
...Happy Reading...
......................
Alvin berdiri dari jauh, dia melihat ibunya yang sedang duduk di salah satu bangku taman rumah sakit tempatnya dirawat.
Pandangan sendu berselimut kerinduan itu terlihat jelas dari sorot mata Alvin saat ini.
"Alvin, kamu masih tidak mau menemui ibumu?" tanya seorang wanita dewasa yang tampak berdiri di sampingnya.
Alvin menoleh sekilas pada wanita dewasa itu, kemudian mengangguk samar sambil tersenyum.
"Selamat siang, Dok." Bukannya menjawab Alvin malah menyapa wanita yang telah merawat ibunya selama ini.
Dokter itu terkekeh sambil menundukkan kepalanya, dia kemudian mengikuti arah pandangan Alvin.
"Mungkin saja selama ini, ibumu sedang menunggu kamu, Vin," ujarnya.
Alvin menghembuskan napas panjang, rasanya sangat berat menahan rasa rindu yang tidak bisa dia ungkapkan, walaupun orangnya sudah ada di depan mata.
"Aku terlalu takut untuk menemuinya, Dok," jawab Alvin.
Dokter itu pun menghela napas panjang, dia menatap miris laki-laki muda di sampingnya.
Sejak kejadian dua tahun lalu, Alvin tidak pernah lagi mau menemui Rengganis secara langsung. Setiap kali Alvin datang, maka dia hanya akan melihat Rengganis dari jauh seperti sekarang ini.
Flash back.
Alvin sangat senang saat dia mendapatkan kesempatan untuk menjenguk ibunya di rumah sakit, setelah satu tahun lebih tidak bertemu.
Dia pergi ke Jakarta bersama Darman, hanya untuk menjenguk Rengganis dan berziarah ke makam adik dan ayahnya.
Saat itu kondisi kesehatan Rengganis sudah lebih baik dari sebelumnya, hingga dokter mengizinkannya untuk menemuinya secara langsung.
Tentu saja semua itu membuat Alvin semakin merasakan senang, mengingat kemajuan kondisi kesehatan ibunya, memberikan harapan baru juga bagi laki-laki itu.
Alvin perlahan berjalan mendekati Rengganis yang saat itu sedang duduk sendiri di kamar rawatnya.
"Assalamualikum, Mah," lirih Alvin, setelah dia berada cukup dekat dengan Rengganis.
Rengganis perlahan mulai menolehkan kepalanya, melihat keberadaan Alvin dia bahkan langsung berlari dan memluk Alvin dengan erat.
Alvin tersenyum, dia pun langsung membalas pelukan ibunya, dengan rasa senang yang membuncah di dalam hatinya.
Begitu juga dengan Darman dan dokter yang melihat ibu dan anak di depan mereka berdua.
__ADS_1
Namun, perkataan lirih dari bibir bergetar Rengganis, langsung mematahkan hati Alvin dan semua orang yang ada di sana.
"Mas, kamu datang!"
Ya, beberapa kata singkat yang menggambarkan kalau Rengganis masih tidak bisa mengingat Alvin.
"Mah, ini Alvin," ujar lirih Alvin dengan seklera mata yang mulai berubah merah, menahan rasa sakit di dalam hatinya.
"Mas, apa Alin ikut? Aku kangen banget sama Alin, mereka semua gak ada yang izinin aku ketemu Alin," cerocos Rengganis tanpa mau menganggap perkataan Alvin.
"Mah, ini Alvin, bukan bapak," ujar Alvin lagi.
"Mas, bawa aku pulang, aku gak mau di sini lagi, aku mau ketemu Alin." Rengganis mengurai pelukannya, dia menatap penuh permohonan pada Alvin.
Hati Alvin semakin sakit mendengar semua perkataan ibunya. Akan tetapi, sekuat tenaga Alvin berusaha tersenyum, walau itu menambah lukanya.
"Mamah, mau pulang?" tanya Alvin, sambil mengelus lembut pundak ibunya.
Alvin bisa merasakan kalau berat badan Rengganis sudah menurun drastis, itu semua sangat terlihat dari pipinya yang sangat tirus, dan tulangnya yang terasa menonjol.
"Iya, aku mau pulang, Mas!" Rengganis mengangguk cepat.
"Kalau, Mamah, mau pulang ... Mamah, harus menjaga kesehatan di sini, dan dengar kata dokter, biar cepat sembuh dan kita bisa berkumpul lagi," ujar Alvin dengan suara yang mulai berat.
"Aku gak mau lagi tinggal di sini, Mas! Aku mau ikut sama kamu!" Nada suara Rengganis mulai tinggi, menandakan emosinya mulai tidak stabil, bahkan kedua tangannya mencengkram pundak Alvin.
"Mah, tenang dulu ... kalau, Mamah, udah sembuh pasti kita akan bareng-bareng lagi. Aku janji." Alvin melerai emosi Rengganis.
