ALVIN Berusaha Bangkit

ALVIN Berusaha Bangkit
Membaik


__ADS_3

...Happy Reading...


.................


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Waktu terus berlalu, selama beberapa waktu ini Alvin tidak lagi mendapati sesuatu yang berat di dalam hidupnya. Semuanya berjalan lancar, mulai dari kuliah dan pekerjaannya di kantor.


Kondisi ibunya juga dikabarkan sedikit membaik, setidaknya saat ini dia tidak lagi histeris saat melihat Alvin bekunjung. Seperti saat ini, Alvin baru saja ke luar dari ruangan dokter yang sudah merawat ibunya selama ini.


Dia tersenyum saat baru saja mendengar perkembangan kesehatan ibunya, setelah hampir enam tahun ini dia terus berjuang demi membiayai pengobatan terbaik untuk ibunya.


Walupun, sebenarnya beberapa tahun yang lalu, dia sempat banyak berhutang pada rumah sakit ini, mengingat penghasilannya yang sedikit dan harus dibagi untuk beberapa keperluan yang lainnya.


Beberapa tahun lalu, Ganis hampir saja dipulangkan oleh rumah sakit, karena Alvin banyak menunggak biaya perawatannya. Untung saja dokter yang merawat Ganis sangat baik, dia akhirnya membantu Alvin untuk meyakinkan pihak rumah sakit, agar memberi waktu.


Alvin sangat berterima kasih untuk semua itu. Dia bahkan tidak tahu bagaimana bisa membalas kebaikan dokter itu.


Kalau boleh jujur, bahkan sampai sekarang hutang itu masih belum bisa dia lunasi. Akan tetapi, dia selalu berusaha menyicilnya, hingga hutangnya tidak pernah bertambah lagi, bahkan malah semakin berkurang, semenjak dia kerja di kantor milik keluarga Jani itu. Hutangnya hanya tinggal kurang seperempatnya, mungkin dalam waktu dekat hutang itu akan bisa dia lunasi, asalkan tidak ada kejadian yang membuatnya harus mengeluarkan uang lebih.


Alvin berjalan menuju ke taman, tempat ibunya berada saat ini. Dia sempat melihatnya ketika baru saja masuk ke rumah sakit. Akan tetapi, dia memilih untuk berbicara pada dokter lebih dahulu, untuk mengetahui perkembangan perawatan ibunya di sini.


Alvin menghentikan langkahnya saat jaraknya pada sang ibu hanya tinggal beberapa meter lagi. Dia menatap haru ibunya yang tengah duduk di bangku dengan ditemani oleh boneka beruang di pangkuannya.


"Assalamualaikum, Mah," sapa Alvin sambil berjongkok di depan sang ibu.


Senyum lembut terukir di wajahnya, senyum yang sangat jarang Alvin tampilkan kecuali untuk ibunya seorang.


Ganis megalihkan perhatiannya pada seorang laki-laki yang sangat mirip dengan suaminya saat masih muda itu. Dia tersenyum kemudian mengelus pipi Alvin perlahan.


Alvin menutup matanya, menikmati sentuhan lembut seorang ibu. Matanya memanas, dia ingin sekali mengambil tangan itu lalu menciumnya berulang kali.


Namun, dia juga masih ragu untuk melakukan hal yang bisa membuat ibunya terkejut, Dia takut jika nanti ibunya akan histeris lagi saat bertemu dengannya, walau sudah beberapa kali pertemuan, ibunya tidak lagi histeris saat bertemu dengannya.

__ADS_1


Ganis lebih diam dan hanya akan menatap wajah Alvin dalam, tanpa mau berkata apa pun. Awalnya Alvin merasa aneh dengan perubahan Ganis yang seolah tidak ingin bicara dengannya.


Namun, dokter meyakinkan kalau Ganis tidak apa-apa, Alvin tidak perlu menghawatirkan semua itu. Karena menurut catatan medisnya, kesehatan kejiwaan Ganis semakin membaik.


"Lihat deh, Alvin bawa bunga matahari kesukaan, Mama!" ujar Alvin mengeluarkan bunga matahari dari belakang tubuhnya.


Ganis menatap bunga matahari di tangan Alvin, kemudian perlahan tangannya mengambil bunga itu. Alvin tersenyum senang.


"Mamah, suka?" tanya Alvin. Dia terus berusaha berbicara, walau tidak ada reaksi dari ibunya.


