ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Pertumpahan darah


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Jangan mendekat, atau senjata ini akan langsung menembus kepala wanita gila ini!" peringat Roy sambil mengarahkan ujung senjatanya pada rahang Ganis.


"Jangan berani kamu, Roy!" teriak Alvin.


Alvin yang hendak kembali merangsek maju, kini ditahan oleh tangan Max. "Jangan bertindak gegabah atau ibumu yang akan jadi taruhannya!"


Suara dingin dan tegas dengan hawa kelam yang menyelimuti Max membuat Alvin tidak bisa melawan.


Ditengah ketegangan itu, Ganis perlahan mulai membuka matanya, wanita itu mengerjap dan langsung melihat pada Roy yang kini sedang memeganginya, sedangkan Alvin ada di depan sana.


Roy yang sedang fokus dan bersikap waspada pada Alvin dan Max tidak menyadari kalau Ganis sudah mulai membuka mata.


Ganis yang hanya mengenal Alvin dan masih tidak mau berhadapan dengan orang asing, langsung mengamuk hingga Roy terpelanting ke belakang.


"Brengsek, dasar wanita gila!" umpat Roy yang hendak bangkit dan memegang Ganis lagi.


Namun, kesempatan itu Max manfaatkan dengan baik untuk menembak tangan Roy yang masih memegang senjata api.


"Arrgh!" Roy menggeram menahan rasa sakit, dengan senjata api yang terlepas dari tangan dan tubuh kembali jatuh ke belakang secara spontan.


"Mama!" Alvin langsung berlari dan memeluk ibunya yang tampak ketakutan oleh suara tembakan itu.


"A–Alvin ...." Ganis memanggil dengan suara lirih, tubuhnya bergetar ketakutan dengan mata terus bergerak tidak tenang.


"Iya, Mah, ini Alvin ... ini Alvin, anak Mama," jawab Alvin sambil memeluk tubuh bergetar Ganis, sebisa mungkin dia berusaha untuk menenangkan ibunya.


Tidak puas dengan hanya menembak lengannya, Max juga memberikan tembakan di kaki laki-laki itu, sebelum dia menghampiri Alvin untuk membantunya membawa Ganis.

__ADS_1


Darah sudah membanjiri hampir seluruh lantai ruangan ini dengan suara rintihan para orang yang menjadi korban penembakan brutal Max siang itu.


Sedangkan di luar gedung Pak Mardo dan Pak Umar baru saja sampai, mereka langsung berlari menaiki tangga saat ada suara tembakan dari arah atas.


Max berjongkok di samping Alvin dia menepuk pelan pundak laki-laki itu. "Lebih baik kita segera pergi dari sini. Ayo, aku bantu."


Alvin mendongak demi melihat wajah Max– laki-laki yang telah menolongnya, kemudian mengangguk. Perlahan Alvin mulai mengurai pelukannya dengan sang ibu.


"Kita pulang ya, Mah, ayo kita ke luar dari sini," ujar Alvin dengan suara yang sangat lembut.


Ganis mengangguk cepat. "Iya, Mama mau pulang, Vin. Mama mau pulang."


Alvin mengangguk, dia beranjak hendak membantu Ganis yang tampaknya masih lemah untuk berdiri. Max pun berusaha untuk membantu memapah Ganis, akan tetapi, Ganis terus menepis tangannya dengan tatapan waspada.


"Maaf ya, Bang." Alvin merasa tidak enak pada Max.


Max mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya sebagai balasan. Dia tahu betul kondisi Ganis dan dia pun mengerti akan sikap ibunya Alvin itu.


Namun, Tanpa mereka ketahui Roy yang sudah lemah akibat banyak mengeluarkan darah, dengan susah payah bergerak mengambil senjata api yang tadi sempat terjatuh dari tangannya.


Bersamaan dengan Alvin dan Ganis yang berhasil berdiri, Roy mengangkat senjata menggunakan tangan kirinya mengarah pada Alvin yang sedang memunggunginya dan langsung menarik pelatuk dengan tekad yang kuat.


"Alvin!" Ganis yang melihat semua itu langsung membalikkan badan menjadikan tubuhnya tameng untuk anaknya sendiri.


"Mama?" Alvin melebarkan matanya saat suara tembakan menggema, diiringi dengan tubuh ibunya yang terasa semakin lemas.


Max yang juga terkejut oleh semua itu, refleks langsung menembak Roy tepat di dadanya hingga langsung terkapar dan meregang nyawa di tempat itu, tepat ketika Pak Mardo dan Pak Umar sampai di sana.