Namun, ternyata itu semua tidak ada gunanya, emosi Renggais malah semakin tinggi, hingga dia mulai berteriak dan memancing para pasien lain bereaksi karena terganggu.
Tentu saja semua itu membuat dokter dan para perawat harus turun tangan untuk menenangkan Rengganis dan memberikannya obat penenang.
"Sebaiknya, kamu, ke luar dulu," ujar dokter itu pada Alvin.
"Aku gak mau di sini, Mas! Aku mau ikut sama kamu! Bawa aku dari sini, Mas!"
Rengganis terus berteriak sambil memberontak untuk melepaskan diri dari para perawat.
Alvin menatap sendu ibunya, dia perlahan melangkah mundur dengan hati yang kembali bertambah sakit.
Dari luar kamar rawat, Alvin bisa melihat bagaimana ibunya ditangani dan diberikan obat penenang secara paksa, demi membuatnya lebih baik.
Melihat semua itu, tentu membuat luka di hati Alvin yang bahkan masih terasa menyakitkan kini seolah berdarah kembali.
Harapannya untuk bersama lagi dengan Rengganis seakan kembali menipis, saat melihat kondisi ibunya yang tidak ada kemajuan.
__ADS_1
Mulai hari itu, Alvin memutuskan untuk tidak lagi menemui Rengganis secara langsung. Setiap kali dia berkunjung hanya akan dilewati dengan menatap ibunya sampai rasa rindunya sedikit terobati.
Flash back off.
"Kamu, tidak mau mencobanya lagi?" tanya dokter itu.
"Aku takut kalau nanti aku hanya akan menambah sakit yang dialami ibuku, Dok," jawab Alvin.
Alvin menegakkan tubuhnya saat melihat ibunya memegang sebuah boneka beruang berwarna merah muda yang mirip dengan milik Alin.
"Boneka itu, siapa yang memberikannya, Dok?" tanya Alvin, menatap dokter itu dengan wajah terkejutnya.
"Beberapa bulan lalu, ada seseorang yang menjenguk kerabatnya dengan membawa boneka itu, kebetulan ibu kamu melihatnya ... dia mengamuk menginginkan boneka itu, jadi kami memohon untuk memberikannya. Untungnya orang itu mau menyerahkannya pada ibumu, dan sejak saat itu dia tidak pernah mau melepas boneka itu," jawab Dokter itu panjang lebar
Alvin masih menatap Rengganis, kerutan di keningnya tampak terlihat saat melihat boneka di tangan ibunya.
Dia kemudian menganggukan kepalanya. "Begitu ya, Dok?"
Dokter itu mengangguk samar.
"Boneka itu mirip sekali dengan boneka kesayangan adikku, mungkin ibu mengingatnya jadi dia menginginkannya," ujar Alvin, dengan senyum miris menghiasi bibirnya.
"Oh, begitu ternyata. Pantas saja ibumu terlihat sangat menyayangi boneka itu."
Bolehkah aku iri dengan Alin, Mah? Mamah, bahkan mengingat apa kesukaan Alin, walaupun dia sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Tapi, aku yang masih hidup ... bahkan tidak pernah diingat lagi, walaupun hanya sekedar nama.
Melihat Alvin yang tidak lagi menjawabnya, Dokter itu memilih meninggalkan Alvin sendiri.
Kadang aku berharap tidak selamat dalam kecelakaan itu, agar, Mamah, bisa mengingat aku seperti, Mamah, mengingat bapak dan Alin.
Tanpa terasa air mata menetes begitu saja, saat batinnya seakan sedang mengeluh pada ibunya yang sama sekali tidak pernah mendengar itu semua.
Ya, jangankan ibunya, bahkan Darman dan Esih pun tidak pernah mendengar keluhan yang ada di dalam hati Alvin.
Alvin memilih untuk memendam semua rasa sakitnya untuk dia rasakan sendiri, dia berusaha untuk selalu menutupi semuanya dengan senyum dan keramahan yang dia tampilkan di depan banyak orang.
Alvin kemudian tersenyum miris, dia mengusap air mata yang sudah terlanjur jatuh, lalu berusaha menetralkan kembali wajahnya.
Tapi, ternyata aku yang dipilih Allah untuk menjaga Mamah di sini. Jadi, sekuat tenaga aku akan menyembuhkan, Mamah, seperti dulu.
Bertahanlah, Mah. Aku akan terus berusaha untuk mencari uang lebih banyak lagi, agar bisa membawa, Mamah, berobat ke tempat yang lebih bagus.
Aku yakin, suatu saat nanti kita akan bersatu kembali. Mamah, pasti bisa sembuh dan sehat lagi seperti dulu.
__ADS_1
......................
Orang yang kuat bukan berarti dia yang menang dalam sebuah pertarungan. Namun, orang yang kuat adalah dia yang bisa terus bersabar dalam menghadapi setiap cobaan, dan berusaha bangkit untuk memperbaiki takdir yang dia terima.