"Kalau, Mamah, suka ... nanti aku akan terus membawa bunga matahari ini kalau menemui Mamah lagi," sambung Alvin.


"Cantik kan, Mah? Sama seperti, Mamah." Alvin tersenyum dia masih berjongkok di depan Ganis, walau wanita itu sama sekali tidak merespon perkataan Alvin.


Alvin mengedarkan pandangannya, suasana yang masih pagi, membuat udara terasa masih cukup sejuk, dengan cahaya matahari yang terasa hangat menerpa tubuh.


"Suasana pagi di sini enak ya, Mah? Udaranya sejuk, matahrinya juga hangat." Alvin kembali berbicara.


Ingatannya kembali pada beberap waktu yang lalu saat dia menemani Jani untuk melakukan sidang skripsi.


...***...


"Setelah lulus, kamu mau apa?" tanya Alvin pada Jani, sambil mengendarai mobil milik Jani.


Setelah hampir satu minggu Jani merengek pada Alvin, agar laki-laki itu mau menemaninya sidang skripsi, akhirnya Alvin menyetujuinya.


"Papah, menyuruhku untuk kuliah ke luar negeri bersama Anji," jawab Jani dengan suara berat.


Alvin menoleh sekilas pada perempuan yang sudah menjadi temannya hampir tiga tahun ini. Ada raut wajah terkejut di dalam sorot matanya, walau dia tutupi semua itu dengan senyuman.


"Wah, sepertinya itu bagus. Kamu pasti akan lebih aman dan mandiri selama di luar negeri. Selamat ya," ujar Alvin sambil fokus menyetir.

__ADS_1


Heh, aku kira kamu akan menahanku, Vin. Ternyata kamu malah mendukung kemauan Papah, batin Jani tersenyum miris.


Tiga tahun dia menunggu hati Alvin agar bisa melihat rasa cintanya. Akan tetapi, ternyata laki-laki itu hanya terus menganggapnya sebagai seorang teman saja. Tidak lebih dari itu.


"Ck, memangnya selama ini aku gak mandiri apa?" decak Jani menatap protes pada Alvin.


Laki-laki itu hanya terkekeh kecil, menanggapi kekesalan sahabatnya itu. "Kalau kamu sudah mandiri, mana mungkin kamu merengek padaku selama berhari-hari hanya untuk ditemani sidang skripsi," ejek Alvin.


"Itu bukan manja, tapi aku cuman mau ditemani saja," bantah Jani.


Alvin tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya samar. "Iya deh, Tuan putri, selalu benar," ujar Alvin di sela kekehannya.


Jani hanya memutar bola matanya, sambil merebahkan diri di sandaran kursi. Sesekali dia menatap wajah Alvin, laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta, hingga rela menunggu sampai tiga tahun.


Entah apa yang dimiliki seorang Alvin, hingga dia tidak bisa berpaling dari sosok laki-laki di sampingnya. Jani bahkan rela terus menahan perasaannya saat ada seorang perempuan, dengan terang-terangan mengatakan menyukai Alvin dan akan mendekati laki-laki itu.


Mungkin keputusan untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri memang yang terbaik untuknya. Dia sadar sekarang, kalau Alvin masih terus berada di dalam mimpi dan obsesinya. Hidup Alvin hanya akan terus berada di dalam pusaran yang sama, hingga laki-laki itu tidak akan mampu melihat sekitarnya.


Walau sebenarnya, di hati yang paling dalam, dia masih mengharapkan Alvin akan menahannya dan akhirnya menoleh padanya satu kali saja. Maka dia akan dengan suka rela tetap tinggal.


Lihat aku sekali saja, Vin. Maka aku akan tetapi di sini, batin Jani.


Namun, sepertinya Alvin tidak ada niatan untuk melakukan itu. Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Alvin sudah memasuki area kampus. Keduanya turun bersamaan lalu berjalan menyusuri koridor menuju ruang sidang skripsi.


"Kamu tunggu aku, jangan ke mana-mana!" peringat Jani saat dia sudah dipanggil ke dalam.


"Iya. Kamu semangat, jangan gugup. Aku yakin kamu pasti bisa," ujar Alvin, memberi semangat pada Jani.


"Heem, kalau ada kamu akh pasti bisa," ujar Jani, kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan.


Alvin hanya menatap perempuan itu sampai pintu ruangan tertutup rapat, menelan tubuh mungil Jani, tanpa mau menimpali candaan dari sahabatnya itu.

__ADS_1


..................


__ADS_2