Ganis menjauhkan kepalanya dari tubuh Alvin, demi melihat wajah anak laki-lakinya itu, tangan lemah Ganis perlahan terangkat meraba wajah Alvin dengan senyum yang terukir.


"Mah–" Alvin memanggil lirih dengan mata yang memerah, menahan rasa sakit yang ikut dia rasakan seiring tetes darah yang mengalir membasahi tangannya di punggung Ganis.

__ADS_1


Air mata menetes di pipi Ganis, walau senyum pun tidak lepas dari wajahnya yang masih terlihat cantik.


"Alvin, maafkan Mama," lirihnya sebelum akhirnya perlahan matanya tertutup dan tubuhnya luruh dalam pelukan Alvin.


"Mama, jangan tinggalkan aku, Mah!" Alvin kalut, pikirannya buntu, hatinya begitu sakit bagaikan ribuan belati. Nampasnya tercekat terhalang sesak di dada. Segala usahanya untuk menyelamatkan sang ibu seolah terasa sia-sia sekarang. Dia putus asa.


Max yang masih bisa mengendalikan diri, memeriksa denyut nadi Ganis, dia masih bisa merasakanya walau samar.


"Dia masih hidup, cepat bawa ke rumah sakit!" Suara tegas dari Max menyadarkan Alvin yang tengah larut dalam kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam.


Alvin mendongak, dia kemudian menggendong tubuh kurus ibunya ala bridal style. Saat Alvin berdiri, dia baru menyadari kalau di ujung tangga, ada Pak Umar dan Pak Mardo yang tengah berdiri sejajar dengan wajah pias mereka.


Pandangan mereka sempat saling bertaut, walau itu tidak berlangsung lama karena Alvin langsung memutuskanya begitu saja. Alvin tidak lagi peduli, hanya ada kebencian di dalam pandangan matanya, saat dia melihat Pak Mardo di sana.


Alvin dan Max terus berjalan melewati kedua laki-laki yang tidak lagi muda itu. Pak Umar hanya menatap penuh penyesalan pada Alvin kemudian menepuk pundak Pak Mardo yang menatap nanar tubuh Roy. Kini anak lakiitu sudah dalam keadaan bersimbah darah dan tidak lagi bernyawa.


"Aku harap sekarang kamu bisa mengerti, apa arti dari kata kehilangan itu, Mardo," ujar Pak Umar, sebelum berlari menyusul langkah Alvin dan Max.


Tatapan Pak Mardo kini terlihat kosong, dunianya hancur hanya dalam sekejap, anak yang dirinya banggakan kini sudah tidak lagi bernyawa dan adik yang berusaha dia lindungi pun kini terluka.


Perlahan langkahnya mendekat pada tubuh Roy, dia berjongkok di atas darah sang anak yang sudah membasahi lantai di sekitarnya. Tangan bergetar Pak Mardo mengusap pelan wajah Roy, dengan satu tetes air mata yang luruh begitu saja.


Apa yang selama ini dirinya usahakan kini seolah percuma saat Roy, anak yang begitu dia sayangi dan dia jadikan sebagai penerus telah pergi untuk selamanya.


Sementara itu, Alvin, Max, dan Pak Umar, langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh anak buah Max sebelumnya, mereka langsung melesat mencari rumah sakit terdekat demi menyelamatkan nyawa Ganis yang sudah banyak kehilangan darah.


"Mah, jangan begini ... aku mohon jangan tinggalkan aku, Mah." Alvin terus meratap, memohon agar Ganis tidak meninggalkannya.


Air mata pilu terus menetes tanpa bisa Alvin bendung, hatinya terasa sangat sakit hingga dirinya tidak bisa lagi menahannya. Alvin tidak akan pernah sanggup, jika sampai ibu yang selama ini menjadi tujuan dan penyemangat hidupnya, harus meninggalkannya sendiri di dunia fana ini.


Tidak ... Alvin tidak mau itu sampai terjadi. Biarkanlah dirinya menjadi egois untuk urusan yang satu ini.

__ADS_1


"Ya Allah, jangan ambil ibu hamba, hamba tidak akan sanggup hidup tanpanya. Hamba mohon padamu, Ya Allah ... hamba memohon pada Sang Pemilik hidup," lirih Alvin, berdoa dengan sedikit memaksakan kehendaknya.


......................


__ADS_2