluarga dari ibunya, kehidupannya tidak akan berpengaruh apa pun jika dia tidak pernah mengenal mereka. Akan tetapi, dia tidak akan pernah bisa hidup tanpa Ibunya, dia bahkan tidak tau lagi caranya untuk hidup dan berjuang jika saja ibunya tidak ada di sisinya saat ini.


"Nak, aku hanya ingin bertemu dengamu, sebentar saja," ujar wanita tua itu sambil berjalan menghampiri Alvin.


Alvin masih terdiam tanpa mau berbalik untuk melihat wanita tua itu. Hatinya terlalu sakit saat mengingat apa yang telah mereka lakukan pada ibunya. Hanya kerena harta, keluarga itu rela membuang anak perempuannya dan diam saja saat Pak Mardo membunuh cucu dan menantu laki-lakinya.


"Anda sudah terlambat, Nyonya. Waktu, Anda, untuk menemui saya sudah terlewat sejak lama," jawab Alvin, kemudian meneruskan langkahnya.


Alvin kembali menghentikan langkahnya dan menatap wajah Roni dengan wajah mengeras, dia sudah cukup menahan emosinya untuk tidak menunjukan kekecewaannya pada wanita tua itu. Sungguh, semua itu sangat melelahkan untuk Alvin.


"Lepaskan dia, Ron. Biarkan dia pergi, aku tidak apa-apa." Suara wanita tua itu mengalihkan  perhatian Roni hingga menoleh untuk melihatnya.


"Tapi, Nyonya–" Roni hendak membantah keningnya tampak berkerut dalam sebagai tanda dia tidak suka dengan keputusan Nyonya Hartari. Akan tetapi, wanita tua itu menggeleng samar, seolah memberi tanda agar Roni tidak membantah.


"Kita yang salah karena datang di waktu kerjanya, ayo kita pulang saja," ujar wanita itu, walau suaranya terdengar biasa saja, Alvin jelas bisa melihat kekecewaan dari raut wajahnya.


Roni pun melepaskan cekalan tangan Alvin, hingga Alvin bisa melanjutkan langkahnya sambil menghembuskan napas kasar, dia kemudian melangkah menghampiri wanita itu, yang masih melihat punggung Alvin menjauh darinya.


"Nyonya, bukankah Anda sangat ingin menemui dia? Kita bahkan sudah mencarinya sejak lama," ujar Roni mengajukan protes pada majikannya.

__ADS_1


"Kita tidak bisa memaksanya, Ron. Sekarang dia sudah dewasa dan memiliki pekerjaan yang mapan. Kamu juga tau dia bahkan sangat dibanggakan oleh dosennya sewaktu kuliah. Dia memang benar, kita sudah terlambat. Jadi, wajar jika sekarang dia tidak ingin bertemu dengaku," jawab wanita tua itu dengan wajah sendu.


"Sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang," sambung wanita tua itu lagi.


Sementara itu, Alvin berjalan cepat ke lantai dua, dan langsung masuk ke toilet laki-laki yang ada di sana, dia membasuh wajah berulang kali demi menenangkan rasa panas di dalam dada.


Hembusan napas kasar dan cepat terdengar hingga membuat dada Alvin turun naik, laki-laki itu tampak menatap pantulan wajahnya di cermin, dia bisa melihat seklera matanya memerah. Entah mengapa saat ini perasaannya sangat marah, walau dia sendiri bingung sedang marah pada siapa. Apakah pada mereka yang datang menemuinya atau pada dirinya sendiri yang menolak untuk bertemu dengan keluarga dari ibunya.


"Kenapa mereka mencariku di saat seperti ini? Heh!" Alvin tersenyum sarkas dengan dengusan kasar terdengar. Dia kemudian berjalan ke luar dengan rambut bagian depan terlihat masih basah. Itu menyegarkan sedikit wajahnya yang terlihat kalut.


Dia lebih dulu menemui Ezra untuk memberi tahu kalau dirinya sudah kembali. Setelah itu memilih untuk langsung masuk lagi ke ruangannya.


Sejak saat itu, Alvin selalu menyibukkan dirinya, untuk menghilangkan ingatan tentang pertemuannya dengan Ibu Hartari, dan rasa bersalahnya karena sudah tidak bersikap sopan waktu itu.


Bagi Alvin tang terbiasa hidup dengan kesopanan pada siapapun, sikapnya pada Bu Hartari itu cukup menjadi beban untuknya, apa lagi dirinya tau kalau Bu Hartari adalah neneknya sendiri.


Flash back off.


Suara ketukkan di pintu terdengar, membuat Alvin menolehkan kepala melihat pada pintu yang masih tertutup rapat, kemudian mulai beranjak bangun.


"Siapa?" tanyanya sambil merapihkan baju dan mulai berjalan ke arah pintu.


"Ini Gino, Vin," jawab seseorang di depan pintu.


"Bang Gino, ngapain dia ke sini?" gumam Alvin saat mendengar jawaban dari luar dia kemudian membuka pintu.


"Bang Gino? Ada apa?" tanya Alvin sambil ke ke luar dari rumah lalu mengajak Gino untuk duduk di kursi.


Gino adalah sopir pribadi Nindi, Alvin sering bertemu dengannya saat berkunjung ke rumah Ezra.

__ADS_1


......................


__ADS_2